Sebagian besar maksiat itu terjadi pada seseorang, melalui empat pintu yang telah disebutkan di atas.
Sekarang, marilah kita ikuti pembahasan tentang empat pintu tersebut di bawah ini :
1- Al Lahazhat ( Pandangan pertama).Yang
satu ini bisa dikatakan sebagai ‘provokator’ syahwat, atau ‘utusan’
syahwat. Oleh karenanya, menjaga pandangan merupakan pokok dalam usaha
menjaga kemaluan. Maka barang siapa yang melepaskan pandangannya tanpa
kendali, niscaya dia akan menjerumuskan dirinya sendiri pada jurang
kebinasaan.
Rasulullah r bersabda :
" لا تتبع النظرة النظرة، فإنما لك الأولى وليست لك الأخرى ".
“Janganlah kamu ikuti pendangan (pertama) itu dengan pandangan
(berikutnya). Pandangan (pertama) itu boleh buat kamu, tapi tidak dengan
pandangan selanjutnya.” ( HR. At Turmudzi, hadits hasan ghorib ).
Dan di dalam musnad Imam Ahmad, diriwayatkan dari Rasulullah r , beliau bersabda :
" النظرة سهم مسموم من سهام إبليس، فمن غض بصره عن محاسن امرأة لله أورث الله قلبه حلاوة إلى يوم يلقاه ".
“Pandangan itu adalah panah beracun dari panah panah iblis.
Maka barang siapa yang memalingkan pandangannya dari kecantikan seorang
wanita, ihlas karena Allah semata, maka Allah akan memberikan di
hatinya kelezatan sampai pada hari kiamat.” ( HR. Ahmad )..
Beliau juga bersabda :
" غضوا أبصاركم واحفظوا فروجكم ".
“Palingkanlah pandangan kalian, dan jagalah kemaluan kalian.” (HR. At Thobrani dalam Al mu’jam al kabir ).
Dalam hadits lain beliau bersabda :
"
إياكم والجلوس على الطرقات، قالوا : يا رسول الله, مجالسنا، ما لنا بد
منها. قال : فإن كنتم لا بد فاعلين فأعطوا الطريق حقه، قالوا : وما حقه ؟
قال : غض البصر وكف الأذى ورد السلام ".
“Janganlah kalian duduk duduk
di ( tepi ) jalan”, mereka berkata : “ya Rasulallah, tempat tempat duduk
kami pasti di tepi jalan”, beliau bersabda : “Jika kalian memang harus
melakukannya, maka hendaklah memberikan hak jalan itu”, mereka bertanya :
“Apa hak jalan itu ?”, beliau menjawab : “Memalingkan pandangan ( dari
hal hal yang dilarang Allah, pent.), menyingkirkan gangguan, dan
menjawab salam.” ( HR. Muslim ).
Pandangan adalah asal
muasal seluruh musibah yang menimpa manusia. Sebab, pandangan itu akan
melahirkan lintasan dalam benak, kemudian lintasan itu akan melahirkan
pikiran, dan pikiran itulah yang melahirkan syahwat, dan dari syahwat
itu timbullah keinginan, kemudian keinginan itu menjadi kuat, dan
berubah menjadi niat yang bulat. Akhirnya apa yang tadinya melintas
dalam pikiran menjadi kenyataan, dan itu pasti akan terjadi selama tidak
ada yang menghalanginya.
Oleh karena itu, dikatakan oleh sebagian
ahli hikmah bahwa “bersabar dalam menahan pandangan mata ( bebannya )
adalah lebih ringan dibanding harus menanggung beban penderitaan yang
ditimbulkannya.”
Seorang penyair mengatakan :
كل الحوادث مبـداها من النظـر *** ومعظم النار من مستصغر الشرر
كم نظرة بلغت من قلب صاحبهـا *** كمبلغ السهم بين القوس والوبر
والعبـد ما دام ذا طـرف يقلبـه ***في أعين الغير موقوف على الخطر
يسر مقلتــه ما ضر مهجتــه *** لا مرحبـا بسرور عاد بالضرر
- Setiap kejadian musibah itu bermula dari pandangan, seperti kobaran api berasal dari percikan api yang kecil.
-
Betapa banyak pandangan yang berhasil menembus kedalam hati pemiliknya,
seperti tembusnya anak panah yang dilepaskan dari busur dan talinya.
-
Seorang hamba, selama dia masih mempunyai kelopak mata yang digunakan
untuk memandang orang lain, maka dia berada pada posisi yang
membahayakan.
- ( Dia memandang hal hal yang ) menyenangkan matanya
tapi membahayakan jiwanya, maka janganlah kamu sambut kesenangan yang
akan membawa malapetaka.
Diantara bahaya pandangan
Pandangan yang dilepaskan begitu saja itu akan menimbulkan perasaan
gundah, tidak tenang dan hati yang terasa dipanas panasi. Seseorang bisa
saja melihat sesuatu, yang sebenarnya dia tidak mampu untuk melihatnya
secara keseluruhan, karena dia tidak sabar untuk melihatnya. Tentu
merupakan siksaan yang berat pada batin anda, bila ternyata anda melihat
sesuatu yang anda sendiri tidak bisa sabar untuk tidak melihatnya,
walaupun sebagian dari sesuatu tersebut, namun anda juga tidak mampu
untuk melihatnya.
Seorang penyair berkata :
وكنت متى أرسلت طرفك رائدا لقلبـك يوما أتعبـتك المناظر
رأيت الذي لا كلـه أنت قادر عليه ولا عن بعضـه أنت صابر
-
Bila – suatu hari – engkau lepaskan pandangan matamu mencari (
mangsa ) untuk hatimu, niscaya apa apa yang dipandangnya akan melelahkan
( menyiksa ) diri kamu sendiri.
- Engkau melihat sesuatu yang engkau
tidak mampu untuk melihatnya secara keseluruhan dan engkau juga tidak
bisa bersabar untuk tidak melihat ( walau hanya ) sebagian dari sesuatu
itu.
Lebih jelasnya, bait syair di atas maksudnya : engkau akan
melihat sesuatu yang engkau tidak sabar untuk tidak melihatnya walaupun
sedikit, namun saat itu juga engkau tidak mampu untuk melihatnya sama
sekali walaupun hanya sedikit.
Betapa banyak orang yang melepaskan
pandangannya tanpa kendali, akhirnya dia binasa dengan pandangan
pandangan itu sendiri. Seperti yang diungkapkan oleh seorang penyair :
يا ناظرا ما أقلعت لحظاتـه حتى تشحط بينهن قتيـلا
Wahai
orang yang memandang, tidaklah dia sampai tuntas menyelesaikan
pandangannya, sehingga dia sendiri akan menjauh dan jatuh binasa karena
pandangan pandangannya sendiri.
Ada untaian bait lain yang mengatakan :
مل السلامة فاغتدت لحظاتـه وقفا على طلل يظن جميلا
ما زال يتبـع إثرة لحـظاتـه حتى تشحط بينهـن قتيلا
- (Mungkin) dia sudah bosan selamat, sehingga dia biarkan pandangannya menyaksikan apa yang menurutnya indah.
-
Begitulah ; dia terus melanjutkan satu pandangan dengan pandangan yang
lain, sehingga ahirnya dia menjauh dan jatuh binasa karena pandangan
pandangannya sendiri.
Suatu hal yang lebih mengherankan, yaitu
bahwa pandangan yang dilakukan oleh seseorang itu merupakan anak panah
yang tidak pernah mengena pada sasaran yang dipandang, sementara anak
panah itu benar benar mengena di hati orang yang memandang.
Ada untaian bait syair yang mengatakan :
يا راميا سهام اللحـظ مجتهـدا أنت القتيـل بما ترمي فلا تصب
وباعث الطرف يرتاد الشفاء لـه احبس رسولك لا يأتيك بالعطب
-
wahai orang yang dengan sungguh sungguh melempar anak panah
pandangannya, engkaulah sebenarnya yang menjadi korban dari apa yang
kamu lempar itu dan engkau tidak berhasil membidik orang yang engkau
pandang.
- Dan orang yang melepas pandangannya dia akan kehilangan
kesehatannya. ( oleh karena itu ) tahanlah pandanganmu, agar tidak
mendatangkan musibah kepadamu.
Suatu hal yang lebih mengherankan
lagi, yaitu bahwa satu pandangan (padahal yang dilarang ) itu dapat
melukai hati dan (dengan pandangan yang baru ) berarti dia menoreh luka
baru di atas luka lama ; namun ternyata derita yang di timbulkan oleh
luka luka itu tak mencegahnya untuk kembali terus menerus melukainya.
ما زلت تتبع نظـرة في نظـرة في إثر كـل مليحـة ومليـح
وتظن ذاك دواء جرحك وهو في الـ تحقيق تجريـح على تجريـح
فذبحت طرفك باللحاظ وبالبكاء فالقلب منك ذبيـح أي ذبيـح
- Kau senantiasa mengikutkan satu pandangan dengan pandanganlainnya untuk menyaksikan ( wanita ) cantik dan ( pria ) tampan.
- Dan kau mengira bahwa itu dapat mengobati luka ( syahwat )mu, padahal dengan itu berarti kau menoreh luka di atas luka.
- Kau korbankan matamu dengan pandangan dan tangisan, sementara hatimu juga ( menjerit seperti ) disembelih habis habisan.
Oleh karena itu dikatakan : “sesungguhnya menahan pandangan hatimu itu lebih mudah dari pada menahan langgengnya penyesalan.”
2- Al Khothorot ( pikiran yang melintas di benak ).
Adapun
“Al Khothorot” ( pikiran yang terlintas dibenak ) maka urusannya lebih
sulit. Di sinilah tempat dimulainya aktifitas, yang baik ataupun yang
buruk. Dari sinilah lahirnya keinginan ( untuk melakukan sesuatu ) yang
akhirnya berubah manjadi tekad yang bulat.
Maka barang siapa yang
mampu mengendalikan pikiran pikiran yang melintas di benaknya, niscaya
dia akan mampu mengendalikan diri dan menundukkan hawa nafsunya. Dan
orang yang tidak bisa mengendalikan pikiran pikirannya, maka hawa
nafsunyalah yang berbalik menguasainya. Dan barang siapa yang menganggap
remeh pikiran pikiran yang melintas di benaknya, maka tanpa dia
inginkan ia akan terseret pada kebinasaan.
Pikiran pikiran itu
akan terus melintas di benak dan di dalam hati seseorang, sehingga
ahirnya dia akan manjadi angan angan tanpa makna (palsu ).
]وَالَّذِينَ
كَفَرُوا أَعْمَالُهُمْ كَسَرَابٍ بِقِيعَةٍ يَحْسَبُهُ الظَّمْآنُ مَاء
حَتَّى إِذَا جَاءهُ لَمْ يَجِدْهُ شَيْئًا وَوَجَدَ اللَّهَ عِندَهُ
فَوَفَّاهُ حِسَابَهُ وَاللَّهُ سَرِيعُ الْحِسَاب[ِ سورة النــور.
“Laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang
orang yang dahaga, tetapi bila ia mendatanginya maka ia tidak
mendapatkannya walau sedikitpun, dan didapatinya (ketetapan ) Allah di
sisiNya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amalnya dengan
cukup, dan Allah adalah sangat cepat perhitunganNya.” ( QS. An Nur, 39
).
Orang yang paling jelek cita citanya dan paling hina
adalah orang yang merasa puas dengan angan angan kosongnya. Dia pegang
angan angan itu untuk dirinya dan dia pun merasa bangga dengan senang
dengannya. Padahal demi Allah, angan angan itu adalah modal orang orang
yang pailit, dan barang dagangan para pengangguran serta merupakan
makanan pokok bagi jiwa yang kosong, yang bisa merasa puas dengan
gambaran gambaran dalam hayalan, dan angan angan palsu.
Seperti dikatakan oleh seorang penyair :
أماني من سعدى رواء على الظما سقتنا بها سعدى على ظمـأ بردا
منى إن تكن حقا تكن أحسن المنى وإلا فقد عشـنا بها زمنا رغـدا
-Angan
angan untuk mendapatkan su’da, dapat mengholangkan dahaga. Dengan angan
angan itu Su’da telah berhasil memberikan pada kita air dingin di kala
haus.
- Angan angan yang sekiranya dapat menjadi kenyataan, tentu
menjadi kebahagiaan, dan kalaupun tidak, maka sesungguhnya kita hidup
senang beberapa waktu dengan angan angan itu.
Angan angan adalah
sesuatu yang sangat berbahaya bagi manusia. Dia lahir dari sikap
ketidakmampuan sekaligus kamalasan, dan melahirkan sikap lalai yang
selanjutnya penderitaan dan penyesalan. Orang yang hanya mendapatkan
realita yang diinginkannya – sebagai pelampiasannya, maka dia merubah
gambaran realita yang dia inginkan kedalam hatinya ; dia akan mendekap
dan memeluknya erat erat. Selanjutnya dia akan merasa puas dengan
gambaran gambaran palsu yang dihayalkan oleh pikirannya.
Padahal itu
semua, sedikitpun tidak akan membawa manfaat, sama seperti orang yang
sedang lapar dan haus, membayangkan gambaran makanan dan minuman, namun
dia tidak dapat memakan dan meminumnya.
Perasaan tenang dan puas
dengan kondisi semacam ini dan berusaha untuk memperolehnya, jelas
menunjukkan betapa jelek dan hinanya jiwa seseorang, sebab kemuliaan
jiwa seseorang, kebersihan, kesucian dan ketinggiannya tidak lain adalah
dengan cara membuang jauh jauh setiap pikiran pikiran yang jauh dari
realita, dan dia tidak rela bila hal hal tersebut sampai melintas di
benaknya, serta dia juga tidak sudi hal itu terjadi pada dirinya.
Kemudian “khothorot” atau ide, pikiran yang melintas di benak itu mempunyai banyak macam, namun pada pokoknya ada empat :
1- pikiran yang orientasinya untuk mencari keuntungan dunia / materi.
2- Pikiran yang orientasinya untuk mencegah kerugian dunia/ materi.
3- Pikirang yang orientasinya untuk mencari kemaslahatan akhirat.
4- Pikiran yang orientasinya untuk mencegah kerugian akhirat.
Idealnya,
seorang hamba hendaklah menjadikan pikiran pikiran, ide ide dan
keinginannya hanya berkisar pada empat macam di atas. Bila kesemua
bagian itu ada padanya, maka selagi mungkin dipadukan, hendaklah dia
tidak mengabaikannya untuk yang lain. Kalau ternyata pikiran pikiran
yang datang itu banyak dan bertumpang tindih, maka hendaklah dia
mendahulukan yang lebih penting, yang dihawatirkan akan kehilangan
kesempatan untuk itu, kemudian mengahirkan yang tidak terlalu penting
dan tidak dihawatirkan kehilangan kesempatan untuk itu.
Yang tersisa sekarang adalah dua bagian lagi, yaitu :
Pertama : yang penting dan tidak dikhawatirkan kehilangan kesempatan untuk melakukannya.
Kedua : yang tidak penting, namun dihawatirkan kehilangan kesempatan untuk melakukannya.
Dua
bagian terahir ini sama sama mempunyai alasan untuk didahulukan. Di
sinilah lahir sikap ragu ragu dan bingung untuk memilih. Bila dia
dahulukan yang penting, dia hawatir akan kehilangan kesempatan yang
lain. Dan bila dia mendahulukan yang lain, dia akan kehilangan sesuatu
yang penting. Begitulah kadang kadang seseorang dihadapkan pada dua
pilihan yang tidak mungkin dikumpulkan menjadi satu, yang mana salah
satunya tidak dapat dicapai kecuali dengan mengorbankan yang lain.
Di
sinilah akal, nalar dan pengetahuan itu berperan. Di sini akan
diketahui siapa orang yang tinggi, siapa orang yang sukses, dan siapa
orang yang merugi. Kebanyakan orang yang mengagungkan akal dan
pengetahuannya, akan anda lihat dia mengorbankan sesuatu yang penting
dan tidak khawatir kehilangan kesempatan untuk itu, demi melakukan
sesuatu yang tidak penting yang tidak dikhawatirkan kehilangan
kesempatan untuk melakukannya. Dan anda tidak akan mendapatkan
seorangpun yang selamat ( dan terlepas ) dari hal seperti itu. Hanya
saja ada yang jarang dan ada pula yang sering menghadapinya.
Dan
sebenarnya yang dapat dijadikan sebagai penentu pilihan dalam masalah
ini adalah sebuah kaidah besar dan mendasar yang merupakan poros
berputarnya aturan aturan syari’at, dan juga pada kaidah inilah
dikembalikan segala urusan. Kaidah itu adalah mendahulukan kemaslahatan
yang lebih besar dan lebih tinggi dalam dua pilihan yang ada – walaupun
harus mengorbankan kemaslahatan yang lebih kecil – kemudian kaidah itu
pula yang menyatakan bahwa kita memilih kemudlaratan yang lebih ringan
untuk mencegah terjadinya mudlarat yang lebih besar.
Jadi, sebuah
kemaslahatan akan dikorbankan dengan tujuan mendapatkan kemaslahatan
yang lebih besar, begitu pula sebuah kemadlaratan akan dilakukan dengan
tujuan mencegah terjadinya kemudlaratan yang lebih besar.
Pikiran
pikiran serta ide ide orang yang berakal itu tidak akan keluar dari apa
yang kita jelaskan di atas. Dan karena itu datang berbagai syariat atau
aturan. Kemaslahatan dunia dan akhirat selalu didasarkan pada hal hal
tersebut. Dan pikiran pikiran serta ide ide yang paling tinggi, paling
mulia dan paling bermanfaat ialah orientasinya untuk Allah I dan
kebahagiaan di alam akhirat nanti.
Kemudian pikiran yang orientasinya adalah untuk Allah ini bermacam macam :
Pertama
: memikirkan ayat ayat Allah yang telah diturunkan dan berusaha untuk
memahami maksud Allah dari ayat ayat tersebut; dan memang untuk itulah
Allah menurunkannya ; tidak hanya sekedar untuk dibaca saja, namun
membaca itu hanya media saja.
Sebagian ulama salaf mengatakan :
“Allah menurunkan Al Qur’an untuk diamalkan, maka jadikanlah bacaan Al
Qur’an itu sebagai amalan.”
Kedua : memikirkan dan memperhatikan ayat
ayat atau tanda tanda kebesaranNya yang dapat dilihat langsung ; dan
menjadikannya sebagai bukti akan nama nama Allah, sifat sifat, hikmah,
kebaikan dan kemurahanNya. Dan Allah sendiri telah mendorong
hamba-hambaNya untuk merenungkan tanda tanda kebesaranNya, memikirkan
dan memahaminya ; Allah menegur dan mencela orang yang melalaikannya.
Ketiga
: memikirkan ni’mat, kebaikan dan berbagai karunia yang Dia limpahkan
kepada seluruh makhlukNya, dan merenungkan keluasan rahmat, ampunan dan
kasih sayangNya.
Tiga hal di atas akan dapat mendorong lahirnya –
dari hati seorang hamba – ma’rifatullah (pengetahuan tentang Allah),
kecintaan serta perasaan cemas dan harap kepadaNya. Dan bila tiga hal
tadi dilakukan dengan kontinyu, disertai dengan dzikir kepada Allah,
maka hati seorang hamba akan tercelup secara sempurna dengan ma’rifah
dan kecintaan kepadaNya.
Keempat : memikirkan aib, cela dan kelemahan
yang ada pada jiwa dan amal perbuatan. Hal ini akan memberikan manfa’at
yang sangat besar, karena berperang dalam mengalahkan hawa nafsu yang
selalu memerintahkan kejelekan. Bila nafsu yang jahat itu dapat
dikalahkan maka nafsu muthmainnah (jiwa yang tenang)lah yang akan hidup,
bangkit dan menjadi penentu segala keputusan. Lalu hatipun menjadi
hidup dan kebijakan yang ada pada kerajaannyapun didengar, dia perintah
para karyawan dan bala tentaranya untuk melakukan hal yang membawa
kemaslahatanya.
Kelima : memikirkan kewajiban terhadap waktu
sekaligus bagaimana cara menggunakannya, serta menumpahkan seluruh
perhatian terhadap pemanfaatan waktu. Seorang yang arif, akan selalu
memanfaatkan waktunya, karena dia yakin, bila waktunya disia siakan
begitu saja, berarti dia telah menyia nyiakan seluruh kemaslahatan (
yang seharusnya dia dapatkan. Pent ) sebab, seluruh kemaslahatan itu,
tidak lain bisa timbul dan didapatkan melainkan dari adanya waktu. Dan
bila disia siakan ( dan waktu itu sudah lewat. Pent ) maka dia tidak
akan bisa mengembalikannya lagi untuk selamanya.
Al Imam Asy
Syafi’i berkata : “ aku pernah berteman dengan orang orang sufi dan aku
tidak mendapatkan manfaat apa apa dari mereka kecuali dua kalimat saja :
Pertama :
الوقت سيف، فإن قطعته وإلا قطعك .
“Waktu itu bagaikan pedang, bila engkau tidak memotongnya, dialah yang akan menebasmu.”
Kedua :
ونفسك إن لم تشغلها بالحق وإلا شغلتك بالباطل .
“Dan nafsumu, bila engkau tidak menyibukkannya dengan kebenaran, maka dialah yang akan menyibukkanmu dengan kebathilan.”
Waktu
yang dimiliki manusia, itulah umur dia yang sebenarnya. Waktu itulah
yang menjadi modal untuk kehidupannya yang abadi dalam kenikmatan abadi
(sorga), sekaligus juga modal untuk kehidupan yang sengsara dalam azab
yang pedih ( neraka ). Waktu berlalu lebih cepat dari perjalanan
gumpalan awan. Maka, barang siapa yang berhasil menjadikan waktunya
untuk Allah dan bersama Allah, itulah kehidupan dan umurnya yang hakiki.
Dan waktu yang tidak dipersembahkan untuk Allah tidaklah dihitung
sebagai bagian dari kehidupannya, walaupun dia hidup tapi kehidupannya
laksana kehidupan binatang ternak. Bila seseorang menghabiskan waktunya
penuh dengan kelalaian, syahwat dan angan angan kosong atau yang paling
banyak hanya digunakan untuk tidur dan pengangguran, maka bagi orang
semacam ini ‘mati’ itu lebih baik dari pada dia hidup.
Bila seorang
hamba – yang sedang melakukan shalat – tidak akan mendapatkan nilai dari
shalatnya selain pada bagian yang dia fahami dari shalatnya, maka
umurnya yang sesungguhnya adalah waktu yang dia habiskan untuk Allah dan
bersama Allah.
Pikiran pikiran atau ide ide yang tidak termasuk
salah satu bagian yang disebut di atas tadi, dapat kita katagorikan
sebagai was was syaithoniyah (bisikan syetan), angan angan kosong atau
halusinasi bohong, persis seperti pikiran pikiran orang yang kurang
waras akannya, baik karena mabuk atau fly dan lain sebagainya. Dimana
ketika segala hakikat kenyataan itu tampak, kondisi mereka saat itu
mengatakan :
إن كان منـزلتي في الحشر عندكم ما قد لقيت فقد ضيعت أيامي
أمنية ظفرت نفسي بـها زمنـا واليوم أحسبها أضغاث أحلام
-
Bila kedudukanku, saat dikumpulkan bersama kalian, seperti apa yang
telah aku temui sendiri (sekarang ini), maka sungguh aku telah menyia
nyiakan hari hariku.
- Angan angan itu telah menguasai jiwaku dalam
jangka waktu yang lama, dan hari ini, aku menganggapnya hanya sebagai
bunga rampai.
Ketahuilah, sebenarnya pikiran pikiran yang
melintas itu tidaklah membahayakan, namun yang bahaya bila pikiran
pikiran itu sengaja didatangkan dan terjadi interaksi dengannya. Pikiran
yang melintas itu laksana orang yang disuatu jalan, bila anda tidak
memanggilnya dan anda biarkan dia, maka dia akan berlalu meninggalkan
anda. Namun bila anda memanggilnya, anda akan terpesona dengan
percakapan, dusta dan tipuannya. Tindakan ini akan terasa begitu ringan
bagi jiwa yang kosong penuh kebatilan, dan begitu berat dirasa oleh hati
dan jiwa yang suci dan tenang.
Allah I telah memasang dua macam
nafsu pada diri menusia ; nafsu ammarah dan nafsu muthmainnah, yang
kedua duanya saling bertolak belakang. Segala sesuatu yang terasa ringan
oleh yang satu, maka akan terasa berat oleh yang lain.
Apa yang
terasa nikmat oleh yang satu, maka akan terasa menyiksa oleh yang lain.
Tak ada sesutau yang lebih berat bagi nafsu ammarah melebihi perbuatan
yang dilakukan karena Allah dan mendahulukan keridhaaNya dari pada hawa
nafsunya, padahal tidak ada amal yang lebih bermanfaat baginya dari
amal tersebut. Begitu pula, tidak ada sesuatu yang lebih berat bagi
nafsu muthmainnah dari perbuatan yang bukan untuk Allah dan mengikuti
kemauan hawa nafsu. Padahal tidak ada amal yang lebih berbahaya baginya
dari amal tersebut.
Dalam hal ini, malaikat itu berada disamping
kanan hati manusia, sementara syetan disamping kirinya. Dan pertarungan
antara keduanya tidak akan pernah berhenti sampai ajal ditentukan ( oleh
Allah ) di dunia ini. Seluruh bentuk kebatilan akan berpihak kepada
syetan dan nafsu ammarah, sementara semua macam kebenaran itu akan
berpihak pada malaikat dan nafsu muthmainnah. Dalam peperangan itu kalah
dan menang datang silih berganti. Dan kemenangan itu ada bersama
kesabaran.
Maka barang siapa yang benar benar bersabar, berusaha
keras dan bertakwa kepada Allah, niscaya baginya balasan yang baik, di
dunia dan di akhirat nanti. Dan Allah pun telah menetapkan sebuah
ketetapan yang tidak dapat dirubah selamanya, bahwa balasan baik itu
adalah untuk ketakwaan, dan pahala itu adalah untuk mereka yang
bertakwa.
Hati itu laksana papan yang kosong, dan pikiran pikiran itu
bagaikan tulisan yang diukir di atasnya. Maka, bagaimana bisa dikatakan
pantas bagi sesorang yang berakal bila papannya hanya berisi dusta,
tipu daya, angan angan dan fatamorgana yang tidak ada realitanya ?,
hikmah, ilmu dan petunjuk macam apa yang diharapkan dari tulisan tulisan
itu ?, apabila ingin melukiskan hikmah, ilmu dan petunjuk di papan
hatinya, maka tak ubahnya seperti penulisan ilmu yang bermanfaat di
sebuah tempat yang sudah penuh dengan tulisan lain yang tidak ada
manfaatnya. Bila hati tidak kosong dari pikiran pikiran kotor, maka
pikiran pikiran positif yang bermanfaat tidak akan dapat menetap di
dalamnya, karena dia memang tidak dapat menempati kecuali tempat yang
kosong, seperti yang diungkapkan oleh seorang penyair :
أتاني هواها قبل أن أعرف الهوى فصادف قلبا فارغا فتمكنا
“Aku
telah didatangi oleh hawa nafsu sebelum aku kenal dengan hawa nafsu itu
sendiri, maka ia temukan hati yang kosong, oleh karena itu ia dapat
menguasaiku.”
Hal seperti ini banyak terjadi terhadap orang orang
tasawuf, mereka membangun kepribadian mereka dengan cara menjaga
pikiran pikiran yang melintas di dalam benak, mereka tidak memberikan
kesempatan pada pikiran pikiran tersebut untuk masuk ke dalam hati,
sehingga hati itu dalam keadaan kosong dan dapat melakukan kasyaf
(menyingkap rahasia) dan menerima hakikat hakikat yang bermakna tinggi
di dalamnya.
Mereka itu menjaga diri mereka dari satu hal, tetapi
mereka lalai dan kehilangan banyak hal yang lain, sebab mereka kosongkan
hati mereka dari lintasan lintasan pikiran sehingga menjadi kosong,
tidak ada apa apa di dalamnya, tiba tiba syetan mendapatkannya dalam
keadaan kosong, kemudian syetan menanamkan di dalamnya kebatilan dan
menggambarkannya sebagai sesuatu yang paling tinggi dan paling mulia,
syetan meletakkan hal itu sebagai ganti dari jenis pikiran pikiran yang
merupakan bahan dasar dari ilmu pengetahuan dan petunjuk.
Apabila
hati itu sudah kosong dari berbagai macam pikiran, maka syetan akan
datang dengan menemukan tempat yang kosong untuknya. Syetan akan
berusaha untuk mengisinya dengan hal hal sesuai dengan kondisi pemilik
hati tersebut. Bila tidak berhasil mengisinya dengan keingininan
melepaskan diri dari keinginan keinginan – yang sebenarnya – tidak ada
kebaikan dan kesuksesan bagi seorang hamba kecuali bila keinginan
keinginan tersebut berhasil menguasai hatinya, yaitu mengosongkannya
dari keinginan untuk mengikuti perintah perintah tersebut secara rinci
untuk kemudian melaksanakannya dimasyarakat, lalu berusaha
menyampaikannya pada orang orang dengan harapan mereka juga mau
melaksanakannya. Dalam hal ini, syetan akan berusaha menyesatkan orang
yang mempunyai keinginan demikian dengan mengajak untuk meninggalkan
keinginan baik tersebut dan melepaskannya, tidak usah memikirkan dunia
dan masyarakat di dalamnya.
Syetan akan membisikkan kepada mereka
bahwa kesempurnaan itu dapat mereka capai dengan cara melepaskan diri
dan mengosongkan hati dari hal itu semua. Sungguh amat jauh ungkapan
tersebut dari kebenenaran, karena kesempurnaan itu hanya dapat diperoleh
bila hati itu penuh terisi dengan keinginan dan pikiran yang baik,
serta usaha untuk merealisasikannya. Maka, manusia yang paling sempurna
adalah mereka yang paling banyak memiliki pikiran dan keinginan untuk
tunduk kepada perintah Allah, mencari keridloanNya. Sebagaimana manusia
yang paling hina adalah mereka yang paling banyak memiliki keinginan dan
pikiran untuk memenuhi hawa nafsunya dimana saja dia berada. Wallahul
musta’an ( dan Allah lah tempat mohon pertolongan ).
Lihatlah Umar
bin Khothob t, pikirannya penuh dengan keinginan dalam mencari keridloan
Allah, barangkali dia dalam keadaan shalat, namun saat itu dia juga
sedang mempersiapkan tentaranya ( untuk jihad ), dengan demikian dia
telah berhasil mengumpulkan antara jihad dan shalat, sehingga beberapa
ibadah masuk berkumpul dalam satu ibadah.
Ini adalah salah satu hal
yang mulia dan agung, tidak akan tahu tentang hal ini kecuali mereka
yang mempunyai keinginan yang benar benar kuat, dan pandai mencari, luas
ilmunya serta tinggi cita citanya, dimana dia masuk dalam satu ibadah
namun dia juga mendapatkan ibadah ibadah yang lain, itulah karunia Allah
yang diberikan pada siapa yang dikehendakinya.
3 – Al Lafazhat ( ungkapan kata kata ).
Adapun
tentang Al Lafazhat ( ungkapan kata kata ), maka cara menjaganya adalah
dengan mencegah keluarnya kata kata atau ucapan dari lidahnya, yang
tidak bermanfaat dan tidak bernilai. Misalnya dengan tidak berbicara
kecuali dalam hal yang diharapkan bisa memberikan keuntungan dan
tambahan menyangkut masalah keagamaannya. Bila ingin berbicara,
hendaklah seseorang melihat dulu, apakah ada manfaat dan keuntungannya
atau tidak ? bila tidak ada keuntungannya, dia tahan lidahnya untuk
berbicara, dan bila dimungkinkan ada keuntungannya, dia melihat lagi,
apakah ada kata kata yang lebih menguntungkan lagi dari kata kata
tersebut ? bila memang ada, maka dia tidak akan menyia nyiakannya.
Kalau
anda ingin mengetahui apa yang ada dalam hati seseorang, maka lihatlah
ucapan lidahnya, ucapan itu akan menjelaskan kepada anda apa yang ada
dalam hati seseorang, dia suka ataupun tidak suka.
Yahya bin Mu’adz
berkata : hati itu bagaikan panci yang sedang menggodok apa yang ada di
dalamnya, dan lidah itu bagaikan gayungnya, maka perhatikanlah seseorang
saat dia berbicara, sebab lidah orang itu sedang menciduk untukmu apa
yang ada di dalam hatinya, manis atau asam, tawar atau asin, dan
sebagainya. Ia menjelaskan kepada anda bagaimana “rasa” hatinya, yaitu
apa yang dia katakan dari lidahnya, artinya, sebagaimana anda bisa
mengetahui rasa apa yang ada dalam panci itu dengan cara mencicipi
dengan lidah, maka begitu pula anda bisa mengetahui apa yang ada dalam
hati seseorang dari lidahnya, anda dapat merasakan apa yang ada dalam
hatinya dan lidahnya, sebagaimana anda juga mencicipi apa yang ada di
dalam panci itu dengan lidah anda.
Dalam hadits Anas t yang marfu’, Nabi r bersabda :
" لا يستقيم إيمان عبد حتى يستقيم قلبه، ولا يستقيم قلبه حتى يستقيم لسانه ".
“Tidak
akan istiqomah iman seorang hamba sehingga hatinya beristiqomah ( lebih
dahulu ), dan hati dia tidak akan istiqomah sehingga lidahnya
beristiqomah ( lebih dahulu ).”
Nabi Muhammad r pernah ditanya
tentang hal yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam neraka,
beliau menjawab “Mulut dan kemaluan”. ( HR. Turmudzi, dan ia berkata :
hadits ini hasan shoheh ).
Sahabat Mu’adz bin Jabal t pernah
bertanya kepada Nabi r tentang amal apa yang dapat memasukkannya ke
dalam sorga dan menjauhkannya dari api neraka ?, lalu Nabi
memberitahukan tentang pokok, tiang dan puncak yang paling tinggi dari
amali tersebut, setelah itu beliau bersabda :
" ألا أخبرك بملاك
ذلك كله ؟ قال : بلى يا رسول الله، فأخذ بلسان نفسه ثم قال : كف عليك هذا،
فقال : وإنا لمؤاخذون بما نتكلم به ؟ فقال : ثقلتك أمك يا معاذ، وهل يكب
الناس على وجوههم – أو على مناخرهم – إلا حصائد ألسنتهم".
“Bagaimana kalau aku beritahu pada kalian inti dari semua itu ?’, dia
berkata : ya, ya Rasulallah, lalu Nabi r memegang lidah beliau sendiri
kemudian bersabda : “ jagalah olehmu yang satu ini”, maka Mu’adz berkata
: adakah kita disiksa disebabkan apa yang kita ucapkan ?, beliau
menjawaba : “Ibumu kehilangan engkau ya Mu’adz, tidakkah yang dapat
menyungkurkan banyak manusia di atas wajah mereka ( ke Neraka ) kecuali
hasil ( ucapan ) lidah lidah mereka ?” ( HR. Turmudzi, dan ia berkata :
hadits hasan shoheh ).
Dan yang paling mengherankan
yaitu bahwa banyak orang yang merasa mudah dalam menjaga dirinya dari
makanan yang haram, perbuatan aniaya, zina, mencuri, minum minuman keras
serta melihat pada apa yang diharamkan dan lain sebagainya, namun
merasa kesulitan dalam mengawasi gerak lidahnya, sampai sampai orang
yang dikenal punya pemahaman agama, dikenal dengan kezuhudan dan
kekhusyu’an ibadahnya, juga masih berbicara dengan kalimat kalimat yang
dapat mengundang kemurkaan Allah I, tanpa dia sadari bahwa satu kata
saja dari apa yang dia ucapkan dapat menjauhkannya ( dari Allah dengan
jarak ) lebih jauh dari jarak antara timur dan barat. Dan betapa banyak
anda lihat orang yang mampu mencegah dirinya dari perbuatan kotor dan
aniaya, namun lidahnya tetap saja membicarakan aib orang orang, baik
yang sudah mati ataupun yang masih hidup, dan dia tidak sadar akan apa
yang dia katakan.
Kalau anda ingin mengetahui hal itu,
lihatlah apa yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab shohehnya,
dari Jundub bin Abdillah t, bahwa Rasulullah r bersabda :
" قال رجل : والله لا يغفر الله لفلان، فقال الله U : من ذا الذي يتألى علي أني لا أغفر لفلان ؟ قد غفرت له وأحبطت عملك ".
“Ada seorang laki laki yang mengatakan : ‘Demi Allah, Allah
tidak akan mengampuni si Fulan itu’, maka Allah berfirman : “Siapa orang
yang bersumpah bahwa aku tidak akan mengampuni si Fulan ?, sungguh Aku
telah mengampuninya dan menggugurkan amalmu.”
Lihatlah,
hamba yang satu ini, dia telah beribadah kepada Allah dalam waktu yang
cukup lama, namun satu kalimat yang diucapkannya telah menyebabkan semua
amalnya terhapus.
Dan di dalam hadits Abu Hurairah t juga
dikisahkan cerita seperti ini, kemudian Abu Hurairah berkomentar : ‘Dia
telah mengucapkan satu kalimat yang dapat menghancurkan dunia dan
akhiratnya’.
Dalam shahih Bukhori dan Muslim, dari Abu Hurairah t, Nabi Muhammad r bersabda :
"
إن العبد ليتكلم بالكلمة من رضوان الله لا يلقى لها بالا يرفعه الله بها
درجات، وإن العبد ليتكلم بالكلمة من سخط الله لا يلقى لها بالا يهوي بها في
نار جهنم. وعند مسلم : إن العبد ليتكلم بالكلمة ما يتبين ما فيها يهوي بها
في النار أبعد ما بين المشرق والمغرب ".
“Sesungguhnya
seorang hamba itu terkadang mengucapkan satu kalimat yang termasuk
dicintai oleh Allah, dia tidak terlalu perhatian dengan itu, namun
ternyata Allah berkenan meninggikannya beberapa derajat. Dan
sesungguhnya seorang hamba itu terkadang mengucapkan satu kalimat yang
termasuk dibenci Allah, dia tidak terlalu perhatian dengan itu, namun
ternyata dengan kalimat itu dia masuk ke dalam neraka Jahannam.” Dalam
riwayat Muslim : “ sesungguhnya seorang hamba itu mengucapkan satu
kalimat yang tidak jelas apa yang dikandungnya, namun dia dapat
menjatuhkannya ke dalam neraka ( yang jaraknya ) lebih jauh dari jarak
antara timur dan barat.”
Dan dalam riwayat Al Turmudzi, dari hadits Bilal bin Al Harits Al Muzani t dari Nabi Muhammad r , beliau bersabda :
"
إن أحدكم ليتكلم بالكلمة من رضوان الله ما يظن أن تبلغ ما بلغت، فيكتب
الله له بها رضوانه إلى يوم يلقاه، وإن أحدكم ليتكلم بالكلمة من سخط الله
ما يظن أن تبلغ ما بلغت، فيكتب الله له بها سخطه إلى يوم يلقاه ".
“Sesungguhnya seorang dari kalian terkadang mengucapkan satu
kalimat yang dicintai oleh Allah, dia tidak menyangka (
pahalanya ) sampai seperti apa yang dia dapatkan, namun ternyata dengan
kalimat itu Allah memberikan kepadanya keridloanNya sampai hari dia
berjumpa denganNya kelak. Dan sesungguhnya seorang dari kalian terkadang
mengucapkan satu kalimat dari yang dimurkai oleh Allah, dia tidak
menyangka ( dosanya ) sampai seperti apa yang dia dapatkan, namun
ternyata Allah memberikan kepadanya kemurkaanNya sampai dia berjumpa
denganNya kelak.” ‘Alqomah mengatakan : “betapa banyak ucapan yang tidak
jadi aku katakan disebabkan oleh hadits Bilal bin Al Harits ini.”
Dalam kitab Jami’ At Turmudzi, dari hadits Anas t, dia berkata :
ada seorang sahabat yang meniggal, lalu ada seorang laki laki berkata :
‘berilah kabar gembira dengan sorga’, maka Nabi bersabda :
" وما يدريك ؟ فلعله تكلم فيما لا يعنيه، أو بخل بما لا ينقصه ".
“Dari mana kamu tahu?, barangkali dia pernah mengucapkan (
kalimat ) yang tidak ada guna baginya atau dia pelit untuk (memberikan )
sesuatu yang tidak akan membuatnya kekurangan.” (Al Turmudzi berkata :
“hadits ini hasan” ).
Dalam lafadz hadits yang lain disebutkan :
"
إن غلاما استشهد يوم أحد، فوجد على بطنه صخرة مربوطة من الجوع، فمسحت أمه
التراب عن وجهه، وقالت : هنيئا لك يا بني، لك الجنة. فقال النبي r : وما
يدريك ؟ لعله كان يتكلم فيما لا يعنيه ويمنع ما لا يضره ".
“Ada seorang anak yang meninggal syahid diperang Uhud, lalu ditemukan
diperutnya sebuah batu yang diikat untuk menahan lapar, kemudian ibunya
mengusap debu yang ada di wajahnya, sambil mengatakan : “berbahagialah
engkau hai anakku, engkau akan mendapatkan sorga”, maka Nabi Muhammad r
bersabda : “ Dari mana kamu tahu ?, barangkali dia pernah
mengucapkan kata kata yang tidak berguna baginya, dan menahan apa yang
tidak memberikan mudlarat baginya.”
Dalam shaheh Bukhori dan Muslim, dari Abu Hurairah t, bahwa Rasulullah r bersabda :
" من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليقل خيرا أو ليصمت ".
“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia mengatakan yang baik baik atau diam saja.”
Dan dalam lafadz hadits yang diriwayatkan oleh Muslim disebutkan :
" من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فإذا شهد أمرا فليتكلم بخير أو ليسكت ".
“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, bila ia
menyaksikan suatu perkara maka hendaklah ia mengatakan yang baik baik
atau diam saja.”
At Tirmidzi menyebutkan dengan sanad yang shaheh dari Nabi Muhammad r, bahwa beliau bersabda :
" من حسن إسلام المرء تركه ما لا يعنيه ".
“Termasuk ( salah satu tanda ) kebaikan Islam seseorang
yaitu ( bila ) dia meninggalkan apa apa yang tidak berguna baginya.”
Dari Sufyan bin Abdillah Ats Tsaqafi, dia berkata :
"
قلت : يا رسول الله قل لي في الإسلام قولا لا أسأل عنه أحدا بعدك، قال :
قل آمنت بالله ثم استقم، فقلت : يا رسول الله ما أخوف ما تخاف علي ؟ فأخذ
بلسان نفسه ثم قال : هذا ".
“Aku berkata : ‘Ya Rasulallah,
katakanlah kepadaku dalam Islam ini suatu kalimat yang aku tidak akan
menanyakannya pada seorangpun setelah engkau’, Nabi menjawab :
“Katakanlah : aku beriman kepada Allah, kemudian beristiqomahlah
engkau”, aku bertanya : ‘Ya Rasulallah, apa yang paling engkau
khawatirkan terhadapku ?’, kemudian Nabi memegang lidah beliau sendiri
lalu mengatakan : “ini” ( maksudnya lidah, pent. ). ( HR. Turmudzi, dan
ia bekata : hadits ini shaheh ).
Dan Ummu Habibah isteri Nabi r, dari Nabi r beliau bersabda :
" كل كلام ابن آدم عليه لا له، إلا أمرا لمعروف أو نهيا عن منكر أو ذكرا لله ".
“Semua ucapan anak Adam ( manusia ) itu akan merugikan dia,
tidak akan menguntungkan dia, kecuali ucapan untuk amar ma’ruf (
memerintahkan yang baik ), atau nahi mungkar ( mencegah perbuatan
mungkar ), atau dzikir kepada Allah I.” ( At Tirmidzi berkomentar :
hadits ini derajatnya hasan ).
Dalam hadits yang lain disebutkan :
" إذا أصبح العبد فإن الأعضاء كلها تكفر اللسان، تقول : اتق الله فينا فإنما نحن بك، فإذا استقمت استقمنا، وإن اعوججت اعوججنا ".
“Bila seorang hamba berada di pagi hari, maka semua anggota
tubuh memberikan peringatan kepada lidah dan berkata : takutlah engkau
kepada Allah, sesungguhnya kami ini tergantung kepadamu, bila kamu
istiqomah kami akan istiqomah, dan bila kamu melenceng kami pun ikut
melenceng.”
Sebagian ulama salaf ada yang menyalahkan
dirinya sendiri, hanya sekedar mengucapkan : “hari ini panas dan hari
ini dingin”, dan sebagian ulama juga ada yang tidur kemudian bermimpi
dan dia ditanya tentang keadaannya, lalu dia menjawab : “aku tertahan
oleh satu ucapan yang telah aku katakan, aku pernah mengatakan : “oh,
betapa butuhnya orang orang ini kepada hujan”, tiba tiba ada yang
berkata kepadaku “dari mana kamu tahu itu ?, Akulah yang lebih tahu
tentang kemaslahatan hambaKu.”
Seorang sahabat ada yang
berkata pada pembantunya : tolong ambilkan kain untuk kita gunakan
bermain main, lalu dia berkata : ‘Astaghfirullah, aku tidak pernah
mengucapkan kata kata kecuali aku pasti bisa mengendalikan dan
mengekangnya, kecuali kata kata yang tadi aku katakan, ia keluar dari
lidahku tanpa kendali dan tanpa kekang.”
Anggota tubuh
manusia yang paling mudah digerakkan adalah lidah, tapi dia juga yang
paling berbahaya pada manusia itu sendiri …
Ada
perbedaan pendapat antara ulama salaf dan khalaf dalam masalah : apakah
semua yang diucapkan oleh manusia itu semua akan dicatat , ataukah
ucapan yang baik dan yang jelek saja ?, di sini ada dua pendapat, namun
yang lebih kuat adalah yang pertama.
Sebagian ulama salaf
mengatakan : “semua perkataan anak Adam itu akan merugikan dirinya dan
tidak akan menguntungkannya, kecuali ucapan yang diambil dari kalam
Allah dan ucapan yang digunakan untuk membelaNya.
Abu Bakar
As Shiddiq t pernah memegang lidahnya dan berkata : “inilah yang
memasukkan aku ke dalam berbagai masalah”, ucapan itu adalah tawanan
anda, bila ia sudah keluar dari mulut anda berarti andalah yang menjadi
tawanannya. Allah selalu memonitor lidah setiap kali berbicara.
" ما يلفظ من قول إلا لديه رقيب عتيد ".
“Tidak suatu ucapanpun yang diucapkan kecuali ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.”
Bahaya lidah :
Pada lidah itu terdapat dua penyakit besar. Bila seseorang bisa
selamat dari salah satu penyakit itu maka dia tidak bisa lepas dari
penyakit yang satunya lagi, yaitu penyakit berbicara dan penyakit diam.
Dalam satu kondisi bisa jadi salah satu dari keduanya akan mengakibatkan
dosa yang lebih besar dari yang lain.
Orang yang diam
terhadap kebenaran adalah syetan yang bisu, dia bermaksiat kepada Allah,
serta bersikap riya’ dan munafik bila dia tidak khawatir hal itu akan
menimpa dirinya. Begitu pula orang yang berbicara tentang kebatilan
adalah syetan yang berbicara, dia bermaksiat kepada Allah. Kebanyakan
orang sering keliru ketika berbicara dan ketika mengambil sikap diam.
Mereka itu selalu berada di antara dua posisi ini.
Adapun orang orang yang ada di tengah tengah – yaitu mereka yang berada
pada jalan yang lurus – sikapnya adalah menahan lidah mereka dari ucapan
yang batil dan membiarkannya berbicara dalam hal hal yang dapat membawa
manfaat pada mereka di akhirat. Sehingga anda tidak akan melihat mereka
mengucapkan kata kata yang akan membahayakan mereka di akhirat nanti.
Sesungguhnya
ada seorang hamba yang akan datang pada hari kiamat dengan pahala
kebaikan sebesar gunung, namun dia dapati lidahnya sendiri telah
menghilangkan pahala tersebut. Dan ada pula yang datang dengan dosa dosa
sebesar gunung, namun dia dapati lidahnya telah menghilangkan itu semua
dengan banyaknya dzikir kepada Allah, dan hal hal yang berhubungan
denganNya.
4- Al Khuthuwat ( langkah nyata untuk sebuah perbuatan ).
Adapun
tentang Al Khuthuwat maka hal ini bisa dicegah dengan komitmen seorang
hamba untuk tidak menggerakkan kakinya kecuali untuk perbuatan yang bisa
diharapkan mendatangkan pahala dari Allah I. Bila ternyata langkah
kakinya itu tidak akan menambah pahala, maka mengurungkan langkah
tersebut tentu lebih baik baginya.
Dan sebenarnya bisa saja seseorang
memperoleh pahala dari setiap perbuatan mubah ( yang boleh dikerjakan
dan boleh juga ditinggalkan, pent.) yang dilakukannya dengan cara
berniat untuk Allah I. Dengan demikian maka seluruh langkahnya akan
bernilai ibadah.
Tergelincirnya seorang hamba dari perbuatan
salah itu ada dua macam : tergelincirnya kaki dan tergelincirnya lidah.
Oleh karena itu kedua macam ini disebutkan sejajar oleh Allah I dalam
firmanNya :
] وعباد الرحمن الذين يمشون على الأرض هونا وإذا خاطبهم الجاهلون قالوا سلاما [.
“Dan
hamba hamba Ar Rahman, yaitu mereka yang berjalan di atas bumi dengan
rendah hati dan apabila orang orang jahil menyapa mereka, mereka
mengucapkan kata kata ( yang mengandung ) keselamatan.” ( QS. Al Furqon,
63 ).
Di sisi lain, Allah menjelaskan bahwa sifat
mereka itu adalah istiqomah dalam ucapan dan langkah langkah mereka,
sebagaimana Allah juga mensejajarkan antara pandangan dan lintasan
pikiran, dalam firmanNya :
] يعلم خائنة الأعين وما تخفي الصدور [.
“Allah mengetahui khianat mata dan apa yang disembunyikan oleh hati.” ( QS. Ghofir, 19 ).
Semua hal yang kami sebutkan di atas adalah sebagai pendahuluan
bagi penjelasan akan diharamkannya zina, dan kewajiban menjaga
kemaluan.
Rasulullah r bersabda :
" أكثر ما يدخل الناس النار : الفم والفرج ".
“Yang paling banyak memasukkan orang ke dalam neraka ialah
lidah dan kemaluan.” ( HR. Ahmad dan At Turmudzi, dan dianggap shaheh
oleh Al Albani dalam silsilah hadits shaheh ).
Dalam shaheh Bukhori dan Muslim diriwayatkan, bahwa Nabi Muhammad r bersabda :
" لا يحل دم امرئ مسلم إلا بإحدى ثلاث : الثيب الزاني، والنفس بالنفس، والتارك لدينه المفارق لجماعته ".
“Tidak dihalalkan darah seorang muslim kecuali sebab tiga hal :
orang yang sudah kawin yang melakukan zina, membunuh jiwa dengan sebab
membunuh jiwa, dan orang yang meninggalkan agamanya serta meninggalkan
jamaah.”
Dalam hadits ini ada pensejajaran antara zina
dengan kufur dan membunuh jiwa, persis seperti yang terdapat dalam ayat
pada surat Al Furqon, juga seperti yang ada dalam hadits Ibnu Mas’ud t.
Penyebutan sejajar antara zina,
Kufur Dan Membunuh Jiwa
Dalam hadits di atas Nabi r menyebut hal yang paling banyak
terjadi secara berurutan. perbuatan zina itu lebih sering terjadi
dibanding dengan pembunuhan, dan pembunuhan lebih sering terjadi
dibanding dengan riddah (keluar dari agama Islam). Dan kerusakan yang
ditimbulkan oleh zina sungguh bertolak belakang dengan kemaslahatan
dalam kehidupan.
Sebab, bila seorang wanita telah melakuka zina
berarti ia telah membuat aib keluarga, suami dan kerabatnya serta
mencoreng wajah mereka di hadapan orang banyak. Bila dia sampai hamil
kemudian membunuh anaknya, berarti dia telah menggabungkan perbuatan
zina dengan pembunuhan, dan jika setelah hamil ia tetap dengan suaminya,
berarti dia telah memasukkan pada keluarga si suami dan keluarga si
wanita sendiri orang lain yang bukan bagian dari keluarga. Dan masih
banyak lagi kerusakan-kerusakan lain yang ditimbulkan oleh zina. Jika
yang berzina itu adalah seorang pria, maka hal ini –selain hal yang di
atas- juga akan menyebabkan simpang siurnya hubungan nasab, kemudian
merusak kehormatan wanita yang terjaga dan menjadikannya hancur.
Jadi,
di belakang perbuatan keji ini (zina) terdapat kerusakan dunia dan
agama sekaligus. Sungguh betapa banyak pelanggaran terhadap
larangan-larangan (pelecehan terhadap kehormatan), penyia-nyiaan hak
orang dan penganiayan yang ada di balik perbuatan zina.
Diantara dampak yang ditimbulkan oleh zina adalah bahwa zina dapat
mendatangkan kefakiran, memperpendek umur dan membuat wajah pelakunya
suram serta mendatangkan kebencian orang.
Termasuk di
antara dampaknya pula, bahwa zina itu dapat menghancurkan hati,
membuatnya sakit kalau tidak sampai mematikannya, juga mendatangkan
perasaan gundah gelisah dan takut, serta menjauhkan pelakunya dari
malaikat dan mendekatkannya kepada setan. Tak ada bahaya –setelah bahaya
perbuatan membunuh-yang lebih besar dari bahaya zina. Oleh karenanya,
untuk menghukum pelaku zina ini Allah mensyariatkan hukuman bunuh
(rajam) dengan cara yang mengerikan. Bila ada seseorang yang mendengar
kabar bahwa isterinya dibunuh orang, tentu kabarnya lebih ringan
dibanding dia mendengar bahwa isterinya berzina.
Sa’ad
bin Ubadah t berkata : “Sekiranya aku melihat seorang pria berzina
dengan isteriku, tentu aku akan memenggal lehernya dengan pedang tanpa
pikir panjang lagi.” Maka sampai perkataan ini kepada Rasulullah r, lalu
beliau bersabda :
" أتعجبون من غيرة سعد؟ والله لأنا أغير منه، والله أغير مني، ومن أجل غيرة الله حرم الفواحش ما ظهر منها وما بطن ".
“Apakah
kalian heran pada kecemburuan Sa’ad? Demi Allah, sungguh aku ini lebih
cemburu dari dia, dan Alah lebih cemburu dari aku, dan oleh karena
betapa agungnya kecemburuan Allah, maka Dia haramkan segala perbuatan
keji, baik yang lahir maupun yang batin.” (muttafaq alaih).
Dalam shahih Al-bukhari dan shahih Muslim, juga diriwayatkan dari Nabi r.
" إن الله يغار، وإن المؤمن يغار، وغيرة الله أن يأتي العبد ما حرم عليه "..
“Sesungguhnya
Allah itu cemburu, dan sesungguhnya seorang mu’min itu juga cemburu.
Dan kecemburuan Allah itu akan timbul bila seorang hamba malakukan apa
yang diharamkan kepadanya.”. ( HR. Bukhori dan muslim ).
Dalam hadis Al-Bukhari dan musllim, juga diriwayatkan dari Nabi r :
"
لا أحد أغير من الله، من أجل ذلك حرم الفواحش ما ظهر منها وما بطن، ولا
أحد أحب إليه العذر من الله، من أجل ذلك أرسل الرسل مبشرين ومنذرين، ولا
أحد أحب إليه المدح من الله، ومن أجل ذلك أثنى على نفسه ".
“Tak ada
seorangpun yang lebih pencemburu dari Allah, oleh karena itu Allah
mengharamkan perbuatan-perbuatan keji, yang lahir maupun yang batin. Tak
ada satupun yang lebih senang mengajukan alasan dari Allah, oleh karena
itu Dia mengutus para Rasul untuk memberikan kabar gembira dan
peringatan. Tak ada satupun yang lebih senang dipuji melebihi Allah,
oleh karena itu Dia memuji diriNya sendiri.” ( HR. Bukhori dan Muslim ).
Juga dalam kitab Ash-shahihain, diriwayatkan khutbah Nabi r di saat shalat gerhana matahari, beliau bersabda :
"
يا أمة محمد، والله لا أحد أغير من الله أن يزني عبده أو تزني أمته، يا
أمة محمد، والله لو تعلمون ما أعلم لضحكتم قليلا ولبكيتم كثيرا، ثم رفع
يديه وقال : اللهم هل بلغت؟ ".
“Hai ummat Muhammad, demi Allah, tak
ada satupun yang lebih pencemburu dari Allah ketika ada sorang hambaNya
yang laki-laki atau perempuan berbuat zina. Hai ummat Muhammad, demi
Allah, sekiranya kalian mengetahui seperti apa yang aku ketahui, tentu
kalian aka sedikit tertawa dan banyak menangis.” Kemudian beliau
mengangkat kedua tangannya seraya berkata : “Ya Allah, adakah aku sudah
sampaikan?”( HR. Bukhori dan Muslim).
Disebutkannya
perbuatan dosa besar ini secara khusus setelah shalat gerhana matahari
mengandung isyarat rahasia yang menakjubkan; dan semaraknya fenomena
zina ini merupakan rusaknya alam ini, dan itu semua adalah salah satu
tanda kiamat; seperti yang disebutkan dalam As-Shahihain, dari Anas bin
Malik bahwa dia berkata : aku akan menceritakan pada kalian sebuah
hadits yang tidak akan ada orang yang akan menceritakannya pada kalian
setelah aku. Aku mendengar Rasulullah r bersabda :
" من أشراط الساعة أن يقل العلم، ويظهر الجهل, ويظهر الزنى، ويقل الرجال وتكثر النساء، حتى يكون لخمسين امرأة القيم الواحد ".
“Di antara tanda-tanda kiamat bila ilmu (syar’i) menjadi
sedikit (kurang), dan kebodohan menjadi tampak serta zina juga menyebar
(di mana-mana), pria jumlahnya sedikit dan kaum wannita jumlahnya banyak
sehingga untuk lima puluh wanita (perbandingannya satu orang pria.”(
HR. Bukhori dan Muslim ).
Salah satu sunnatullah yang
diberlakukan pada makhluknya, yaitu ketika zina mulai tampak di
mana-mana, Allah akan murka dan kemurkaannya sangat keras, maka secara
pasti kemurkaan itu akan berdampak pada bumi ini dalam bentuk azab dan
musibah yang diturunkan.
Abdullah bin Mas’ud t berkata :
“Tidaklah merajalela riba dan zina di sebuah daerah, melainkan Allah
memaklumkan untuk dihancurkan.”
Seorang pendeta bani Israil
pernah melihat anaknya sedang merayu seorang perempuan, lalu dia
berkata : “Sebentar, wahai anakku!” kemudian sang ayah itu pingsan di
atas tempat tidurnya lalu meninggal, sementara isterinya jatuh dan
dikatakan kepadanya : “Beginilah cara engkau marah untukku? Sungguh,
orang sejenis kamu itu tidak mengandung kebaikan selamanya.”
Pengkhususan Hukuman Zina Dengan Tiga Hal
Allah I mengkhususkan hukuman bagi perbuatan zina dibandingkan dengan hukuman-hukuman lainnya dengan tiga hal :
Pertama, hukuman zina adalah dibunuh (dirajam) dengan cara
yang mengerikan. Dalam hukuman zina yang ringan saja, Allah
menggabungkan antara hukuman terhadap fisik dengan cambuk dan hukuman
terhadap hati/mentalnya dengan cara diasingkan dari negerinya selama
satu tahun.
Kedua, Allah melarang hamba-hambanya untuk
merasa kasihan kepada para pelaku zina sehingga mencegah mereka untuk
memberlakukan hukuman kepada para hukuma kepada para pezina itu. Sebab,
Allah mansyari’atkan hukuman tersebut didasarkan pada kasih sayang dan
rahmatnya pada mereka. Allah itu sangat sayang kepada kalian, namun
kasih sayang tersebut tidaklah mencegah Allah untuk memerintahkan
berlakunya hukuman ini. Oleh karenanya janganlah kasih sayang yang ada
di hati kalian itu mencegah kalian untuk melaksanakan perintah Allah.
Hal ini –walaupun sbenarnya juga berlaku pada seluruh macam
hukuman (hudud) yang disyari’atkan- namun disebutkan dalam hukuman zina
suatu kekhususan, karena memang sangat penting untuk disebutkan di sini,
sebab kebanyakan orang tidak mempunyai rasa marah dan sikap kasar
terhadap pezina seperti sikap mereka pada pencuri, atau orang yang
menuduh berbuat zina atau pemabuk. Hati mereka cenderung lebih kasihan
pada pezina ketimbang para pelaku dosa lainnya. Dan realita membuktikan
hal itu. Oleh karena itu Allah melarang mereka, jangan sampai rasa
kasihan mereka itu membuat tidak diberlakukannya hukuman Allah I.
Mengapa rasa kasihan pada mereka itu timbul? Penyebabnya yaitu
karena perbuatan zina ini bisa terjadi pada orang golongan atas,
menengah dan bawah. Kemudian, dalam jiwa manusia itu terdapat dorongan
yang kuat untuk melakukannya (melampiaskan libido, pent) dan orang yang
melakukannya juga berjumlah banyak. Dan yang paling banyak menjadi
penyebabnya ialah cinta; sementra hati manusia itu secara tabi’at punya
perasaan kasih pada orang yang sedang jatuh cinta, bahkan banyak
diantara mereka yang siap memberikan bantuan pada mereka, walaupun
sebenarnya bentuk percintaan itu termasuk yang diharamkan. Dan hal
seperti ini sudah tidak dipungkiri lagi. Dan hal itu memang sudah diakui
oleh banyak orang.
Selain itu juga, perbuatan dosa ini
(zina) kebanyakan terjadi dengan adanya suka sama suka dari kedua belah
pihak, bukan dengan pemaksaan, penganiayaan dan lainnya yang membuat
jiwa orang-orang itu geram.
Dalam hal ini, syahwat banyak
berpengaruh, sehinga timbullah perasaan kasihan yang mungkin akan
menghambat ditegakkannya hukuman Allah I ini semua timbul dari iman yang
lemah. Kesempurnaan iman itu dicapai dengan adanya kekuatan yang dengan
itu perintah Allah dapat ditegakkan, juga adanya rahmat (kasih sayang)
terhadap orang yang dijatuhi hukuman tersebut, sehingga dia bisa sejalan
dengan Allah dalam perintah dan rahmatnya.
Ketiga, Allah
memerintahkan agar hukuman terhadap pelaku zina (baik itu cambuk ataupu
rajam, pent) handaknya dilakukan di hadapan khalayak orang-orang mu’min,
bukan di tempat yang sepi sehingga tidak ada orang yang dapat
menyaksikannya. Hal ini dilakukan agar hal tersebut lebih efektif untuk
tujuan “zajr” (membuat jera pelaku dan membuat takut orang lain
melakukannya). Hukuman bagi pezina yang “muhshan” (sudah berkeluarga)
diambil dari hukuman Allah terhadap kaum Nabi Luth u yang dilempar
dengan batu. Yang demikaian itu karena perbuatan zina dan liwath
(homoseks yang dilakukan kaum Nabi Luth u) adalah sama-sama perbuatan
fahisyah (keji dan kotor). Keduanya dapat menimbulkan kerusakan yang
bertentangan dengan hikmah Allah di dalam penciptaan perintahnya.
Kerusakan dan bahaya yang ditimbulkan oleh prektek liwath (homosex) itu
sungguh sulit untuk dihitung. Orang yang menjadi korban perbuatan
tersebut lebih pantas dan lebih baik dibunuh saja; sebab dia itu
mengalami kerusakan yang tidak bisa diharapkan untuk baik kembali
selamanya. Semua kebaikannya sudah hilang. Bumi sudah menyerap habis
rasa malu dari mukanya, sehingga dia tidak akan malu lagi kepada Allah,
juga kepada makhlukNya. Hati dan jiwa orang tersebut sudah dipengaruhi
oleh sperma pelaku liwath seperti berpengaruhnya racun dalam tubuh
seseorang.
Ada perbedaan pendapat diantara sebagian orang;
apakah orang yang menjadi pelaku liwath itu bisa masuk surga atau tidak?
Dalam hal ini ada dua pendapat. Aku mendengar Syaikhul islam, Ibnu
Taimiyah pernah mengungkapkan dua pendapat ini. Mereka yang mengatakan
tidak akan masuk sorga memberikan hujjah dengan beberapa hal :
Diantaranya, bahwa Nabi r bersabda :
" لا يدخل الجنة ولد زنية ".
“Tidak masuk surga anak seorang pezina”.) HR. Bukhori dalam At tarikh ash shoghir ( 124 ), dan dihukumi hasan ).
Bila nasib dan kondisi anak hasil zina sudah demikian, padahal
dia tidak mempunyai dosa apa-apa, hanya saja dia dicurigai sebagai
tempat berbagai kejelekan dan kotoran, serta dia pantas untuk tidak
mendatangkan kabaikan apapun selamanya, disebabkan karena dia tercipta
dari nuthfah (sperma) yang kotor; bila tubuh yang tumbuh menjadi besar
dengan barang yang haram saja sangat pantas untuk masuk neraka, maka
bagaimana lagi dengan tubuh yang memang tercipta dari sperna yang haram?
Mereka mengatakan : orang yang menjadi pelaku liwath itu lebih
jelek dari anak hasil zina, lebih hina dan lebih kotor pula. Dia itu
memang pantas untuk tidak mendapat taufik kebaikan. Dia juga pantas
dihalangi utnuk mendapatkan taufik tersebut. Dan setiap kali dia
melakukan amal yang baik, maka Allah akan menggandengkannya dengan
amalan lain yang dapat merusaknya, sebagai hukuman baginya. Dan memang
jarang kita dapati bahwa orang yang sudah seperti itu di masa kecilnya,
kecuali dia akan lebih parah di masa tuanya. Dia tidak berhasil
mendapatkan ilmu yang bermanfaat, amal yang shalih dan taubat yang
nasuha.
Namun setelah diteliti, yang lebih pas untuk
dikatakan dalam masalah ini, yaitu bahwa bila orang tersebut bertaubat
dan kembali kepada Allah, kemudian mendapatkan karunia taubat yang
nasuha serta amal yang shalih, lalu kondisinya di masa tua lebih baik
dari kondisi di masa kecilnya, lalu merubah perbuatan-parbuatan jeleknya
dengan berbagai macam kebaikan serta mencuci aibnya dengan beragam
ketaatan dan pendekatan diri kepada Allah, juga menjaga pandangan
matanya, menjaga kemaluannya dari yang haram dan benar-banar jujur
kepada Allah dalam mu’amalah-nya, maka orang yang semacam ini akan
mendapat ampunan dan dia akan termasuk ahli surga. Bila taubat itu –kita
ketahui- dapat menghapus segala macam dosa, sampai dosa syirik kepada
Allah, membantai para Nabi dan para waliNya, atau sihir, kufur dan lain
semacamnya, maka kita tidak boleh membatasi penghapusan terhadap dosa
yang satu ini, padahal, dengan keadilan dan karunia Yang Maha Kuasa,
hikmah Allah menetapkan bahwa :
" التائب من الذنب كمن لا ذنب له ".
“Orang yang bertaubat dari dosanya sama seperti orang yang tidak berdosa” ( HR. Ibnu Majah ).
Dan Allah sendiri telah memberikan jaminan bahwa baragsiapa
yang bertaubat dari perbuatan syirik, pembunuhan jiwa dan zina, Allah
akan mengganti perbuatan-perbuatan jeleknya dengan kebaikan-kebaikan,
dan ini adalah ketentuan hukum yang umum mencakup setiap orang yang
bertaubat dari berbagai macam dosa.
Allah berfirman :
] قل يا عبادي الذين أسرفوا على أنفسهم لا تقنطوا من رحمة الله إن الله يغفر الذنوب جميعا إنه هو الغفور الرحيم [.
“Katakanlah
: Wahai hamba-hambaKu yang aniaya terhadap diri mereka, janganlah
kalian putus asa akan rahmat Allah, sesungguhnya Allah akan mengampuni
seluruh dosa, sesungguhnya Dia Maha Pemgampun dn Maha Pengasih.”
(Az-Zumar : 53)
dan tidak akan keluar dari keumuman ayat ini satu macam dosa pun. Namun hal ini hanya khusus bagi mereka yang bertaubat.
Bila ternyata orang yang menjadi pelaku liwath itu di masa
tuanya lebih jelek dari masa kecilnya, tidak mendapatkan karunia taubat
nasuha dan amal shalih, tidak segera mengganti ketaatan yang dia
tinggalkan dan tidak pula mau menghidupkan apa yang sudah ia matikan,
juga tidak mengubah perbuatan-perbuatan jeleknya dengan kebaikan, maka
orang semacam ini sulit untuk mendapatkan husnul khatimah yang dapat
memasukkannya ke dalam surga di saat akan meninggal kelak. Hal itu
sebagai hukuman atas perbuatan yang jelek dengan kejelekan lainnya,
sehingga bertumpuklah hukuman perbuatan jelek yang akan diterimanya,
sebagaimana Allah juga memberikan ganjaran bagi sebuah perbuatan baik
dengan perbuatan baik lainnya.
Para Pelaku Maksiat Dikhawatirkan Akan Mati Dalam Su’ul Khatimah
Bila anda perhatikan kondisi kebanyakan orang saat sakaratul
maut menjemput, anda akan melihat bahwa mereka terhalangi untuk
mendapatkan husnul khatimah, sebagai hukuman akibat perbuatan perbuatan
jelek mereka.
Al-hafizh Abu Muhammad Abdul Haq bin Abdurrahman Asy-syibli berkata (
[1]):
“ketahuilah bahwa su’ul khatimah itu ( semoga Allah menjauhkan kita
darinya ) mempunyai beberapa penyebab. Ada jalan-jalan dan pintu-pintu
yang menghantarkan kepadanya. Penyebab, pintu dan jalan yang paling
besar adalah larut dalam urusan keduniaan, tidak perhatian dalam urusan
akhirat dan berani maksiat kepada Allah. Bisa saja ada seseorang yang
sudah terbiasa melakukan kesalahan atau maksiat tertentu, sehingga
menguasai hatinya, akalnya tertawan oleh kebiasaan tersebut, pelita
hatinya padam dan terbentuklah hijab yang menutupinya. Akibatnya,
teguran tidak lagi akan berguna, nasihat tidak lagi akan bermanfaat dan
bisa saja kematian datang menjemput saat dia dalam keadaan demikian.
Lalu datanglah panggilan kebaikan dari subuah tempat yang jauh, namun
dia tidak dapat memahami maksudnya. Dia tidak tahu apa yang diinginkan
oleh panggilan itu, sekalipun orang yang meneriakkan panggilan itu terus
mengulangi dan mengulanginya lagi”.
Diriwayatkan,
bahwa ada seorang dari anak buah An Nashir ( salah seorang pemimpin di
masa Mamlukiyyah) yang sedang didatangi oleh sakaratul maut, kemudian
anaknya berkata : “ ucapkanlah, laa Ilahaa Illallah !” orang itu berucap
: An Nashir adalah tuanku.” Diulangilah permintaan itu kepadanya, namun
jawaban orang itu tetap sama. Tiba-tiba orang itu tidak sadarkan diri
dan setelah dia siuman dia berucap lagi : “ An Nashir adalah tuanku”.
Begitulah terus menerus setiap kali dikatakan kepadanya ucapan : “ laa
Ilaaha Illallah” dia malah berucap : “ An Nashir adalah tuanku”.
Kemudian ia berkata kepada anaknya : “ Hai fulan, sesungguhnya An Nashir
itu dapat mengenalmu hanya dengan pedang dan keberanianmu membunuh (
berperang )”. Kemudian dia meninggal dunia.
Abdul Haq
berkata : “ pernah dikatakan juga kepada orang lain ( yang saya
mengenalnya ) ucapkanlah : laa Ilaaha Illallah dia malah berucap : “
tolong rumah yang di sana itu diperbaiki, dan kebun yang di sana itu
dikerjakan…”
Abdul Haq juga berkata : “di antara riwayat
dari Abu thahir As Silafiy yang mana dia telah mengizinkan aku untuk
meriwayatkannya, yaitu subuah kisah dimana ada seorang pria yang sedang
sakaratul maut, kemudian dikatakan kepadanya : ucapkanlan ‘laa Ilaaha
Illallah’ namun dia malah mengatakan kata-kata dengan bahasa Persia yang
artinya ‘ sepuluh dengan sebelas( maksudnya, boleh berutang sepuluh
tapi bayarnya sebelas, pent)
Dan pernah dikatakan pula pada
orang lain : ucapkanlah laa Ilaaha Illallah dia malah mengatakan “ mana
jalan ke pemandian manjab? ( nama pemandian ).
Kata Abdul
Haq : jawaban yang diucapkannya itu ada ceritanya. Suatu ketika ada
seorang pria yang sedang berdiri di depan rumahnya. Rumah tersebut
pintunya menyerupai pintu sebuah tempat pemandian, tiba-tiba di situ
lewat wanita cantik dan bertanya, ‘mana jalan ke pemandian manjab ? dia
menjawab (sambil menunjuk ke pintu rumahnya) , ini dia pemandian manjab
itu! Maka, wanita itu pun masuk ke dalam rumahnya sampai kebelakang.
Setelah dia sadar terjebak di rumah sang pria dan tahu bahwa dia sedang
ditipu, dia pura-pura menampakkan rasa gembira dan suka cintanya karena
pertemuannya dengan pria itu. Kemudian wanita itu berkata, ‘ sebaiknya
(sebelum kita berkumpul ) engkau harus mempersiapkan untuk kita apa-apa
yang dapat membuat keindahan kehidupan kita sekaligus menyenangkan hati
kita’. Dengan segera pria itu menjawab,’ sekarang juga aku akan
membawakan untukmu semua apa yang kami inginkan dan kamu senangi’. Lalu
dia pergi ke luar dan meninggalkan si wanita dalam rumah, namun tidak
menguncinya. Kemudia ia mengambil apa yang dia bisa bawa lalu kembali ke
rumahnya. Tapi sayang si wanita itu telah keluar dan pergi. Sedikitpun
wanita itu tidak mengambil apa- apa dari rumahnya. Pria itu akhirnya
mabuk kepayang dan selalu ingat pada wanita itu tadi. Dia berjalan di
lorong-lorong dan gang-gang sambil mengatakan :
يا رب قائلة يوما وقد تعبت كيف الطريق إلى حمام منجاب ؟
Wahai tuhan mana wanita yang mengatakan suatu hari dalam kondisi capek: mana jalan kepemandian munjab?
Suatu saat , waktu dia mengucapkan bait syair tadi, ada seorang wanita berkomentar dari jendela pintu rumahnya :
هلا جعلت سريعا إذ ظفرت بها حرزا على الدار أو قفلا على الباب
Mengapa di saat sudah mendapatkannya tidak dengan segera engkau menutup rumah itu atau mengunci pintunya ?
Mendengar
itu ia tambah mabuk kepayang. Begitulah terus kondisinya sehingga bait
syair itu menjadi kata-kata terakhirnya saat meninggal dunia.”
Suatu
malam, sufyan Ats- tsauri menangis sampai pagi. Di pagi itu ada yang
bertanya kepadanya: “ adakah semua yang kau lakukan ini karena takut
akan dosa ?” lalu sufyan mengambil segenggam tanah seraya berkata : “
dosa itu lebih ringan dari batu ini, aku menangis karena takut akan
su’ul khatimah.”
Sungguh, ini adalah pemahaman yang baik, bila
seseorang itu khawatir akan dosa-dosanya akan mebuatnya terhina di kala
meninggal dunia nanti, sehingga dia terhalang untuk memperoleh husnul
khatimah.
Al Imam Ahmad pernah menyebutkan bahwa Abu Darda’ di saat
sakaratul maut datang, dia pingsan tak sadarkan diri, kemudian dia
siuman dan membaca :
] ونقلب أفئدتهم وأبصارهم كما لم يؤمنوا به أول مرة ونذرهم في طغيانهم يعمهون [
“
Dan (begitulah ) kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti
mereka belum pernah beriman kepadanya pada permulaannya, dan kami
biarkanmereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat” (QS. Al An’am
: 110)
Dan oleh karena itu, para ulama salaf khawatir kalau dosa-dosa itu dapat menghalangi mereka untuk memperoleh husnul khatimah.
Abdul
Haq juga berkata : “ ketahuilah bahwa su’ul khatimah itu ( semoga kita
dilindungi oleh Allah darinya ) tidak akan terjadi pada orang yang
dasarnya sudah rusak atau senantiasa melakukan dosa besar dan
mengerjakan kemaksiatan. Barang kali itu menjadi kebiasaannya, sehingga
kematian datang menjemputnya sebelum sempat bertaubat, akhirnya dia
meninggal sebelum memperbaiki dirinya, urat nadinya dicabut sebelum dia
kembali kepada Allah, sehinga saat itu setan berhasil merenggut dan
menyambarnya disaat yang genting tersebut. Na’udzu billah!”
Diriwayatkan
bahwa di mesir dulu ada seseorang yang selalu pergi ke masjid untuk
adzan dan melakukan shalat. Wajahnya berwibawa dan penuh cahaya ibadah.
Suatu hari dia naik ke menara seperti biasanya untuk adzan, di bawah
menara itu ada rumah seorang nashrani, dia melongok ke dalam rumah
tersebut, dan melihat anak perempuan pemilik rumah itu, akhirnya ia
tergoda dengannya, lalu dia tinggalkan adzan saat itu, dan turun untuk
menemuinya, dan masuk ke dalam rumahnya. Anak perempuan itu bertanya : “
ada apa, apa yang kamu inginkan ?” Dia menjawab : Aku menginginkan
kamu. Dia bertanya lagi : “mengapa demikian ?” dia menjawab : “ sungguh
engkau telah menawan jiwaku dan menguasai seluruh relung hatiku.”
Perempuan itu berkata : “ Aku tidak akan pernah memenuhi keinginanmu
selamanya.” Pria tadi menjawab : “ aku akan mengawinimu lebih dahulu.”
Perempuan itu berkata : “engkau seorang muslim, aku nashrani, ayahku
tidak akan mengawinkan aku denganmu. Lelaki itu berkata: “ aku akan
masuk agama Nashrani!” Maka wanita itu berkata : “ jika kamu lakukan
itu, maka aku mau!” akhirnya lelaki itu resmi masuk Nashrani agar dapat
kawin dengannya. Diapun tinggal bersama mereka. Dan pada hari itu, dia
naik loteng yang ada di rumah tersebut, kemudian jatuh dan langsung
mati.
Kasihan, dia tidak berhasil mendapatkan perempuan tersebut dan dia kehilangan agamanya.
Diriwayatkan
pula, ada seorang laki-laki yang senang kepada seseorang. Kesenangan
dan kecintaannya sangat kuat, sehingga mampu menguasahi hatinya. Bahkan,
dia sampai jatuh sakit dan harus tidur istirahat karenanya. Sementara
orang yang dicintai itu tidak mau menemuinya. Dia benar-benar tidak suka
dan menjauh darinya. Sementara itu orang-orang berusaha mempertemukan
keduanya, sehingga ia berjanji untuk menemuinya. Orang-orang datang
membawa kabar tersebut, diapun gembira dan sangat bersuka cita.
Kesempitan di dadanya terasa hilang. Jadilah ia menunggu waktu yang
ditentukan untuknya. Di saat itu, tiba-tiba datang orang yang akan
mempertemukan keduanya, lalu menyampaikan : “dia sudah berangkat
bersamaku sampai di tengah perjalanan, namun dia kembali lagi. Aku terus
mendorong dan merayunya, tapi dia berkata : “ orang itu ingat dan
menyebut-nyebut aku dan dia pun bergembira dengan kedatanganku. Namun
aku tidak akan masuk ke tempat yang meragukan. Aku tidak akan
mempersembahkan diriku untuk tempat-tempat yang mencurigakan. Aku terus
membujuknya, namun dia tidak mau dan terus pergi. Mendengar hal itu,
orang yang sakit tadi langsung menjatuhkan diri dan kembali sakit dengan
kondisi yang lebih parah lagi dari sebelumnya, tanda-tanda kematian
sudah tampak di wajahnya, saat itu dia mengatakan dalam untaian syair :
يا سلمى يا راحة العليل ويا شفا المذنف النحيل
Wahai salma, wahai penenang hati yang sakit. Wahai obat bagi tubuh yang kurus.
Keridhaanmu lebih diharapkan oleh hatiku, katimbang rahmat Allah yang maha pencipta dan maha mulia.
Maka
abdul Haq asy- asyibly berkata kepadanya : “wahai fulan, takutlah
engkau kepada Allah !! dia menjawab : semuanya sudah terjadi, akhirnya
aku meninggalkannya. Dan tidak sempat aku melewati pintu rumahnya,
hingga aku medengar nyaring suara kematiannya. Kita berlindung kepada
Allah dari su’ul khatimah.
([1] ) Dalam kitab Al-‘Aqibah fi Dzikril Maut Wal Akhirat, hal 178: 181.