Tampilkan postingan dengan label Tauhid. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tauhid. Tampilkan semua postingan

Kamis, 07 Mei 2015

Menyambut Bulan Rajab

FacebookTwitterGoogle+LineWhatsAppLinkedIn
 
rajab
Assalamu'alaikum Wrwb. 
 
MARHABAN YA RAJAB.. Selamat datang bulan mulia.. Bulan Allah.. bulan untuk memperbanyak istigfar permohonan Ampun.. bulan untuk riyadhoh, bulan khalwat.. bulan penuh berkah..
 
Para pembaca sarkub.com yang dirahmati Allah, sebentar lagi kita akan menyongsong bulan Haram yaitu bulan Rajab, yang bertepatan dengan bulan Masehi tanggal 22 Mei 2012.
Allah Swt berfirman:
Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (QS At-Taubah: 36)
 
Bulan-bulan haram memiliki kedudukan yang agung, dan bulan rajab termasuk salah satu dari empat bulan tersebut. Dinamakan bulan-bulan haram karena :
1. Diharamkannya berperang di bulan-bulan itu kecuali musuh yang memulai.
2. Keharaman melakukan perbuatan-perbuatan maksiat dibulan ini lebih besar di bandingkan bulan yang lain. Sebagaimana Firman Allah :
"Wahai orang-orang yang beriman janganlah kamu melanggar syi'ar-syi'ar Allah, dan janganlah melanggar kehormatan bulan-bulan haram" (Al-Maidah 2).
 
Keutamaan Bulan Rajab :
Imam Musa bin Ja’far berkata, “Barangsiapa berpuasa satu hari di bulan Rajab, niscaya neraka menjauh darinya sejauh jarak perjalanan satu tahun. Barangsiapa berpuasa tiga hari, maka surga ditetapkan baginya.”
Beliau juga berkata, “Rajab merupakan sungai di surga yang lebih putih dari susu dan lebih manis ketimbang madu. Barangsiapa berpuasa satu hari di bulan Rajab, niscaya Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung menuangkan baginya minuman dari sungai itu.
”Imam Ja’far al-Shadiq – meriwayatkan: Rasulullah saw bersabda, “Rajab merupakan bulan mohon ampunan bagi umatku. Maka, perbanyaklah mohon ampunan (Allah) di dalamnya! Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Pengasih. Bulan Rajab di sebut dengan al-Ashab (yang mengalir dengan deras), lantaran al-rahmah (kasih sayang Allah) tercurah amat deras di dalamnya. Oleh karenanya, perbanyaklah kalian mengucapkan: Astaghfirullaha wa as aluhu at-taubah (Aku mohon ampunan Allah dan minta taubat pada-Nya).”
Ibnu Babawaih meriwayatkan dengan sanad otentik dari Salim yang berkata:Saya datang menemui Imam Ja’far al-Shadiq pada (akhir) bulan Rajab dan masih tersisa tiga hari. Tatkala melihatku, beliau bertanya, “Wahai Salim, berpuasakah kamu di bulan ini?”Saya menjawab, “Tidak, demi Allah, wahai putra Rasulullah!” Kemudian beliau berkata padaku, “Telah luput darimu pahala yang tidak mengetahui jumlahnya kecuali Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung. Sesungguhnya Allah mengutamakan bulan ini, mengagungkan kehormatannya, dan menetapkan kemuliaan-Nya bagi orang-orang yang berpuasa di dalamnya.”
Saya bertanya kepada beliau, “Wahai putra Rasulullah! Pabila saya berpuasa pada hari yang masih tersisa di bulan ini, maka dapatkah saya mencapai keberuntungan dari sebagian pahala orang-orang yang berpuasa di dalamnya?”
 
Beliau menjawab, “Wahai Salim! Barangsiapa berpuasa satu hari pada akhir bulan ini, maka hal itu menjadi pelindung baginya dari ketakutan saat sakaratul maut (menjelang kematian), serta perlindungan baginya dari bahaya mengerikan dan siksa kubur. Barangsiapa berpuasa dua hari pada akhir bulan Rajab ini, maka dengan puasa itu dia berhak mendapatkan surat ijin melintasi al-shirat. Barangsiapa berpuasa tiga hari pada akhir bulan ini, niscaya pada hari kiamat dia aman dari bahaya mengerikan dan bencana, serta dia diberi pembebasan dari api neraka.”
 
Dari Abu Darda’ dari Nabi SAW. sesungguhnya Beliau bersabda : Barang siapa berpuasa satu hari pada bulan rajab, maka seakan-akan telah beribadah kepada Allah SWT  Seumur hidup dimana pada siang harinya untuk puasa dan malam harinya untuk shalat,
Dan barang siapa berpuasa tiga hari maka Allah SWT akan menjadikan orang yang berpuasa itu dengan neraka sejauh satu khondaq. Satu khondaq dalam ditempuh dalam perjalanan satu tahun. Maksudnya adalah orang itu akan dijauhkan dari siksa neraka.
 
Amalan Bulan Rajab
Rajab adalah saat dimana kita harus mulai bersiap diri. Ramadhan membutuhkan banyak persiapan. Memperbanyak dzikir dan sitigfar kepada Allah. Amalan dan doa bersifat umum yang diajarkan oleh Rasulullah Saww di bulan Rajab di antaranya:
1. Memperbanyak membaca istighfar: Astaghfirullaha wa atubu ilayh.
2. Dalam suatu riwayat disebutkan: “Barangsiapa yang tidak mampu berpuasa, maka hendaknya membaca tasbih 100 kali setiap hari, agar memperoleh pahala puasa di dalamnya. Tasbihnya sebagai berikut:
سُبْحَانَ الاِْلهِ الْجَليلِ، سُبْحَانَ مَنْ لاَ يَنْبَغِي التَّسْبِيحُ إِلاّ لَهُ، سُبْحَانَ اْلأَعَزِّ اْلاَكْرَمِ، سُبْحَانَ مَنْ لَبِسَ الْعِزَّ وَهُوَ لَهُ اَهْلٌ .
Subhânal ilâhil jalîl, subhânaman lâ yanbaghit tasbîhu illâ lahu, subhânal a’azzil akram, subhâna man labisal ‘izza wa huwa lahu ahlun.
(Mahasuci Tuhan Yang Maha Agung, Mahasuci yang tak layak ditasbih kecuali Dia, Mahasuci Yang Maha Agung dan Maha Mulia, Mahasuci Yang Memakai pakaian keagungan dan hanya Dia yang layak memilikinya.)
3. Amalan yang dibaca setiap 10 hari bulan rajab :

(Sumber : Sufi Road)

Kamis, 27 Desember 2012

Yang Terbaik

 Kamis, 27 Desember 2012, 11:59 WIB

Yang TerbaikREPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Sandiaga S Uno

Sahabatku, tidak ada satu pun kejadian yang menimpa kita tak ada tujuannya (there is no coincident in life). Keterbatasan pengetahuanlah yang menyebabkan manusia buta akan makna dalam setiap peristiwa.

Hanya mereka yang berpikir dan terus meningkatkan ketawakalan karena mengimaninya, akan mendapatkan jawaban atas setiap pertanyaan dan merasakan kebahagiaan di balik kesusahan.

Memang, tak semua dari kita yang menyadarinya. Atau bahkan melakukan perenungan batin atas setiap kejadian yang menimpa. Padahal, perenungan dan berpikir adalah tugas mulia yang hendaknya manusia banyak melakukannya. Kenapa? Karena setelah itu, jiwa ini akan dibimbing-Nya untuk menemukan jawaban. Dan, iman pun semakin dikuatkan.

Pernah suatu ketika, dalam perjalanan pulang dari Bangladesh, awal Desember 2012 lalu, kami mengalami peristiwa yang menyedihkan jika diukur dari keinginan manusiawi. Pesawat yang ditumpangi, ada sedikit kendala teknis pada mesin dan divonis tidak bisa terbang malam itu.

Berpindah ke maskapai penerbangan lain adalah pilihan, padahal tugas menumpuk telah menunggu di Jakarta. Disaat jeda itu lah, suara adzan maghrib dari Bandara  memanggil dan shalat pun didirikan. Karena sedang di perjalanan, kami pun menjamaknya.

Bertegur sapa dengan sahabat yang berasal dari Bangladesh dan lama menetap di Amerika Serikat, adalah awal ceritanya. Seolah menduga kesulitan yang tengah dihadapi, sahabat yang duduk disamping kami itu pun bertanya: “Pasti Anda sedang ditimpa kesulitan,” ujarnya yakin. 

Saya bertanya balik: “Kok bisa bapak bisa menebak?” Dalam bahasa Inggris.  Lantas sahabat Bangladesh yang usianya sekira 60 tahunan berkata: “Iya, saya bisa lihat dari wajah Anda, namun sayangnya manusia baru ingat Allah Sang Pencipta di kala tertimpa kesulitan”.

Yakinlah, bahwa segalanya telah diatur oleh Yang Maha Kuasa, inti pesan dia.  Obrolan pun semakin hangat dan mendalam. Sahabat tersebut mengaku gelisah, kini berbagai aktivitas ibadah banyak yang dimudahkan atasnama rasionalitas dan kesibukan manusia.

Dia pun mengaku khawatir, kelak, akan banyak ibadah yang ditinggalkan oleh umat Islam hanya dengan alasan Islam itu memudahkan. Padahal dari setiap gerak dan ritualitas itu, ada makna mendalam yang boleh jadi belum diketahui.
Melalui sahabat tersebut, Tuhan seolah mengingatkan kami  tentang pentingnya ketawakalan dan berprasangka baik kepada-Nya. Bukankah Tuhan sesuai persangkaan hamba-Nya?

Hanya berselang beberapa belas menit setelah adzan Isya berkumandang, panggilan dari pilot pesawat kami tiba dan perjalanan pulang yang awalnya terkendala, seizin Allah, ajaib dapat  kembali dilanjutkan. Tidak perlu berpindah maskapai, karena tentu akan sangat merepotkan.

Namun sepanjang jalan, jiwa ini mengiyakan, bahwa obrolan santai dengan sahabat tadi memberikan keteguhan batin, bahwa seburuk apapun yang dialami, jika  iman menyertai dan tawakal menjadi pijakan, selalu ada hikmahnya.

Pertemuan tadi seolah hendak  menuntun kami untuk kembali mengingat makna kekhusyuan dan  pengutamaan ibadah kepada-Nya dibandingkan urusan lain. Agama memang tidak mempersulit, tapi bukan untuk dipermudah. Tidak boleh ada hal apapun yang memalingkan kita dari beribadah kepada-Nya.

Pertemuan itu pun sekaligus mengafirmasi bahwa Tuhan selalu memberikan yang terbaik. Manusiawi, bila kita merasa sedih dan takut. Tapi ingatlah,  sesungguhnya itu merupakan ujian. Sebentuk pengingatan bahwa ada kuasa yang melebihi kuasa manusia.

Tersenyum menghadapi seluruh peristiwa kehidupan, berprasangka baik kepada-Nya, bertawakal setelah berusaha keras, sertai doa ikhlas adalah jawabannya. Ingatlah, setiap saat, limpahan rahmat-Nya terus mengaliri helaan napas kehidupan. Hanya karena Dia memberi kita sedikit ujian, pantaskah nikmat yang sangat besar itu kita dustakan?

Redaktur: Heri Ruslan
 
 
 

Rabu, 26 Desember 2012

Sepuluh Ciri Orang yang Dicintai Allah (3)

Selasa, 18 September 2012, 05:10 WIB

Sepuluh Ciri Orang yang Dicintai Allah (3)REPUBLIKA.CO.ID, Allah SWT berfirman, "Dan hamba-Ku masih mendekatkan diri kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunah, sampai Aku mencintainya.”

8. Mendahulukan cinta akhirat yang abadi atas dunia fana, bersiap sedia bertemu dengan Allah ’Azza wa Jalla, berbekal diri untuk akhirat, dan mempersiapkan bekal untuk perjalanan yang dinanti-nanti tersebut.

Sebuah syair Arab mengatakan, "Berbekallah untuk perjalanan yang pasti kau lalui, Karena sesungguhnya kematian telah ditetapkan. Apakah engkau rela menjadi teman satu kaum yang memiliki bekal, sedang engkau sendiri tak berbekal."

9. Tobat yang ikhlas dan sungguh-sungguh, meninggalkan maksiat dan menyalahi perintah Allah, menjauhi orang- orang yang lalai yang gemar menyimpang dan berdosa kepada Allah. Bergaul dengan mereka sungguh merupakan demam tak kunjung habis, racun yang ganas dan penyakit berkepanjangan.

Allah berfirman, "Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang- orang yang bertakwa." (QS. Az Zukhruf, 67).

Dalam sebuah hadits shahih Rasulullah SAW bersabda, "Manusia akan dikumpulkan di alam mahsyar bersama orang yang ia cintai."

10. Mencita-citakan syahid di jalan Allah, menanti-nanti datangnya saat tersebut dimana jiwa dipersembahkan dengan ikhlas kehadapan Allah SWT dengan jiwa, harta dan anak dijual kepada Allah. Dalam jual beli agung ini tidak kembalian, tidak ada pula jabat tangan transaksi.

Allah berfirman, "Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh." (QS. At Taubah, 111).

Redaktur: Ajeng Ritzki Pitakasari
Reporter: hannan putra
 
 
 
 
 

Sepuluh Ciri Orang yang Dicintai Allah (2)

Selasa, 18 September 2012, 04:02 WIB

Sepuluh Ciri Orang yang Dicintai Allah (2)REPUBLIKA.CO.ID, Sebelumnya disebutkan orang-orang yang dicintai oleh Allah akan mencintai pula Nabi Muhammad sebagai rasul dan utusan-Nya. Berikut adalah ciri-ciri selanjutnya.

4. Merasa terhormat menjadi wali Allah dan berusaha keras memperoleh derajat ini. Allah memberikan gambaran tentang para wali-Nya dalam salah satu Firman-Nya, "Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. Yaitu orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa." (QS. Yunus, 62-63).

Demikian pula firman-Nya, "Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul- Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk kepada Allah. Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut agama Allah itulah yang menang." (QS. Al-Maidah, 55-56).

5. Menyuruh kepada kebajikan dan mencegah dari kemungkaran. Ia mengorbankan jiwanya dan segala yang berharga untuk itu. Allah berfirman, "Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan ummat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung." (QS. Ali Imran, 103)

Sifat ini akan semakin bersinar pada bulan Ramadhan, orang yang berpuasa dengan sungguh-sungguh akan menyampaikan nasehat seruan mereka kepada hamba- hamba Allah dengan semata-mata mengharap pahala dari sisi Allah SWT.

6. Bergaul bersama orang-orang shaleh. Hal ini terwujud dengan mencintai orang- orang baik, akrab bergaul dengan para wali Allah, mendengarkan percakapan mereka, rindu bertemu mereka, rindu berkunjung dan menduakan mereka, membela kehormatan mereka, mengingat kebaikan dan jasa mereka sedapat yang mereka lakukan.

Allah SWT berfirman, "Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara." (QS. Al-Hujurat, 10).

Kemudian Firman-Nya, "Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali agama Allah, dan jangan bercerai berai." (QS. Ali Imran, 103).

7. Mendekatkan diri kepada Allah dengan ibadah-ibadah sunnah dan berusaha menggapai ridha Allah dengan amal shaleh, baik berupa shalat, puasa, sedekah haji, umrah, membaca Alquran, berdzikir, berbuat kebajikan, silaturahmi dan amalan-amalan lainnya.

Redaktur: Ajeng Ritzki Pitakasari
Reporter: hannan putra
 
 
 
 
 
 
 
 

Sepuluh Ciri Orang yang Dicintai Allah (1)

Selasa, 18 September 2012, 03:04 WIB

Sepuluh Ciri Orang yang Dicintai Allah (1)REPUBLIKA.CO.ID, Menaati perintah Allah ’Azza wa Jalla dengan puasa Ramadhan akan menambah mahabbah kepada-Nya, terutama dalam hati orang yang berpuasa. Para wali Allah mencintai Rabb mereka Yang Maha Suci dengan kadar kecintaan yang amat besar.

Mereka mencintai Allah,dan Allah mencintai mereka. Sungguh mengagumkan  firman-Nya,  yang berbunyi“Mereka mencintai Allah." Yang lebih mengagumkan lagi yakni firman- Nya, "Allah mencintai mereka."  Allah menciptakan mereka, memberi rizki, memberi kesehatan kepada mereka kemudian mencintai mereka.

Mahabbah kepada Allah mempunyai sepuluh ciri-ciri. Orang yang melakukannya berarti telah mencintai Allah dengan sebenar-benarnya, bukan hanya mengaku-ngaku saja.

 Sepuluh hal tersebut adalah;

1. Mencintai firman-Nya yang diturunkan berupa wahyu kepada rasul-Nya, Muhammad SAW.  Ia rindu membaca firman-Nya, mentadabburinya dan mengakrabinya. Ia memperbaiki hati dengan ajaran-ajarannya, melapangkan jiwanya, terjaga dengannya di waktu malam dan pekat, mengamalkan tuntutan-tuntutannya dan hukum-hukumnya dalam seluruh aspek kehidupan.

2. Mencintai rasul-Nya, Muhammad SAW dan mengikuti jejaknya, memperbanyak shalawat kepadanya, berkeyakinan bahwa beliau dijaga dari berbuat maksiat, dan dijadikan teladan.

Allah berfirman, "Sesungguhnya pada diri Rasulullah itu terdapat suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut nama Allah." (QS. Al- Ahzab, 21).

Kecintaan kepada Rasulullah juga dapat dibuktikan dengan melaksanakan sunnah beliau tanpa merasa susah atau terpaksa. Melaksanakan segala ajaran Beliau SAW tanpa merasa takut atau ragu-ragu.

3. Berusaha keras menjauhi larangan Allah, menjaga batas- batas Allah agar tidak dilanggar, marah ketika melihat salah satu syiar Islam dihinakan oleh para ahli bid’ah dan perusak islam, berjuang semaksimal mungkin dengan hati, lidah dan tangan untuk menolong syari’ah Allah dan memperkokoh agama Allah di muka bumi.

Redaktur: Ajeng Ritzki Pitakasari
Reporter: hannan putra
 
 

Jumat, 31 Agustus 2012

Thermometer Keimanan


Oleh: Dr Muhammad Hariyadi, MA
Kadar keimanan seseorang dapat bertambah dan berkurang bagaikan thermometer.

Setiap pribadi Muslim pada umumnya merasakan kadar keimanannya meningkat pada bulan Ramadhan. Mereka juga merasakan mudahnya melaksanakan berbagai tindakan kebajikan di bulan suci tersebut. Bahkan tidak jarang di antara mereka yang menggunakan momentum Ramadhan untuk berbuat baik sebanyak-banyaknya karena berbagai rangsangan yang memudahkan terlaksananya amal kebaikan.

Namun, tidak tidak setiap pribadi Muslim menyadari penyebab yang memudahkan terlaksananya berbagai kebaikan di bulan Ramadhan. Padahal jika direnungkan, peningkatan kadar keimanan di bulan tersebut dapat dilakukan melalui perenungan dan evaluasi sederhana sesuai dengan kapasitas akalnya.

Iman kata para ulama bagaikan pohon, ia akan tumbuh subur dengan disirami air dan ditaburi pupuk. Selanjutnya, ia akan berbuah sesuai dengan input yang diterimanya. Demikian pula dengan keimanan, ia akan tumbuh dengan menu utamanya amal saleh dan minumannya menjauhkan diri dari perbuatan maksiat.

Dalam kaitan tersebut Sayyidina Ali RA berkata, "Iman bagaikan satu nuktah (titik) putih. Jika seseorang berbuat kebajikan, maka kadar keimanannya akan tumbuh dan memutihkan seluruh hati. Sedangkan nifak bagaikan satu nuktah (titik) hitam. Jika seseorang berbuat keburukan, maka kadar keimanannya akan berkurang sehingga menghitamkan seluruh hati."

Di dalam Alquran dan As-sunnah terdapat berbagai penjelasan yang menegaskan bertambahnya kadar keimanan dengan sebab perbuatan baik dan berkurangnya kadar keimanan dengan perbuatan buruk.

Di antara penjelasan tersebut, Allah SWT berfirman, "Sungguh orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila nama Allah disebut maka hati mereka bergetar dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya maka keimanan mereka bertambah." (QS. Al-Anfaal: 2).

Sedangkan di dalam As-Sunnah juga terdapat penjelasan serupa, di antaranya sabda Rasulullah SAW, "Barang siapa di antara kalian melihat suatu kemungkaran, maka hendaklah merubahnya dengan tangan (kekuasaan)nya. Jika tidak mampu, maka hendaklah merubahnya dengan lisannya. Jika tidak mampu, maka hendaklah merubahnya dengan hatinya. Dan yang terakhir itu adalah iman yang paling lemah." (HR. Muslim).

Tentu yang dimaksudkan dengan amal saleh yang menjadi menu utama penambahan kadar keimanan tersebut bukan sekedar ibadah dalam arti khusus seperti shalat, zakat, puasa, dan haji, kendati ibadah khusus tersebut berkaitan langsung dengan kadar keimanan seseorang.

Melainkan juga semua ibadah dan kebajikan secara umum seperti mengajarkan/mempelajari ilmu agama; membaca Alquran dengan pendalaman makna serta tafsirnya; merenungkan sirah nabi dan sirah orang-orang saleh; meneliti/merenungi tanda-tanda kekuasaan Allah; dan semua sarana maupun prasarana yang menjadi penyebab terlaksananya perbuatan baik.

Disamping menu utama tersebut, peningkatan kadar keimanan seseorang perlu diberi minuman berupa menjauhkan diri dari perbuatan buruk. Sebab, keburukan dalam segala bentuknya memiliki pengaruh negatif terhadap tubuh, hati, dan jiwa serta berpengaruh langsung terhadap kadar keimanan seseorang.

Termasuk dalam kategori perbuatan buruk di sini adalah segala bentuk kesamaran (syubhat) yang meragukan hati, sebab ke-syubhat-an layaknya bara api yang dengan perlahan namun pasti merusak dan membakar hati.

Semoga Allah SWT memberikan kesadaran kepada kita untuk senantiasa berbuat baik di dalam dan luar Ramadhan, sehingga kadar keimanan kita senantiasa meningkat yang sekaligus berarti peningkatan petujuk (hidayah) atas berbagai petunjuk yang telah dianugerahkan kepada kita. Wallahua'lam.