Rabu, 29 Februari 2012

Ilmuwan Muslim : Tak Ada Evolusi dalam Islam



REPUBLIKA.CO.ID, CONNECTICUT - Penciptaan makhluk hidup yang berasal dari kasta terendah atau yang dikenal dengan Teori Evolusi tidak diajarkan dalam pemahaman Islam. Seorang professor Muslim dibidang Fisika, Taner Edis dari Truman State University Missouri menyampaikan pandangan umum umat Islam ini, ditengah mahasiswa Trinity University, Connecticut.
Edis menyampaikan perdebatan tentang teori Darwin di dunia muslim adalah suatu yang merendahkan derajat manusia. Menurutnya Evolusi bukanlah pelajaran di dunia muslim. Hal ini disampaikannya ketika memberi kuliah umum tentang 'Debat Muslim: Penciptaan vs Evolusi', Kamis (9/2).
"Kami menganggap segalanya berpusat pada Tuhan (Allah), segala penciptaan dunia berasal dari Nya. Dan ketika para ilmuwan berusaha menemukan asal muasal segala sesuatu, kami sudah meyakini jawabannya," katanya.

Muslim meyakini penciptaan, dan ini menjadi doktrin utama Islam sebagai agama monoteisme dari ajaran Ibrahim. Ini mereferensi pada Al-Qur'an, yaitu Adam dan Hawa, dan hadirnya ketergantungan manusia pada Tuhan.
Teori Darwin sering menjadi kontroversi di kalangan muslim, terutama pada asal usul manusia yang berasal dari kera. Faktanya, hingga saat ini para ilmuwan hanya bisa menduga-duga dengan istilah mata rantai yang hilang 'missing link' hasil perubahan dari kera ke manusia. Sementara itu, sebagian terori seperti seleksi alam sebagian masih memungkinkan terjadi.
Lebih dari 150 orang menghadiri ceramahnya di Auditorium Chapman. Berjudul "Penciptaan vs Evolusi: Debat Muslim," itu bagian dari Pekan Darwin di kampus di Trinity University.

Islam Ajarkan Cinta Damai

TRIBUNNEWS.COM - Semua agama mengajarkan kedamaian. Tindak kekerasan harus dihilangkan. Selalu menjunjung tinggi sikap kebersamaan, kekompakan dan persatuan. Kejahatan dan kekerasan menjadi musuh bersama yang paling utama. Maka, sikap optimisme untuk membangun bangsa Indonesia ke depan harus menjadi prioritas utama. Semua itu kita satukan dalam bingkai kebersamaan Bhinneka tunggal ika (walaupun berbeda-beda namun tetap satu).
Bila merenungkan keadaan bangsa saat ini, seakan-akan Indonesia semakin lama semakin terpuruk dengan mencuat berbagai issue. Birokrasi sudah mulai ambruk, karena dinodai oleh para koruptor yang bertopeng manusia. Pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) hampir seluruh pelosok tanah air, mulai dari penggusuran pedagang asongan, pedagang kaki lima, kasus Mesuji, Bima hingga permasalahan agraria.
Di samping issue tersebut, tambah lagi permasalahan bangsa terhadap pembubaran ormas anarkis. Ratusan orang berdemo menuntut kedamaian dan mengecam kekerasan. Mereka berharap Front Pembela Islam (FPI) dibubarkan. Karena mereka menganggap FPI telah bertindak keras dalam setiap demonstrasi dan sweeping yang dilakukannya. Sehingga dengan permasalahan ini akan menambah pekerjaan rumah bagi pejabat Negara untuk menyelesaikan persoalan antar anak bangsa sendiri.
FPI adalah ormas yang mengusung menegakkan syariat Islam dianggap anarkis oleh sebagian orang namun dianggap baik bagi sebagian yang lain. Sehingga muncul kalangan pro dan kontra terhadap ormas tersebut. Sehingga menteri dalam negeri Gamawan Fauzi pun ikut berkomentar untuk menata kembali tentang undang-undang keormasan.
Dibalik permasalahan itu semua, sebenarnya Islam tidak pernah mendukung tindak kekerasan, bahkan Islam mengecam tindakan biadab tersebut. Islam agama yang cinta damai, menjunjung tinggi hak setiap warga masyarakat, mengedepankan sikap toleransi dengan agama lain. Maka, siapapun dia, dari manapun ia jika “katanya” beragama Islam namun bertindak kekerasan dan kekisruhan tentunya mereka bukan mewakili Islam.
span style="font-size:12.0pt;line-height:200%;font-family:"Times New Roman","serif"">Bila kita melihat perjuangan Nabi saw dan sahabat di Madinah selalu mengedepankan budaya kedamaian. Orang Islam menghargai kerukunan beragama, hingga melahirkan piagam Madinah. Inilah salah satu bukti bahwa Nabi saw dan sahabat selalu bersikap toleransi dan menjauhkan sikap anarkis lagi biadab. Maka Islam tidak pernah mencontohkan tindak kekerasan. Sebagaimana ditegaskan dalam firmanNya: “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS al-Baqarah [2]: 256).
Konsep Islam yang telah diturunkan Allah swt kepada Nabi saw sungguh sangat sempurna. Islam agama yang universal, lengkap dengan segala atribut untuk menghadapi dunia modernisasi. Namun demikian, bila ada orang Islam atau kelompok yang mengaku dirinya Islam bertindak kekerasan dan tidak menjunjung tinggi kerukunan berarti dia sama sekali tidak mewakili Islam. Yang salah bukanlah ajaran Islam, tapi yang salah adalah orang Islam, sebagian mereka tidak tahu bahkan tidak mau tahu dan tidak mengamalkan ajaran yang telah digariskan Islam.
Dakwah Islam bukan dengan memukul tapi dengan merangkul. Menyebarkan Islam bukan dengan menyinggung namun dengan menyentuh. Mensosialisasikan ajaran Islam bukan dengan saling mengejek namun dengan mengajak. Sungguh indah Islam bila kita pelajari, hanya orang-orang salah tafsir ayat al-quran yang melakukan tindakan kriminal. Padahal kriminalisme adalah musuh Islam. Maka Islam memiliki budaya salam, dengan arti selalu mengedepankan kedamaian. Ditegaskan dalam firmanNya: “Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.” (QS al-An'am [6): 108).
Untuk membendung kerusakan Islam yang disebabkan oleh segelintir orang, maka umat Islam harus bersatu untuk melawan kekerasan, kriminalitas, dan tindakan anarkis. Umat Islam harus bersikap “Kedamaian Yes But Kekerasan No”. Sikap menolak kekerasan untuk menghilangkan citra Islam yang diidentikkan dengan kekerasan. Umat Islam harus mampu membendung siapapun dari umat Islam yang selalu bertindak anarkis.
Oleh karenanya, mengajak umat Islam untuk selalu mengamalkan ajaran Islam dengan mengamalkan dan mengaplikasikan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Kedamaian harus menjadi tongkat perjuangan dan eksistensi umat Islam di masa depan. Tindak kekerasan, anarkis dan krimilitas harus menjadi musuh bersama. Ditegaskan olehNya: “Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS al-Anfal [8]: 61).
Tambah lagi penegasanNya: “Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat (saja), tetapi Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan.” (QS al-Nahl [16]: 93). Berlanjut dengan ayat yang lain: “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma`afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. (QS Ali 'Imran [3]: 159).
Maka, mari bersikap arif dan damai terhadap siapapun yang tidak mengganggu kita. Satukan langkah untuk menuju bangsa yang makmur, sejahtera dan damai dalam bingkai NKRI.o:p>
Penulis: Jubir Perkumpulan mahasiswa bumoe Aceh (Peuhaba) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta/Mahasiswa S1 Dakwah Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Islam Bukan Agama Revolusi



TRIBUNNEWS.COM - Islam berkembang dibawah dakwah Rasulullah SAW kemudian diteruskan oleh para pengikutnya secara berangsur-angsur. Tahap demi tahap, step by step yang mereka lalui untuk memperjuangkan dakwah Islam itu sendiri. Islam adalah agama dakwah bukan agama revolusi yang didalamnya terdapat kudeta yang berprinsip siapa yang kuat dia yang menang. Seperti yang kita saksikan sekarang dari kejadian revolusi yang paling dekat dengan catatan sejarah umat manusia adalah berupa kudeta-kudeta atau mengadakan perubahan drastis dengan cara mengandalkan power (kekuatan) semata. Jadi, eksistensi revolusi selalu tunduk kepada kaidah siapa yang kuat dia yang menang.
Islam tidak mengenal revolusi dalam mengembangkan dakwah Islam. Sehingga tidak ada alasan mengatakan bahwa Islam berkembang dengan tumpahan darah. Dengan demikian Islam tidak mengenal ciri-ciri revolusi sebagai berikut:
Pemaksaan dan Pengorbanan Kebebasan Pribadi
Dalam revolusi tidak ada hak untuk pribadi-pribadi dalam masyarakat untuk menolaknya, pendapat mereka tidak dihargai, baik ketika berlangsungnya revolusi atau setelah revolusi. Dalam situasi revolusi manusia tidak dapat hidup secara normal. Disebabkan oleh kebebasan-kebebasan pribadi lenyap begitu saja. Tidak ada kesempatan untuk menulis, membaca, mengarang, berkumpul, berdiskusi dan lain-lainnya.
Akan tetapi dalam Islam tidak dikenal seperti itu. Dalam Islam tidak berlaku hukum rimba (siapa yang kuat dia yang menang). Bahkan jangankan seperti itu pemaksaan saja dilarang dalam Islam. Allah SWT berfirman:“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghutdan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (Q.S.al-Baqarah:256).
Begitulah indahnya Islam, hingga dalam menyebarkannya pun dilarang adanya pemaksaan. Sikap toleransi sangat dijunjung tinggi dalam Islam. Namun sikap tersebut hanya berlaku dalam hal muamalah, sosial dan hubungan bermasyarakat. Toleransi tidak berlaku dalam hal aqidah (keyakinan) dalam menghambakan diri kepada Allah SWT. Maka Allah SWT berfirman: “Katakanlah: "Hai orang-orang kafir (1), Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah (2), Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah (3), Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah (4), dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah (5), Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku (6)”. (Q.S.al-Kafirun:1-6).
Setiap revolusi selalu menyandarkan pada power fisik dan bergerak atas nama undang-undang dan kepentingan rakyat. Padahal semuanya adalah dusta, revolusi hanya untuk kepentingan orang-orang tertentu saja yaitu para penguasa dan antek-anteknya (pengikutnya). Revolusi bergerak dengan mengadakan perombakan secara paksa dalam segala bidang demi tercapainnya tujuan-tujuan yang diinginkan. Karena menyadari berapa sulitnya merubah tatanan masyarakat yang sudah ada. Bahkan sudah mengakar sebagai adat-istiadat dan budaya, andaikan mampu itupun membutuhkan waktu yang sangat lama. Karena merubah itu bukan hal yang gampang, jangankan orang lain diri kita pribadi saja susah dan sulit untuk dirubah. Padahal Allah SWT berfirman tidak akan mengubah sesuatu sehingga mereka mau merubahnya sendiri. Tentunya semua itu dengan ikhtiar (usaha) dan do’a kepada Allah SWT.
"Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaanyang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia”. (Q.S.ar-Ra’d:11).
Namun, Nabi Muhammad SAW mampu merubah masyarakat jahiliyah kepada Islamiyah dalam jangka waktu 23 tahun. Bisa membentuk masyarakat yang Islami sesuai dengan tuntunan Allah dan RasulNya, tentunya semua itu dengan izin Allah SWT dan usaha yang keras. Kenapa dan mengapa bisa terjadi hal yang seperti itu? Karena satu kata dan perbuatan dalam setiap tindak dan tanduknya. Allah SWT berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? (2), Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan (3)”. (Q.S.ash-Shaff:2-3).
Pengaruh Lingkungan
Segala revolusi yang sekalipun semuanya mengandung unsur-unsur yang mendadak dalam merombak struktur yang ada sampai keakar-akarnya. Dengan cara yang tidak manusiawi yang membasmi seluruh kawan dan lawan. Demi untuk mengamankan revolusi dan kelanggengan, tetapi tujuan akhirnya adalah hanya terbatas pada lingkungan setempat dan golongan tertentu.
Nilai-nilai yang digembar-gemborkan kaum revolusioner hanya sekadar slogan semata seperti kebebasan, keadilan sosial, kemerdekaan dan lain-lain. Semuanya hanya berlaku pada lingkungan tertentu saja tidak untuk semua manusia. Akan tetapi tidak dengan Islam, Islam adalah Rahmatan Lil’alamin. Sesuai dengan firmanNya: “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”. (Q.S.al-Anbiya:107).
Ketiga ciri pokok revolusi sungguh bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Islam hadir di setiap tempat tidak mengadakan perombakan secara mendadak. Islam tidak pernah menghancurkan tatanan masyarakat yang ada secara radikal. Dalam mencapai tujuan dakwah Islam tidak memakai yang tidak manusiawi demi kelangsungan dakwah Islam. Pun, Islam tidak berpihak hanya satu golongan, akan tetapi seluruh manusia yang ada di jagat raya ini.
Penulis: Mahasiswa SI Dakwah Universitas Muhammadiyah Yogyakarta/Jubir Perkumpulan mahasiswa bumoe Aceh (Peuhaba) UMY.

Inilah Pentingnya Pintu Dalam Islam


REPUBLIKA.CO.ID, Pintu memegang peranan penting dalam Islam. Hal ini dikarenakan, Islam sangat menghormati privasi. Sebuah pintu menandakan ruangan tersebut dikhususkan pada orang-orang tertentu, misalnya keluarga.
Dikutip dari saudiaramcoworld.com, pintu menegaskan adanya batas. Batas ini penting dalam keseharian umat Islam. Sebuah batas mengindikasikan adanya aturan sejauh mana seseorang bisa memasuki suatu lingkup.
Pintu juga menandakan adanya zona transisi. Hal ini bisa dilihat pada pintu rumah. Pintu rumah menandakan adanya perpindahan dari suatu komunitas seperti kota dan desa, ke ruang yang bersifat lebih sempit dan privasi seperti rumah.
Selain itu, pintu juga merupakan bentuk dan ekspresi artistik pemilik rumah. Warna terang dan plot yang tegas pada pintu depan menekankan jalan masuk ke dunia privasi keluarga. Pintu ini menyediakan kesempatan bagi orang di luar untuk melihat sekilas kekayaan yang ada di belakang elemen pintu.
Desain pintu bisa bermacam-macam. Namun, bentuk ornamen berfigur manusia tetap tak digunakan oleh para arsitektur muslim. Mereka cenderung memilih hiasan abstrak. Hiasan ini bisa tersusun atas pola geometri atau wujud benda di alam. Hal ini sekaligus menunjukkan, hasil kerja para arsitektur muslim tidak pernah jauh dari apa yang diciptakan-Nya.
Hasilnya, lahirlah bentuk-bentuk fantastis yang tidak terfikirkan. Hiasan ini sekaligus memberi makna lebih dalam pada gambar, bentuk, dan objek yang ada di alam.

Pakar : Hukum Islam Harus Kontekstual


REPUBLIKA.CO.ID, DURHAM--Umat Islam tengah menghadapi tantangan dalam pemikiran keagamaan dalam Islam, termasuk bagaimana hukum Islam di abad ke-9 dan ke-10 diberlakukan dalam konteks kekinian. Demikian diungkap Pakar Studi Islam, Profesor Ebrahim Moosa saat memberikan kuliah umum di Universitas Thomas Langford.
"Sulit untuk meramalkan masa depan Islam sebagai sebuah agama yang kompleks dan beragam dalam budaya dan peradaban," kata Mossa seperti dikutip today.duke.edu, Jum'at (24/2).
Moosa mengatakan tragedi 9/11 dan revolusi musim semi Arab Januari 2011 menunjukan bagaimana ada perubahan yang terjadi pada satu bagian dalam dunia Islam. "Anda tentu sudah tahu bahwa perubahan yang terjadi merupakan salah satu peristiwa besar yang terjadi begitu cepat," pungkasnya.
"Kita tentu jenuh dengan liputan media yang menyoroti perbuatan tercela dari berbagai aktor muslim, terorisme, dan praktek misoginis (kebencian terhadap perempuan -red) ," tambahnya.
Padahal apa yang diberitakan itu belum tentu menceritakan fakta secara menyeluruh. Sementara sebagian masyarakat tentu telah berpendapat meski informasi yang diberikan tidak lengkap. "Hasilnya, apa yang terjadi telah merusak reputasi dan merendahkan dunia Islam," katanya.

Ensiklopedi Hukum Islam: Ahlul Bait



REPUBLIKA.CO.ID, Ahl artinya famili, keluarga, dan penghuni. Bait artinya rumah. Ahlul Bait adalah anggota keluarga Nabi Muhammad SAW.
Secara harfiah Ahlul Bait berarti anggota keluarga, famili, kerabat, atau penghuni sebuah rumah. Bagi masyarakat Arab pra-Islam, kata ini digunakan untuk sebuah keluarga dari suatu suku.
Dalam Alquran ditemukan tiga kali ungkapan Ahlul Bait. Petama, dalam surat Hud ayat 73 yang membicarakan kisah Nabi Ibrahim AS. Kedua, dalam surat Qasash ayat 12 yang membicarakan kisah Nabi Musa AS. Ketiga, dalam surat Al-Ahzab ayat 33 yang berbicara tentang ketentuan terhadap istri-istri Nabi Muhammad SAW.
Terjadi perbedaan pendapat dalam menentukan siapa yang termasuk Ahlul Bait. Aliran salaf berpendapat bahwa yang termasuk Ahlul Bait adalah Nabi SAW, Ali bin Abi Thalib, Fatimah Az-Zahra, Hasan, Husein, dan istri-istri Nabi SAW.
Pendapat ini berdasarkan kepaa hadits dari Ummu Salamah—salah seorang istri Nabi SAW—yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi, Ibnu Jarir, Ibnu Mundzir, Al-Hakim, Ibnu Mardawaih, dan Al-Baihaqi.
Dalam riwayat ini dikatakan bahwa ayat Ahlul Bait (QS. Al-Ahzab: 33) turun di rumah Ummu Salamah. Ketika itu di dalam rumah ada Ummu Salamah, Fatimah Az-Zahra, Ali bin Abi Thalib, Hasan dan Husein. Lalu Rasulullah memuliakan mereka dengan pakaian yang ada padanya sambil berkata, "Mereka adalah Ahlul Baitku."
Dalam hadits dari Ummu Salamah yang lain dikatakan bahwa ketika turun ayat 33 dari surat Al-Ahzab tersebut, di rumahnya ada tujuh orang, yaitu Jibril, Mikail, Ali bin Abi Thalib, Fatimah Az-Zahra, Hasan, Husein, dan Ummu Salamah sendiri.
Lalu Ummu Salamah bertanya, "Apakah aku tidak termasuk Ahlul Bait?" Nabi SAW menjawab, "Engkau adalah orang yang baik dan engkau adalah istriku."
Jawaban Rasulullah SAW ini menunjukkan bahwa istrinya tidak termasuk Ahlul Bait. Bagi golongan salaf, hadits Ummu Salamah yang kedua ini tidak berarti mengeluarkan istri-istri Nabi SAW dari Ahlul Bait, karena ketika Ummu Salamah bertanya tentang statusnya, Nabi SAW menjawab, "Engkau adalah orang yang baik dan istriku."
Banyak sekali riwayat yang menyatakan tentang keistimewaan keluarga Nabi SAW, dan keistimewaan yang diberikan itu pun bermacam-acam. Namun, hadits-hadist tersebut tidak menyebutkan keistimewaan Ahlul Bait dalam pengertian yang sangat luas seperti dikemukakan terdahulu. Hadits-hadits tersebut hanya membatasi Ahlul Bait pada individu tertentu, terutama Ali bin Abi Thalib, Fatimah Az-Zahra, Hasan, dan Husein.
Rasulullah mengatakan Ahlul Bait itu merupakan suatu peninggalan yang sangat berharga, sehingga menyebut Ahlul Bait disejajarkan dengan menyebut Kitabullah, dan umat Islam bahkan disuruh berpegang teguh kepada keduanya (HR. Muslim). Ahlul Bait dan Kitabullah ini diistilahkan oleh Nabi SAW dengan Ats-Tsaqalain (dua yang berat) dan haditsnya disebut dengan hadits Ats-Tsaqalain.

Paus Ingin Ungkap Rahasia Injil Kuno Berusia 1500 Tahun

REPUBLIKA.CO.ID, VATIKAN - Paus Benediktus XVI telah membuat permintaan untuk mengungkap rahasia Alkitab kuno berusia 1500 tahun. Permintaan resmi itu telah disampaikan Vatikan kepada pemerintah Turki, senin (27/2).
Vatikan ingin mengungkap kontroversi Injil ini dengan ajaran dan dogma Kriten juga dibanding injil lain. Menteri Budaya dan Pariwisata Turki, Ertugrul Gunay telah mengkonfirmasi permintaan Vatikan ini.
Injil yang ditulis dengan tinta emas ini menggunakan bahasa Aramik, bahasa yang dipercayai digunakan Yesus. Alkitab berusia 1.500 tahun tersebut diduga, adalah Injil Barnabas dan bernilai lebih dari 20 juta dolar AS.
Pemerintah Turki telah menyembunyikan injil ini selama 12 tahun terkahir. Buku itu ditemukan oleh polisi Turki dalam operasi anti-penyelundupan pada tahun 2000 dan terus dijaga selama 10 tahun.
Alkitab ini jauh berbeda dengan empat injil utama Kristen, Markus, Matius, Lukas dan Yohanes. Hal itu dikarenakan, Alkitab ini berisi prediksi kedatangan seorang nabi setelah Isa (Yesus). Dan dianggap inilah ajaran versi asli Injil.
Selain itu, adalah versi yang lebih konsisten dengan keyakinan Islam dari Kristen. Alkitab ini menolak dogma Tritunggal dan Penyaliban. Hal ini juga menggambarkan Yesus menolak Mesias dan mengklaim penerusnya berasal dari keturuan Ismael (Arab).
Pendeta Protestan, Ihsan Oznek membantah keaslian isi  Alkitab ini, Dia mengatakan bahwa St. Barnabas hidup pada abad pertama dan merupakan salah satu rasul Yesus, yang berbeda dengan versi Injil ini yang berasal dari abad kelima. Namun menurut, Profesor Teologi, Omer Faruk Harman untuk membuktikan keaslian dan umur dari Alkitab ini adalah dibuktikan dengan scan secara ilmiah.

Kontroversi Injil Kuno yang Mengabarkan Kedatangan Nabi Muhammad

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON – Penemuan Injil kuno yang memprediksi kedatangan Nabi Muhammad telah memunculkan kontroversi, terutama yang terkait dengan kesamaannya dengan Alquran maupun kontroversi seputar keasliannya.
Menurut Laman Al-Arabiya, meskipun spekulasi tentang kitab kuno yang diduga sebagai Injil Barnabas itu meramalkan kedatangan Islam, namun sejauh ini tidak ada bukti yang menegaskan hipotesis tersebut.
Walau Injil Barnabas "mengakui" kedatangan Islam dan Nabi Muhammad SAW, namun skeptisisme tetap muncul karena kontradiksinya dengan Alquran. "Sebab, sebagian besar studi tentang kitab ini menyatakan Injil Barnabas hanya kembali ke 500 tahun yang lalu. Sementara, Alquran telah ada sejak 1400 tahun silam," demikian tulis Al-Arabiya, Senin (27/2).
Adanya kontradiksi inilah yang menjadi alasan utama mengapa para sarjana Arab mengabaikan terjemahan bahasa Arab Injil tersebut, yang diterbitkan 100 tahun lalu. Sebagaimana diulas secara rinci oleh penulis dan pemikir Mesir, Abbas Mahmoud Al-Akkad.
Dalam sebuah analisis yang ditulisnya pada 26 Oktober 1959 di surat kabar Al-Akhbar, Akkad mengatakan deskripsi neraka dalam Injil Barnabas didasarkan pada informasi yang relatif baru yang tidak tersedia pada saat di mana teks itu seharusnya ditulis. "Sejumlah deskripsi yang tertulis dalam Injil itu merupakan kutipan orang-orang Eropa dari sumber-sumber Arab," ungkapnya.
Akkad menambahkan, kisah Injil Barnabas tentang bagaimana Yesus mengabarkan tentang munculnya Nabi Muhammad kepada kerumunan ribuan pengikutnya amat sulit dipercaya. Injil ini, kata dia, mengandung beberapa kesalahan yang begitu vulgar, baik bagi Yahudi, Kristen, maupun Muslim.
Misalnya, sambung Akkad, kitab itu mengatakan ada sembilan lapis langit dan yang kesepuluh adalah surga. Sementara dalam Alquran hanya ada tujuh lapis langit. Juga klaim Injil yang menyatakan perawan Maria tidak merasakan sakit saat melahirkan Yesus. Padahal, dalam Alquran disebutkan Maryam menderita kesakitan saat melahirkan putranya.
Menurut Injil (Barnabas), Yesus mengatakan kepada imam Yahudi bahwa dirinya bukan Mesiah dan Mesiah sesungguhnya adalah Muhammad SAW. "Ini berarti ada penolakan atas keberadaan Mesiah, yang tak lain adalah Yesus sendiri. Dengan demikian, seolah-olah Yesus dan Muhammad tampak seperti satu orang yang sama," kata Akkad.
Kitab Injil ini juga berisi informasi yang tidak memiliki kredibilitas sejarah, seperti adanya tiga tentara—masing-masing terdiri dari 200.000 tentara—di Palestina. Sedangkan seluruh penduduk Palestina sekitar 2.000 tahun lalu, tidak mencapai 200.000. Tragisnya, Palestina saat itu diduduki oleh Romawi, dan tak mungkin diizinkan memiliki bala tentara sendiri.
Demikian pula, lanjut Akkad, kalimat terakhir dalam Bab 217 yang menyatakan bahwa tubuh Yesus dibebani 100 pon batu. "Ini menegaskan bahwa Injil tersebut ditulis baru-baru ini, karena penggunaan pon sebagai satuan berat untuk pertama kali dilakukan oleh Dinasti Ottoman, dalam sebuah eksperimen dengan Italia dan Spanyol. Dan kata-kata "pon" tidak pernah dikenal pada masa Yesus.
Menurut Akkad, salah satu fakta paling mencolok yang disebutkan dalam Injil Barnabas terdapat dalam Bab 53, yang mengatakan bahwa pada Hari Kiamat bulan akan berubah menjadi balok darah. Dan pada hari kedua, darah ini akan menetes ke bumi seperti embun. Kemudian pada hari ketiga, bintang-bintang akan bertempur laksana serdadu perang.
"Berdasarkan sejumlah penelitian, Injil Barnabas ditulis pada Abad Pertengahan oleh seorang Yahudi Eropa yang cukup akrab dengan Alquran dan Injil. Dia kemudian mencampur-adukkan fakta dan opini dari berbagai sumber, tanpa diketahui motif dan tendensinya," tandas Akkad.

Tragedi WTC Justru Buat Islam Berkembang Pesat



REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA - Dosen Universitas Paramadina Jakarta Doktor Syafiq Assegaf menegaskan bahwa tragedi serangan menara kembar WTC di AS pada 11 September 2001 justru mendorong Islam berkembang pesat di seantero dunia.
"Tragedi WTC justru membuat orang penasaran sehingga banyak orang yang mulai mencari Al Quran dan mempelajari Islam," katanya dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang digelar Yayasan At-Tathir di Graha Indrapura, Surabaya, Jumat (17/2).
Dalam acara yang juga dihadiri para habaib/ulama di Surabaya dan pembicara lain Dr. Umar Shihab (Jakarta) itu, dia menjelaskan bahwa perkembangan pesat Islam itu terlihat di Amerika dan sejumlah negara di Eropa. "Di Amerika sekarang, setiap tahun ada sekitar 20 ribu orang yang masuk Islam, sedangkan di Eropa juga sama. Awalnya, mereka penasaran dengan Islam yang dikait-kaitkan dengan terorisme, tapi akhirnya justru tertarik dengan Islam," katanya.
Menurut dia, perkembangan yang menggembirakan itu menunjukkan sepak terjang Nabi Muhammad SAW itu tidak hanya dikagumi orang Islam yang suka menggelar Maulid Nabi, namun non-Muslim juga banyak, termasuk cendekiawan Barat.
"Karena itu, saya heran, kenapa banyak orang Islam yang menyatakan Maulid Nabi itu bid'ah dan syirik, padahal banyak non-Muslim yang memuji Nabi Muhammad SAW. Saya yakin pujian kepada Rasulullah itu tulus, bukan kultus," katanya.
Ia mencontohkan mantan peneliti NASA Michael Hart yang jatuh cinta kepada Nabi Muhammad SAW sehingga dia menempatkan Rasulullah dalam peringkat pertama dalam buku "100 Orang Berpengaruh di Dunia".
"Michael Hart itu non-Muslim, tapi dia menempatkan Nabi Muhammad SAW pada peringkat pertama, lalu posisi kedua ditempati Isaac Newton dan posisi ketiga adalah Yesus Kristus. Ada juga Jenghis Khan, Mahatma Gandhi, Karl Marx, Aristoteles, Buddha Gautama, dan sebagainya," katanya.
Alasan yang digunakan Michael Hart juga bukan kultus, namun Muhammad SAW merupakan peletak dasar prinsip Islam sekaligus penyebar ajarannya, Muhammad SAW merupakan pemimpin agama sekaligus pemimpin masyarakat (duniawi), dan Muhammad SAW muncul di wilayah tidak berbudaya dengan membangun budaya.
"Oleh karena itu, jejak ajaran dan pengaruhnya mendunia dan masih ada dari dulu hingga sekarang, bahkan Islam sekarang meluas hingga ke Eropa dan Afrika," katanya.
Selain Michael Hart, kata dia, pemimpin dunia Mahatma Gandhi juga mengagumi Muhammad SAW. "Saya sudah tahu, karena itu saya percaya Islam tidak disebarkan dengan perang, tapi Islam menyebar karena gaya hidup Muhammad yakni sederhana, menghindari pujian, dan totalitas kepada Tuhan," katanya.

Menhan:Ayo Teladani Ajaran Nabi Muhammad saw

 
REPUBLIKA.CO.ID, PEKANBARU - Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengajak rakyat Indonesia meneladani ajaran Nabi Muhammad SAW dan mentransformasikannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
"Apa yang sudah dilakukan Rasulullah yang telah membebaskan umatnya dari masa Jahiliyah (Kebodohan -Red) bisa dijadikan acuan untuk menyikapi kondisi Indonesia saat ini," kata Menteri Purnomo Yusgiantoro, pada puncak peringatan Maulid Nabi di Gedung Kanzus Sholawat Kota Pekalongan, Rabu (22/2).
Menurut Menhan, apa yang telah dilakukan Nabi Muhammad SAW pada masa hidupnya yang tidak pernah pantang menyerah harus perlu dicontoh oleh rakyat Indonesia.
"Semangat perjuangan yang dilandasi ketaqwaan kepada Allah SWT yang dilakukan Rosulullah, adalah sebuah hal yang patut dicontoh," katanya dihadapan ribuan pengunjung Maulud Nabi.
Ia mengatakan, untuk mengatasi berbagai kesulitan, rakyat perlu menanamkan nilai perjuangan dan rela berkorban dengan dilandasi keimanan dan ketaqwaan terhadap Allah SWT.
"Oleh karena itu, melalui kegiatan peringatan Maulid Nabi, mari kita jadikan sarana untuk memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa, dan menggunakannya sebagai sarana motivasi dan evaluasi memperkuat rasa cinta pada NKRI," katanya.
Rais Aam Jam'iyah Ahlit Thariqah Al Mu'tabaroh An Nahdliyah, Habib Lutfhi bin Yahya meminta umat mewaspadai perpecahan yang berusaha dilakukan oleh negara-negara barat.
"Telah disampaikan oleh Rasulullah, nanti pada akhir zaman akan muncul salah satu dari keturunan Nabi Muhammad yang akan mempersatukan semuanya," katanya.
Ia berharap pada semua tidak takut dengan pandangan sebagian pihak yang menyatakan bahwa menyelenggarakan Maulid Nabi adalah suatu bid'ah.
"Pada zaman Nabi, saat itu juga tidak ada dikumandangkan lagu Indonesia Raya. Jadi, apakah menyanyikan lagu Indonesia Raya juga bid'ah? Kalau begitu, berarti ia bukan orang Indonesia," kata ulama yang selalu menggelorakan nasionalisme dan cinta tanah air itu.
Ia menambahkan, dengan adanya peringatan Maulid Nabi maka umat akan tahu sejarah Nabi Muhammad SAW. "Kalau tidak ada maulid, bagaimana kita tahu tentang sejarah Nabi," katanya.

Jumat, 24 Februari 2012

Alquran Dibakar, Ribuan Warga Afghanistan: Matilah Amerika!

REPUBLIKA.CO.ID, KABUL - Ribuan pengunjuk rasa warga Afghanistan kembali turun ke jalan, Rabu (22/2), memprotes tindakan pelecehan agama oleh tentara Amerika Serikat (AS). Aksi unjuk rasa hari kedua menuntut dihukum beratnya tentara AS yang membakar Alquran. Para pengunjuk rasa mengekspresikan kemarahan sambil berteriak, 'Matilah Amerika'.
Para pengunjuk rasa berkonvoi dan melempari pasukan keamanan termasuk polisi. Aparat pun melepaskan tembakan ke udara untuk menenangkan pengunjuk rasa. Melihat aparat yang melepaskan tembakan, para pengunjuk rasa terus mengutuk AS dan Presiden Afganistan yang dianggap sebagai boneka AS.
"Matilah Amerika, Matilah Karzai," teriak perunjuk rasa dalam aksi yang terus menyebar di pinggiran kota Kabul. Sementara itu, pengunjuk rasa lain juga digelar di timur Afganistan, Jalalabad.
Pada Selasa, (21/2), lebih dari 2.000 warga Afghanistan berkumpul dan mengepung pangkalan udara AS di Bagram. Aksi protes ini meminta agar AS dan NATO menghukum keras bagi tentara mereka yang dengan sengaja membakar salinan Quran dan membuangnya di tempat sampah. Walaupun seketika itu, permintaan maaf muncul dari Gedung Putih rumah dan Pemimpin NATO.

Kamis, 16 Februari 2012

Ensiklopedi Akhlak Nabi SAW: Akhlak Nabi adalah Alquran



REPUBLIKA.CO.ID, Jiwa Rasulullah SAW merangkum banyak akhlak mulia, seperti sifat malu, mulia, berani, menetapi janji, ringan tangan, cerdas, ramah, sabar, memuliakan anak yatim, berperangai baik, jujur, pandai menjaga diri, senang menyucikan diri, dan berjiwa bersih.
Ibnu Qayyim menyatakan bahwa Nabi Muhammad SAW memadukan takwa kepada Allah dan sifat-sifat luhur. Takwa kepada Allah SWT dapat memperbaiki hubungan antara seorang hamba dan Tuhannya, sedangkan akhlak mulia dapat memperbaiki hubungannya dengan sesama makhluk Allah SWT. Jadi, takwa kepada Allah SWT akan melahirkan cinta seseorang kepada-Nya dan akhlak mulia dapat menarik cinta manusia kepadanya.
Hisyam bin Amir pernah bertanya kepada Aisyah RA tentang akhlak Rasulullah SAW. Aisyah menjawab, "Akhlak Nabi SAW adalah Alquran." (HR Muslim).
Sungguh, jawaban Aisyah ini singkat, namun sarat makna. Ia menyifati Rasulullah SAW dengan satu sifat yang dapat mewakili seluruh sifat yang ada. Memang tepat, akhlak Nabi SAW adalah Alquran.
Allah SWT berfirman, "...Alquran ini memberi petunjuk ke (jalan) yang paling lurus..." (QS. Al-Israa': 9).
"(Yang) memberi petunjuk kepada (jalan) yang paling lurus..." (QS. Al-Jinn: 2).
Akhlak beliau adalah Alquran; kitab suci umat yang disifati dengan firman Allah, "...tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa." (QS. Al-Baqarah: 2).
Pada masa permulaan dakwah Islam, Nabi Muhammad SAW tidak hanya membangun sisi tauhid, tetapi juga membangun sendi dan pilar akhlak mulia. Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, "Sungguh, aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia." (HR. Baihaqi dan Al-Hakim).
Anas RA berkata, "Sungguh, Rasulullah SAW benar-benar manusia dengan akhlak paling mulia. (HR Bukhari-Muslim).
Anas juga berkata, "Selama sepuluh tahun aku berkhidmat kepada beliau (Rasulullah), aku tidak pernah mendengar beliau mengucapkan kata "Ah", sebagaimana beliau tidak pernah mempertanyakan apa yang kau kerjakan, 'Kenapa kamu mengerjakan ini? atau 'Bukankah seharusnya kamu mengerjakan seperti ini?" (HR Bukhari-Muslim).

Ummu Mihjan: Miskin Harta, Kaya Amal



REPUBLIKA.CO.ID, Bagi sebagian orang di zamannya, barangkali Ummu Mihjan hanyalah wanita miskin dan lemah. Keinginannya yang kuat untuk berbuat yang terbaik bagi Agama Allah SWT membuatnya mendapat tempat dan perhatian terhormat di hati Rasulullah SAW.
Muslimah tua berkulit hitam itu membaktikan sisa hidupnya untuk Islam. Ia selalu mendapat perhatian dari Rasulullah. Terlebih, Nabi Muhammad SAW  biasa menyambangi orang-orang miskin, menanyakan kabar dan memberi makan kepada mereka.
Dalam kondisi hidupnya yang serba terbatas, Ummu Mihjan masih menyadari bahwa dirinya memiliki kewajiban akidah dan berbuat yang terbaik bagi masyarakat. Namun, ia juga menyadari tak mampu menyumbangkan harta bagi agama yang dicintainya.
Semangat untuk mengabdikan diri bagi Islam terus menggelora dalam kalbunya. Ia adalah wanita miskin dengan kekayaan hati dan akidah yang kokoh. Ummu Mihjan tak mau pesimistis dan putus asa dengan keadaannya. Ia mengimani ajaran Islam yang melarang umatnya menyimpan dan menanam sifat putus asa dalam hatinya.
Lalu apa yang bisa dia perbuat untuk Islam dengan kemiskinannya? Ummu Mihjan miskin, tapi cerdas. Ia mampu memanfaatkan celah-celah ladang amal yang seringkali diabaikan orang. Sang Muslimah yang lemah itu tetap yakin bisa meraih surga Illahi dengan kemampuan yang dimilikinya.
Ia mengabdikan dirinya untuk Islam dengan cara menjaga kebersihan tempat shalat kaum Muslim. Setiap hari, ia membersihkan lingkungan masjid, menyapunya, dan membuang sampah serta kotoran yang berserakan di masjid.
Ummu Mihjan tahu benar bahwa masjid memiliki peranan vital bagi umat Islam. Masjid adalah tempat shalat lima waktu dan madrasah yang telah telah menghasilkan banyak ulama dan para pahlawan islam. Di dalamnya, parlemen Islam berkumpul lima kali setiap harinya untuk mengadakan musyawarah, bertukar fikiran, dan mempererat tali kasih sayang di antara mereka.
Masjid bagi umat Islam, kala itu,  layaknya sebuah lembaga pendidikan yang mengajarkan dasar-dasar pembinaan umat.  Kesadaran inilah yang membuat Ummu Mihjan tidak merasa rendah diri dengan apa yang dilakukannya. Ia sadar bahwa inilah amal yang akan mengantarkannya menuju Fidaus.
Ummu Mihjan tak pernah meremehkan dan melalaikan tugasnya  membersihkan sampah dan kotoran. Hal itu dilakukannya agar beliau dapat memberikan suasana yang segar dan nyaman kepada Rasulullah dan para sahabat dalam melangsungkan muktamar tingkat tinggi yang rutin dilaksanakan itu.
Ia menunaikan tugas mulianya itu hingga akhir hayatnya. Ummu Mihjan meninggal saat hari sudah larut malam. Para sahabat kemudian membawa jenazahnya kepada Rasulullah, namun pada waktu itu para shahabat mendapati beliau sudah tidur.
Para sahabat tidak mau mengganggu tidur Rasulullah. Akhirnya,  mereka menshalatkan dan memakamkan jenazah Ummu Mihjan di pemakaman Baqi’ tanpa disertai Rasulullah SAW.
Pagi harinya, Rasulullah merasa kehilangan dan menanyakan keberadaan Ummu Mihjan kepada para sahabat. Mereka berkata, ‘’Kami telah memakamkannya, wahai Rasulullah. Sungguh, semalam kami telah mendatangi Engkau, namun kami mendapati Engkau sudah tertidur, sehingga kami tidak mau mengganggu tidurmu.’’
Rasul bersabda,  ‘’Berangkatlah kalian (ke kuburnya).’’ Rasulullah pun lalu berjalan bersama para shahabat sampai ke makam Ummu Mihjan. Sesampainya di sana, Rasulullah lalu berdiri dan para shahabat pun berbaris di belakang beliau. Beliau lalu menshalatkannya dengan empat kali takbir.
Selesai shalat beliau bersabda, ‘’Pekuburan ini penuh dengan kegelapan yang menimpa para penghuninya dan Allah menerangi mereka berkat shalatku.’’
Semoga Allah mencurahkan rahmatNya kepada Ummu Mihjah, seorang wanita tua yang miskin dan lemah, namun selalu berusaha mempersembahkan yang terbaik bagi Islam sekuat tenaganya. Ia merupakan pelajaran bagi kaum Muslim sepanjang masa agar tidak menganggap remeh suatu kebajikan walaupun sedikit.
Dialah wanita yang selama hidupnya dan sesudah kematiannya mendapat perhatian Rasulullah SAW.  Wahai kaum wanita… janganlah kalian menganggap remeh suatu kebaikan walaupun sedikit. Jangan pernah berkecil hati dan merasa bahwa kalian adalah orang yang lemah dan tak sanggup memberikan kontribusi apa pun dalam membangun tata kehidupan masyarakat Islam. Becerminlah kepada keteladanan Ummu Mihjan.