Tampilkan postingan dengan label Akidah-Akhlaq. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Akidah-Akhlaq. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 Oktober 2015

Dakwah Walisongo Sukses Ajarkan Islam di Indonesia

Walisongo - Ficri Pebriyana

Dakwah Walisongo Sukses Ajarkan Islam di Indonesia - Mendengar kata-kata walisongo teringat lagi saat jaman dulu ketika penyebaran agama Islam di Indonesia, sungguh hebatnya para wali ini memperjuangkan dan menyebarkan agama Islam di tanah air Indonesia hingga menjadikan Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim (Islam) terbanyak diseluruh dunia,  dan apakah Anda tau apa dan siapa saja tokoh walisongo tersebut ? Mari kita bahas apa dan siapa saja tokoh walisongo yang terlibat dalam penyebaran Islam di Indonesia beserta dakwah walisongo yang sukses mengajarkan Islam di Indonesia.

Apa Itu Walisongo ?

Walisongo adalah sebuah majelis dakwah yang didirikan oleh Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim), pada tahun 1404 Masehi (808 Hijriah). Arti lain walisongo dalam Bahasa Jawasongo berasal dari kata sanga yang artinya sembilan, jadi bisa diartikan walisongo adalah jumlah wali yang ada sembilan, sedangkan dalam Bahasa Arabsongo atau sanga berasal dari kata tsana yang artinya mulia dan bisa diartikan sebagai wali yang mulia.

Era walisongo adalah era berakhirnya dominasi Hindu-Budha dalam budaya Nusantara dan digantikan dengan kebudayaan Islam di Indonesia. Walisongomerupakan simbol penyebaran agama Islam di Indonesia, khususnya di daerah Jawa. Banya tokoh-tokoh selain para walisongo yang membantu dalam membangun Islam di tanah Jawa ini, namun para walisongo yang paling berperan besar dalam membangun kerajaan Islam ditanah Jawa ini.

Siapa Saja Nama Para Walisongo ?

Ketahuilah bahwa walisongo ini berjumlah sembilan orang, dan para wali ini telah menyebarluaskan Agama Islam dan Dakwah Islam diseluruh tanah air Indonesia, siapa sajakah nama para wali yang telah menyebarkan Agama Islam dan Dakwah Islam di Indonesia ? Berikut adalah nama para wali yang berjumlah sembilan orang :

1. Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim)

Sunan Gresik - Ficri Pebriyana
sumber: jamaluddinab.blogspot.com
Sunan Gresik merupakan salah satu tokoh walisongo yang pertama kali menyebarkan agama Islam di tanah Jawa, dan merupakan wali paling senior diantara para wali lainnya. Sunan Gresik merupakan keturunan ke-22 dari Nabi Muhammad Saw. Sunan Gresik lahir di Samarkand, Asia Tengah, pada paruh awal abad 14, dan wafat pada tahun 1419. Makamnya berada di desa Gapura Wetan, Gresik, Jawa Timur.

2. Sunan Ampel (Raden Rahmat)

Sunan Ampel - Ficri Pebriyana
sumber: kolom-biografi.blogspot.com
Sunan Ampel merupakan salah satu tokoh walisongo yang paling besar jasanya dalam perkembangan agama Islam di tanah Jawa. Sunan Ampel adalah bapak dari para wali, dari dakwah yang disampaikan oleh Sunan Ampel menghasilkan para pendakwah baru di tanah Jawa. Sunan Ampel merupakan keturunan ke-22 dari Nabi Muhammad Saw. Sunan Ampel lahir di Champa, pada tahun 1401, dan wafat pada tahun 1481 di Demak. Dimakamkan di sebelah barat Mesjid Ampel, Surabaya.

3. Sunan Bonang (Raden Makhdum Ibrahim)

Sunan Bonang - Ficri Pebriyana
sumber: kisahislamiah.blogspot.com
Sunan Bonang adalah anak dari Sunan Ampel yang berarti cucu dari Sunan Gresik. Sunan Bonang belajar agama di pesantren ayahnya Ampel Denta, dan beliau berdakwah di Kediri yang mayoritas penduduknya beragama Hindu, disanan Sunan Bonang mendirikan sebuah Masjid Sangkal Daha. Sunan Bonang merupakan keturunan ke-23 dari Nabi Muhammad Saw. Sunan Bonang lahir di Tuban, pada tahun 1465 M, dan wafat pada tahun 1525 dimakamkan di daerah Tuban, Jawa Timur.

4. Sunan Drajat (Raden Qasim)

Sunan Drajat - Ficri Pebriyana
sumber: id.wikipedia.org
Sunan Drajat adalah anak dari Sunan Ampel yang berarti cucu dari Sunan Gresik. Sunan Drajat dikenal dengan kegiatan sosialnya, Sunan Drajat mempelopori penyatuan anak-anak yatim dan orang sakit. Sunan Drajat berdakwah kepada masyarakat kebanyakan dan beliau menekankan kedermawanan, kerja keras, dan kemakmuran masyarakat. Selain itu, Sunan Drajat juga dikenal sangat cerdas, beliau lebih mengusahakan kesejahteraan rakyatnya lalu setelah itu memberikan pemahaman mengenai ajaran Islam. Sunan Drajat merupakan keturunan ke-23 dari Nabi Muhammad Saw. Sunan Drajat lahir di Ampel, pada tahun 1470 M, dan wafat di Sedayu Gresik pada tahun 1522.

5. Sunan Kudus (Ja'far Shadiq)

Sunan Kudus - Ficri Pebriyana
sumber: id.wikipedia.org
Sunan Kudus adalah putra dari pasangan Sunan Ngudung dengan Syarifah Dewi Rahil binti Sunan Bonang. Sunan Kudu merupakan keturunan ke-24 dari Nabi Muhammad Saw. Sunan Kudus lahir di Al-Quds, Palestina, pada tahun 9 September 1400 M, dan wafat pada tahun 5 Mei 1550 M. Sunan Kudus dimakamkan di Masjid Menara Kudus, Kauman, Kudus, Jawa Tengah.

6. Sunan Giri (Raden Paku atau Ainul Yaqin)

Sunan Giri - Ficri Pebriyana
sumber: id.wikipedia.org
Sunan Giri merupakan salah satu tokoh walisongo yang mendirikan kerajaan Giri Kedaton, yang berkedudukan di daerah Gresik, Jawa Timur. Sunan Giri membangun sebuah Pesantren Giri disebuah perbukitan di Desa Sidomukti, Kebomas. Dalam Bahasa Jawa Giri berarti Gunung, sejak itulah beliau dikenal masyarakat dengan sebutan Sunan Giri. Sunan Giri lahir di Blambangan, pada tahun 1442, dan wafat pada tahun 1506 M dimakamkan diatas bukit didaerah Dusun Giri Gajah, Desa Giri, Kecamatan Kebomas.

7. Sunan Kalijaga (Raden Said)

Sunan Kalijaga - Ficri Pebriyana
sumber: danyalmim.wordpress.com
Sunan Kalijaga merupakan salah satu tokoh walisongo yang sangat lekat dengan Muslim di tanah Jawa, dan beliau terkenal dengan kemampuannya memasukkan pengaruh Islam ke tradisi Jawa. Sunan Kalijaga menggunakan kesenian dan kebudayaan sebagai salah satu sarana berdakwah, seperti wayang kulit dan tembang suluk. Sunan Kalijaga lahir pada tahun 1450, dan wafat pada tahun 1513 dimakamkan di Desa Kadilangu, Demak. Makam Sunan Kalijaga masih sering diziarahi banyak orang.

8. Sunan Muria (Raden Umar Said)

Sunan Muria - Ficri Pebriyana
sumber: www.parapsikologi.com
Sunan Muria merupakan putra dari Sunan Kalijaga dari isterinya yang bernama Dewi Sarah binti Maulana Ishaq. Nama Sunan Meria berasal dari salah satu nama gunung yaitu Gunung Muria yang terletak di daerah kota Kudus, Jawa Tengah. Sunan Muria sering berperan sebagai penengah dalam konflik internal di Kesultanan Demak. Beliau dikenal sebagai pribadi yang mampu memecahkan berbagai masalah. Sunan Muria lahir pada abad ke-15 M, dan wafat pada tahun 1551 makamnya menyatu dengan Masjid Suna Muria disalah satu puncak Gunung Muria.

9. Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah)

Sunan Gunung Jati - Ficri Pebriyana
sumber: www.belfend.web.id
Sunan Gunung Jati merupakan salah satu tokoh walisongo yang banyak berjasa menyebarkan agama Islam di daerah Jawa Barat, beliau masih keturunan dari Raja Pajajaran dan Prabu Siliwangi. Sunan Gunung Jati berdakwah di Kota Cirebon dan menjadi pemerintahaan kota Cirebon yang sesudahnya menjadi Kesultanan Cirebon. Sunan Gunung Jati lahir di Kairo, Mesir pada tahun 1448, dan wafat pada tahun 19 September 1568 dimakamkan di Gunung Jati, Cirebon, Jawa Barat.



Lalu Bagaimana Dakwah Walisongo Yang Sukses Ajarkan Islam di Indonesia ?

Dari kesembilan tokoh walisongo diatas, mereka memiliki cara tersendiri untuk menyampaikan dakwahnya kepada masyarakat Indonesia khususnya tanah Jawa hingga sukses mengajak masyarakat Indonesia memeluk agama Islam hingga saat ini. Masing-masing tokoh walisongo memiliki cara yang unik dalam penyabaran Islam pada setiap dakwah yang dilakukannya. Dakwah Islam menyebar sampai ke luar Nusantara di China yaitu Katon, Sumatra, dan Kalingga sejak abad I Hijriyah (644-656 M). Dibawah ini merupakan cara dakwah yang disampaikan oleh tiap-tiap tokoh walisongo dalam penyebaran Islam di tanah Jawa :

1. Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim)

Dalam berdakwah Sunan Gresik ini menggunakan cara yang bijaksana dan strategi yang tepat berdasarkan ajaran Al-Qur'an :
"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-Mu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik." (QS. An Nahl:125)
Di tanah Jawa, Sunan Gresik ini tidak hanya berhadapan dengan masyarakat Hindu saja, tetapi Sunan Gresik juga harus bersabar terhadap mereka yang tidak beragama maupun mereka yang terlanjur mengikuti aliran sesat. Sunan Gresik juga meluruskan Iman dari orang-orang Islam yang bercampur dengan sifat yang musyrik. Selain itu Sunan Gresik juga penolong seorang fakir miskin dan dihormati oleh para pangeran dan para sulatan, hal ini menunjukan betapa hebatnya perjuanagn beliau ketika menyebarkan Islam dan menolong masyarakat yang ada didekatnya, bukan hanya kalangan atas yang memiliki banyak harta melainkan juga kepada golongan bawah yaitu kaum fakir miskin. Sunan Gresik ini membantu siapa saja yang ada didekatnya dan berdakwah kepada mereka yang tujuannya menyebarkan Islam di tanah Jawa ini.
Selain itu Sunan Gresik menggunakan wayang sebagai salah satu media penyampaian dakwahnya kepada masyarakat Indonesia, wayang yang digunakan oleh Sunan Gresik merupakan wayang kulit dalam memainkan wayang Sunan Gresik ini memasukan beberapa nilai-nilai moral dan akidah kepada masyarakat setempat. Nila moral dan akidah yang disampaikan melalui pagelaran wayang kulit tersebut tentunya diambil dari nilai-nilai ke Islaman.
Sunan Gresik juga mengajarkan nilai-nilai kesabaran, keadilan, tanggung jawab, dan etika yang baik yang dilakukan dalam kehidupan sehari-harinya dan disampaikan kepada masyarakat melalui dakwahnya. Sehingga dakwah yang dilakukan oleh Sunan Gresik ini mudah sekali di terima, dipahami, dan dilakukan dalam kehipudan bermasyarakat.

2. Sunan Ampel (Raden Rahmat)

Pada saat itu Sunan Ampel dijodohkan dengan salah satu putri Majapahit yang bernama Dewi Condrowati, dari pernikahannya beliau dikaruniai beberapa putra dan putri dianataranya yang menjadi penerus dari Sunan Ampel yaitu Sunan Bonang dan Sunan Drajat. Pada hari yang sudah ditentukan mereka pergi ke sebuah daerah di Surabaya yang disebut sebagai Ampeldenta.
Dalam perjalanan menuju Surabaya, Sunan Ampel berdakwah kepada penduduk setempat yang dilaluinya, dakwah yang pertama dilakukan oleh Sunan Ampel ini sangat unik, beliau hanya membuat sebuah kerajinan yang dibentuk menjadi sebuah kipas yang berasal dari akar tumbuh-tumbuhan tertentu dan dari anyaman rotan. Kipas yang telah dibuat oleh Sunan Ampel ini dibagikan secara gratis kepada penduduk setempat, para penduduk hanya menukarnya dengan kalimat syahadat.
Penduduk yang sudah menerima kipas itu tentu sangat senang, apalagi setelah mereka mengetahui kipas tersbut bukan semabarang kipas, akar yang dianyam bersama rotan itu ternyata memiliki daya penyembuh bagi mereka yang terkena penyakit seperti demam dan batuk. Dengan cara ini, banyak sekali orang yang berdatangan kepada Sunan Ampel untuk mendapatkan kipas tersebut. Pada saat inilah Sunan Ampel memperkenalkan keindahan agama Islam kepada masyarakat setempat sesuai dengan kemampuan pemahaman mereka.

3. Sunan Bonang (Raden Makhdum Ibrahim)

Dalam berdakwah Sunan Bonang sering menggunakan kesenian rakyat untuk menarik simpati mereka, alat kesenian itu seperti gamelan yang disebut dengan Bonang. Bonang tersebut merupakan sejenis kuningan yang ditunjolkan pada bagian tengahnya, jika tonjolan tersebut di pukul dengan kayu lunak maka akan timbul suara merdu yang terdengan di telinga penduduk setempat.
Saat itu Sunan Bonang membunyikan alat kesenian tersebut dan diiringi dengan tembang-tembang yang berisikan ajaran Islam. Penduduk setempat yang mendengarkan tembang tersebut penasaran dengan suara ini, setelah itu penduduk setempat masuk kedalam sebuah masjid yang dimana didalamnya ada Sunan Bonang yang sedang membunyikan alat kesenian Bonang tersebut. Dengan cara ini sedikit-sedikit merebut rasa simpati penduduk, dan saat itulah Sunan Bonang menajarkan dan menyebarkan Islam kepada penduduk setempat.

4. Sunan Drajat (Raden Qasim)

Dalam berdakwah menyebarkan agama Islam Sunan Drajat ini mengabil sebuah jalan lurus yang tidak berliku-liku. Agama harus diamalkan dengan lurus dan benar sesuai dengan ajaran Nabi dan tidak ada sedikitpun perubahan atau dicampur dengan adat dan kepercayaan lama. Sunan Drajat juga menggunakan kesenian rakyat sebagai alat dakwahnya.
Dakwah yang disampaikan oleh Sunan Drajat ini bersumber dari, Al Qur’an, Sunnah, Ijma’, Qiyas, Ajaran Guru dan pendidik seperti Sunan Ampel atau orang tuanya, Ajaran dan pemikiran atau paham yang telah tersebar luas di masyarakat, Tradisi di masyarakat setempat yang telah ada yang sesuai ajaran Islam, dan Fatwa Sunan Drajad sendiri.

5. Sunan Kudus (Ja'far Shadiq)

Sunan Kudus adalah seorang tokoh yang kuat serta gagah berani, dengan keberaniannya itu menjadikan Sunan Kudus sebagai panglima perang. Dalam menyampaikan dakwahnya sunan kudus ini memberikan sebuah ceramah atau bercerita kepada penduduk setempat mengenai sapi seekor sapi.
Pada saat itu Sunan Kudus membeli seekor sapi, sapi tersebut berasal dari India, kemudian sapi itu di ikat didepan rumahnya. Rakyat kudus yang saat itu sebagian besar beragama Hindu penasaran dengan apa yang akan dilakukan oleh Sunan Kudus dengan sapi yang dibelinya itu. Dalam pandangan Hindu sapi ini merupakan hewan suci yang katanya merupakan kendaraan yang dipakai oleh para dewa, menyembelih sapi adalah perbuatan dosa yang dikutuk para dewa. Lalu apa yang akan dilakukan Sunan Kudus ?
Setelah penduduk setempat berdatangan semakin banyak dan berkumpul didepan rumah Sunan Kudus, beliaupun langsung keluar dari dalam rumahnya dan berkata "Sedulur-sedulur yang saya hormati, segenap sanak kadang yang saya cintai, saya melarang saudara-saudara menyakiti apalagi menyembelih sapi. Sebab di waktu saya masih kecil, saya pernah mengalami saat yang berbahaya, hampir mati kehausan lalu seekor sapi datang menyusui saya."
Mendengat cerita tersebut masyarakat Hindu terkagum-kagum, dan menyangka bahwa Sunan Kudus adalah titisan Dewa Wisnu yang akhirnya penduduk Hindu ini bersedia mendengarkan ceramah dari Sunan Kudus. Pada saat itu Sunan Kudu menceritakan bahwa dalam Al-Qur'an terdapat surat Al-Baqarah yang artinya Sapi. Penduduk Hindu ini menjadi semakin ingin tahu lebih banyak mengenai ajaran Islam, maka dari itu penduduk Hindu terus berdatangan setiap harinya untuk mendengarkan dakwah dari Sunan Kudus.

6. Sunan Giri (Raden Paku atau Ainul Yaqin)

Sunan Giri menyampaikan dakwahnya sambil berlayar, beliau menyiarkan agama Islam kepada penduduk setempat sehingga namanya cukup terkenal di tanah air Nusantara ini. Penyampaian dakwah Sunan Giri ini menggunakan wayang kulit pada saat peresmian Masjid Demak, dalam peresmian ini Sunan Kalijaga mengusulkan peresmian Masjid Demak diiringi dengan pertunjukan wayang kulit, namun wayang kulit yang digunakan Sunan Kalijaga ini ditolak dan tidak disetujui oleh Sunan Giri, karena wayang kulit yang digunakan oleh Sunan Kalijaga ini berbentuk manusia dan dalam ajaran Islam yang bergambar manusia itu haram hukumnya.
Pada saat itu Sunan Giri mengusulkan agar peresmian Masjid Demak ini diresmikan pada hari jum'at sekaligus melaksanakan shalat jum'at berjamaah. Setelah itu Sunan Kalijaga mengubah wayang kulitnya menjadi berbeda lagi dan tidak bisa dikatakan sebagai gambar manusia lagi, dan akhirnya Sunan Giri ini menjadikan wayang kulit ini sebagai media menyampaikan dakwah.

7. Sunan Kalijaga (Raden Said)

Sunan Kalijaga dalam menyampaikan dakwahnya kepada penduduk setempat tidak jauh beda seperti yang dilakukan oleh sahabat sekaligus gurunya. Beliau menggunakan kesenian dan kebudayaan sebagai sarana untuk memudahkan dalam penyampaian dakwah kepada penduduk setempat. Sunan Kalijaga merupakan wali paling kreatif dalam menerapkan ajaran Islam kepada masyarakat. Seni pewayangan yang semula kental dengan warna Hindu-India, oleh Sunan Kalijaga diubah menjadi sendi yang penuh dengan nuasa Islami.
Sunan Kalijaga juga mahir dalam mengolah kesenian lokal, sehingga menjadi sebuah hiburan yang sangat menarik untuk ditonton oleh penduduk setempat. Pada saat itulah Sunan Kalijaga ini menyampaikan dakwah yang bernuasa Islami ini kepada penduduk setempat melalui media kesenian.

8. Sunan Muria (Raden Umar Said)

Dalam penyampaian dakwahnya Sunan Muria ini menggunakan cara yang halus, dakwah yang Sunan Muria ini disampaikan lebih utamanya kepada Masyarakat Pedesaan, Pedagang, Nelayan, dan Rakyat Jelata. Beliaulah satu-satunya wali yang mempertahankan kesenian gamelan dan wayang sebagai alat dakwah untuk menyampaikan ajaran Islam kepada masyarakat. Pada saat itu Sunan Muria membangun dilereng gunung Muria, dan karena itulah gelar Sunan Muria diberikan oleh penduduk setempat.

9. Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah)

Dalam menyapaikan dakwahnya Sunan Gunung Jati ini menganut kecenderungan Timur Tengah yang lugas. Beliau mencoba mendekati masyarakat dengan membangun jalan yang menghubungkan antara wilayah satu dengan yang lainnya. Dalam dakwahnya beliau tidak bekerja sendirian, beliau ikut bermusyawarah di Masjid Demak dengan tokoh wali lainnya, bahkan beliau juga membantu dalam pembangunan Masjid Demak tersebut.
Pada tahun 1479 beliau berkunjung ke China, di China Sunan Gunung Jati ini membuka praktek pengobatan, dan banyak masyarakat China yang datang untuk menyembuhkan penyakit yang dideritanya, pada kesempatan inilah Sunan Gunung Jati menyampaikan dakwahnya kepada penduduk China.

Bagaimana Bentuk Penyebaran Islam Oleh Walisongo ?

Bentuk penyebaran Islam yang dilakukan oleh walisongo dibagi menjadi bebrapa bagian, seperti Perdagangan, Pendidikan, Pernikahan, Dakwah, Akulturasi dan Asimilasi Kebudayaan. Untuk pembahasannya silahkan simak dibawah ini :

1. Perdagangan

Dalam hal penyebaran agama Islam, perdagangan merupakan salah satu bentuk dari penyebaran Islam di wilayah Nusantara ini yang dilakukan oleh para walisongo. Dalam penyebarannya, pedagang Islam menjual produknya kepada pedagang lainnya atau menjualnya kepada penduduk didaerah itu sendiri. Pada saat berdagan, orang-orang yang berasal dari Arab, Persia, dan Gujarat saling berhubungan atau saling berinteraksi dengan penduduk Indonesia. Saat itulah mereka berhasil menarik penduduk setempat untuk menganut agama Islam.

2. Pendidikan

Penyebaran agama Islam yang melalui pendidikan yaitu dengan melalui lembaga pesantren atau pondok pesantren, pesantren ini merupakan perguruan khusus agama Islam. Penyebaran agam Islam melalui pondok pesantren ini merupakan penyebaran melalui perguruan Islam. Perguruan pesantren ini mendidik para santri dari berbagai macam daerah, setelah tamat mereka mendirikan pesantren baru di masing-masing daerahnya dengan begitu agama Islam berkembang dan menyebar ke seluruh Indonesia dengan cepat.

3. Pernikahan

Jika seseorang yang beragama Islam menikah dengan seseorang dari agama lain, maka diharuskan agama lain masuk menjadi agama Islam. Contohnya, seorang pria dari bangsa Arab dan merupakan raja, menikah dengan seorang wanita Indonesia yang beragama Islam, maka si pria tersebut diajak masuk Islam. Jika seorang raja masuk Islam maka prajuritnya akan mengikuti rajanya. Dengan ini perkembangan Islam sangat cepat.

4. Dakwah

Dakwah merupakan salah satu penyebaran agama Islam yang dilakukan oleh para walisongo di daerah Jawa, menyebarkan agama Islam melalui dakwah juga sering dilakukan oleh para juru dakwah (mubaligh), dengan dakwah dapat mengajak penduduk untuk masuk ke agama Islam dengan cepat.

5. Akulturasi dan Asimilasi Kebudayaan

Akulturasi merupakan gabungan dari dua kebudayaan yang ada didalam suatu lingkungan masyarakat, dalam penyebaran agama Islam akulturasi ini terjadi didaerah yang memiliki adat tertentu. Biasanya akulturasi antara ajaran Islam dan kebudayaan masyarakat ini terjadi pada setiap doa-doa upacara adat, kelahiran, perkawinan dan lain sebagainya tergantung dari adat masing-masing daerah.

Dari kelima bentuk penyebaran agama Islam yang diatas, hingga saat ini masih kental dilakukan oleh masyarakat di wilayah Indonesia, dan tentunya kelima bentuk penyebaran agama Islam tersebut bertahan hingga samapai saat ini dan tidak pernah ada perubahan sama sekali, sunggguh besar perjuangan walisongo untuk menyebarkan agama Islam di wilayah Indonesia khususnya di pulau Jawa. Hingga menjadikan negara Indonesia menjadi negara paling banyak yang penduduknya beragama Islam.

Sekian artikel mengenai Dakwah Walisongo Sukses Ajarkan Islam di Indonesia. Kurang lebihnya mohon maaf.
Semoga Bermanfaat...

Senin, 08 Juni 2015

12 Skenario Kiamat versi Ahli



Jumat, 21 Desember 2012 , 10:01:00

BISA jadi akhir dunia memang masih butuh waktu lama. Termasuk, penanggalan Suku Maya yang berakhir hari ini (21-12-2012) bukan menjadi hari terakhir bagi umat manusia.

Sampai saat ini juga tidak diketahui secara pasti tentang bagaimana kiamat itu terjadi. Tapi Tabloid The SUN di Inggris telah merangkum pendapat para ahli tentang skenario kiamat.

Menurut The SUN, ada 12 skenario akhir dunia. Ada karena sebab penyakit, letusan gunung berapi, hingga tumbukan benda langit. Berikut ini adalah pendapat para ahli tentang skenario yang membuat umat manusia binasa:

1. Tumbukan Meteor
Ahli asteroid Austen Atkinson mengatakan, kemungkinan meteor menumbuk Bumi memang sangat kecil. Meski begitu meteor bisa menjadi bencana besar bagi umat manusia di bumi. Asteroid melintas dekat dengan lintasan Bumi pada kecepatan 20-30 kilometer per detik, yang membuat nyaris mustahil mencegah adanya tumbukan. Bahkan andai asteroid selebar 500 meter saja menumbuk bumi, bisa memicu tsunami setinggi ribuan meter yang mampu menyapu umat manusia.

2. Wabah Penyakit
Wabah flu yang mematikan terjadi secara tak beraturan, tetapi sangat berbahaya dan merusak. Wabah flu paling fatal dalam sejarah manusia terjadi pada 1918 di Spanyol. Wabah itu menyebar hingga Kutub Utara dab pulau terpencil di Samudera Pasifik yang menewaskan 50 juta orang.

3. Radiasi Ledakan Matahari
Matahari mengeluarkan materi dan radiasi dalam jumlah besar yang menyemburkan angin dan medan magnet ke ruang angkasa. Partikel-partikel itu menyebabkan aurora yang kuat yang lebih dikenal sebagai Northern Lights di Kutub Utara dan Southern Lights di Kutub Selatan. Tapi intensitas sinas kosmis dengan kekuatan besar bisa merusak lapisan Ozon sehingga membahayakan umat manusia.

4. Kiamat Versi Agama
Kebanyakan agama mengenal adanya Hari Penghakiman. Dalam Kristen, kiamat akan datang setelah kemunculan kedua Yesus. Sementara Islam juga mengenal hari pembalasan. Agama hanya menyuguhkan tanda-tanda. Tapi soal kapan kiamat datang berdasarkan versi agama itu tidak diketahui.

5. Supervulcano

Sebuah supervulcano ini bisa menghasilkan erupsi dalam ukuran ribuan kali lebih besar dari gunung berapi normal. Kubah magma yang tersembunyi di bawah tanah yang datar bisa meletus. Supervulcano yang saat ini dikenal adalah Yellowstone di Idaho, Amerika Serikat yang membentang hingga 50 mil. Letusannya diperkirakan bisa mencapai 1000 mil. Di Indonesia, Danau Toba di Sumatera Utara pernah menjadi supervulcano.

6. Pergeseran Kutub
Para ilmuwan telah menunjukkan adanya pergeseran lokasi geografis kutub.  Jika pergeseran kutub itu terjadi secara cepat, maka yang muncul adalah bencana seperti banjir, gempa bumi hingga letusan gunung berapi.

7. Invasi Alien
Ketakutan bahwa makhluk extra-terrestrial (ET) bakal menginvasi Bumi telah melanda selama beberapa abad. Orang-orang yang percaya dengan keberadaan ET meyakinkan bahwa makhluk luar ankgasa itu telah hidup di antara umat manusia sejak lama, dengan menyusup ke populasi dunia dengan berpura-pura sebagai manusia.

Skenario kiamat menurut invasi Alien ini adalah serbuan makhluk luar angkasa yang muncul pada 21 Desember ini untuk menghabisi umat manusia, atau menguras sumber daya Bumi dan menghancurkannya.

8. Perang Nuklir
Era Perang Dingin memang sudah usai. Tapi ancamannya tetap nyata karena bekas blok yang bersitegang masih menyimpang senjata pemusnah massal. Misalnya saja, peluncuran roket jarak jauh Korea Utara baru-baru ini telah memicu ketegangan dunia dan memicu ketakutan bahwa negara yang dikuasai penjahat bisa membangun kemampuan untuk memanfaatkan nuklir sebagai senjata.

9. Abad Es
Perubahan iklim akibat pemanasan global diyakini sebagai salah satu penyebab kekeringan, badai dan juga banjir. Tapi beberapa ilmuwan juga mengatakan, pemanasan global dapat mengurangi angin hangat yang bertiup dari daerah tropis, sehingga menyebabkan ketidakseimbangan besar dalam hal suhu di belahan bumi utara. Konsekuensinya bisa fatal.

10. Kebangkitan Mesin
Beberapa pakar teori konspirasi telah meyakinkan publik tentang adanya alat dengan kecerdasan super buatan manusia yang dirancang untuk membunuh. Tapi tipis kemungkinan adanya plot besar untuk menyembunyikan kemajuan teknologi.

11. Kesalahan Perjalanan Waktu
Ada yang percaya bahwa seseorang dari masa depan bisa berkelana ke masa lalu umat manusia dan menyebabkan konflik dalam rangkaian ruang dan waktu. Ini pula yang diyakini sebagai salah satu dasar Bangsa Maya menyusun kalender mereka yang misterius, yakni ketika ada seseorang dari masa depan memberi peringatan tentang datangnya kiamat.

12. Large Hadron Collider (LHC)
Para ahli dari 60 negara telah bekerja di kedalaman 250 kaki di bawah tanah di laboratorium partikel fisik milik lembaga riset nuklir Eropa, CERN, dalam sebuah proyek yang mencoba membuktikan teori Big Bang tentang penciptaan alam semesta pada 14 miliar tahun silam. Tapi beberapa kalangan khawatir mesin Large Hadron Collider (LHC) milik CERN di Swiss itu justru menciptakan Lubang Hitam kecil yang menelan Bumi. (ara/jpnn)

Mereka yang Pernah Meramal Kiamat



Jumat, 21 Desember 2012 , 16:07:00

RAMALAN suku maya tentang datangnya kiamat pada 21 Desember 2012, bukanlah kali pertama terjadi. Sebelumnya telah banyak ramalan-ramalan tentang datangnya hari akhir dunia.

Dikutip dari reuters.com, Jumat (21/12), ilmuwan besar Isaac Newton pernah mengutip 2060 sebagai tahun bumi akan hancur.

Seorang Pendeta asal Amerika Serikat, William Miller, meramalkan bahwa Yesus Kristus akan turun ke bumi pada bulan Oktober 1844 untuk membersihkan manusia dari dosa-dosanya. Masa itu pun diartikan sebagai tanda-tanda kiamat tiba.

Pada tahun 1997, 39 anggota sekte Gerbang Surga, percaya dunia ini akan berakhir. Mereka pun melakukan bunuh diri massal.

Baru-baru ini, pembawa radio di AS Harold Camping, ikut-ikutan meramal dunia akan berakhir pada tanggal 21 Mei 2011. Meski kemudian diralat lima bulan berikutnya, terbukti ramalan itu hanya rumor belaka.(afz/jpnn)

Kamis, 15 Januari 2015

Kartunis Karikatur Nabi Muhammad Menangis

Willy Haryono - 14 Januari 2015 10:05 WIB
Reland Luzier (tengah), penggambar karikatur Nabi Muhammad di surat kabar Charlie Hebdo, menangis saat konferensi pers di Paris, Prancis, Selasa (13/1/2015) - AFP / MARTIN BUREAU Metrotvnews.com, Paris: Edisi terbaru surat kabar satire Charlie Hebdo telah beredar. Sampul depannya adalah karikatur Nabi Muhammad, yang meneteskan air mata sambil membawa papan bertuliskan "Je Suis Charlie" atau "Saya Charlie." Terdapat tulisan "Tout Est Pardonne" atau "Semua Dimaafkan" di atasnya

Renald Luzier, kartunis yang menggambar karikatur Nabi Muhammad, menangis saat menjelaskan karyanya di sebuah konferensi pers di Paris, Prancis, Selasa (13/1/2015). Luz, sapaan akrab Luzier, mengonfirmasi karikatur yang digambarnya adalah Nabi Muhammad yang sedang menangis.

"Gambar itu bukanlah sesuatu yang diinginkan dunia. Itu adalah sampul depan yang kita inginkan. Itu bukan sampul depan yang diinginkan teroris. Tidak ada teroris di situ," ucap Luz, seperti dikutip Associated Press.

"Gambar itu adalah seorang pria yang menangis. Dia Muhammad. Saya minta maaf, saya menggambarnya lagi. Tapi Muhammad yang satu ini, berbeda dari sebelumnya, hanya seorang pria yang menangis," sambung dia, sambil terus meneteskan air mata.

Luz sempat menyebut bahwa semua teroris di dunia ini pernah mengalami masa anak-anak. "Mereka juga pernah jadi anak-anak, dan menggambar seperti kita semua. Mungkin saat ini mereka sudah kehilangan selera humornya," tutup dia.

Charlie Hebdo berencana mencetak edisi terbarunya itu hingga sebanyak tiga juta kopi.
WIL 

Kamis, 14 Agustus 2014

Gugurnya Iman

Jumat, 02 Mei 2014, 13:03 WIB
Tauhid adalah mengesakan Allah. Oleh: KH Athian Ali Dai
Dalam pandangan Allah SWT, manusia itu pada dasarnya hanya terbagi kepada dua golongan, yakni Mukmin dan kafir. Hal tersebut telah ditegaskan-Nya di dalam Alquran. 

“Dan katakanlah: ‘Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir.’ Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka,” (QS al Kahfi [18]: 29).

Jika kemudian golongan Mukmin mempunyai beberapa tingkatan, seperti Muslim, Mukhlis, Muhsin, dan Muttaqin, maka golongan kafir pun demikian. Mereka memiliki banyak varian. Sebut saja mulhid (ateis), musyrik (penyekutu Allah), dan munafik (pura-pura beriman).

Lalu bagaimana halnya dengan orang yang hanya mengimani Allah pada sebagian urusan, sedangkan pada sebagaian urusan lainnya dia mengingkari-Nya? Dalam padangan Allah, orang semacam ini tetap masuk dalam golongan kafir.

Jadi, tidak ada istilahnya orang setengah Mukmin dan setengah kafir. Kalau tidak Mukmin, maka dia adalah kafir.

Pembaca tentu masih ingat kisah tentang Iblis. Siapa yang berani meragukan keimanan makhluk yang satu ini? Dia pernah berjumpa dan berdialog langsung dengan Allah SWT. Dia tahu betul Allah itu tidak mempunyai anak.

Dia juga mengakui Allah sebagai satu-satunya Tuhan yang layak disembah. Bahkan menurut Imam al-Ghazali, sebelum kemunculan Adam AS, Iblis sudah hidup dalam keimanan selama 80 ribu tahun.

Lalu mengapa Allah kemudian melaknat Iblis? Itu hanya karena dia menolak satu aturan Tuhan. Dia tidak mau mengakui kemuliaan yang diberikan Allah kepada Adam. Pada poin tersebut, Iblis menilai Allah telah salah menempatkan dirinya di bawah manusia.

Itulah yang menjadikan Iblis kafir di mata Allah. Meskipun dia tetap mengakui Allah sebagai Tuhan yang menciptakan alam semesta, namun keimanannya telah digugurkan oleh keangkuhannya. Kelak, ia kekal berada di neraka. Naudzublillaahi min dzaalik.

Kisah Iblis di atas secara jelas menunjukkan kepada kita bahwa mengimani Allah tidak boleh sepotong-sepotong. Seperti yang terjadi pada Ahmadiyah misalnya. Di satu sisi mereka percaya dengan keesaan Allah, namun di sisi lainnya mereka mengingkari ayat Allah yang menyatakan Muhammad SAW adalah nabi dan rasul terakhir.

Begitu pula halnya dengan kaum Syiah. Mereka mengaku beriman kepada Allah dan Nabi Muhammad. Namun, mereka justru mengingkari Alquran sebagai kitab suci yang kesuciannya selalu dijaga oleh Allah SWT.

Pengingkaran-pengingkaran semacam itu tentu saja secara otomatis telah menggugurkan keimanan mereka kepada Allah SWT. Tiket menuju surga yang seharusnya sudah mereka miliki (dengan bersyahadat), menjadi tidak berlaku lagi. Dengan kata lain, mereka berada di luar golongan orang-orang Mukmin.

 Para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasanya ketika saling berjumpa di hari Ied mereka mengucapkan: Taqabbalallahu Minna Wa Minka (Semoga Allah menerima amal ibadah saya dan amal ibadah Anda)(HR Imam Ahmad dalam Al Mughni (3/294))

Mengikuti Aturan Allah

Wednesday, 07 May 2014, 14:50 WIB
Shalat adalah salah satu bentuk ketaatan pada aturan Allah. Oleh: KH Athian Ali Dai
Pada tulisan sebelumnya telah dipaparkan bahwa mengimani Allah tidak boleh sepotong-sepotong. Karena itu, seseorang baru bisa dikatakan beriman jika dia telah menerima semua aturan Allah sebagai kebenaran mutlak, tanpa pengecualian.

Pada zaman dahulu, Bani Israil telah menyaksikan langsung tanda-tanda kebenaran Allah SWT. Salah satunya adalah dengan mencicipi lezatnya hidangan surga yang diturunkan Allah ke bumi untuk mereka.

Bahkan, mereka pernah pula diizinkan untuk mendengarkan suara Allah tatkala berfirman kepada Nabi Musa AS.

Akan tetapi apa yang terjadi dengan Bani Israil? Mereka tetap saja ingkar kepada Allah. "Kami hanya akan mengikuti aturan-aturan Allah selama hal itu sejalan dengan hawa nafsu kami. Sementara, jika aturan itu bertentangan dengan nafsu kami, maka kami tidak bisa menerimanya," begitu kata mereka kepada Nabi Musa AS.

Hal ini membuat Allah murka, sehingga turunlah QS Al Baqarah ayat 85. "Apakah kamu beriman kepada sebagian Alkitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat."

Penggalan ayat di atas secara tegas mengingatkan kepada kita bahwa mengimani Allah berarti menerima sepenuhnya aturan-aturan-Nya. Jika ada satu saja aturan Allah yang kita tolak kebenarannya, maka alamat kita telah keluar dari golongan orang-orang beriman. Naudzubillahi min dzalik.

Sebagai contoh, jika seorang Muslim yang meninggalkan shalat fardhu karena malas, tapi di dalam hati dan ucapannya tetap mengakui ibadah itu sebagai aturan yang benar, maka dia masih disebut orang yang beriman.

Kita tidak bisa menghukumnya sebagai orang kafir. Meskipun demikian, orang tersebut tentu saja akan menanggung dosa lantaran melanggar perintah Allah. Karena, sejatinya Muslim itu tidak boleh meninggalkan shalat.

Lain halnya dengan orang yang mengaku Muslim, tapi meninggalkan shalat fardhu karena menganggap perintah Allah itu tidak benar. Orang semacam ini sesungguhnya bukan bagian dari golongan Mukminin.

Begitu pula dengan mereka yang mengaku beriman, tapi secara terang-terangan malah menyangkal kebenaran aturan Allah yang terdapat di dalam Alquran dan Hadis. Orang-orang seperti ini jelas sesat dan menyesatkan.

Di Indonesia, jumlah kelompok pengusung paham menyimpang seperti mereka amatlah banyak jumlahnya. Karena itu, sebagai umat Muslim, kita mesti berhati-hati agar pemahaman mereka tidak merusak akidah kita.

Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.(QS At Taubah ( 9:20))

Hubbud Dunya

Tuesday, 03 June 2014, 14:33 WIB
Cinta dunia. Oleh: KH Athian Ali Dai
Salah satu hal yang paling dirisaukan oleh Rasulullah SAW adalah ketika umat Islam sudah terjebak ke dalam cinta berlebih-lebihan kepada dunia. Dalam kamus Islam, kondisi ini dikenal dengan istilah hubbud dunya atau gila dunia.

Hubbud dunya adalah sumber kehancuran umat. Penyakit ini sangat berbahaya karena dapat melemahkan dan menggerus keimanan seseorang kepada Allah SWT.

Rasulullah bersabda, “Demi Allah, bukan kemiskinan yang aku khawatirkan akan menimpa diri kalian. Akan tetapi, aku khawatir jika dunia ini dibentangkan untuk kalian sebagaimana ia dibentangkan untuk orang-orang sebelum kalian sehingga kalian berlomba sebagaimana mereka berlomba, dan akhirnya kalian hancur sebagaimana mereka hancur.” (HR Bukhari-Muslim)

Ketika seorang Muslim sudah menjadikan dunia ini sebagai tujuannya, maka itu alamat dia telah terjebak dalam hubbud dunya. Padahal, dalam prinsip akidah Mukmin, dunia ini bukanlah tujuan. Melainkan hanya alat untuk mencapai kebahagiaan di akhirat kelak.

Dalam Alquran Allah SWT berfirman, “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS al-Qashash: 77)

Ketika seseorang menjadikan dunia ini sebagai tujuan, maka cintanya kepada dunia akan melebihi cintanya kepada Allah. Dia bakal lalai mengingat Allah. Sebagai konsekuensinya, dia akan mudah tergelincir ke dalam pusaran dosa. Dia juga tidak siap menjalani hidup dengan cara-cara yang diridhai Allah.

Mungkin kita pernah mendengar ada orang yang sampai menghalalkan segala cara demi memperoleh kenikmatan duniawi. Mulai dari merampok, mencuri, membunuh, korupsi, atau juga mengejar jabatan tertentu lewat jalan yang dilaknat Allah.

Mengapa mereka mau melakukan semua perbuatan jahat itu? Itu karena mereka sudah terjebak ke dalam hubbud dunya, sehingga  mereka pun lupa akan adanya kehidupan setelah kematian. Mereka tidak ingat, setiap perbuatan mereka di alam fana ini akan dipertanggungjawabakan di akhirat kelak.

Orang-orang yang gila dunia juga tidak akan pernah siap menghadapi musibah. Jika mereka kehilangan harta sedikit saja, maka mereka akan menyesalinya sejadi-jadinya. Jika mereka gagal meraih sesuatu, maka mereka akan menjadi stres atau bahkan sakit jiwa.

Yang lebih berbahaya lagi, mereka yang begitu mencintai dunia juga akan mudah goyah imannya. Mereka bahkan tak segan-segan lagi menjual agama demi memenuhi hawa nafsu bejat mereka.

Sebagai seorang Mukmin, apa yang mesti kita lakukan agar terhindar dari penyakit ini? Tentunya kita harus senantiasa memantapkan akidah. Salah satunya adalah dengan memperbanyak mengingat kematian. Orang yang rajin mengingat mati, insya Allah akan mampu memelihara hatinya dari hubbud dunya.

Barang siapa yang memerhatikan kepentingan saudaranya, maka Allah akan memperhatikan kepentingannya. Dan barangsiapa yang menutupi kejelekan orang lain maka Allah akan menutupi kejelekannya di hari kiamat. ((HR Bukhari-Muslim))

12 Prinsip Ajaran Islam di Alquran

Minggu, 03 November 2013, 16:26 WIB

Seorang bocah belajar membaca Alquran (ilustrasi)REPUBLIKA.CO.ID, DENPASAR -- Dalam memahami ajaran Islam, ada 12 prinsip yang bisa ditemukan dalam Al Quran. Hal itu diungkapkan Guru besar Universitas Islam Negeri (UIN) Malang, Prof Dr Ir H Ika Rochdjatun Sastrahidayat di Denpasar, Bali, Ahad (2/11)

Pertama, menurut dia, adalah prinsip tauhid atau monoteisme. Semua ciptaan Allah, sebutnya, merupakan suatu sistem dan satu kesatuan. Kalau Ciptaan Allah dikaji secara saintifik, antara satu ciptaan dengan yang lainnya tidak akan bertabrakan, seperti halnya bumi dengan planet lainnya.
Kedua adalah prinsip peribadatannya yang indah, dinamis dan natural. "Selama kita beribadah sesuai dengan yang dicontohkan Nabi, itu sangat natural, sangat sesuai dengan kebuthan dan kmampuan manusia," katanya.

Ika menggaris bahwahi prinsip kedua dalam Islam, yang di negara sekuler sudah mulai diubah-ubah. Di Inggris, sebut Ika, ada masjid yang imam sholatnya adalah perempuan. Mereka menggunakan isu gender untuk mengubah sunnah Rasul dan hal itu tidak sesuai dengan sunnah, tidak natural lagi.
Prinsip ketiga adalah muamalat, yang dalam Islam diatur sangat detil dan sesuai dengan dinaika, seperti halnya soal zakat atau faraid (waris).

Prinsip keempat kata Ika, prinsip penggunaan akal. Disini lah kata Ika kelemahan umat Islam. Padahal sebagai homo sapiens manusia diberikan kelebihan akal, untuk menganalisa, karena Islam bukan dogma, tetapi agama yang rasional.

Kelemahan umat Islam lainnya adalah pada prinsip kelima, yakni prinsip sistem nilai atau akhlaqul karimah. Islam juga menganut prinsip persaudaraan (brotherood), prinsip keenam, kebersihan jiwa dan raga, prinsip ketujuh, Alquran sebagai software atau informasi dari langit yang dahsyat.

Prinsip kesembilan adalah prinsip bermasyarakat, prinsip kesepuluh membela kebenaran tanpa melihat warna kulit. Prinsip kesebelas adalah prinsip berkelanjutan dan tidak boleh berhenti dan prinsip keduabelas adalah prinsip berserah diri kepada Allah SWT.

 Siapa yang mengambil hak orang lain walau sejengkal tanah akan dikalungkan hingga tujuh petala bumi(HR Bukhori-Muslim)

Selasa, 12 Agustus 2014

Pertemanan Abadi

Jumat, 08 Agustus 2014, 16:12 WIB
Teman itu ada dua macam, yaitu teman baik dan teman buruk. Oleh: A Ilyas Ismail
Sebagai makhluk sosial, manusia tidak pernah lepas dari teman atau pertemanan, baik teman pada masa kecil dulu, teman pada waktu sekolah, ataupun teman dalam bisnis dan dalam perjuangan di jalan Allah SWT. Pertemanan adalah kecenderungan dasar manusia. Maka, sejatinya tak ada hidup tanpa pertemanan.

Dampak baik dan buruk pertemanan tak diragukan lagi, baik dilihat dari perspektif agama maupun dari ilmu pengetahuan. Dalam adagium Arab malah  ada ungkapan “Al-Nas ala dini ash-habihim” (manusia mengikuti agama temannya). Jadi, yang penting bukan soal pertemanannya, tetapi dengan siapa seseorang berteman atau menjalin pertemanan.

Seperti dimaklumi, teman itu ada dua macam, yaitu teman baik dan teman buruk. Rasulullah SAW mengumpamakan teman baik seperti penjual minyak wangi. Ia suka mengoleskan minyak wangi ke baju kita atau kita membelinya, atau setidak-tidaknya, kita mengendus aroma wanginya.

Sedangkan, teman yang buruk diumpamakan seperti tukang pandai besi. Kalau dekat-dekat, baju kita bisa terbakar atau paling tidak kita mengendus baunya yang tak enak. (HR Muslim dari Abu Musa).

Tak heran bila orang tua, para guru, dan orang-orang saleh, selalu memberi nasihat agar kita jangan sampai keliru dalam memilih teman atau membangun koalisi pertemanan.  Sebab, akibatnya bisa sangat fatal, yaitu kerugian dan kegagalan, lahir dan batin, dunia dan akhirat.

Penulis kitab Al-Hikam, Ibn Athaillah al-Sakandari, memberi nasihat soal pertemanan ini. Katanya, “Jangan pernah kamu berteman dengan orang yang sikap dan perkataannya tidak membimbingmu lebih dekat kepada Allah SWT.”

Ada dua kriteria yang ditekankan al-Sakandari, yaitu Hal (sikap mental) dan Maqal (kata-kata/perilaku). Term Hal menunjuk pada kondisi jiwa yang berisi keimanan, ibadah, dan kepatuhan kepada Allah SWT.

Dalam bahasa modern, Hal itu dinamai “kekuatan spiritual”. Ia diam, tidak berkata-kata (shamitah), tetapi pengaruhnya sangat dahsyat, menginspirasi, menggugah, dan mendorong orang lain pada kemuliaan dan kemenangan.

Sementara, term Maqal menunjuk pada perilaku dan keluhuran budi pekerti. Maqal adalah kecerdasan moral. Ia mengajak orang lain kepada yang baik (al-amr bi al-ma`ruf) dan mencegahnya dari kejahatan (al-nahyu an al-munkar) dengan cara-cara yang terhormat disertai sikap pantang kompromi dengan kebatilan.

Bagi al-Sakandari, hanya orang dengan dua kriteria di atas, layak dijadikan sebagai teman. Dialah teman abadi. Lain tidak! Lantas, siapa mereka? Mereka tak lain adalah orang-orang yang memperoleh petunjuk dan anugerah dari Allah. Mereka adalah orang-orang terbaik dan teladan dalam kemuliaan.

Seperti nasihat al-Sakandari, kita hanya boleh berteman dan membangun koalisi pertemanan hanya dengan kelompok ini. Pertemanan dengan mereka akan abadi sebagai koalisi permanen yang akan meraih kemuliaan dan kemenangan sampai kelak di surga.

Allah SWT berfirman, “Dan, barangsiapa yang menaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh, dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS al-Nisa' [4]: 69). Wallahu a’lam!

 Ada seorang lelaki berkata kepada Nabi SAW: "Berilah aku nasihat!" Beliau menjawab: "Jangan marah" Orang itu berulangkali meminta supaya dirinya dinasihati, maka Rasulullah SAW tetap mengatakan: "Jangan marah!" (HR. Bukhari)
 

Dari Istigfar ke Tobat

Tuesday, 12 August 2014, 13:51 WIB
Tobat lebih dari sekadar mengucapkan lafaz istighfar, tetapi menuntut persyaratan lebih banyak.  Oleh: Prof Dr Nasaruddin Umar
Istighfar adalah ungkapan spontanitas seorang hamba yang baru saja menyadari kekhilafannya dengan mengucapkan kalimat istighfar, misalnya astagfirullah al-’adzim. Sedangkan, tobat lebih dari sekadar mengucapkan lafaz istighfar, tetapi menuntut persyaratan lebih banyak. Jadi, jelas tobat lebih berat daripada istighfar.

Al-Qusyairi dalam risalahnya membagi tobat itu menjadi tiga macam, yaitu 1) Tobat dari segala kesalahan dan dosa, inilah tobatnya orang awam; 2) Tobat dari kelalaian untuk mengingat Allah SWT, inilah tobatnya orang khawas; 3) Tobat dari penglihatan terhadap segala kebaikan, inilah tobatnya orang khawas al-khawas.

Orang yang tobat karena takut siksaan disebut tobat. Orang yang tobat karena ingin meraih pahala, disebut inabah, dan orang yang tobat bukan karena takut neraka atau mengejar pahala, tapi hanya semata-mata karena menuruti perintah disebut aubah.

Syekh Muhammad bin Abi Bakar bin Abd Kadir Syamsuddin al-Razi (660 H) dalam Haqaiq al-Haqaiq, membagi tobat itu kepada dua bagian besar. Pertama, tobat orang awam, yaitu kembali dari segala kemaksiatan menuju kepada ketaatan dengan cara meninggalkan (pengaruh dan keterikatan) dunia dan mencari kehidupan akhirat.

Kedua, tobat khawas, yaitu kembali dari mencari akhirat dan kenikmatan surga menuju pada ibadah kepada Allah hanya semata karena zat-Nya yang Mahasuci, bukan karena mencari pahala dan bukan pula karena takut akan siksaan.

Oleh karena itu, tobatnya masyarakat awam justru sebagai sebuah dosa bagi kalangan orang khawas, sebagaimana dalam hadis, “Kebaikan orang-orang saleh merupakan kejahatan orang-orang muqarrabin.” Kemudian al-Khawas ia bagi dua lagi, yaitu al-Arifun dan al-Muqarrabun. Al-Muqarrabun ialah mereka yang masuk kategori hawas al-khawas.

Tobat pada bagian pertama di atas merupakan tanjakan awal dalam menempuh jalan menuju Allah dan maqam (tahapan) awal dalam mencari ridha Allah. Sesungguhnya Allah selalu mendorong manusia agar segera bertobat. Dalam firman-Nya disebutkan, “Jika Allah mencintai seorang hamba maka dosa itu tidak akan memberi mudarat pada dirinya.” Lalu, beliau membaca ayat tersebut (QS al-Baqarah [2]:222).

Maksudnya, Allah memberi taufik kepadanya untuk bertobat dan Allah menerima tobatnya maka dosa yang pernah dilakukan sebelum tobat itu, tidak ada lagi melekat pada dirinya. Nabi SAW juga selalu memotivasi untuk segera bertobat, sebagaimana dalam sabdanya, “Orang yang bertobat seperti orang yang tak berdosa”. Dalam hadis lain dikatakan, “Tak ada sesuatu pun yang lebih dicintai Allah, daripada seorang pemuda yang bertobat.”

Rasulullah SAW pernah ditanya istrinya, Aisyah RA, “Mengapa engkau menghabiskan waktu malammu untuk beribadah, bukankah engkau seorang Nabi yang dijamin masuk surga oleh Allah SWT?”

Rasulullah menjawab singkat, “Apakah aku tidak termasuk hamba yang bersyukur?” Dari sini bisa dipahami bahwa porsi makna tobat tidak hanya sekadar pembersihan diri dari dosa dan maksiat, tetapi lebih banyak bermakna mendekatkan diri sedekat-dekatnya kepada Allah SWT (taqarrub ilallah).

Inabah yang merupakan sifat dasar al-tawwabin, sesungguhnya menjadi ciri khas para wali dan para orang dekat Tuhan (muqarrabin). Hal ini didasarkan pada firman Allah dalam Alquran, “Wa ja’a bi qalbin salim (Dan dia datang dengan hati yang bertobat).” (QS Qaf [50]: 33).

Selain inabah, juga dikenal istilah lain, yaitu aubah merupakan sifat para Nabi dan Rasul, sebagaimana firman-Nya, “Ni’mal ‘abd innahu awwab” (Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya ia amat taat (kepada Tuhannya).” (QS Shad [35]: 44).

 Barangsiapa mengobati sedang dia tidak dikenal sebagai ahli pengobatan maka dia bertanggung jawab((HR. Ibnu Majah))

Tiga Warisan Ramadhan

Kamis, 07 Agustus 2014, 13:25 WIB
 Spirit Ramadhan mesti kita jaga dengan sebaik-baiknya. Oleh: M Iqbal Dawami
Tamu agung itu telah pergi. Kita tidak tahu apakah tahun depan masih dipertemukan kembali atau tidak. Ya, bulan suci Ramadhan telah berlalu. Kini Syawal telah tiba. Harapan apa yang hendak diraih di bulan Syawal hingga bulan-bulan selanjutnya setelah kita digodok sebulan penuh di bulan Ramadhan?

Kita tidak ingin nuansa Ramadhan menjadi pudar. Untuk itu, spirit Ramadhan mesti kita jaga dengan sebaik-baiknya. Jangan sampai kita terlena kembali oleh hiruk-pikuk dunia sehingga melupakan apa yang sudah kita bangun pada bulan Ramadhan.

Kita masih ingat bagaimana menyambut Ramadhan dengan antusias. Pada siang hari menahan lapar dan haus  serta menjaga dari hal-hal buruk. Selama Ramadhan kita bersemangat ibadah Tarawih dan tadarus Alquran. Kita juga rela bangun pukul tiga dini hari untuk sahur. Apakah antusiasme dan keseriusan itu masih ada di bulan ini?
 
Bulan suci Ramadhan memberikan tiga warisan penting yang perlu kita pegang erat-erat dalam keseharian kita. Pertama, Alquran. Ramadhan adalah bulan diturunkannya Alquran. Rasulullah SAW dan para sahabat memberikan teladannya. Mereka begitu rajin membaca Alquran hingga beberapa kali khatam. Kita juga di bulan Ramadhan melakukan tadarus setiap hari yang lain dari biasanya.

Kebiasaan ini selayaknya dipertahankan di bulan-bulan selanjutnya. Sebagai petunjuk, Alquran tidak hanya dibaca tetap juga diamalkan segala perintah serta larangan yang tertera di dalamnya. Firman Allah: “Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil) ...” (QS al-Baqarah: 185).
 
Kedua, shalat. Pada bulan Ramadhan juga intensitas shalat begitu meningkat. Hal ini disebabkan semua amalan akan dilipatgandakan, sehingga memacu kita untuk melaksanakan shalat-shalat sunah. Paling tidak kita melaksanakan shalat sunah Tarawih sebelas rakaat ataupun 23 rakaat. Selayaknya amalan shalat sunah itu tetap dilakukan di bulan-bulan selanjutnya sebagai tanda keberhasilan kita di bulan Ramadhan.

Ketiga, infak. Pada bulan Ramadhan, kita juga dengan mudah memberi, mulai dari yang sunah seperti berinfak, menyantuni fakir-miskin, memberi iftar, hingga yang wajib, yaitu zakat fitrah dan zakat mal. Kebiasaan memberi ini sepatutnya dipertahankan dan terus dilestarikan di bulan-bulan berikutnya.

Ketiga hal di atas merupakan warisan berharga dari bulan Ramadhan yang mesti kita jaga dan amalkan terus-menerus dari bulan ke bulan hingga Ramadhan datang kembali di tahun berikutnya. Maka, dengan demikian,  kita bisa mencapai predikat manusia fitri, yang berhasil mengimplementasikan spirit Ramadhan di setiap bulannya.

Bukan tidak mungkin apabila implementasi ini muncul dari kesadaran kolektif, kaum Muslim betul-betul mencapai umat terbaik (khairu ummah) dan umat terpilih (ummatan wasathan).
 
Hal ini senada dengan firman Allah SWT, “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi” (QS Fathir: 29).
 
Mudah-mudahan di bulan Syawal ini dan bulan-bulan berikutnya kita terus mengamalkan tiga warisan Ramadhan di atas. Amin.

Anas Ra, pembantu rumah tangga Nabi Saw berkata, “ Aku membantu rumah tangga Nabi Saw sepuluh tahun lamanya, dan belum pernah Beliau mengeluh “Ah” terhadapku dan belum pernah Beliau menegur “kenapa kamu lakukan ini atau kenapa tidak kau lakukan ini.((HR. Ahmad))


Dahsyatnya Bahaya Fitnah

Rabu, 06 Agustus 2014, 12:01 WIB
Akibat badai fitnah, hidup seseorang bisa sengsara. Oleh: M Husnaini

Sebuah peristiwa terjadi ketika rombongan Rasulullah SAW beserta sahabat kembali dari perang melawan Bani Mushtaliq pada Sya’ban tahun ke-5 H. Beberapa orang munafik juga turut serta dalam peperangan ini.

Kisah bermula ketika dalam perjalanan pulang, rombongan Muslimin berhenti di suatu tempat. Aisyah RA, istri Rasulullah SAW, yang ikut dalam rombongan, keluar dari sekedup. Kalungnya hilang.

Lama mencari, perhiasan dari mutiara zifar itu tak juga ketemu. Ketika Aisyah kembali ke sekedupnya, rombongan sudah berangkat. Penanggung jawab sekedup pasti mengira bahwa Aisyah masih berada di dalamnya.

Menyadari dirinya tertinggal, Aisyah lantas duduk diam di tempat semula. Dia berharap, ada anggota rombongan yang berbalik untuk menjemputnya. Lelah menunggu, akhirnya Aisyah mengantuk dan tertidur. Pada saat bersamaan, lewatlah seorang sahabat bernama Shafwan bin Muaththal as-Sulami. Shafwan memang bertugas sebagai anggota pasukan paling belakang.

Melihat Aisyah sendirian di pinggir jalan, Shafwan terkejut seraya mengucapkan, “Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun, istri Rasulullah!” Aisyah terbangun. Shafwan langsung memberikan untanya untuk dikendarai Aisyah. Dia sendiri berjalan kaki menuntun unta sampai tiba di Madinah.

Nahas. Peristiwa itu diketahui orang munafik. Desas-desus pun muncul. Dasar orang munafik, selalu ada cara untuk menjatuhkan reputasi Rasulullah yang memang menjadi incaran sejak lama.

Ummul Mukminin, Aisyah, difitnah berselingkuh dengan Shafwan. Adalah orang munafik bernama Abdullah bin Ubai bin Salul yang paling getol menggencarkan fitnah keji bahwa Aisyah ada afair dengan Shafwan. Terang saja, fitnah segera menyebar ke seantero kota.

Fitnah itu menjadi buah bibir di kalangan penduduk Madinah selama kira-kira sebulan. Jangankan Muslimin pada umumnya, bahkan Rasulullah sendiri sempat terpengaruh. Karena termakan tuduhan murahan itu, dikabarkan Rasulullah sampai menunjukkan perubahan sikap kepada Aisyah. Tentulah hati Aisyah hancur. Dia tidak berhenti menangis dan jatuh sakit.

Tabir fitnah baru tersingkap ketika turun surah an-Nur ayat 11-26. Nama Aisyah dan Shafwan kembali bersih. Kini, semua benderang sudah. Peristiwa itu menunjukkan betapa dahsyatnya bahaya fitnah. Istilah yang dipakai oleh Allah dalam Alquran untuk mendefinisikan fitnah ialah buhtan (kebohongan besar). (QS al-Ahzab [33]: 58).

Akibat badai fitnah, hidup seseorang bisa sengsara. Keluarga kehilangan muka. Karier dan jabatan yang dibangun puluhan tahun lenyap seketika. Kepercayaan mendadak sirna. Kita berdoa semoga diselamatkan oleh Allah SWT dari segala fitnah yang menghinakan.

Segenap daya, kita juga berupaya agar jangan sampai termasuk golongan penebar fitnah. Di antara caranya ialah menghindari gibah. Sungguh lisan terasa ringan digerakkan untuk bermaksiat kepada Allah, tetapi betapa berat untuk diajak berzikir kepada Allah.

Banyak sekali faktor yang bisa mendorong manusia untuk berbuat kesalahan. Terkadang dorongan itu datang dari dalam diri sendiri dan terkadang dari luar. Berbahagialah orang yang mengoreksi kelemahan dirinya.

Sebab, kata Abu ad-Darda, “Termasuk wujud ilmu seorang hamba adalah dia mengetahui imannya bertambah atau berkurang. Dan, termasuk berkah ilmu seorang hamba adalah dia mengetahui dari mana setan akan menggelincirkannya.”


Pulanglah pada istrimu, bila engkau tergoda seorang wanita (HR Muslim)

Menaklukkan Waktu

Monday, 04 August 2014, 22:42 WIB
 Oleh: Rafiqah Ahmad Lc MA
Ada dua jenis nikmat yang sering kali dilalaikan kebanyakan orang, yaitu nikmat sehat dan waktu luang. Waktu merupakan salah satu nikmat Allah yang paling berharga yang dianugerahkan kepada para hamba-Nya.

Dalam Alquran disebutkan bahwa manusia itu akan mengalami kehancuran jika tidak memanfaatkan waktunya untuk kebaikan, sebagaimana firman Allah, “Dan demi masa. Sesungguhnya manusia itu dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, dan saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran.” (QS al-'Ashr [103]: 1-3).

Imam Fakhrurrazi dalam tafsirnya tentang surah al-'Ashr tersebut menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan al-'Ashr itu adalah waktu atau masa. Masa adalah sesuatu yang sifatnya sangat unik dan mengagumkan. Beragam kisah anak manusia terjadi silih berganti pada lintas generasi.

Kualitas kehidupan seorang anak manusia sangat tergantung dari caranya memanfaatkan waktu. Hidupnya akan berarti dan bernilai jika ia dapat memaksimalkan peran waktu di kehidupannya. Sebaliknya, kerugian dan kegagalanlah yang akan diperoleh saat dia menyia-nyiakan waktu yang dilaluinya.

Rasulullah SAW dalam hadisnya menjelaskan tentang urgensi waktu sebagai berikut,  “Ada dua jenis nikmat yang sering kali dilalaikan kebanyakan orang, yaitu nikmat sehat dan waktu luang.” Kedua nikmat ini merupakan anugerah tak terhingga dari Allah SWT  yang harus dimanfaatkan secara maksimal.

Terkait interpretasi dari hadis ini, Ibnul Jauzi menjelaskan, terkadang seseorang berada dalam kondisi sehat tapi tidak mempunyai waktu luang akibat tersita oleh pekerjaan dan urusan duniawi lainnya.

Sebaliknya saat seseorang mempunyai waktu luang namun tetap tidak bisa memanfaatkannya karena kondisi kesehatannya yang buruk sehingga waktu luang pun akan berlalu dengan sia-sia.

Dengan demikian, usia pada dasarnya tidaklah bernilai apa-apa dalam kehidupan ini, karena sebenarnya yang berharga itu adalah value dari pemanfaatan waktu. Value inilah yang akan membuat usia seseorang memiliki makna dan kualitas.

Seorang yang menyia-nyiakan puluhan tahun dari usianya, namun di saat-saat terakhirnya ia bertobat dan berbuat kebaikan maka kualitas usianya itu hanya di penghujung usianya saja. Ini menguatkan pernyataan dari ayat yang disebutkan sebelumnya.

Menarik sekali pernyataan dari Imam Syafi'i yang mengatakan bahwa selama dia bergaul dengan para ahli sufi, hanya dua pernyataan yang selalu dia dengar dari mereka, yaitu “Waktu itu ibarat pedang, jika kau tidak membunuhnya (waktu) maka dialah yang akan membunuhmu.”

Pernyataan lainnya, “Dan waktumu... jika tidak kau pergunakan untuk kebaikan maka dia akan menyibukkanmu dengan kejahatan.” Wallahu a'lam bish shawwab.

 Sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan mengubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada sesuatu kaum, hingga kaum itu merubah apa yang ada pada diri mereka sendiri, (( QS.An Anfaal 8 : 53 ))

Silaturahim Hati

Minggu, 03 Agustus 2014, 11:54 WIB
 Oleh: Ina Salma Febriany
Meminta maaf memang terkadang bukanlah perkara yang mudah, namun, bukan berarti kita tidak mampu melakukannyaBulan rahmah dan maghfirah telah berlalu. Kepergiannya diiringi dengan berbagai sambutan dari para pecintanya; ada yang teramat menyesal dan bersedih karena merasa belum memaksimalkan bulan Ramadhan, ada pula yang bersyukur karena telah mampu menjalani serangkaian target yang telah disusun selama bulan Ramadhan.

Apa pun perasaan yang kita miliki, tetaplah kita harus mensyukuri bahwa Idul Fitri adalah momentum penyucian hati setelah sebulan lamanya kita dilatih untuk menahan dan menyucikan diri dari segala hasrat duniawi; makan, minum, termasuk mengelola emosi.  Idul Fitri menjadi kesempatan terbaik untuk sama-sama membuka hati, memberi dan meminta maaf, serta menebarkan sifat belas kasih.

Meski memaafkan dan meminta maaf tak sebatas hanya pada saat perayaan Idul Fitri, momen perayaan ini kerap dispesialkan untuk berbagi dan memohon maaf. Tak ayal, ucapan yang sering kita dengar atau bahkan sering kita lontarkan ialah, ‘Mohon Maaf Lahir dan Bathin’.

Tak salah memang, memberi maaf terlebih meminta maaf adalah perilaku terpuji. Tak hanya bermaaf-maafan, Idul Fitri menjadi momen berharga untuk kembali merajut silaturahim bersama rekan dan sanak saudara.

Silaturahim (menyambung kasih sayang), atau yang justru sering disebut dengan silaturahmi adalah perbuatan baik yang dianjurkan Rasulullah SAW. Namun, hakikat silaturahim tak cukup dengan lahir (zahir/tampak), berupa berjabat tangan atau bertatap wajah. Hendaknya silaturahim bathin (hati) —yang sadar untuk meminta dan memberi maaf—benar-benar disadari, agar segala noda-noda di hati berupa iri, dengki, hasad, dendam, melebur hancur bersamaan dengan silaturahim tersebut.

Allah Swt berfirman, "Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Mahakaya lagi Mahapenyantun." (QS al-Baqarah: 263)

Secara tersirat, Allah menyebutkan dua tingkatan kebajikan dalam ayat ini, Pertama, perkataan yang baik. Berkata yang baik adalah salah satu usaha hifdz al-lisan (menjaga lisan) adalah hal yang benar-benar dianjurkan dalam Islam, sehingga Rasulullah SAW pun bersabda, ‘Berkatalah yang baik, atau (jika tidak bisa) lebih baik diam,’.

Dalam hadis ini Rasulullah mengajak umatnya untuk mampu berkata baik dan membuahkan manfaat bagi sesama, bukan perkataan penuh dusta, caci-maki, dendam dan amarah. Kedua, kebajikan dengan memberi maaf dan ampunan kepada orang yang telah berlaku buruk kepada kita, baik dengan perkataan maupun dengan perbuatan. Nah, yang terakhir inilah yang disadari maupun tidak, sulit dilakukan.

Meminta maaf memang terkadang bukanlah perkara yang mudah, namun, bukan berarti kita tidak mampu melakukannya. Terkadang pula, perasaan tinggi hati kerap merusak niat diri sehingga kita malu mengutarakan ‘maaf’ terlebih dulu, padahal, jika kita cermati bersama, Rasulullah SAW bersabda, “Tidak halal seorang Muslim menjauhi kawannya lebih dari tiga hari. Jika telah lewat waktu tiga hari itu, maka berbicaralah dengan dia dan berilah salam, jika dia telah menjawab salam, maka keduanya bersama-sama mendapat pahala, dan jika dia tidak membalasnya, maka sungguh dia kembali dengan membawa dosa, sedang orang yang memberi salam telah keluar dari dosa karena menjauhi itu.” (HR Abu Dawud)

Dalam hadis lain, Rasulullah SAW bersabda, “Pintu-pintu surga akan dibuka pada hari Senin dan Kamis, kemudian Allah akan memberi ampunan kepada setiap orang yang tidak menyekutukan Allah sedikit pun; kecuali seorang laki-laki yang ada perpisahan antara dia dengan saudaranya. Maka berkatalah Allah: ‘Tangguhkanlah kedua orang ini sehingga mereka berdamai, tangguhkanlah kedua orang ini sehingga mereka berdamai, tangguhkanlah kedua orang ini sehingga mereka berdamai.” (HR Muslim)

Semoga kita tergolong menjadi hamba-Nya yang mampu menyambung tali kasih sayang ikhlas dari hati, sehingga mudah untuk memberi dan meminta maaf dengan tulus. Amin.


 Sedekah dapat menghapus dosa sebagaimana air memadamkan api(HR. Tirmidzi)


Rabu, 21 Mei 2014

Mereka yang Dinaungi Allah

  Senin, 14 April 2014, 02:58 WIB

Sedekah (ilustrasi)
REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Mahmud Yunus

Pada hari kiamat, Allah SWT bakal mengumpulkan segenap manusia dari semua generasi di suatu tempat bernama mahsyar. Tempat itu berupa tempat terbuka. Di sana, tak ada satu naungan pun kecuali naungan Allah SWT.

Dalam hadis riwayat Muslim, Rasulullah SAW menggambarkan pada hari itu matahari akan berada sedekat-dekatnya dengan manusia. Dengan begitu, mereka dipastikan merasa kepanasan luar biasa. Keringat mereka bercucuran sangat deras.

Genangan keringat mereka sangat banyak. Ada yang menggenangi mata kaki, lutut, dan pinggang mereka. Bahkan, ada pula yang menenggelamkan mereka. Semua itu bergantung pada amal masing-masing.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda, “Pada hari kiamat semua manusia berkeringat. Genangan keringat mereka di atas permukaan bumi mencapai tujuh puluh hasta. Dan, akan menggenangi mereka hingga telinga mereka.’’ (HR Bukhari dan Muslim).

Pada hari itu hanya ada tujuh golongan yang berhak atas naungan Allah. Abu Hurairah menuturkan, Rasulullah SAW bersabda, “(Terdapat) tujuh golongan yang akan mendapat naungan Allah pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya.” (HR Bukhari dan Muslim).

Siapa mereka yang beruntung itu? Pertama, pemimpin yang adil. Yakni orang yang memimpin rakyatnya dengan amanah dan tidak menghakimi mereka dengan menuruti hawa nafsunya.

Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.’’ (QS An-Nisaa [4] : 58).

Kedua, pemuda yang konsisten beramal kebajikan dalam hidupnya. Yakni yang beruntung mendapatkan taufik dan hidayah Allah sejak usia muda belia. Dia diberi kemudahan untuk melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya.

Dia terhindar dari perbuatan sia-sia, dan tak meninggalkan shalat fardhu dengan sengaja. Allah SWT memuji mereka dalam firman-Nya, “Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk.’’ (QS Al-Kahfi [18] : 13).

Ketiga, laki-laki yang hatinya senantiasa terpaut dengan masjid. Yakni yang selalu berupaya keras memakmurkan masjid dalam hidupnya.

Allah SWT berfirman, “Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah yaitu orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan tidak takut selain kepada Allah. Merekalah yang diharapkan termasuk golongan orang yang mendapat petunjuk.” (QS At-Taubah [9] : 18).

Keempat, dua orang laki-laki yang saling mencintai atas nama Allah. Mereka berdua berkumpul dan berpisah atas nama-Nya. Allah berfirman, “Maka kelak Allah mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lembut terhadap orang-orang mukmin, bersikap tegas terhadap orang-orang kafir, yang berjuang di jalan Allah, dan tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela.” (QS Al-Maidah [5] : 54).

Dari Abu Umamah RA Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa saling mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah, dan menahan karena Allah maka iman pada dirinya telah sempurna.’’ (HR Abu Dawud dan disahihkan oleh Al-Albani).

Kelima, laki-laki yang manakala diajak mesum oleh wanita jelita dan memiliki kedudukan tinggi dengan tegas dia menolak ajakan semacam itu karena takut akan Allah.

Allah berfirman, “Dan adapun orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari dorongan hawa nafsunya. Maka, sesungguhnya Surgalah tempat tinggal(nya).’’ (QS An-Naazi’aat [79] : 40-41).

Keenam, laki-laki yang menyedekahkan hartanya dengan ikhlas demi mendapatkan keridaan-Nya semata (diilustrasikan dalam QS Al-Baqarah [2] : 271).

Ketujuh, laki-laki yang hatinya merasa takut kepada Allah. Dengan begitu dia selalu mengingat keberadaan-Nya, menyebut-nyebut nama-Nya, merenungkan kebesaran-Nya, karunia-Nya, dan rahmat-Nya. Tak jarang hingga berlinang air matanya (dilukiskan dalam QS Al-Maidah [5] : 83). Semoga kita semua termasuk golongkan yang dinaungi Allah. Amin.




Pemimpin Amanah

Rabu, 16 April 2014, 05:31 WIB

Pemanjat dari Federasi Panjat Tebing Indonesia memasang spanduk raksasa bertuliskan 'Pilih Yang Jujur' di Gedung KPK Jakarta, Selasa (8/4). (Republika/Agung Supriyanto)REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: A Ilyas Ismail
  
Pada suatu hari, Abu Dzar al-Ghifari meminta kepada Nabi SAW agar diangkat sebagai pejabat (semacam wali kota).
Sembari menepuk-nepuk pundaknya, Nabi SAW menolak permintaan itu dan berkata, ’’Tidak, Abu Dzar.  Engkau orang lemah. Ketahuilah, jabatan itu amanah. Ia  merupakan kehinaan dan penyesalan di hari kiamat, kecuali bagi orang yang mendapatkannya secara benar, dan mempergunakanya dengan benar pula.” (HR Muslim).

Hadis ini menarik untuk direnungkan pada saat bangsa Indoensia sedang mencari dan akan memilih pemimpin, dalam pemilu presiden nanti. Menunjuk pada hadis di atas, seorang pemimpin tidak cukup hanya baik secara moral.

Seorang pemimpin juga harus memiliki kemampuan dan integritas sekaligus yang dalam hadis ini disebut amanah.
Amanah berarti kepercayaan atau bisa dipercaya. Amanah berasal dari akar kata yang sama dengan iman. Jadi, amanah itu implikasi dari iman.

Tak ada iman bagi yang tak amanah,” demikian sabda Nabi (HR Ahmad). Ini berarti, kalau ada iman, maka ada amanah. Makin kuat iman semakin kuat pula sifat amanah pada seseorang. Amanah juga memiliki implikasi sosial.

Wujudnya berupa rasa aman dan kedamaian pada masyarakat. Kata al-amn yang diindonesiakan menjadi rasa aman dan damai berasal dari akar kata yang sama dengan amanah.

Ini juga mengandung makna bila pemimpin amanah, bisa dipercaya, lantaran dapat melaksanakan tugas dengan penuh rasa tanggung jawab, maka kehidupan masyarakat akan aman dan damai. Semakin pemimpin amanah, semakin rakyat aman dan sejahtera.

Dalam bahasa modern, amanah itu disebut trust (kepercayaan) atau trustworthiness (layak dan bisa dipercaya). Pemimpin amanah memiliki setidak-tidaknya tiga kriteria. Pertama,  kapabilitas yakni kemampuan atau kompetensi.

Ini diukur antara lain, melalui kepandaian dan ilmu, keterampilan mengelola dan memimpin . Manusia secara umum sulit atau tidak bisa memberi kepercayaan kepada orang yang bodoh atau tidak kompeten.

Kedua, integritas yakni kualitas moral dan keluhuran budi pekerti. Integritas menunjuk pada satunya kata dan laku perbuatan. Dalam intergirtas itu terdapat karakter. Karakter dibedakan dari citra.

Karakter adalah apa yang sebenarnya mengenai diri Anda sedangkan citra adalah apa yang dibayangkan orang tentang Anda yang boleh jadi bukan diri anda yang sebenarnya. Pemimpin memerlukan karakter, bukan citra.

Dalam integritas, juga terdapat kejujuran, yang berarti berkata benar atau mengatakan apa yang dilakukan dan melakukan apa yang dikatakan.
Integritas sangat  penting karena masyarakat tidak mungkin bisa memercayai orang yang tidak memiliki integritas tinggi.

Apalagi orang yang sudah nyata-nyata cacat secara moral, karena korupsi, menyuap, dan berbagai tindak kejahatan lainnya. Ketiga, bukti dan hasil.

Pada akhirnya, pemimpin disebut amanah saat sanggup membuktikan kepada rakyat dan dunia, kepemimpinan yang diembannya membawa perubahan bagi kemajuan bangsa dan peradaban. Wallahu a`lam!


Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)((QS ar-Rum: 41))

Telaga Rasulullah

Kamis, 17 April 2014, 06:48 WIB

Kaligrafi Nama Nabi Muhammad (ilustrasi)REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Is Nursamsi
Diriwayatkan dari Uqbah bin Amir. Pada suatu hari Rasulullah SAW keluar untuk menyalatkan jenazah syuhada Uhud.
Kemudian beliau beralih ke atas mimbar dan bersabda,’’Sesungguhnya aku akan mendahului kalian dan aku menjadi saksi atas kalian. Demi Allah, sesungguhnya sekarang ini aku sedang melihat telagaku, sesungguhnya aku  diberikan kunci-kunci kekayaan bumi atau kunci-kunci bumi. Sesungguhnya demi Allah, aku tidak khawatir kalian akan kembali musyrik sepeninggalku tetapi aku khawatir kalian akan berlomba-lomba dalam kehidupan dunia.’’ (HR Muslim).

Dalam hadis di atas dijelaskan, akan terjadi pada umat Rasulullah perlombaan mencari kehidupan dunia. Mereka rela mengorbankan iman dan akidahnya hanya demi kehidupan dunia sehingga mereka tidak mendapatkan telaga Rasulullah.

Ketika seseorang masuk ke telaga Rasulullah tidak akan merasakan dahaga sedikitpun. Sebaliknya, mereka merasakan kenikmatan begitu besar.

Diriwayatkan oleh Sahal, ia berkata pernah mendengar Nabi SAW bersabda,’’Aku mendahului kalian berada di telaga. Barang siapa yang sampai di sana tentu dia akan minum dan barang siapa yang telah minum niscaya tidak merasakan dahaga selamanya. Sungguh akan datang kepadaku kaum yang aku kenal dan mereka mengenal aku kemudian terdapat penghalang antara aku dan mereka.’’ (HR Muslim).

Telaga Rasulullah tidak akan diberikan kepada umatnya yang sibuk dengan kehidupan dunia, yang menjadikannya sebagai awal dan akhir dari kehidupan. Lalu, mereka rela meninggalkan amalan akhirat dan mengutamakan kehidupan dunia.

Telaga Rasulullah akan diberikan kepada mereka yang menjadikan dunia sebagai tempat bercocok tanam untuk mengais pahala demi negeri yang abadi (akhirat). Mereka menjadikan dunia sebagai tempat sementara dan mencari bekal sebanyak-banyaknya menuju akhirat.

Oleh karena itu, marilah kita berlomba-lomba mendapatkan telaga Rasulullah. Caranya, menghindari kehidupan dunia yang melenakan dan menghancurkan diri kita.

Diriwayatkan oleh Amr bin Auf, Rasulullah SAW mengutus Abu Ubaidah bin Jarrah ke Bahrain untuk memungut jizyahnya (upeti). Rasulullah SAW telah mengadakan perjanjian damai dengan penduduk Bahrain dan mengangkat Alaa bin Hadhrami sebagai gubernurnya.

Kemudian Abu Ubaidah kembali dengan membawa harta dari Bahrain. Orang-orang Anshar mendengar kedatangan Abu Ubaidah lalu melaksanakan shalat subuh bersama Rasulullah. Setelah shalat beliau beranjak lalu mereka menghalanginya.

Ketika melihat mereka beliau tersenyum dan bersabda,’’ Aku tahu kalian mendengar kabar Abu Ubaidah telah tiba dari Bahrain dengan membawa upeti.'' Mereka berkata,’’ Benar wahai Rasulullah.’’

Beliau bersabda,’’Bergembiralah dan berharaplah agar mendapat sesuatu yang menyenangkan kamu sekalian. Demi Allah, bukan kefakiran yang aku khawatirkan atas diri kalian tetapi yang aku khawatirkan adalah jika kekayaan dunia dilimpahkan kepada kalian seperti orang-orang sebelum kalian, lalu kalian akan berlomba-lomba mendapatkannya sebagaimana mereka berlomba-lomba dan akhirnya dunia itu membinasakan kalian seperti yang telah membinasakan mereka.'' (HR Muslim).

 'Ketahuilah, sesungguhnya bahwa malaikat tidak mau masuk ke rumah yang di dalamnya terdapat patung.(HR Bukhari)

Pahala Orang Teraniaya

Selasa, 22 April 2014, 05:51 WIB

Pemuda mabuk (ilustrasi)REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Syahruddin El-Fikri

Dalam kitab Ushfuriyah karya Muhammad bin Abu Bakar al-Ushfuri, dikisahkan, Ibrahim bin Azham, sebelum masuk Islam, memiliki 72 orang budak (hamba sahaya). Namun setelah masuk Islam, ia memerdekakan seluruh budaknya, kecuali satu orang.

Hal itu disebabkan si hamba sahaya ini suka minum minuman keras dan mabuk-mabukan. Pada suatu hari, sang budak kembali mabuk-mabukan. Tanpa disadarinya, ia bertemu dengan tuannya, yakni Ibrahim bin Azham. Si budak pun meminta diantarkan pulang.

"Wahai fulan, tolong antarkan aku ke rumahku," ujarnya. Ibrahim pun mengantarkannya. Namun bukan diantar ke rumah, melainkan ke kuburan. Mengetahui tempat yang dituju adalah kuburan, marahlah si budak tersebut.

Ia pun memukul Ibrahim dengan keras hingga jatuh tersungkur. "Bukankah aku minta diantar ke rumah. Kenapa kau antar aku ke kuburan?" kata dia. Ibrahim pun lantas segera bangkit dan berkata kepada si budak.

"Wahai orang yang pecah kepalanya, wahai orang yang sedikit otaknya, ini (kuburan) adalah rumah yang sebenarnya. Yang lain hanyalah majazi," ujar Ibrahim. Mendengar jawaban itu, bukannya tambah sadar, si budak malah makin marah. Ia pun kembali memukuli Ibrahim.

Ibrahim pun berkata: "Semoga Allah mengampunimu dan aku membebaskanmu." Tapi, lagi-lagi si budak justru memukulinya berkali-kali dengan penuh amarah. Ibrahim terus mendoakan si budak agar perbuatannya diampuni Allah SWT dan diberi petunjuk ke jalan Islam.

Akhirnya datanglah seseorang menghentikan perbuatan buruk si budak itu. "Wahai fulan, apa yang kamu lakukan? Mengapa engkau memukuli tuanmu?" kata laki-laki yang menghentikan perbuatan buruknya tadi. Kesadaran mulai menghinggapi pikirannya. "Siapa ini?" kata dia.

Laki-laki itu pun menceritakan, orang yang dipukulinya itu adalah tuannya, Ibrahim bin Azham. Si budak yang sudah dimerdekakan ini pun kemudian meminta maaf atas perbuatannya tadi. Ia lalu berkata: "Wahai tuan, maafkan kesalahanku." Ibrahim pun memaafkannya.

Si budak yang telah dimerdekakan ini berkata: "Wahai tuan, aku telah memukuli dan menyakitimu. Namun, engkau selalu saja berdoa yang terbaik untukku dan berkata semoga Allah mengampuniku."

Ibrahim berkata, "Bagaimana aku tak mendoakanmu, sebab karena perbuatanmu itu yang bisa mengantarkanku ke surga. Maka sudah selayaknya aku memohon doa kepada Allah agar Ia mengampunimu," ujarnya.

Dari kisah di atas dapat diambil kesimpulan, seburuk apapun perbuatan orang kepada kita, selayaknya kita tak membalasnya dengan keburukan pula. Sebaliknya kita dianjurkan mendoakannya dan berharap yang bersangkutan mendapat petunjuk  Allah SWT.

Sebab, jika kita membalas perbuatannya dengan keburukan pula, kita ikut berbuat zalim. Agama mengajarkan, bila melihat kemungkaran, kita harus mengubahnya (menghentikannya) dengan kekuasaan yang dimiliki.

Jika kita tak mampu, hentikan dengan lisan, dan bila tak mampu juga, cukuplah dengan hati untuk membenci perbuatan buruk itu. Kisah di atas juga mengajarkan agar kita tak semena-mena menganiaya (menzalimi) orang lain.

Misalnya mencuri, membunuh, membohongi, atau mengambil hak orang lain. Sebab, doa orang teraniaya itu sangat mustajab dan dikabulkan Allah.
Dan bagi mereka yang bersabar atas perbuatan zalim akan mendapatkan pahala dan surga dari Allah. Wallahu a'lam. 

 Tiadakah kamu mengetahui bahwa kerajaan langit dan bumi adalah kepunyaan Allah? Dan tiada bagimu selain Allah seorang pelindung maupun seorang penolong. ((QS. Al-Baqarah [2]:107))