Tampilkan postingan dengan label Tafsir Al Qur'an. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tafsir Al Qur'an. Tampilkan semua postingan

Rabu, 29 Februari 2012

Hujjatul Islam: Ibnu Katsir, Guru Umat dan Suluh Penguasa (1)

Hujjatul Islam: Ibnu Katsir, Guru Umat dan Suluh Penguasa (1)

REPUBLIKA.CO.ID, Ibnu Katsir mendapat julukan Al-Hafizh, Al-Hujjah, dan Al-Muarrikh. Pantas ia menerima penghormatan itu. Pasalnya, ia menguasai banyak disiplin ilmu keislaman, seperti ilmu tafsir, hadis, fikih, dan sejarah.
Ulama sekelas Imam Adz-Dzahabi pun tak segan menyanjungnya. Ibnu Katsir adalah seorang Mufti (pemberi fatwa), Muhaddits (ahli hadis), ilmuwan, ahli fikih, ahli tafsir, dan punya karya monumenal yang banyak dan bermanfaat.
Nama lengkap Ibnu Katsir adalah Abu Al-Fida' Imaduddin Ismail bin Hafsh Syihabuddin Umar bin Katsir. Ia lahir di Majlah, salah satu kota di Bashrah, sebelah timur Kota Damaskus, pada 701 H. Ayahnya meninggal dunia sejak dia masih belia. Sehingga, pendidikan awal Ibnu Katsir diawasi oleh saudara-saudaranya. Ia merupakan anak termuda dalam keluarganya.
Ada yang berpendapat bahwa ayah Ibnu Katsir meninggal ketika ia berusia tiga tahun. Pendapat lain mengatakan ketika berusia empat tahun. Dan pendapat terakhir menyebutkan ketika ia berusia enam tahun. Pendapat yang terakhir disinyalir Ensiklopedi Islam sebagai yang paling sahih.
Meski sang ayah meninggalkannya sejak usia dini, namun pengaruhnya begitu kuat bercokol dalam diri Ibnu Katsir. Menurut sebuah riwayat, ayah Ibnu Katsir adalah seorang khatib. Sang ayah dikenal taat beragama, kuat menjunjung nilai-nilai keilmuan, dan pendidik yang bersemangat. Ibnu Katsir mewarisi kebesaran ayahnya, bahkan kemudian ia menjadi lebih besar.
Sejatinya, kebesaran Ibnu Katsir tampak sejak masih berusia kanak-kanak. Pendidikan awalnya diasuh oleh saudaranya, Syekh Abdul Wahab. Pada periode ini, Ibnu Katsir belajar ilmu-ilmu agama. Ia dengan cepat menguasai ilmu-ilmu yang dipelajarinya. Sehingga pada 706 H, ketika berusia lima tahun, saudaranya mengirimkan Ibnu Katsir ke Kota Damaskus untuk memperdalam ilmu agama.
Di kota itu ia belajar ilmu fikih Syafi'i kepada syekh besar Damaskus, Burhanuddin Ibrahim bin Abdurrahman Al-Fazariy (W 729). Menginjak usia 11 tahun, ia sudah selesai menghafalkan 30 juz Alquran. Kemudian, dari Kota Damaskus itulah, ia memulai pengembaraannya untuk memperkaya ilmu agama.
Tak dapat dinafikan pula bahwa kebesaran Ibnu Katsir juga ditunjang oleh kebesaran guru-gurunya. Selain syekh besar Damaskus, sederet nama ulama agung tercatat sebagai pembimbingnya. Di bidang usul fikih, ia diasuh oleh Syekh Kamaluddin bin Qodi Syuhbah, di bidang hadis ia berguru kepada Syekh Jamaluddin Yusuf bin Zaki Al-Mazi dan Syekh Nazmuddin bin Al-Asqalani, dan di bidang sejarah belajar kepada Syekh Syamsuddin Adz-Dzahabi.

Kamis, 16 Februari 2012

Mengkaji Kandungan Alquran dengan Benar


REPUBLIKA.CO.ID, Tafsir Al-Qur'anul ‘Azhim atau lebih dikenal dengan sebutan Tafsir Ibnu Katsir, merupakan salah satu kitab tafsir yang paling populer di kalangan umat Islam. Kitab Tafsir ini ditulis oleh Imam Al-Hafiz Ibnu Katsir (wafat 774H ).
Di samping dikenal sebagai ulama terkemuka di bidang tafsir, Ibnu Katsir juga dikenal sebagai imam di bidang hadis, hingga bergelar "Al-Hafiz". Ia juga sangat menguasai bidang sejarah dan fikih.
Banyak ulama yang memuji keluasan dan kedalaman ilmunya, baik di masa Imam Ibnu Katsir maupun sesudahnya. Hal ini karena Ibnu Katsir menguasai berbagai disiplin ilmu agama. Dan karyanya dalam bidang tafsir, termasuk yang paling unggul.
Satu hal yang menjadi lebih istimewa, kitab tafsir karya Ibnu Katsir ini termasuk dalam kelompok Tafsir bil Ma’tsur. Yakni, karya tafsir yang mengedepankan berbagai hadis Nabi SAW dan riwayat-riwayat lainnya sebagai basis penafsiran ayat Alquran. Berbeda dengan Tafsir bir Ra’yi, yang lebih mengedepankan logika dan pendapat dalam menafsirkan suatu ayat. Karenanya, menurut banyak pihak, Tafsir bil Ma’tsur lebih unggul, sebab sumber penafsirannya bersumber dari Rasulullah SAW dan para sahabatnya.
Rasul SAW adalah orang yang paling mengerti tentang Alquran. Sebab Alquran diturunkan kepada Rasul SAW dan wajib disampaikan kepada umatnya. Sementara para sahabatnya adalah orang-orang yang paling memahami kandungan Alquran, karena mereka menimbanya dari Rasul SAW. Inilah yang menjadi kekuatan dan kelebihan tafsir karya Imam Ibnu Katsir.
Atas berbagai pendapat yang dikemukakan, diberikan tarjih atas masalah tersebut. Terkadang Ibnu Katsir mengomentari kualitas hadis dan periwayatnya. Ini semua karena latar belakang pengetahuannya yang sangat mendalam dalam ilmu hadis. Ibnu Katsir lebih banyak memilih pendapat yang dipandang paling kuat dari segi hukum.
Imam Suyuthi dan Az-Zarqani memuji Tafsir Ibnu Katsir ini. “Belum pernah ada (kitab tafsir) yang ditulis dengan gaya semacam itu,” jelas Suyuthi dan Az-Zarqani. Begitu kuatnya pesona kitab tafsir ini, hingga mengundang minat dan kepedulian para ulama dan akademisi, untuk terus menelitinya kembali.
Tidak heran, jika sampai saat ini banyak sekali versi tafsir Ibnu Katsir. Mulai dari versi aslinya, versi tahqiq dan takhrij (yang diteliti kembali naskah dan derajat hadis yang digunakan, serta diberi catatan kaki oleh penelitinya).
Selain itu, ada juga versi mukhtashar (ringkasan), versi tahdzib (dirapikan kembali susunannya), hingga versi shahih (yang telah dibersihkan dari berbagai riwayat dhaif (lemah).
Di Indonesia, sedikitnya terdapat empat versi yang telah diterbitkan. Dan Shahih Tafsir Ibnu Katsir yang terdiri sembilan jilid oleh Pustaka Ibnu Katsir ini merupakan yang paling baru. Tafsir ini juga dilengkapi dengan index secara terpisah, untuk memudahkan melacak tema-tema yang diinginkan. Disebut dengan Shahih Tafsir Ibnu Katsir, karena hanya diambil hadis-hadis yang benar-benar sahih dan dapat dipertanggungjawabkan kualitasnya.
Karena itu, kitab Tafsir Shahih ini sangat layak dijadikan referensi setiap Muslim dalam memahami kandungan isi Alquran.

Mukjizat Alquran: Tiga Tahapan Bayi dalam Rahim

REPUBLIKA.CO.ID, Dalam Alquran dipaparkan bahwa manusia diciptakan melalui tiga tahapan dalam rahim ibunya.
"... Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan. Yang (berbuat) demikian itu adalah Allah, Tuhan kamu, Tuhan yang mempunyai kerajaan. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia; maka bagaimana kamu dapat dipalingkan?" (QS. Az-Zumar: 6).
Sebagaimana yang akan dipahami, dalam ayat ini ditunjukkan bahwa seorang manusia diciptakan dalam tubuh ibunya dalam tiga tahapan yang berbeda.
Sungguh, biologi modern telah mengungkap bahwa pembentukan embrio pada bayi terjadi dalam tiga tempat yang berbeda dalam rahim ibu. Sekarang, di semua buku pelajaran embriologi yang dipakai di berbagai fakultas kedokteran, hal ini dijadikan sebagai pengetahuan dasar.
Misalnya, dalam buku Basic Human Embryology, sebuah buku referensi utama dalam bidang embriologi, fakta ini diuraikan sebagai berikut: "Kehidupan dalam rahim memiliki tiga tahapan: pre-embrionik; dua setengah pekan pertama, embrionik; sampai akhir pekan kedelapan, dan janin; dari pekan kedelapan sampai kelahiran." (Williams P, Basic Human Embryology, 3. edition, 1984, s. 64.)
Fase-fase ini mengacu pada tahap-tahap yang berbeda dari perkembangan seorang bayi. Ringkasnya, ciri-ciri tahap perkembangan bayi dalam rahim adalah sebagaimana berikut:

Tahap Pre-embrionik

Pada tahap pertama, zigot tumbuh membesar melalui pembelahan sel, dan terbentuklah segumpalan sel yang kemudian membenamkan diri pada dinding rahim. Seiring pertumbuhan zigot yang semakin membesar, sel-sel penyusunnya pun mengatur diri mereka sendiri guna membentuk tiga lapisan.
Tahap EmbrionikTahap kedua ini berlangsung selama lima setengah pekan. Pada masa ini bayi disebut sebagai "embrio". Pada tahap ini, organ dan sistem tubuh bayi mulai terbentuk dari lapisan-lapisan sel tersebut.
Tahap FetusDimulai dari tahap ini dan seterusnya, bayi disebut sebagai "fetus". Tahap ini dimulai sejak kehamilan bulan kedelapan dan berakhir hingga masa kelahiran. Ciri khusus tahapan ini adalah terlihatnya fetus menyerupai manusia, dengan wajah, kedua tangan dan kakinya. Meskipun pada awalnya memiliki panjang 3 cm, kesemua organnya telah nampak. Tahap ini berlangsung selama kurang lebih 30 pekan, dan perkembangan berlanjut hingga pekan kelahiran.
Informasi mengenai perkembangan yang terjadi dalam rahim ibu, baru didapatkan setelah serangkaian pengamatan dengan menggunakan peralatan modern. Namun, sebagaimana sejumlah fakta ilmiah lainnya, informasi-informasi ini disampaikan dalam ayat-ayat Alquran dengan cara yang ajaib. Fakta bahwa informasi yang sedemikian rinci dan akurat diberikan dalam Alquran pada saat orang memiliki sedikit sekali informasi di bidang kedokteran, merupakan bukti nyata bahwa Alquran bukanlah ucapan manusia tetapi Firman Allah.

Jumat, 17 Juni 2011

Amalan Bulan Sya'ban

الأمور المشروعة في شعبان                  
Hal yang Disyari’atkan di dalam Bulan Sya’ban
Memperbanyak puasa pada bulan Sya’ban, sebagaimana yang dikerjakan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam:
عن أُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ قَالَ: قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَمْ أَرَكَ تَصُومُ شَهْرًا مِنْ الشُّهُورِ مَا تَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ قَالَ ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ. رواه النسائي (4/4201) و أحمد (5/201), و انظر السلسلة الصحيحة (4/1898).
Artinya: “Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu berkata: “Wahai Rasulullah, saya belum pernah melihat engkau berpuasa pada satu bulan dari bulan-bulan lainnya sebagaimana engkau berpuasa pada bulan Sya’ban? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Bulan itu adalah bulan yang dilupakan manusia yaitu bulan antara Rajab dan Ramadhan, dan ia adalah bulan yang diangkat di dalamnya seluruh amalan kepada Rabb semesta alam, maka aku menginginkan amalanku diangkat dalam keadaan aku berpuasa”. HR. An Nasai (420/4), Ahmad (5/201) dan lihat kitab Silsilah Al-Ahadits ash-ashahihah (4/1898).
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لَا يُفْطِرُ وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لَا يَصُومُ فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلَّا رَمَضَانَ وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ. رواه البخاري (1969) و مسلم (1156)
Artinya: “‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa, sampai kami katakan bahwa beliau tidak berbuka. Beliau pun berbuka sampai kami katakan bahwa beliau tidak berpuasa. Aku tidak pernah sama sekali melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa secara sempurna sebulan penuh selain pada bulan Ramadhan. Aku pun tidak pernah melihat beliau berpuasa yang lebih banyak daripada berpuasa di bulan Sya’ban”. HR. Bukhari (no. 1969) dan  Muslim (no. 1156). Dalam lafazh Muslim, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan,
كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ إِلاَّ قَلِيلاً.
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada bulan Sya’ban kecuali hanya sedikit hari saja (yang beliau tidak berpuasa).” (HR. Muslim no. 1156)

Selasa, 14 Juni 2011

Surat Al-Ashr

Al-Ashri. Demikian bunyi ayat pertama dari surah al-Ashr. Surah yang sangat dalam dan luas isi kandungannya. Bahkan menurut ahli tafsir Muhammad ‘Abduh, bahwa seandainya hanya surat Al-Ashr ini saja yang diturunkan, maka sudah bisa mencakup seluruh kandungan Al-Quran.

Dalam surah tersebut, Allah SWT bersumpah dengan masa. Tentu kita akan bertanya, kenapa Allah bersumpah dengan masa?. Kenapa Allah bersumpah dengan makhluknya? Sementara kita makhluk-Nya tidak boleh bersumpah dengan selain Allah, karena Dia yang menciptakan seluruh makhluk di alam ini. Kita bersumpah dengan menyebut khaliq (yang menciptakan) para makhluk. Tetapi Allah bersumpah dengan masa, sesuatu yang kebih rendah dari Dzat Allah itu sendiri. Tak lain sebabnya adalah karena masa/waktu itu penting.

Setiap kali Allah bersumpah dengan sesuatu, maka berarti Allah menyuruh kita untuk memperhatikannya. Allah bukan hanya bersumpah atas masa, tetapi juga atas matahari, bulan, siang, malam dan sebagainya. Semuanya itu bertujuan supaya kita memperhatikan benda-benda dan makhluk-makhluk tersebut dalam rangka menambah keimanan kita kepada Allah SWT.

Allah bersumpah dengan masa, karena masa itu adalah sesuatu yang sangat penting. Dimana letak pentingnya masa? Karena masa itu terus berjalan. Masa tidak pernah berhenti, walaupun sesaat. Masa terus berputar dengan cepat. Masa tidak dapat kita kejar. Jangankan masa 5 atau 10 tahun yang lalu, sedetikpun waktu yang baru lewat tidak dapat kita kejar. Karena itu, kita harus bisa mempergunakan masa dengan sebaik-baiknya. Kalau tidak, kita akan menjadi orang yang merugi.

Pepatah Arab mengatakan, “Waktu itu laksana pedang, jika tidak kamu yang memotongnya, maka dia akan memenggalmu”. Dalam menyikapi waktu hanya ada dua pilihan. Mau menjadi orang yang dipenggal oleh waktu (merugi), atau sebaliknya menjadi yang memotong (mengambil keuntungan) dari perjalan waktu.

Dalam ayat selanjutnya dari surat Al-Ashr, Allah SWT menegaskan bahwa semua manusia pada hakekatnya merugi (la fii khusriri). Yang tidak merugi hanya orang-orang yang melakukan empat hal.

1. Aamanuu, yang beriman (beriman kepada Allah, malaikat, kitab-kkab, rasul-rasul, hari akhir, dan takdir dan ketentuanAllah).
2. Wa ‘amilushshaalihaati, yang beramal shaleh baik sifatnya vertikal maupun horizontal, baik amal-amal mahdhah (ritual) maupunamal-amal sosial.
3. Wa tawaashau bil haqqi, saling menasehati kepada kebenaran dengan cara yang benar.
4. Wa tawashau bishshabri, saling memberi nasehat untuk bersikap sabar dengan cara sabar.

Merugi di sini janganlah diartikan seperti meruginya pedagang. Rugi yang dimaksud mencakup arti yang sangat luas, kerugian di dunia dan kerugian di akhirat. Di dunia, hidupnya tidak pernah tentram, walaupun segala keperluannya terpenuhi, dan di akhirat akan menerima azab yang maha dahsyat.

Orang yang beriman tidak akan merugi, sebab ia mempunyai tali untuk bergantung, rumah tempat berteduh, dan tempat untuk berlindung, yaitu Allah SWT. Orang yang tidak beriman kepada Allah, sama dengan orang yang tidak mempunyai tempat untuk berlindung. Ibarat orang yang berada di tengah lautan tanpa bantuan pelampung. Akibatnya ia akan terombang-ambing didera ombak gelimbang kehidupan dunia. Kadang-kadang dengan sedikit musibah yang menimpanya, dia sudah putus asa. Sedikit saja bahaya yang mengenai dirinya, dia mau bunuh diri.

Namun, iman saja belum cukup. Iman harus diikuti dengan amal sholeh. Iman letaknya di dalam hati, harus dizhahirkan (ditampakkan) dengan amal shaleh. Orang yang mengaku beriman, tetapi amal/ tingkah lakunya tidak shaleh, maka belum termasuk orang yang beriman dalam konteks surat Al- Ashr.

Selanjutnya, merekayang beriman dan beramal shaleh, haruslah saling memberi nasehat, wasiat kepada kebenaran (haq) dengan cara yang benar (ma ‘ruf), dan saling memberi nasehat, wasiat untuk senantiasa menjadi orang yang sabar dan dengan cara-cara yang sabar pula, tidak gegabah dan emosional.

Kata “saling” dalam terjemahan ayat mengindikasikan, bahwa memberi nasehat atau wasiat adalah kewajiban setiap orang yang beriman yang ingin beramal sholeh, tidak harus dimonopoli oleh orang-orang tertentu, sehingga orang-orang selain mereka tidak berhak menyampaikan nasehat. Semua manusia makhluk Allah SWT, sangat berpotensi berbuat khilaf, siapa pun dia. Nah, mereka yang mau terbuka menerima masukan orang lain, akan terbebas dari belenggu kerugian, karena masukan tersebut telah membuat dirinya tidak berlarut-larut dalam kekeliruan yang tidak diketahuinya sebelumnya.

Sumber : Buletin Mimbar Jum’at No. 8 Th. XXIII - 20 Februari 2009

Surat Al-Fatihah

Surat Al-Fatihah mengandung tiga pokok bahasan utama yang sekaligus merupakan pokok bahasa dalam kajian Islam, yaitu :

1. Aqidah (Tauhid).
2. Syari’ah .
3. Muamalah.

1.Aqidah (Iman Dengan Allah & Hari Pembalasan)

Al-Fatihah menanamkan keimanan dengan Allah dengan memperkenalkan tiga macam tauhid :

- Tauhid Rububiyah : Meyakini bahwa hanya Allah yang menciptakan dan mengatur alam semesta ( Ayat 2 ).

- Tauhid Asma’ & Sifat : Meyakini bahwa hanya Allah saja yang maha sempurna dalam segnap asma dan sifatnya. ( Ayat 1 & 3 ).

- Tauhid Uluhiyah : Meyakini bahwa hanya kepada Allah saja mengabdikan diri ( Ayat 5 ).

Surat al-Fatihah juga menanamkan keyakinan dengan hari pembalasan ( Ayat 4 )

2. Syari’ah .

Al-Fatihah membahas tentang tata cara hubungan manusia dengan Allah SWT, untuk mendapatkan keridhaan-Nya.( Ayat 5 )

3. Mu’amalah.

Al-Fatihah membahas juga tentang tatacara hubungan sesama manusia agar tercapai kehidupan yang bahagia penuh kenikmatan, dan terhindar dari kemurkaan Allah serta jauh dari kesesatan.( Ayat 7 ).


Ayat 1

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

“Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”.

Ayat yang pertama turun kepada Rasulullah SAW. Adalah : ( إقرأ باسم ربك ) “Bacalah dengan nama Tuahanmu!, yang mengandung makna agar Rasulullah SAW memulai menyampaikan wahyu kepada umatnya dengan menyebut nama-Nya. Untuk mengamalkan perintah Allah tsb. maka setiap awal surat yang disampaikan Rasulullah SAW, selain surat At-Taubah senantiasa diawali dengan menyebut “Basmalah” .

Dengan menyebut “Basmalah” pada setiap awal surat memberikan suatu pengertian bahwa wahyu yang disampaikan Rasulullah SAW. itu bukan dari dan atas kemauan Rasulullah SAW pribadi, akan tetapi ia berasal dari Allah SWT, dan atas perintah-Nya serta mengharapkan keridhaan dan keberkahan-Nya.

Sejalan dengan itu pula maka Rasulullah mengajarkan kepada umatnya agar senantiasa memulai setiap pekerjaan dengan menyebut nama Allah agar pekerjaan tersebut mendapatkan berkah dan ridha Allah SWT. Sebaliknya apabila tidak dimulai dengan menyebut nama Allah maka pekerjaan itu akan sia-sia. Sabda Rasulullah SAW :

عن أبى هريرة رضى الله عنه قال:قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: كل أمرذى بال لا يبدأفيه ببسم الله الرحمن الرحيم فهو أقطع (رواه أبو داود)

Artinya: Menurut keterangan Abu Hurairah r.a. Rasulullah SAW, pernah bersabda : ”Setiap perbuatan yang mengandung arti apabila tidak dimulai dengan “Basmalah” maka akan terputus berkatnya (tidak berhasil dengan baik)” ( H.R. Abu Daud ).

Ungkapan ( بسم الله) mengandung makna tersirat : Aku mulai, atau aku baca dengan nama Allah…; dengan demikian kalimat tersebut merupakan suatu doa’ atau pernyataan bahwa pekerjaan itu kita mulai dengan nama Allah, atau atas perintah Allah untuk mengharapkan ridha dan keberkahan daripada Allah SWT, serta terhindar dari hal-hal yang akan merusak pekerjaan tersebut atau merusak hati pelaku perjaan tersebut karena dorongan hawa nafsu dan gangguan syetan dan jin ataupun manusia yang mempunyai niat yang buruk.

الرحمن الرحيم

adalah dua nama dan sifat Allah yang terambil dari akar kata ( الرحمة) yang biasa diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia dengan “ Rahmat ”. Arti keduanya secara umum adalah : “Yang mempunyai rahmat yang melimpah ruah dan senantiasa melimpahkan rahmat-Nya itu kepada makhluk-Nya dengan penuh kasih sayang. Semua nikmat yang ada didunia ini berasal dari limpahan rahmat-Nya yang tidak akan pernah kering dan habis itu.

Secara rinci ada ulama yang menafsirkan الرحمن dengan : ”Sifat kasih sayang yang senantiasa tercurah, sedangkan الرحيم adalah aplikasi dari sifat tersebut, yaitu dengan segala kepemurahan-Nya Allah senantiasa melimpahkan rahmat kepada makhluk-Nya . Sebaliknya ada pula yang menafsirkan kebalikan dari itu, yaitu الرحمن Adalah : Yang senantiasa melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada makhlukNya tanpa pilih kasih. Apakah orang itu kafir atau muslim, apakah orang itu bersyukur atau kufur, apakah orang itu mukmin atau munafiq, semua diberi-Nya limpahan nikmat dan karunia-Nya yang tidak akan pernah habis, karena itu biasa diterjemahkan dengan : Yang Maha Pemurah. Sedangkan الرحيم adalah sifat kasih sayang yang khusus diberikan kepada orang-orang yang beriman, baik didunia maupun diakhirat sebagaimana firman-Nya adaalam Surat Al-Ahzab ayat 43 :

(وكان بالمؤمنين رحيما )

artinya: “Allah itu Maha Penyayang terhadap orang yang beriman (QS.33:43).

Dengan membaca dan meyakini sepenuhnya bahwa semua nikmat yang ada didunia ini adalah milik Allah SWT, yang berasal dari limpahan Rahmat-Nya yang tidak putus putusnya dan meyakini pula bahwa Allah SWT, sangat pemurah untuk mencurahkan rahmat dan karunia-Nya maka timbullah pengharapan yang penuh dan optimis terhadap limpahan rahmat-Nya , sebaliknya dengan menyadari kelemahan kita sebagai manusia yang tidak akan mendapatkan kebutuhan hidup lahir dan bathin selain hanya dari Allah SWT yang Maha Rahman dan Rahim, maka akan timbullah rasa ketergantrungan kita kepada Allah dalam segala hal , dan sekaligus hilang pulalah rasa ketergantungan kita kepada siapapun selain Allah SWT.

Rasa ketergantungan dan penuh harapan kepada Allah SWT, dalam segala hal itu merupakan cikal tauhid yang tumbuh dalam diri seorang mukmin yang selanjutnya akan membuahkan pengabdian kepada Allah SWT, dengan melakukan ibadah dan mua’amalah, aktifitas kehidupan yang dirdhai Allah dengan penuh keikhlasan dan kecintaan mengharapkan keredhaan Allah SWT Yang Maha Rahman dan Rahim.

Mengucapkan dan merenungkan makna “Rahman & Rahim” selanjutnya juga akan menimbulkan rasa malu untuk melakukan kemaksiatan atau pendurhakaan kepada Allah SWT, yang senantiasa dan tidak putus-putusnya melimpahkan rahmat dan nikmat-Nya kepada kita dengan penuh kasih sayang tanpa mengharapkan apapun dari hamba-Nya selain kebahagiaan hamba-Nya itu sendiri dalam kehidupan dunia dan akhirat.

Diantara orang-orang yang sesat menurut Al-Quran

Diantara orang-orang yang sesat menurut Al-Quran adalah :

Pertama : Orang Musyrik :

Siapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, Maka Sesungguhnya ia Telah tersesat sejauh-jauhnya.(QS.An-Nisa’ 4:116)

Kedua: Orang kafir :

Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah, benar-benar Telah sesat sejauh-jauhnya.(QS.An-Nisa’ 4:167)

Ketiga: Orang yang murtad :

Sesungguhnya orang-orang kafir sesudah beriman, Kemudian bertambah kekafirannya, sekali-kali tidak akan diterima taubatnya; dan mereka Itulah orang-orang yang sesat.(QS.Ali Imran 3:90)

Keempat : Orang yang putus asa :

Ibrahim berkata: "Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhan-nya, kecuali orang-orang yang sesat"(QS.Hijir 15:56)

Kelima: Orang-orang yang durhaka :

Siapa mendurhakai Allah dan rasul-Nya Maka sungguhlah dia Telah sesat, sesat yang nyata.(QS.Al-Ahzab 33:36)

Orang Nasrani dinyatakan sesat karena kemusyrikan mereka mempersekutukan Tuhan dengan Isa bin Maryam dan menganggapnya sebagai anak Tuhan. Bahkan Al-Quran menyatakan mereka kafir. Firman Allah SWT :

Sesungguhnya Telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah ialah Al masih putera Maryam", padahal Al masih (sendiri) berkata: "Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu". Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, Maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.(QS.Almaidah 5:17).

Demikianlah do’a dan harapan kita setiap membaca Al-Fatihah, semoga kita berada pada jalan lurus yang diridhai Allah, dan kiranya Allah memberi kita kenikmatan hidup, dan semoga Allah senantiasa memelihara keimanan dan keislaman kita agar tidak tergelincir menjadi orang yang dimjurkai-Nya dan orang yang sesat. Semua harapan itu kita nyatakan dalam satu kata : Amiin. Menurut para ulama amiin tidaklah termasuk Al-Fatihah, namun setiap selesai membaca Al-Fatihah kita disunatkan mengucapkan Amiin yang artinya adalah : Perkenankanlah Ya Allah. Landasannya adalah sabda Rasulullah SAW :

عن أبى هريرة رضى الله عنه قال: كان رسول الله صلى الله عليه وسلم اذا تلا غير مالغضوب عليهم ولا الضالين قال: اّميـــن حتى يسمع ممن يليه من

الصف الأول (رواه أبو د وابن ماجه)

Artinya:

Dari Abu Hurairah r.a, beliau berkata: Rasulullah SAW. bila beliau membaca “Ghairil maghdhubi ‘alaihim waladh dhalin” maka beliau membaca : amiin sehingga kedengaran oleh orang orang sekitar beliau”(HR.Abu Daud dan Ibnu Majah

Urgensi Tafsir Al-Qur'an dalam Islam

Urgensi Tafsir Al-Qur'an dalam Islam
Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibril dalam bahasa Arab dengan segala macam kekayaan bahasanya. Di dalamnya terdapat penjelasan mengenai dasar-dasar aqidah, kaidah-kaidah syariat, asas-asas perilaku, menuntun manusia ke jalan yang lurus dalam berpikir dan beramal. Namun, Allah SWT tidak menjamin perincian-perincian dalam masalah-masalah itu sehingga banyak lafal Al-Qur’an yang membutuhkan tafsir, apalagi sering digunakan susunan kalimat yang singkat namun luas pengertiannya. Dalam lafazh yang sedikit saja dapat terhimpun sekian banyak makna. Untuk itulah diperlukan penjelasan yang berupa tafsir Al-Qur'an.

Sejarah Tafsir Al-Qur'an

Sejarah ini diawali dengan masa Rasulullah SAW masih hidup seringkali timbul beberapa perbedaan pemahaman tentang makna sebuah ayat. Untuk itu mereka dapat langsung menanyakan pada Rasulullah SAW. Secara garis besar ada tiga sumber utama yang dirujuk oleh para sahabat dalam menafsirkan Al-Qur'an :

1. Al-Qur'an itu sendiri karena terkadang satu hal yang dijelaskan secara global di satu tempat dijelaskan secara lebih terperinci di ayat lain.
2. Rasulullah SAW semasa masih hidup para sahabat dapat bertanya langsung pada Beliau SAW tentang makna suatu ayat yang tidak mereka pahami atau mereka berselisih paham tentangnya.
3. Ijtihad dan Pemahaman mereka sendiri karena mereka adalah orang-orang Arab asli yang sangat memahami makna perkataan dan mengetahui aspek kebahasaannya. Tafsir yang berasal dari para sahabat ini dinilai mempunyai nilai tersendiri menurut jumhur ulama karena disandarkan pada Rasulullah SAW terutama pada masalah azbabun nuzul. Sedangkan pada hal yang dapat dimasuki ra’y maka statusnya terhenti pada sahabat itu sendiri selama tidak disandarkan pada Rasulullah SAW.

Para sahabat yang terkenal banyak menafsirkan Al-Qur'an antara lain empat khalifah , Ibn Mas’ud, Ibn Abbas, Ubai bin Ka’b, Zaid bin Tsabit, Abu Musa al-Asy’ari, Abdullah bin Zubair. Pada masa ini belum terdapat satupun pembukuan tafsir dan masih bercampur dengan hadits.

Sesudah generasi sahabat, datanglah generasi tabi’in yang belajar Islam melalui para sahabat di wilayah masing-masing. Ada tiga kota utama dalam pengajaran Al-Qur'an yang masing-masing melahirkan madrasah atau madzhab tersendiri yaitu Mekkah dengan madrasah Ibn Abbas dengan murid-murid antara lain Mujahid ibn Jabir, Atha ibn Abi Ribah, Ikrimah Maula Ibn Abbas, Thaus ibn Kisan al-Yamani dan Said ibn Jabir. Madinah dengan madrasah Ubay ibn Ka’ab dengan murid-murid Muhammad ibn Ka’ab al-Qurazhi, Abu al-Aliyah ar-Riyahi dan Zaid ibn Aslam dan Irak dengan madrasah Ibn Mas’ud dengan murid-murid al-Hasan al-Bashri, Masruq ibn al-Ajda, Qatadah ibn-Di’amah, Atah ibn Abi Muslim al-Khurasani dan Marah al-Hamdani.

Pada masa ini tafsir masih merupakan bagian dari hadits namun masing-masing madrasah meriwayatkan dari guru mereka sendiri-sendiri. Ketika datang masa kodifikasi hadits, riwayat yang berisi tafsir sudah menjadi bab tersendiri namun belum sistematis sampai masa sesudahnya ketika pertama kali dipisahkan antara kandungan hadits dan tafsir sehingga menjadi kitab tersendiri. Usaha ini dilakukan oleh para ulama sesudahnya seperti Ibn Majah, Ibn Jarir at-Thabari, Abu Bakr ibn al-Munzir an-Naisaburi dan lainnya. Metode pengumpulan inilah yang disebut tafis bi al-Matsur.

Perkembangan ilmu pengetahuan pada masa Dinasti Abbasiyah menuntut pengembangan metodologi tafsir dengan memasukan unsur ijtihad yang lebih besar. Mekipun begitu mereka tetap berpegangan pada Tafsir bi al-Matsur dan metode lama dengan pengembangan ijtihad berdasarkan perkembangan masa tersebut. Hal ini melahirkan apa yang disebut sebagai tafsir bi al-ray yang memperluas ijtihad dibandingkan masa sebelumnya. Lebih lanjut perkembangan ajaran tasawuf melahirkan pula sebuah tafsir yang biasa disebut sebagai tafsir isyarah.

Bentuk Tafsir Al-Qur'an

Adapun bentuk-bentuk tafsir Al-Qur'an yang dihasilkan secara garis besar dapat dibagi menjadi tiga:

Tafsir bi al-Matsur

Dinamai dengan nama ini (dari kata atsar yang berarti sunnah, hadits, jejak, peninggalan) karena dalam melakukan penafsiran seorang mufassir menelusuri jejak atau peninggalan masa lalu dari generasi sebelumnya terus sampai kepada Nabi SAW. Tafsir bi al-Matsur adalah tafsir yang berdasarkan pada kutipan-kutipan yang shahih yaitu menafsirkan Al-Qur'an dengan Al-Qur'an, Al-Qur'an dengan sunnah karena ia berfungsi sebagai penjelas Kitabullah, dengan perkataan sahabat karena merekalah yang dianggap paling mengetahui Kitabullah, atau dengan perkataan tokoh-tokoh besar tabi’in karena mereka pada umumnya menerimanya dari para sahabat.

Contoh tafsir Al Qur'an dengan Al Qur'an antara lain:

“wa kuluu wasyrobuu hattaa yatabayyana lakumul khaithul abyadhu minal khaithil aswadi minal fajri....” (Surat Al Baqarah:187)

Kata minal fajri adalah tafsir bagi apa yang dikehendaki dari kalimat al khaitil abyadhi.

Contoh Tafsir Al Qur'an dengan Sunnah antara lain:

“alladziina amanuu wa lam yalbisuu iimaanahum bizhulmin......” (Surat Al An'am: 82)

Rasulullah s.a.w.menafsirkan dengan mengacu pada ayat :

“innasy syirka lazhulmun 'azhiim” (Surat Luqman: 13)

Dengan itu Beliau menafsirkan makna zhalim dengan syirik.

Tafsir-tafsir bil ma'tsur yang terkenal antara lain: Tafsir Ibnu Jarir, Tafsir Abu Laits As Samarkandy, Tafsir Ad Dararul Ma'tsur fit Tafsiri bil Ma'tsur (karya Jalaluddin As Sayuthi), Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Al Baghawy dan Tafsir Baqy ibn Makhlad, Asbabun Nuzul (karya Al Wahidy) dan An Nasikh wal Mansukh (karya Abu Ja'far An Nahhas).

Tafsir bi ar-Rayi

Seiring perkembangan zaman yang menuntut pengembangan metode tafsir karena tumbuhnya ilmu pengetahuan pada masa Daulah Abbasiyah maka tafsir ini memperbesar peranan ijtihad dibandingkan dengan penggunaan tafsir bi al-Matsur. Dengan bantuan ilmu-ilmu bahasa Arab, ilmu qiraah, ilmu-ilmu Al-Qur'an, hadits dan ilmu hadits, ushul fikih dan ilmu-ilmu lain seorang mufassir akan menggunakan kemampuan ijtihadnya untuk menerangkan maksud ayat dan mengembangkannya dengan bantuan perkembangan ilmu-ilmu pengetahuan yang ada.

Contoh Tafsir bir ra'yi dalam Tafsir Jalalain:

“khalaqal insaana min 'alaq” (Surat Al Alaq: 2)

Kata alaq disini diberi makna dengan bentuk jamak dari lafaz alaqah yang berarti segumpal darah yang kental.

Beberapa tafsir bir ra'yi yang terkenal antara lain: Tafsir Al Jalalain (karya Jalaluddin Muhammad Al Mahally dan disempurnakan oleh Jalaluddin Abdur Rahman As Sayuthi),Tafsir Al Baidhawi, Tafsir Al Fakhrur Razy, Tafsir Abu Suud, Tafsir An Nasafy, Tafsir Al Khatib, Tafsir Al Khazin.

Tafsir Isyari

Menurut kaum sufi, setiap ayat mempunyai makna yang zahir dan batin. Yang zahir adalah yang segera mudah dipahami oleh akal pikiran sedangkan yang batin adalah yang isyarat-isyarat yang tersembunyi dibalik itu yang hanya dapat diketahui oleh ahlinya. Isyarat-isyarat kudus yang terdapat di balik ungkapan-ungkapan Al-Qur'an inilah yang akan tercurah ke dalam hati dari limpahan gaib pengetahuan yang dibawa ayat-ayat. Itulah yang biasa disebut tafsir Isyari.

Contoh bentuk penafsiran secara Isyari antara lain adalah pada ayat:

'“.......Innallaha ya`murukum an tadzbahuu baqarah.....” (Surat Al Baqarah: 67)

Yang mempunyai makna zhahir adalah “......Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina...” tetapi dalam tafsir Isyari diberi makna dengan “....Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih nafsu hewaniah...”.

Beberapa karya tafsir Isyari yang terkenal antara lain: Tafsir An Naisabury, Tafsir Al Alusy, Tafsir At Tastary, Tafsir Ibnu Araby.

Metodologi Tafsir Al-Qur'an

Metodologi Tafsir dibagi menjadi empat macam yaitu metode tahlili, metode ijmali, metode muqarin dan metode maudlu’i.

Metode Tahlili (Analitik)

Metode Tahlili adalah metode menafsirkan Al-Qur’an yang berusaha menjelaskan Al-Qur'an dengan menguraikan berbagai seginya dan menjelaskan apa yang dimaksudkan oleh Al-Qur'an. Metode ini adalah yang paling tua dan paling sering digunakan.

Tafsir ini dilakukan secara berurutan ayat demi ayat kemudian surat demi surat dari awal hingga akhir sesuai dengan susunan Al-Qur'an. Dia menjelaskan kosa kata dan lafazh, menjelaskan arti yang dikehendaki, sasaran yang dituju dan kandungan ayat, yaitu unsur-unsur I’jaz, balaghah, dan keindahan susunan kalimat, menjelaskan apa yang dapat diambil dari ayat yaitu hukum fiqih, dalil syar’i, arti secara bahasa, norma-norma akhlak dan lain sebagainya.

Menurut Malik bin Nabi, tujuan utama ulama menafsirkan Al-Qur'an dengan metode ini adalah untuk meletakkan dasar-dasar rasional bagi pemahaman akan kemukzizatan Al-Qur'an, sesuatu yang dirasa bukan menjadi kebutuhan mendesak bagi umat Islam dewasa ini. Karena itu perlu pengembangan metode penafsiran karena metode ini menghasilkan gagasan yang beraneka ragam dan terpisah-pisah .

Kelemahan lain dari metode ini adalah bahwa bahasan-bahasannya amat teoritis, tidak sepenuhnya mengacu kepada persoalan-persoalan khusus yang mereka alami dalam masyarakat mereka, sehingga mengesankan bahwa uraian itulah yang merupakan pandangan Al-Qur'an untuk setiap waktu dan tempat. Hal ini dirasa terlalu “mengikat” generasi berikutnya.

Metode Ijmali (Global)

Metode ini adalah berusaha menafsirkan Al-Qur'an secara singkat dan global, dengan menjelaskan makna yang dimaksud tiap kalimat dengan bahasa yang ringkas sehingga mudah dipahami. Urutan penafsiran sama dengan metode tahlili namun memiliki perbedaan dalam hal penjelasan yang singkat dan tidak panjang lebar.

Keistimewaan tafsir ini ada pada kemudahannya sehingga dapat dikonsumsi oleh lapisan dan tingkatan kaum muslimin secara merata. Sedangkan kelemahannya ada pada penjelasannya yang terlalu ringkas sehingga tidak dapat menguak makna ayat yang luas dan tidak dapat menyelesaikan masalah secara tuntas.

Metode Muqarin

Tafsir ini menggunakan metode perbandingan antara ayat dengan ayat, atau ayat dengan hadits, atau antara pendapat-pendapat para ulama tafsir dengan menonjolkan perbedaan tertentu dari obyek yang diperbandingkan itu.

Metode Maudhu’i (Tematik)

Metode ini adalah metode tafsir yang berusaha mencari jawaban Al-Qur'an dengan cara mengumpulkan ayat-ayat Al-Qur'an yang mempunyai tujuan satu, yang bersama-sama membahas topik atau judul tertentu dan menertibkannya sesuai dengan masa turunnya selaras dengan sebab-sebab turunnya, kemudian memperhatikan ayat-ayat tersebut dengan penjelasan-penjelasan, keterangan-keterangan dan hubungan-hubungannya dengan ayat-ayat lain kemudian mengambil hukum-hukum darinya.

Macam Tafsir Al-Qur'an

Setiap penafsir akan menghasilkan corak tafsir yang berbeda tergantung dari latar belakang ilmu pengetahuan, aliran kalam, mahzab fiqih, kecenderungan sufisme dari mufassir itu sendiri sehingga tafsir yang dihasilkan akan mempunyai berbagai corak. Abdullah Darraz mengatakan dalam an-Naba’ al-Azhim sebagai berikut:

Tafsir Al-Qur'an
Ayat-ayat Al-Qur'an bagaikan intan, setiap sudutnya memancarkan cahaya yang berbeda dengan apa yang terpancar dari sudut-sudut lainnya, dan tidak mustahil jika kita mempersilahkan orang lain memandangnya, maka ia akan melihat banyak dibandingkan apa yang kita lihat.

Tafsir Al-Qur'an

Diantara berbagai corak itu antara lain adalah :

* Corak Sastra Bahasa: munculnya corak ini diakibatkan banyaknya orang non-Arab yang memeluk Islam serta akibat kelemahan orang-orang Arab sendiri di bidang sastra sehingga dirasakan perlu untuk menjelaskan kepada mereka tentang keistimewaan dan kedalaman arti kandungan Al-Qur'an di bidang ini.
* Corak Filsafat dan Teologi : corak ini muncul karena adanya penerjemahan kitab-kitab filsafat yang mempengaruhi beberapa pihak serta masuknya penganut agama-agama lain ke dalam Islam yang pada akhirnya menimbulkan pendapat yang dikemukakan dalam tafsir mereka.
* Corak Penafsiran Ilmiah: akibat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi maka muncul usaha-usaha penafsiran Al-Qur'an sejalan dengan perkembangan ilmu yang terjadi.
* Corak Fikih: akibat perkembangan ilmu fiqih dan terbentuknya madzhab-mahzab fikih maka masing-masing golongan berusaha membuktikan kebenaran pendapatnya berdasarkan penafsiran-penafsiran mereka terhadap ayat-ayat hukum.
* Corak Tasawuf : akibat munculnya gerakan-gerakan sufi maka muncul pula tafsir-tafsir yang dilakukan oleh para sufi yang bercorak tasawuf.
* Corak Sastra Budaya Kemasyarakatan: corak ini dimulai pada masa Syaikh Muhammad Abduh yang menjelaskan petunjuk-petunjuk ayat-ayat Al-Qur'an yang berkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat, usaha-usaha untuk menanggulangi masalah-masalah mereka berdasarkan petunjuk ayat-ayat, dengan mengemukakan petunjuk tersebut dalam bahasa yang mudah dimengerti dan enak didengar.

Perkembangan

Ilmu tafsir Al Qur'an terus mengalami perkembangan sesuai dengan tuntutan zaman. Perkembangan ini merupakan suatu keharusan agar Al Qur'an dapat bermakna bagi umat Islam. Pada perkembangan terbaru mulai diadopsi metode-metode baru guna memenuhi tujuan tersebut. Dengan mengambil beberapa metode dalam ilmu filsafat yang digunakan untuk membaca teks Al-Qur'an maka dihasilkanlah cara-cara baru dalam memaknai Al-Qur'an. Diantara metode-metode tersebut yang cukup populer antara lain adalah Metode Tafsir Hermeneutika dan Metode Tafsir Semiotika.

Jumat, 10 Juni 2011

Tafsir Surat Al Qadr: Apakah Lailatul Qadr Merupakan Salah Satu Kekhususan Umat Islam?,

Tafsir Surat Al Qadr: Apakah Lailatul Qadr Merupakan Salah Satu Kekhususan Umat Islam?,

بسم الله الرحمن الرحيم
إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ {1} وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ {2} لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ {3} تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ {4} سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ {5}‏
1. Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur`an) pd malam kemuliaan.
2. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?
3. Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.
4. Pada malam itu turun malaikat-malaikat & malaikat Jibril dg izin Rabbnya utk mengatur segala urusan.
5. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.
Sebagian besar ulama tafsir berpendapat, surat Al Qadr adalah Makkiyah (yang diturunkan sebelum hijrah). Adapun penamaan surat ini dg Al Qadr, karena surat ini menerangkan keutamaan & tingginya kedudukan Al Qur`an, yg juga diturunkan pd malam yg sangat mulia. Dan dinamakan Lailatul Qadr, karena kedudukannya yg begitu agung & mulia di sisi Allah . Oleh karenanya malam itu penuh dg keberkahan. Allah berfirman:
إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُّبَارَكَةٍ
(Sesungguhnya Kami menurunkannya pd suatu malam yg diberkahi) .
Ibnu Katsir berkata,”(Malam yg diberkahi) itulah Lailatul Qadr, (yang terjadi) pd bulan Ramadhan, sebagaiman firman Allah Ta’ala
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيَ أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ
(Bulan Ramadhan, bulan yg di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur`an) .
Ibnu Abbas & yg lainnya berkata: "Allah telah menurunkan Al Qur`an dari Lauh Mahfuzh ke Baitul ‘Izzah (di langit dunia) secara langsung (sekaligus), kemudian menurunkannya kepada Rasulullah secara berangsur-angsur sesuai dg peristiwa-peristiwa (yang terjadi semasa hidupnya) selama dua puluh tiga tahun" .
Adapun yg berkenaan dg asbabun nuzul (sebab turunnya) surat ini, maka tdk ada satupun riwayat shahihah yg bisa dijadikan hujjah ataupun dalil .
At Tirmidzi pernah menyebutkan sebuah hadits yg masih erat kaitannya dg sebab turunnya surat ini. Sengaja kami bawakan utk menghapus persepsi buruk sebagian kaum muslimin terhadap sejarah pemerintahan Bani Umayah. Apabila keyakinan semacam ini dibiarkan, maka akan mengakibatkan cacatnya aqidah & manhaj kaum Muslimin, karena mengandung celaan terhadap salah satu sahabat Rasulullah yg mulia, yaitu Mu’awiyah bin Abi Sufyan & masa pemerintahan Bani Umayah secara umum.
Di dalam Jami’nya , At Tirmidzi menyebutkan sebuah riwayat lemah dg sanadnya dari Al Qasim bin Fadhl Al Huddani, dari Yusuf bin Sa’ad, ia berkata: “Seseorang berdiri menuju Al Hasan bin Ali setelah beliau membai’at Mu’awiyah, lalu berkata,’Engkau telah menghitamkan wajah-wajah kaum Mukminin’ / ‘Wahai orang yg menghitamkan wajah-wajah kaum Mukminin!’, berkata (Al Hasan bin Ali): ‘Janganlah mencelaku rahimakallah. Sesungguhnya Nabi pernah diperlihatkan (keadaan) Bani Umayah di mimbarnya, & hal itu membuatnya tdk senang, maka turunlah
إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ
(Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yg banyak), Wahai Muhammad, yaitu sebuah sungai di Surga, & (juga) turun:
إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ {1} وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ {2} لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ {3
(masa) yg akan dikuasai Bani Umayah sepeninggalmu wahai Muhammad".
Al Qasim berkata: “Maka kami hitung (masa khilafah Bani Umayah), & (memang) tepat seribu bulan, tdk lebih / kurang seharipun”.
Ibnu Katsir mengomentari hadits ini & berkata: Dan Al Hakim, di dalam kitab Al Mustadrak-nya meriwayatkan hadits ini dari jalan Al Qasim bin Fadhl dari Yusuf bin Mazin,… Dan Ath Thabari meriwayatkan dari jalan Al Qasim bin Fadhl dari ‘Isa bin Mazin , demikian katanya, & hal ini mengakibatkan hadits ini menjadi mudhtharib , wallahu a’lam. Maka hadits ini munkarun jiddan (sangat mungkar), (sehingga) Syaikh kami, Al Imam Al Hafizh Al Hujjah Abul Hajjaj Al Mizzi berkata: “Ini hadits munkar”.
Ibnu Katsir berkata: “Perkataan Al Qasim bin Fadhl Al Huddani bahwa ia telah menghitung masa kekuasaan Bani Umayah, lalu katanya ia dapatkan tepat seribu bulan tdk lebih & tdk kurang seharipun, adalah tdk benar. Karena sesungguhnya, Mu’awiyah bin Abi Sufyan Radhiyallahu 'anhu sudah berkuasa ketika Al Hasan bin Ali menyerahkan kuasa (dengan membai’atnya) pd tahun 40 H, & seluruh kaum Muslimin membai’atnya pula, sehingga tahun itu dinamakan ‘Amul Jama’ah (tahun jamaah).
Adapun kaum Muslimin di Syam & tempat lainnya, (mereka) tetap berada di bawah naungan khilafah Bani Umayah. Tidak ada yg keluar (dari kekuasaan Bani Umayah), kecuali pd masa Abdullah bin Az Zubair berkuasa di Haramain & Al Ahwaz & sebagian wilayah di sekitarnya, selama kurang lebih sembilan tahun. Akan tetapi, pemerintahan Abdullah bin Az Zubair masih tetap di bawah khilafah Bani Umayah, sampai akhirnya datang peristiwa perebutan khilafah Bani Al Abbas pd tahun 132 H. Dengan demikian, masa kekhilafahan Bani Umayah ialah sembilan puluh dua tahun, yg berarti melebihi seribu bulan, karena seribu bulan sama dg delapan puluh tiga tahun empat bulan.
(Demikianlah) seolah-olah Al Qasim bin Fadhl tdk menganggap penghitungan bilangan tahun kekuasaan Abdullah bin Az Zubair, sehingga apabila memang demikian, maka apa yg dikatakannya adalah benar. Wallahu a’lam.
Dan di antara hal-hal yg menunjukkan dha’ifnya hadits ini ialah, hadits ini dibawakan utk melakukan celaan terhadap Daulah Bani Umayah. Jika yg dimaksud seperti itu, maka tentu tdk (perlu) dibawakan dg konteks semacam ini! Karena sesungguhnya, mengutamakan Lailatul Qadr di atas masa kekuasaan Bani Umayah, (sama sekali) tdk menunjukkan adanya pencelaan terhadap masa kekuasaan mereka. Karena sesungguhnya, (sebagaimana sudah kita ketahui dari penjelasan di atas, Pen), Lailatul Qadr adalah malam yg sangat mulia. Dan surat yg mulia ini diturunkan dalam konteks memuliakan Lailatul Qadr. Maka bagaimana (mungkin bisa difahami) Lailatul Qadr dimuliakan dg pengutamaannya di atas masa khilafah Bani Umayah yg tercela sebagaimana kandungan hadits tersebut? Kemudian, adakah orang yg memahami, bahwa yg dimaksud dg seribu bulan dalam ayat ini adalah masa khilafah Bani Umayah? Sedangkan surat ini adalah Makkiyah? Bagaimana (mungkin) makna alfi syahrin (seribu bulan) dipalingkan kepada masa khilafah Bani Umayah? Sedangkan lafazh ayat maupun maknanya, (sama sekali) tdk menunjukkan hal itu?! Lagi pula, mimbar Rasulullah (yang tercantum dalam hadits ini) baru dibuat di Madinah, (yaitu) setelah beberapa saat dari hijrahnya. Maka (jelaslah sudah), semuanya ini sebagai dalil (dan bukti) dha’if & munkarnya hadits ini. Wallahu a’lam. ”
Pada ayat berikutnya Allah berfirman:
وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ
(Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?).
Muhammad Amin Asy Syinqithi berkata: “Pengulangan pertanyaan ini adalah sebagai pengagungan, seperti (juga) firman Allah:
الْقَارِعَةُ {1} مَا الْقَارِعَةُ {2} وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْقَارِعَةُ } 3(
1) Hari Kiamat. (2) Apakah Hari Kiamat itu? (3) Tahukah kamu apakah Hari Kiamat itu?
Kemudian Allah berfirman:
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ
(Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan).
Ada sejumlah hadits-hadits yg berkaitan dg ayat ini, di antaranya ialah:
عن أبي هريرة قال: لمَـَّا حَضَرَ رَمَضَانُ, قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ((قَدْ جَاءَكُمْ رَمَضَانُ, شَهْرٌ مُبَارَكٌ, اِفْتَرَضَ اللهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ, تُفْتَحُ فِيْهِ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ, وَتُغْلَقُ فِيْهِ أَبْوَابُ الْجَحِيْمِ, وَتُغَلُّ فِيْهِ الشَّيَاطِيْنُ, فِيْهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ, مَنْ حُرِمَ خَيْرُهَا فَقَدْ حُرِمَ)).
"Dari Abu Hurairah, ia berkata: Tatkala tiba bulan Ramadhan, Rasulullah bersabda: “Telah datang pd kalian Ramadhan, bulan yg diberkahi. Allah memerintahkan kalian utk berpuasa padanya. Pada bulan itu, pintu-pintu surga dibuka, & pintu-pintu neraka Jahim ditutup, & setan-setan diikat. Pada bulan itu terdapat Lailatul Qadr. Barangsiapa yg terhalang dari kemuliaan (keutamaannya), sungguh dia telah terhalang”.
Ath Thabari & Ibnu Katsir berkata (20): Sufyan Ats Tsauri berkata: “Telah sampai kepadaku perkataan Mujahid لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ , ia berkata,’Amalan, puasa, & shalat pd malam itu (Lailatul Qadr) lebih baik dari seribu bulan (seseorang melakukan ibadah, Pen)’. ”
Adapun maksud para ulama tafsir, bahwa ibadah pd malam Lailatul Qadr lebih utama dari ibadah selama seribu bulan, yaitu (seribu bulan) yg di dalamnya tdk terdapat Lailatul Qadr. (21)
Syaikh Al Albani berkata: “Dan di antara masa, ada yg telah Allah jadikan seluruh amalan baik padanya lebih utama (dari waktu-waktu selainnya), seperti pd sepuluh Dzulhijjah & malam Lailatul Qadr yg lebih baik dari seribu bulan, yaitu seluruh amalan pd malam itu lebih utama (baik) dari amalan selama seribu bulan tanpa Lailatul Qadr di dalamnya”. (22)
Kemudian pd ayat berikutnya Allah berfirman:
تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ
(Pada malam itu turun malaikat-malaikat & Malaikat Jibril dg idzin Rabb-nya utk mengatur segala urusan).
Sebagian besar ulama menafsirkan (الرُّوحُ) adalah Jibril, & sebagian yg lain menafsirkan dg jenis malaikat lainnya (23).
Dan firman Allah بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ , maksudnya ialah, mereka (para malaikat) turun dg idzin Rabb mereka, dg segala sesuatu yg telah Allah tentukan pd tahun itu, dari masalah rezeki, ajal, & perkara lainnya. (24)
Lalu di akhir surat Al Qadr ini, Allah berfirman:
سَلاَمٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ
(Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar).
Maksudnya ialah, pd malam Lailatu Qadr penuh dg kebaikan & keberkahan seluruhnya, selamat dari segala kejahatan & keburukan apapun, setan-setan tdk mampu berbuat kerusakan & kejahatan sampai terbit fajar di pagi harinya.
Demikian ini adalah perkataan sebagian besar ulama, seperti Mujahid, Nafi’, Qatadah, Ibnu Zaid, Abdurrahman bin Abi Laila, & lain-lainnya (25). Adapun menurut Asy Sya’bi, dia berpendapat, pd malam itu para malaikat memberikan ucapan salam kepada para penghuni masjid-masjid (yang beribadah di dalamnya) sampai terbit fajar (26).
APAKAH LAILATUL QADR MERUPAKAN SALAH SATU KEKHUSUSAN UMAT ISLAM, ATAUKAH JUGA TERDAPAT PADA UMAT UMAT SEBELUMNYA?
As Suyuthi membawakan hadits yg dikeluarkan oleh Ad Dailami (27), dari Anas, beliau berkata:
إِنَّ اللهَ وَهَبَ لأُمَّتِيْ لَيْلَةَ الْقَدْرِ, وَلَمْ يُعْطِهَا مَنْ كَانَ قَبْلَهُمْ.
"Sesungguhnya Allah memberikan Lailatul Qadr utk umatku, & tdk memberikannya utk (umat-umat) sebelumnya".
Akan tetapi hadits ini maudhu`(28) , sehingga tdk bisa dijadikan hujjah / sandaran.
Al Khathabi menyatakan adanya ijma’ para ulama, bahwa Lailatul Qadr juga terdapat pd umat-umat sebelum umat Islam (29). Ibnu Katsir & As Suyuthi, di dalam tafsir mereka (30) membawakan hadits yg dikeluarkan oleh Imam Malik di Muwatha’nya (31) yg berkata:
إنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم أُرِيَ أَعْمَارَ النَّاسِ قَبْلَهُ أَوْ ما شاءَ اللهُ مِنْ ذَلِكَ فَكَأَنَّهُ تَقَاصَرَ أعمارُ أُمَّتِهِ أَنْ لاَ يَبْلُغُوْا مِنَ الْعَمَلِ مِثْلَ الَّذِيْ بَلَغَ غَيْرُهُمْ فِيْ طُوْلِ الْعُمْرِ, فَأَعْطَاهُ اللهُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ خَيْرًا مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ
"(Sesungguhnya Rasulullah diperlihatkan umur-umur manusia sebelumnya -yang relatif panjang- sesuai dg kehendak Allah, sampai (akhirnya) usia-usia umatnya semakin pendek (sehingga) mereka tdk bisa beramal lebih lama sebagaimana umat-umat sebelum mereka beramal karena panjangnya usia mereka, maka Allah memberikan Rasulullah Lailatul Qadr yg lebih baik dari seribu bulan)". (32)
Lalu Ibnu Katsir mengomentari hadits ini & berkata: “Yang diisyaratkan hadits ini ialah adanya Lailatul Qadr pd umat-umat terdahulu sebelum umat Islam”. Beliau juga membawakan hadits lain, yaitu dg menukil riwayat Imam Ahmad di dalam Musnad-nya (33), dari Abu Dzar yg berkata:
يَا رَسُوْلَ الله, أخْبِرْنِي عَنْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ, أفِي رَمَضَانَ هِيَ أَوْ فِيْ غَيْرِهِ؟ قَالَ: بَلْ هِيَ فِي رَمَضَانَ, قُلْتُ: تَكُوْنُ مَعَ الأنْبِياَءِ ماَكَانُوْا, فَإذَا قُبِضُوْا رُفِعَتْ؟ أمْ هِيَ إلىَ يَوْمِ الْقِيَامَةِ؟ قاَلَ: بَلْ هِيَ إلىَ يَوْمِ الْقِيَامَةِ …
"Wahai Rasulullah, beritahu aku tentang Lailatul Qadr, apakah malam itu pd bulan Ramadhan ataukah pd selainnya?” Beliau berkata: “Pada bulan Ramadhan”. (Abu Dzar) berkata,”(Berarti sudah ada) bersama para nabi terdahulu? Lalu apakah setelah mereka wafat (malam Lailatul Qadr tersebut) diangkat? Ataukah malam tersebut akan tetap ada sampai hari Kiamat?” Nabi menjawab: “Akan tetap ada sampai hari kiamat…"
Kemudian Ibnu Katsir berkata: "Pada hadits ini spun ada isyarat seperti yg telah kami sebutkan (pada hadits pertama), bahwa Lailatul Qadr akan tetap terus berlangsung sampai hari Kiamat pd setiap tahunnya. Tidak seperti apa yg dikatakan oleh sebagian kaum Syi’ah bahwa Lailatul Qadr sudah diangkat (tidak akan terjadi lagi), disebabkan (mereka salah) memahami hadits yg akan kami bawakan sebentar lagi (34). Karena, maksud (hadits) yg sesungguhnya ialah, diangkatnya pengetahuan saat terjadinya malam Lailatul Qadr (35). Juga ada isyarat, bahwa Lailatul Qadr khusus terjadi pd bulan Ramadhan saja & tdk terjadi pd bulan-bulan lainnya. " (36)
Pendapat inilah (bahwa Lailatul Qadr terdapat juga pd umat-umat sebelum umat Islam) yg didukung kuat oleh Ibnu Katsir di dalam kitab tafsirnya (37), karena banyaknya hadits-hadits yg menunjukkan hal itu.
(Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 06-07-08/Tahun IX/1426/2005M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-7574821)
Penulis: Ustadz Arief B bin Usman Rozali & diterbitkan oleh almanhaj. or. id

Berusahalah Untuk Memperbaiki Bacaan Al-Quran,

Berusahalah Untuk Memperbaiki Bacaan Al-Quran,

Lajnah Da'imah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal Ifta
Pertanyaan.
Lajnah Da'imah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal Ifta ditanya: Saya asli orang Yaman, sudah sepuluh tahun menetap di Saudi. Kedua orang tua saya sudah meninggal dunia & saya senang sekali membaca Al-Qur'an Al-Karim, saya sering membacanya di masjid, namun pd ayat-ayat tertentu saya tdk bisa melafalkannya dg benar (fasih), dikarenakan saya tdk pernah duduk di bangku sekolah. Apakah bacaan Al-Qur'an Al-Karim yg saya lakukan dg seadanya, masih banyak salah dalam sebagian ayat menimbulkan dosa bagi saya? Saya mohon penjelasan.
Jawaban
Segala puji hanya milik Allah, shalawat & salam semoga tercurah kepada RasulNya beserta keluarga & shabatnya, wa ba'du
Berusahalah utk memperbaiki bacaanmu dg cara belajar kepada salah seorang ahli Al-Qur'an (Al-Qura) yg sudah mu'tabar (dianggap keberadaannya) & perbanyaklah membaca apa-apa yg telah engkau kuasai di masjid & di tempat lain. Bila engkau berusaha utk itu, maka pasti Allah memudahkan urusanmu. Dalam sebuah hadits shahih, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
"Artinya: Orang yg mahir (membaca) Al-Qur'an, dia bersama para malaikat yg mulia lagi jujur, & orang yg membacanya sambil terbata-bata serta mengalami kesulitan, maka dia mendapatkan dua pahala".
Wabillah at-taufiq wa shallallahu 'ala nabiyyina Muhammad wa aalihi wa shahbihi wa sallam.
(Disalin dari buku 70 Fatwa Fii Ihtiraamil Qur'an, edisi Indonesia 70 Fatwa Tentang Al-Qur'an, Penyusun Abu Anas Ali bin Husain Abu Luz, Penerbit Darul Haq)
___ Foote Note
. Bagian dari hadits riwayat Muslim & hadits Aisyah Radhiyallahu 'anha No. 244-(898), Kitab Shalah Al-Musafirin wa Qashruha, bab 38
Penulis: Lajnah Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal Ifta & diterbitkan oleh almanhaj. or. id

Jumat, 20 Mei 2011

Tafsir Surat Al-Falaq Syeikh Muhammad Bin Abdul Wahhab

Tafsir Surat Al-Falaq

Disusun Oleh:

Syeikh Muhammad Bin Abdul Wahhab

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

١. قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ

1. Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh,

٢. مِن شَرِّ مَا خَلَقَ

2. dari kejahatan makhluk-Nya,

٣. وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ

3. dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita,

٤. وَمِن شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ

4. dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul ,

٥. وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ

5. dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki”.

Makna a’udzu ialah berpegang teguh dan waspada. Kalimat ini mengandung permohonan “perlindungan kepada sesuatu” dan “perlindungan dari sesuatu”.

“Perlindungan kepada sesuatu” ialah kepada Allah saja, Penguasa Subuh yang kepada-Nyalah kita berlindung. Allah mnjelaskan seputar meminta perlindungan kepada makhluk hanya akan manambahkan dosa dan kesalahan, yaitu menjadikannya thagut. Allah berfirman :

وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِّنَ الْإِنسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِّنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقاً

Artinya : “Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan”. (Al-Jin:6)

Al-Falaq ialah tanda putih pada waktu subuh, yaitu jika berpisah dari waktu malam. Hal ini menunjukkan keesaan dan keagungan Allah

Al-Musta’iz, yang memohon perlindungan, ialah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam

dan siapa saja siapa mengikutinya hingga hari kebangkitan.

Adapun “perlindungan dari sesuatu” ada 4 macam :

Pertama : “dari kejahatan makhluk-Nya” mencakup kejahatan di awal dan di akhirat, dalam perkara agama maupun dunia.

Kedua : “dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita”. al-ghasiq artinya: malam. Idza waqab artinya : paling gelap dan masuk ke dalam segalanya, tempat hidup ruh yang jahat.

Ketiga : “dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul”. Ini merupakan sihir yang paling jelek. Naffasat artinya : wanita, yaitu ruh dan jiwa, karena pengaruh sihir hanyalah bagi jiwa yang buruk.

Keempat : “dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki”. Ini mencakup iblis dan bala tentaranya karena mereka paling hasad kepada anak-anak Adam. “Bila ia dengki” maksudnya karena orang yang dengki jika kedengkian terhadap saudaranya disembunyikan dan hanya berbuat baik tidak akan mencelakakan orang lain.

Tafsir Surat Al-Fatihah

Tafsir Surat Al-Fatihah

Disusun Oleh:

Syeikh Muhammad Bin Abdul Wahhab

Syeikhul Islam Muhammad bin Abdul wahhab rahimahullah berkata:

Perhatikanlah, semoga Allah memberimu petunjuk untuk mentaatinya, melindungi dan senantiasa menjagamu di dunia dan akhirat. Sesungguhnya maksud doa dan ruhnya dan hati adalah memasrahkan hati pada Allah. Jika engkau berdoa tanpa hati maka laksana jasad yang tiada ruh di dalamnya sebagaimana disebutkan dalam firman Allah :

“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat. Yaitu orang-orang yang lalai dari shalatnya” (al-Ma’un 4-5).

Maka lalai ditafsirkan “lalai” dengan kelalaian dari melaksanakan shalat tepat pada waktunya. Yaitu membuang-buang waktu dan melupakan kewajibannya, lupa untuk menghadirkan hati. Sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat Muslim bahwasannya Rasulullah bersabda :

“Hal seperti itu adalah shalatnya orang munafik. Ia duduk menanti matahari hingga saat berada di antara dua tanduk setan ia berdiri lalu mematuk empat kali, ia tidak mengingat Allah kecuali sedikit sekali” (riwayat muslim).

Ditafsirkan “membuang waktu” berdasarkan firmannya: “menanti matahari” dan “melalaikan rukun-rukunnya” sebagaimana firmannya: “tidak mengingat Allah kecuali sedikit sekali”.

Jika engkau telah mengerti hal ini maka pahamilah satu cabang dari shalat ini yaitu membaca Al-Fatihah. Semoga Allah menjadikan doamu diterima dengan balasan berlipat ganda dan menjadi penghapus dosa-dosa.

Penjelasan terbaik bagimu dalam memahami al-Fatihah ini adalah hadits Abu Hurairah dalam Shahih Muslim, ia mengatakan, “Aku mendengan Rasulullah bersabda :

“Allah berfirman: Aku membagi bagian shalat antara Aku dan hamba-hambaKu sama rata. Dan bagi hamba-Ku Aku berikan apa yang dia minta. Jika dia mengatakan “Alhamdulillahi rabbil ‘alamin ”, Allah akan mengatakan, “Hambaku memuji-Ku”. Jika dia mengatakan: “Maliki yaumiddin ”, Allah akan mengatakan, “Hamba-Ku mengagungkan-Ku”, jika dia mengatakan: “iyyakana’budu wa iyyaka nastain ”, Allah akan mengatakan: “Ini adalah diantara Aku dan hamba-Ku, bagi hamba-Ku Aku berikan apa yang dia minta”. Jika dia mengatakan: “Shiratalladzina an’amta ‘alaihim ghairil maghdhubi ‘alaihim waladh dhallin ”, Allah mengatakan, “Ini untuk hamba-Ku dan bagi hambaku Aku berikan apa yang dia minta” (diriwayatkan oleh Muslim).

Jika seseorang memperhatikan hal ini, sesungguhnya ada dua bagian. Bagian milik Allah, yaitu bagian awal sampai ucapan “Iyyaka na’budu…”. Kemudian ada bagian bagi hambanya ialah doa yang diucapkannya untuk dirinya. Ketahuilah bahwa Allah lah yang mengajarkan semua ini dan Allah pula yang memerintahkan untuk berdoa dengan bacaan itu dengan mengulang-ulangnya setiap rakaat. Sesungguhnya Allah pula yang menjamin terkabulnya doa ini jika dilakukan dengan ikhlas diiringi kehadiran hati . Maka jelaslah bahwa hal ini luput dari kebanyakan manusia.

Engkau telah diperelok dengan satu perkara yang sekiranya engkau pahami

Maka akan bertambah untukmu keterpeliharaan tanpa kehilangan

Disini aku sebutkan sebagian makna surat yang agung ini dengan harapan shalatmu menjadi teriring dengan hati. Adapun hatimu menjadi mampu memahami apa yang diucapkan lidahmu. Karena apa yang dilisankan lidah tetapi tidak diiringi keykinan hati bukanlah termasuk amal saleh, sebagaimana firman Allah :

“Mereka mengucapkan dengan lidahnya apa yang tidak ada dalam hatinya” (Al-Fath, 11)

Maka dimulai dengan makna isti’adzah kemudian bismillah, dengan metode yang ringkas.

Adapun makna “a’udzubillahi minasy syaithanir rajim” ialah aku berlindung dan berpegang teguh kepada Allah dan memohon dijauhkan dari keburukan setan ini. Serta dijauhkan dari pengaruh buruk terhadap duniaku dan akhiratku dan menghalangiku dari melakukan perbuatan yang tidak Engkau perintahkan. Atau memotivasiku untuk perbuatan yang tidak Engkau larang. Karena meningkatkan hasrat seorang hamba jika ingin mengerjakan kebaikan berupa shalat, membaca qur’an dan selainnya. Sseungguhnya tidak ada cara bagimu dalam menangkalnya kecuali dengan memohon perlindungan pada Allah sebagaimana firmannya :

“Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka” (Al-A’raf, 27)

Jika engkau memohon pada Allah perlindungan dari godaan setan dan berpegang teguh kepada-Nya, maka itu merupakan sebab hadirnya hati. Maka pahamilah kandungan kalimat ini dan jangan merasa cukup hanya menyebutnya secara lisan sebagaimana kebanyakan manusia.

Adapun bismillah maknanya memasukkan perkara ini, baik berupa bacaan maupun doa atau selain itu dengan nama Allah. Bukan atas kemampuanku maupun semata kekuatanku. Bahkan terjadinya perbuatan itu berkat pertolongan Allah semata, melalui keutamaan namanya yang mulia. Seluruh perbuatan ini dibacakan ketika mengawali urusan agama maupun urusan dunia. Jika engkau hadirkan dalam dirimu tatkala masuk pada bacaan dengan memohon pertolongan Allah, terlepas dari segala daya dan kekuatan lain, maka ini merupakan sebab terbesar munculnya hati dan pengusir segala penghalang kebaikan.

“Arrahmaanir rahim” merupakan dua kata pecahan dari “rahmah” yang makna salah satunya lebih luas dari lainnya. Seperti kata “allaam” dan “aliim” . Ibnu Abbas berkata, “Keduanya merupakan dua kata yang tipis perbedaannya. Salah satunya lebih tipis dari yang lainnya. Yaitu salah satunya bermakna “lebih banyak rahmatnya””.

Surat al-Fatihah terdiri atas tujuh ayat, yaitu tiga setengah untuk Allah dan tiga setengah untuk hamba-Nya.

Bagian awalnya “Alhamdulillahhi rabbil ‘alamin”. Ketahuilah, Al Hamdu ialah “pujian secara lisan atas besarnya kebaikan yang dikehendaki-Nya”. Maka dikecualikan dari hal itu berupa pujian secara perbuatan yang dinamakan “lisanul hal” karena yang demikian merupakan bagian dari perbuatan syukur.

Dan ucapan “atas besarnya kebaikan yang dikehendaki-Nya” maksudnya perbuatan yang dilakukan seseorang atas kehendak-Nya. Adapun besarnya kebaikan yang tidak diperbuat untuk Allah di dalamnya seperti “indah” dan semisalnya, pujian demikian itu dinamakan dengan istilah “madah”, bukan “hamd” .

Perbedaan antara “Al-Hamdu - pujian” dan “syukur – terima kasih” ialah :

Al-Hamdu, padanya terkandung makna “madah” dan “tsana” terhadap yang dipuji dengan menyebutkan segala keutamaannya, baik apakah itu perbuatan ihsan kepada pengucap pujian atau pun tidak. Adapun syukur hanya semata terkait rasa terimakasih semata atas satu perbuatan yang dialamatkan rasa syukur itu kepadanya.

Dari sisi ini jelas bahwa al-Hamdu itu lebih umum dari syukur, karena mencakup kebaikan dan juga perbuatan baiknya. Allah terpuji atas nama-namanya yang baik, Asmaul husna serta apa-apa yang Allah ciptakan di awal dan di akhir. Maka Allah berfirman :

“Segala puji bagi Allah Yang tidak mempunyai anak” (Al-Israa:111)

Dan juga :

“Segala puji bagi Allah Yang menciptakan langit dan bumi” (Al-An’am:1)

Dan juga ayat-ayat semisalnya.

Adapun “syukur, terima kasih” adalah ucapan yang hanya dialamatkan atas jasa yang telah memberikan nikmat saja. Maka dari sisi ini dia lebih khusus daripada al-Hamdu. Tetapi ucapan ini dilakukan melalui hati, tangan, dan lisan. Maka Allah berfirman :

“Beramallah, Hai keluarga Daud dengan rasa syukur”

Adapun al-Hamdu dilakukan dengan hati dan lisan saja. Maka jika dari sisi jenis, syukur lebih umum dari al-Hamdu dan dari sisi sebab al-Hamdu lebih umum dari syukur.

Alif lam pada ucapan al-Hamdu memberi makna penggabungan, yaitu segenap pujian kepada Allah semata dan tidak untuk selain-Nya. Maka setiap ucapan yang tidak dimaksudkan untuk makhluk seperti penciptaan manusia, penciptaan pendengaran dan mata, langit dan bumi, rizki dan lainnya maka sudah jelas. Adapun untuk pujian kepada makhluk semisal pujian kepada orang-orang saleh, para nabi dan rasul, dan mereka yang berbuat ma’ruf maka secara khusus jika diperluas kepadamu. Semua ini juga bagi Allah dari segi Dia-lah yang jadikan sebab pelaku, dan memberinya apa yang telah dia berbuat itu, dan mencintai dia dan memberi dia kekuatan dan lainnya dari keagungan Allah yang apa bila gagal salah satunya maka tidaklah dipuji maka semua pujian kepada Allah ini merupakan ganjaran.

Adapun ucapan “lillahi rabbil ‘alamin” maka Allah merupakan nama Tuhan yang maha kuasa. Artinya : Al-ilah ialah al-ma’bud . Sebagaimana firmannya :

وَهُوَ اللّهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَفِي الأَرْضِ

Artinya : Dan Dialah Allah (yang disembah), baik di langit maupun di bumi. (al-an’am, ayat: 3). Yaitu disembah dilangit dan di bumi.

إِن كُلُّ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ إِلَّا آتِي الرَّحْمَنِ عَبْداً

Artinya : Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba. (Maryam, ayat: 93)

Adapun rabb artinya adalah raja yang Maha Mengatur.

Sedangkan alamiin adalah kata untuk setiap yang selain Allah. Maka setiap raja, nabi, manusia, jin dan selainnya selain Allah merupakan hamba yang diatur, tunduk dengan segala tindakannya. Miskin, butuh dan sangat tergantung satu sama lain, tidak ada sekutu bagi_nya dalam agama. Yang Maha Kaya dan Tempat Bergantung

Lanjutannya adalah maaliki yaumiddin atau dalam bacaan yang lain maliki yaumiddin . Disebutkan diawal surat, yaitu awal mushaf tentang uluhiyah, rububiyah, dan muluk, sebagaimana disebutkan pula di akhir mushaf :

مَلِكِ النَّاسِ * قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ

Artinya : Katakanlah: “Aku berlidung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. (An-Naas:1-2)

Ini adalah tiga deskripsi tuhan, disebutkan dalam satu grup di awal qur’an, dan kemudian disebutkan dalam satu grup di akhir qur’an dari apa yang kamu dengar dari qur’an. Maka hendaknya diperhatikan topik ini. Sesungguhnya Yang Maha Mengetahui menggabungkan antara keduanya itu karena pentingnya seorang hamba memahaminya dan mengetahui perbedaan sifat-sifat-Nya. Setiap sifat Allah memilik makna yang berbeda satu sama lain. Sebagaimana disebut “Muhammad rasulullah”, “penutup para nabi”, “pemimpin anak-anak Adam”; setiap sifat tersebut memiliki makna yang berbeda satu dengan yang lain.

Jika telah paham bahwa makna Allah adalah al ilah, sembahan, maka pahamilah bahwa sembahan itu merupakan sesuatu yang diibadahi. Maka jika engkau berdoa, menyembelih, bernadzar, lakukanlah untuk Allah. Jika engkau berdoa, menyembelih, dan bernadzar kepada makhluk baik itu bagus maupun jelek maka sesungguhnya engkau telah menjadikan dia sembahan.

Maka siapa pun yang menjadikan Syamsan atau Taj (Syamsan dan Taj – contohnya Yusuf – orang yang diyakini sebagai wali pada zaman syeikh penulis. Maka mereka beribadah dengan memanjatkan doa dan sejenisnya kepada sesuatu yang tidak layak kecuali hanya untuk Allah ) pada momen hidupnya sebagai Tuhan, serta mengetahui apa yang bani israel sembah yaitu berupa anak lembu, dan ketika mereka sadar mereka pun gempar dan mengatakan Tuhan belum menjelaskan mereka :

“Dan setelah mereka sangat menyesali perbuatannya dan mengetahui bahwa mereka telah sesat, merekapun berkata: “Sungguh jika Tuhan kami tidak memberi rahmat kepada kami dan tidak mengampuni kami, pastilah kami menjadi orang-orang yang merugi.” (al-A’raf, ayat: 149).

Adapun rabb artinya adalah raja yang Maha Mengatur. Allah adalah raja segala sesuatu dan dia pula lah yang mengurus mereka, demikianlah sebenarnya. Tetapi para penyembah berhala yang dahulu diperangi oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam pun juga menetapkan demikian sebagaimana dalam firman Allah :

قُلْ مَن يَرْزُقُكُم مِّنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ أَمَّن يَمْلِكُ السَّمْعَ والأَبْصَارَ وَمَن يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيَّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَن يُدَبِّرُ الأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللّهُ فَقُلْ أَفَلاَ تَتَّقُونَ

Artinya : “Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah”. Maka katakanlah “Mangapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya)?”” (Yunus:31)

Maka siapapun yang memohon pertolongan dan agar permintaannya dikabulkan kemudian berdoa kepada makhluk dengan menyandarkan padanya maka ini merupakan peribadatan semisal mengucapkan “dari si Fulan hambamu” atau “hamba Ali ” atau “Hamba Nabi” atau “Hamba Zubair ” maka telah menetapkan ketuhanan rububiyah mereka. Maka dengan berdoa kepada Ali atau Zubair bersamaan dengan berdoa kepada Allah berarti menetapkan peribadatan kepada mereka. Harapannya agar mereka mendatangkan kebaikan atau menolak keburukan dengan menamai diri mereka sebagai hamba dari orang yang diibadahi tersebut merupakan bentuk penuhanan makhluk.

Semoga Allah merahmati hambanya yang mengingatkan dirinya serta peduli terhadap perkara ini dengan bertanya pada para ulama’. Kare para ulama merupakan orang-orang yang berada di jalan yang lurus. Sudahkan mereka menafirkan surat tadi dengan benar?

Adapun malik maka penjelasannya adalah maaliki yaumiddin atau dalam bacaan yang lain maliki yaumiddin maknanya menurut kebanyakan ahli tafsir adalah sebagaimana Allah menafsirkannya sendiri :

يَوْمَ لَا تَمْلِكُ نَفْسٌ لِّنَفْسٍ شَيْئاً وَالْأَمْرُ يَوْمَئِذٍ لِلَّهِ * ثُمَّ مَا أَدْرَاكَ مَا يَوْمُ الدِّينِ * وَمَا أَدْرَاكَ مَا يَوْمُ الدِّينِ

Artinya : Tahukah kamu apakah hari pembalasan itu? Sekali lagi, tahukah kamu apakah hari pembalasan itu? (Yaitu) hari (ketika) seseorang tidak berdaya sedikitpun untuk menolong orang lain. Dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah. (Al-Infithar:17-19).

Jika memahami ayat ini dan pengkhususan penguasa dari hari pembalasan – dan Allah adalah penguasa segala sesuatu baik hari itu maupun hari lainnya- maka jelas bahwa pengkhususan ini merupakan perkara besar yang menjadikan sebab seorang hamba berhak masuk ke dalam surga serta yang bodoh terhadapnya menjadi sebab masuk neraka. Demikianlah sekiranya seseorang menempuh perjalanan selama lebih 20 tahun ke sana belumlah sampai haknya untuk masuk. Maka bagaimana makna dan keimanan terhadap kejelasan Al-Qur’an, padahal Rasulullah bersabda :

“Wahai Fatimah binti nabi Muhammad, aku tidak dapat menolongmu dari Allah“ (al-Bukhari dari hadits Abu Hurairah). Kata ahli burdah :

Tidaklah rasulullah menyempitkan kemuliaanmu denganku

ketika Yang Maha Mulia berhias dengan nama Al-muntaqim

Sesungguhnya aku memiliki jaminan perlindungan

dengan penamaan Muhammad sebagai semulia makhluk yang memiliki jaminan

Sekiranya bukan karena materi yang kuperoleh dengan tanganku lebih utama

Tetapi karena ucapkanlah duhai aku telah tergelincir

Perhatikanlah orang yang menasehati dirinya pada bait diatas, dan orang-orang yang telah dibuatnya takjub, serta mereka yang telah menjadikan dia ulama’. Merekapun menjadikan bacaan ini seperti bacaan Al-Qura’an.

Bagaimana mungkin bersatu dalam hati pembenaran terhadap isi bait diatas dengan dengan pembenaran ayat :

“(Yaitu) hari (ketika) seseorang tidak berdaya sedikitpun untuk menolong orang lain. Dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah.” dan hadits :

“Wahai Fatimah binti nabi Muhammad, aku tidak dapat menolongmu dari Allah“

Demi Allah tidak…..

Kecuali jika tergabung dalam hatinya bahwa Nabi Musa benar dan Fir’aun pun juga benar. Bahwa Nabi Muhammad diatas kebenaran dan Abu Jahal diatas kebenaran. Demi Allah tidak mungkin. Tidak akan pernah sama dan tidak akan terkumpul dua perbedaan dalam persimpangan.

Jika mengetahui ini dan mengetahui kerusakan syair burdah dan juga fitnah keterasingan Islam, serta kebencian dan hal-hal yang menghalalkan darah, harta, dan wanita bukanlah dari sisi penghinaan pada Tuhan dan perang. Bahkan merekalah yang menantang kami dengan kekafiran dan perang ketika :

فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَداً

Artinya : “Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah.” (Al-Jin:18)

dan dalam firman-Nya : “Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah)” (Al-Israa’:57). Dan dalam firman-Nya : “Hanya bagi Allah-lah (hak mengabulkan) do’a yang benar. Dan berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memperkenankan sesuatupun bagi mereka” (Ar-Ra’d:14).

Demikianlah sebagian makna maliki yaumiddin berdasarkan ijma mufassirin dan Allah pun telah menjelaskan sebagaimana dalam ayat surat Al-Infithar diatas.

Ketahuilah – semoga Allah merahmatimu – bahwasannya kebenaran bisa dikenali dengan adanya kebatilan sebagaimana kaidah : wa bi dhiddiha tubayyinul asyaa’ (dengan mengetahui lawannya, maka jelaslah masalahnya)

Perhatikanlah pejelasanku jam demi jam, dari hari ke hari dan bulan ke bulan, tahun demi tahun, semoga engkau akan memahami agama moyang kita Nabi Ibrahim dan Nabi kita. Semoga Allah menyatukan kita semua nanti dan tidak dihalangi dari meminum telaga haudh hari kiamat sebagaimana yang akan dialami mereka yang meninggalkan jalannya. Semoga engkau mampu melewati shiratal mustaqim dan tidak terjatuh sebagaimana mereka yang telah terjatuh di dunia dari jalan yang lurus. Maka biasakanlah membaca al-Fatihah dengan kehadiran hati dan penuh rasa tunduk dan takut.

Adapun Iyyaka na’budu wa iyyaka nastain, maka ibadah merupakan kesempurnaan cinta dan kesempurnaan ketaatan, takut dan tunduk. Dalam ayat ini maf’ul-nya didahulukan yaitu iyyaka dan diulang dua kali unuk menegaskan bahwa hanya kepada-Mu lah kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami bertawakal. Inilah yang disebut kesempurnaan ketaatan.

Adapun agama seluruhnya kembali kepada dua makna yaitu, berlepas dari syirik dan berlepas dari daya dan kekuatan selain Allah. “Hanya kepadamu kami menyembah” maknanya hanya kepadamu kami mengesakan dengan menegaskan perjanjianmu dengan Allah untuk tidak mempersekutukan-Nya dalam perkara ibadah. Tidak untuk nabi dan tidak untuk malaikat. Sebagaimana ucapan-Nya kepada para sahabat :

“Dan (tidak wajar pula baginya) menyuruhmu menjadikan malaikat dan para nabi sebagai tuhan. Apakah (patut) dia menyuruhmu berbuat kekafiran di waktu kamu sudah (menganut agama) Islam?” (Ali Imran:80)

Perhatikanlah ayat ini dan pahami tentang rububiyah-Nya. Adapun mereka yang menisbatkan diri kepada Taj dan Muhammad bin Syamsan, sekiranya saja sahabat melakukannya dikafirkan saat nabi masih ada, maka bagaimana yang melakukannya terhadap Taj dan Syamsan?

Iyyaka nastain, ini merupakan dua perkara yang salah satunya berupa permohonan pertolongan kepada Allah berupa tawakal dan keterlepasan dari daya dan kekuatan selain-Nya. Selain itu juga permohonan pertolongan kepada Allah sebagaimana dijelaskan sebelumnya bahwasannya hal itu termasuk bagian milik hambanya.

Ihdinash shiratal mustaqim, ini merupakan doa dengan memohon rizki dari Allah dengan permintaan besar ini, yang tidak ada karunia yang lebih besar di dunia dan akhirat dari ini. Sebagaimana Allah mengaruniakan pada Rasul-Nya shalallahu ‘alaihi wa sallam waktu Fathu Makkah :

وَيَهْدِيَكَ صِرَاطاً مُّسْتَقِيماً

“dan memberi kamu hidayah kepada jalan yang lurus” (Al-Fath:2)

Kata hidayah pada ayat diatas berarti taufik dan petunjuk. Maka perhatikanlah masalah ini. Dengan demikian, pada hidayah terkandung ilmu sekaligus amal saleh yang istiqamah, sempurna, dan senantiasa konsisten sampai berjumpa dengan Allah nanti.

Ash Shirath, yaitu jalan yang terang lagi lurus tidak bengkok. Maksudnya adalah agama yang Allah turunkan melalui rasul-Nya shalallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu :

“Jalan orang-orang yang telah Engkau beri ni’mat kepada mereka” (al-Fatihah:7).

Mereka yang dimaksud adalah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Engkau senantiasa membacanya pada setiap rakaat dengan memohon kepada Allah hidayah agar selalu berada di jalan mereka. Maka wajib diyakini kebenaran jalan ini. Adapun jalan-jalan, ilmu, maupun ibadah lain yang menyelisihinya bukanlah dia jalan yang lurus. Inilah kewajiban pertama pada ayat ini dengan meyakininya dalam hati serta waspada dari tipu daya setan. Yaitu meyakini secara umum tetapi tidak perduli terhadap rinciannya. Sesungguhnya orang-orang yang batal keislamannya meyakini kebenaran risalah nabi dan memahami siapapun yang menyelisihinya batil. Tetapi jika datang hal-hal yang tidak sejalan hawa nafsu mereka, maka sebagaimana dalam ayat :

فَرِيقاً كَذَّبُواْ وَفَرِيقاً يَقْتُلُونَ

Artinya : (maka) sebagian dari rasul-rasul itu mereka dustakan dan sebagian yang lain mereka bunuh. (Al-Maidah:70)

Adapun ­ghairil maghdub bi ‘alaihim waladh dhaalliin , maka yang dimaksud “mereka yang dimurkai” adalah para ulama’ yang tidak mengamalkan ilmu mereka. Sedangkan “mereka yang sesat” adalah orang-orang yang beramal tanpa ilmu. Yang pertama itu merupakan sifat orang-orang yahudi, sedangkan yang kedua merupakan sifat orang-orang nasrani.

Kebanyakan orang jika melihat tafsir -bahwasannya Yahudi adalah yang dimaksud dengan “mereka yang dimurkai” dan Nasrani sebagai “mereka yang sesat”- menyangka dengan bodohnya bahwa bahwa yang dimaksud sebatas mereka saja. Orang-orang ini yakin bahwa Tuhannya dengan ayat itu mewajibkan mereka berdoa dan berlindung dari jalan mereka yang disifati menyimpang dalam ayat ini. Maha Suci Allah, bagaimana bisa Allah mengajarkan mereka dan membimbing jalan bagi mereka serta mewajibkan mereka senantiasa berdoa dengan ayat ini tetapi mereka tidak merasa diperingatkan dari peringatan Allah. Mereka tidak menyadari bahwa mereka pun termasuk pelaku yang diperingatkan. Inilah persangkaan yang buruk pada Allah, wallahu a’lam. Ini bagian terakhir penjelasan al-Fatihah.

Adapun ucapan amien bukan termasuk dalam al-Fatihah melainkan sebagai permohonan pengabulan doa yang artinya “Ya Allah, kabulkanlah”. Maka wajib mengajarkan orang-orang yang jahil agar mereka tidak menyangka hal ini bagian dari ayat.

Beberapa hal dari al-Fatihah:

Pertama: “Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan” maksudnya ialah tauhid.

Kedua: “Tunjukilah kami jalan yang lurus” artinya senantiasa mengikutinya.

Ketiga: rukun agama adalah hubb, raja’, dan khauf. Cinta pada mulanya dan kedua di pengaharapan dan takut yang ketiga.

Keempat: kerusakan kebanyakan dari kejahilan di ayat pertama yang saya maksud mudah terpengaruh hasad dan mudah terpengaruh untuk cinta dunia.

Kelima: adalah mereka pertama yang diberi nikmat dan mereka pertama yang dimurkai dan tersesat.

Keenam: penjelasan kedermawanan dan pujian untuk mereka yang diberi nikmat.

Ketujuh: penjelasan kekuatan dan kemuliaan pada penyebutan mereka yang dimurkai dan tersesat.

Kedelapan: doa al-Fatihah serta ucapannya untuk tidak mengabulkan doa orang yang lalai.

Kesembilan: penjelasan “Jalan orang-orang yang telah Engkau beri ni’mat kepada mereka” berdasarkan dalil ijma’.

Kesepuluh: penjelasan banyaknya orang-orang yang celaka dan kesemuanya sama.

Kesebelas: penjelasan tawakal.

Keduabelas: penjelasan bahaya kemusyrikan.

Ketigabelas: penjelasan bahaya bid’ah.

Keempatbelas: jika setiap orang mempelajari makna surat al-Fatihah maka dia akan paham. Setiap ayat memiliki penjelasan tersendiri. Wallahu a’lam

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam



Tuhan pemilik hari penghakiman



Kepada-Mu lah kami menyembah dan kepada-Mu lah kami memohon pertolongan



Yaitu jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat dan bukan jalan orang-orang yang Engkau murkai dan bukan pula jalan orang-orang yang sesat



Keduanya sama-sama bermakna mengetahui, tetapi makna aliim lebih bermakna “sangat mengetahui”



Keduanya dalam bahasa Indonesia diterjemahkan dengan pujian, tetapi dari sisi bahasa arab memiliki perbedaan sebagaimana dijelaskan.



Keduanya sama-sama berarti pujian dengan perbedaan khusus dari sisi bahasa arab



Allah, Tuhan semesta alam



sembahan



Yang diibadahi, disembah



مالك يوم الدين



ملك يوم الدين



Lihat Kasyfu Syubhat karangan penulis



Abdu Ali



Abdu Nabi



Abdu Zubair


مالك يوم الدين



ملك يوم الدين



bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat

Tafsir Surat Al-Falaq

Tafsir Surat Al-Falaq

Disusun Oleh:

Syeikh Muhammad Bin Abdul Wahhab

Penulis rahimahullah berkata di dalam tafsiran al-falaq:

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

١. قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ

1. Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh,

٢. مِن شَرِّ مَا خَلَقَ

2. dari kejahatan makhluk-Nya,

٣. وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ

3. dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita,

٤. وَمِن شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ

4. dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul ,

٥. وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ

5. dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki”.

Makna a’udzu ialah berpegang teguh dan waspada. Kalimat ini mengandung permohonan “perlindungan kepada sesuatu” dan “perlindungan dari sesuatu”.

“Perlindungan kepada sesuatu” ialah kepada Allah saja, Penguasa Subuh yang kepada-Nyalah kita berlindung. Allah mnjelaskan seputar meminta perlindungan kepada makhluk hanya akan manambahkan dosa dan kesalahan, yaitu menjadikannya thagut. Allah berfirman :

وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِّنَ الْإِنسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِّنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقاً

Artinya : “Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan”. (Al-Jin:6)

Al-Falaq ialah tanda putih pada waktu subuh, yaitu jika berpisah dari waktu malam. Hal ini menunjukkan keesaan dan keagungan Allah

Al-Musta’iz, yang memohon perlindungan, ialah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam

dan siapa saja siapa mengikutinya hingga hari kebangkitan.

Adapun “perlindungan dari sesuatu” ada 4 macam :

Pertama : “dari kejahatan makhluk-Nya” mencakup kejahatan di awal dan di akhirat, dalam perkara agama maupun dunia.

Kedua : “dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita”. al-ghasiq artinya: malam. Idza waqab artinya : paling gelap dan masuk ke dalam segalanya, tempat hidup ruh yang jahat.

Ketiga : “dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul”. Ini merupakan sihir yang paling jelek. Naffasat artinya : wanita, yaitu ruh dan jiwa, karena pengaruh sihir hanyalah bagi jiwa yang buruk.

Keempat : “dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki”. Ini mencakup iblis dan bala tentaranya karena mereka paling hasad kepada anak-anak Adam. “Bila ia dengki” maksudnya karena orang yang dengki jika kedengkian terhadap saudaranya disembunyikan dan hanya berbuat baik tidak akan mencelakakan orang lain.

Tafsir Surat Al Ikhlash

Tafsir Surat Al Ikhlash

Disusun Oleh:

Syeikh Muhammad Bin Abdul Wahhab
Penulis rahimahullah menjelaskan dalam tafsir al-Ikhlash :

Dari Abdullah bin Habib berkata, “Kami keluar ketika hujan malam hari untuk meminta nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam memimpin kami shalat, maka kami pun berjumpa.

Dia berkata, “Bicaralah”. Aku tidak mengucapkan sepatah kata pun. Kemudian Aku berkata, “Wahai Rasulullah, Apa yang harus aku ucapkan?”. Dia berkata, “Ucapkanlah qul huwallahu ahad dan muawwidzatain setiap pagi dan petangtiga kali, maka cukup untukmu segala sesuatu”. (riwayat Tirmidzi,katanya, “Hadits hasan shahih”).

Ahad adalah yang esa tidak memiliki sekutu. As-Shamad ialah Yang setiap makhluk bergantung kepada-Nya disegala kebutuhan, yanag menjadi kesempurnaan dari sifat yang agung.

Ucapan ahad menafikan pasangan dan yang menyerupainya. Ucapan shamad menetapkan kesempurnaan sifatnya. Ucapan “Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan” menafikan kebutuhan sahabat dan saudara. Ucapan “dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia” menafikan sekutu dalam kesempurnaan-Nya.



dua surat a’udzu, yaitu An-Naas dan Al-Falaq