Kamis, 14 Agustus 2014

Islam Agama Kasih Sayang

Islam Agama Kasih Sayang

Bookmark and Share
Siapa bilang Islam identik dengan teroris? bahkan banyak orang yang mengaitkan simbol-simbol islam dengan aksi terorisme; sebut saja jilbab dalam, apalagi jilbab dnan cadar, baju gamis sampai bawah lutut, jenggot, celana diatas mata kaki, dan lain-lainnya.
berikut khutbah tentang Islam Agama Kasih Sayang

Khotbah Jumat: Islam Agama Kasih Sayang
MAY 27, 12
KHUTBAH PERTAMA:
إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ”.
“يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً”.
“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً”.
أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ.
Jama’ah Jum’at rahimakumullah…
Mari kita tingkatkan ketaqwaan kepada Allah ta’ala dengan ketaqwaan yang sebenar-benarnya; yaitu mengamalkan apa yang diperintahkan oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam serta menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam.
Jama’ah Jum’at yang semoga dimuliakan Allah…
Salah satu karakter menonjol syariat Islam, adalah agama kita datang dengan membawa dan menjunjung tinggi kasih sayang. Begitu banyak nas dari al-Qur’an maupun Sunnah yang menjelaskan hal itu. Di antaranya:
Firman Allah ta’ala,
“وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلاَّ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ“
Artinya: “Kami tidaklah mengutusmu (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat (kasih sayang) bagi seluruh alam”. QS. Al-Anbiya’: 107.
Juga sabda Nabi-Nya shallallahu’alaihiwasallam,
“الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمْ الرَّحْمَنُ، ارْحَمُوا مَنْ فِي الْأَرْضِ؛ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ”
“Orang-orang yang penyayang akan disayangi Allah Yang Maha Penyayang. Sayangilah siapa yang ada di atas muka bumi, niscaya kalian akan disayangi oleh siapa yang ada di langit”. HR. Tirmidzi dari Abdullah bin ‘Amr dan dinilai hasan sahih oleh Tirmidzy.
Jama’ah Jum’at yang kami hormati…
Dalam mengajarkan kasih sayang, Islam tidak cukup hanya dengan memaparkan konsep global, namun juga menjabarkannya secara terperinci. Menyebutkan potret-potretnya secara detil dan menggambarkan dengan begitu jelas praktek nyatanya dalam kehidupan sehari-hari.
Mulai dari orang terdekat, yakni anak dan istri, hingga manusia terjauh baik dari sisi kekerabatan maupun agama, semuanya berhak mendapat kasih sayang sesuai dengan porsi dan aturan yang telah digariskan agama. Tidak cukup hanya para manusia yang perlu disayangi, makhluk lain, semisal binatang dan tetumbuhan pun mendapatkan jatah kasih sayang, jauh hari sebelum orang-orang barat mengkampanyekan kasih sayang terhadap binatang atau mencanangkan program green life.
Mengenai kasih sayang terhadap anak, kiranya kisah yang terjadi di zaman nubuwwah berikut bisa sedikit menggambarkannya. Abu Hurairah radhiyallahu’anhu bertutur,
“قَبَّلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْحَسَنَ بْنَ عَلِيٍّ وَعِنْدَهُ الْأَقْرَعُ بْنُ حَابِسٍ التَّمِيمِيُّ جَالِسًا. فَقَالَ الْأَقْرَعُ: “إِنَّ لِي عَشَرَةً مِنْ الْوَلَدِ مَا قَبَّلْتُ مِنْهُمْ أَحَدًا”. فَنَظَرَ إِلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَالَ: “مَنْ لَا يَرْحَمُ لَا يُرْحَمُ”
“Suatu saat Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam mencium (cucu beliau) al-Hasan bin ‘Ali dan saat itu ada al-Aqra’ bin Hâbis at-Tamimy duduk di samping beliau. Serta merta al-Aqra’ berkomentar, “Aku memiliki sepuluh anak, sungguh tidak pernah satupun di antara mereka yang kucium”. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihiwasallam pun memandangnya seraya berkata, “Barang siapa tidak mengasihi maka ia tidak akan dikasihi!”. HR. Bukhari dan Muslim.
Kaum muslimin dan muslimat yang semoga dirahmati Allah…
Untuk memotivasi sifat saling menyayangi sesama muslim, selain dengan menjelaskan hak dan kewajiban di antara mereka, Nabi kita Muhammad shallallahu’alaihiwasallam juga membuat sebuah perumpamaan yang sangat indah, tentang bagaimana seharusnya kaum muslimin berkasih sayang di antara mereka,
“مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ؛ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى”.
“Perumpamaan kaum mukminin dalam ukhuwah, kasih sayang dan kepedulian sesama mereka bagaikan satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuh sakit, maka seluruh bagian tubuh akan bersolidaritas dengan ikut begadang dan merasa sakit”. HR. Bukhari dan Muslim dari an-Nu’man bin Basyir radhiyallahu’anhu.
Bahkan Islam juga menerangkan jalan yang seharusnya ditempuh untuk mengantarkan kepada terciptanya kasih sayang tersebut. Di antaranya, dalam sabda Nabi shallallahu’alaihiwasallam,
“لَا تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا، وَلَا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا. أَوَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ؟ أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ”
“Kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman. Dan kalian tidak akan beriman hingga kalian saling mencintai. Maukah kalian kutunjukkan tentang sesuatu yang jika kalian praktekkan niscaya kalian akan saling mencintai? Tebarkanlah salam di antara kalian”. HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.
Para hadirin dan hadirat yang kami cintai…
Dalam menebarkan kasih sayang, Islam tidak hanya berhenti dalam wilayah sesama muslim saja, namun juga merambah hubungan dengan non muslim. Di antara potretnya yang paling jelas, Islam memotivasi mereka untuk masuk dan mengikuti agama kasih sayang; agama Islam, agar mereka bahagia di dunia dan selamat di akhirat. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,
“وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ، يَهُودِيٌّ وَلَا نَصْرَانِيٌّ، ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ؛ إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ”
“Demi Allah, tidaklah seorang pun dari umat ini, entah itu Yahudi atau Nasrani, yang mendengar tentang diriku, lalu ia mati dalam keadaan belum beriman dengan risalahku, melainkan ia akan menjadi penghuni neraka”. HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.
Andaikan mereka enggan masuk Islam dan tidak memerangi kaum muslimin, mereka tetap berhak untuk disikapi secara lahiriah dengan baik. Allah ta’ala menjelaskan,
“لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ، وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ، إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ”.
Artinya: “Allah tidak melarang kalian berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang (kafir) yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kalian dari kampung halaman. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil”. QS. Al-Mumtahanah: 8.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
Yang lebih menakjubkan lagi, agama kita tidak hanya memperhatikan kasih sayang sesama manusia, namun juga mengajarkan kasih sayang kepada penghuni bumi lainnya, yaitu binatang dan tetumbuhan.
Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu mengisahkan,
“كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ، فَانْطَلَقَ لِحَاجَتِهِ، فَرَأَيْنَا حُمَرَةً مَعَهَا فَرْخَانِ، فَأَخَذْنَا فَرْخَيْهَا، فَجَاءَتْ الْحُمَرَةُ فَجَعَلَتْ تَفْرِشُ. فَجَاءَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: “مَنْ فَجَعَ هَذِهِ بِوَلَدِهَا؟ رُدُّوا وَلَدَهَا إِلَيْهَا!” وَرَأَى قَرْيَةَ نَمْلٍ قَدْ حَرَّقْنَاهَا فَقَالَ: “مَنْ حَرَّقَ هَذِهِ؟” قُلْنَا: “نَحْنُ” قَالَ: “إِنَّهُ لَا يَنْبَغِي أَنْ يُعَذِّبَ بِالنَّارِ إِلَّا رَبُّ النَّارِ”
“Suatu hari kami bepergian beserta Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam. Di tengah perjalanan, beliau memisahkan diri untuk menunaikan hajat. Saat itu kami melihat induk burung bersama kedua anaknya yang masih kecil. Maka kami mengambil dua anak burung itu. Induk burung pun mengepak-epakkan sayapnya gelisah. Manakala Nabi shallallahu’alaihiwasallam datang beliau bertanya, “Siapa yang menyakiti burung ini (dengan mengambil) anaknya? Kembalikan anaknya kepada sang induk!”. Beliau juga melihat ada perkampungan sarang semut telah dibakar. Beliaupun berkata, “Siapa yang membakar ini?”. “Kami”. “Tidak pantas menyiksa dengan api kecuali Penguasa api” . HR. Abu Dawud dan isnadnya dinilai sahih oleh al-Hakim.
Tidak cukup hanya mengajarkan kasih sayang semasa hidup para hewan tersebut, bahkan Islam juga memerintahkan agar mempraktekkan kasih sayang, sampaipun di detik-detik akhir hidup para hewan tersebut, yakni manakala kita bermaksud untuk menyembelihnya.
Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,
“إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الْإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ، فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ، وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذَّبْحَ؛ وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ، فَلْيُرِحْ ذَبِيحَتَهُ”
“Sesungguhnya Allah mewajibkan perbuatan baik dalam segala sesuatu. Jika kalian akan membunuh, bunuhlah dengan cara yang baik. Jika kalian akan menyembelih sembelihlah dengan cara yang baik, hendaklah kalian mengasah pisau kalian dan menenangkan hewan yang akan disembelihnya”. HR. Muslim dari Syaddad bin Aus radhiyallahu’anhu.
Jamaah Jum’at yang kami hormati …
Masih banyak potret lain yang menggambarkan betapa ajaran Islam sangatlah menjunjung kasih sayang. Kasih sayang kepada pelaku kesalahan terutama dari kalangan orang-orang yang terbatas ilmunya. Kasih sayang kepada tetumbuhan. Kasih sayang kepada orang tua dan kerabat. Kasih sayang kepada tetangga. Dan segudang contoh lainnya, yang tidak mungkin dipaparkan dalam kesempatan singkat ini. Semoga sedikit pemaparan di atas bisa menggambarkan pada kita betapa Islam benar-benar agama yang  mengutamakan kasih sayang dan memotivasi umatnya untuk mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari…
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِسُنَّةِ سَيِّدِ الْمُرْسَلِيْنَ، إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ.
KHUTBAH KEDUA:
الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْأَرْبَابِ، وَمُسَبِّبِ الْأَسْبَابِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ الْعَزِيْزُ الْوَهَّابُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، أَفْضَلُ مَنْ قَامَ بِالدَّعْوَةِ وَالْاِحْتِسَابِ، صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أُوْلِي الْبَصَائِرِ وَالْأَلْبَابِ، وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الْمَآبِ.
Jama’ah Jum’at rahimakumullah
Itulah sekelumit konsep kasih sayang dalam Islam. Namun demikian, di zaman kita ini, ada dua kubu yang bertolak belakang dalam menyikapi konsep tersebut.
Golongan pertama: yang kurang mempedulikan salah satu tujuan utama kedatangan Islam ke muka bumi itu.
Sedangkan golongan kedua: yang kebablasan dalam menerjemahkan kasih sayang.
Golongan pertama adalah mereka yang menampakkan Islam sebagai agama yang garang, galak dan gemar menumpahkan darah –tanpa aturan–. Setali tiga uang, ada pula yang menggambarkan pada umat bahwa seorang muslim yang berpegang teguh dengan ajaran Islam, haruslah bermuka sangar, bertutur kata pedas, tidak ramah, enggan menebarkan salam dan seabreg perilaku kurang simpatik lainnya.
Kebalikannya, golongan kedua, yakni orang-orang yang keliru dalam menafsirkan kasih sayang. Mereka menjadikan kasih sayang sebagai dalih untuk mempertahankan tradisi yang bertolak belakang dengan Islam. Tidak cukup sampai di situ, bahkan mereka melontarkan tuduhan miring kepada pihak yang berusaha mengembalikan umat kepada ajaran murni Rasulullahshallallahu’alaihiwasallam, sebagai kaum yang tidak peduli dengan prinsip kasih sayang.
Memang lembaran sejarah mengatakan, bahwa setiap kali muncul penyimpangan yang bernuansa ekstrim dan berlebihan, hampir bisa dipastikan akan muncul tandingannya berupa penyimpangan yang bernuansa bermudah-mudahan.
Adapun sikap yang benar adalah: sikap pertengahan di antara keduanya.
“وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا”
Artinya: “Demikian pula Kami telah menjadikan kalian (umat Islam) umat yang pertengahan”. QS. Al-Baqarah: 143.
Sekurang-kurangnya, seorang muslim tertuntut untuk bisa memadukan antara dua hal: tegas dalam berprinsip dan santun dalam bersikap. Tegas dalam berprinsip menggambarkan keteguhannya dalam berpegang dengan ajaran Islam yang benar. Sedangkan santun dalam bersikap dan keluwesan dalam bermu’amalah dengan siapapun –selama masih dalam koridor yang dibolehkan agama– merupakan penjabaran dari kasih sayang kepada sesama insan. Bahkan perilaku simpatik tersebut bisa dimanfaatkan sebagai sarana untuk mendakwahi orang-orang yang menyimpang dari garis lurus tuntunan Rasul shallallahu’alaihiwasallam.
Semoga Allah berkenan mengaruniakan taufik-Nya pada kita agar termasuk golongan pertengahan tersebut. Amien ya Mujibas sâ’ilin…
هذا؛ وصلوا وسلموا –رحكم الله– على الصادق الأمين؛ كما أمركم بذلك مولاكم رب العالمين، فقال سبحانه: “إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً”.
اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد, اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد.
ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرين
ربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف رحيم
ربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاب
ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار
وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين
وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين. أقيموا الصلاة…

Gugurnya Iman

Jumat, 02 Mei 2014, 13:03 WIB
Tauhid adalah mengesakan Allah. Oleh: KH Athian Ali Dai
Dalam pandangan Allah SWT, manusia itu pada dasarnya hanya terbagi kepada dua golongan, yakni Mukmin dan kafir. Hal tersebut telah ditegaskan-Nya di dalam Alquran. 

“Dan katakanlah: ‘Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir.’ Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka,” (QS al Kahfi [18]: 29).

Jika kemudian golongan Mukmin mempunyai beberapa tingkatan, seperti Muslim, Mukhlis, Muhsin, dan Muttaqin, maka golongan kafir pun demikian. Mereka memiliki banyak varian. Sebut saja mulhid (ateis), musyrik (penyekutu Allah), dan munafik (pura-pura beriman).

Lalu bagaimana halnya dengan orang yang hanya mengimani Allah pada sebagian urusan, sedangkan pada sebagaian urusan lainnya dia mengingkari-Nya? Dalam padangan Allah, orang semacam ini tetap masuk dalam golongan kafir.

Jadi, tidak ada istilahnya orang setengah Mukmin dan setengah kafir. Kalau tidak Mukmin, maka dia adalah kafir.

Pembaca tentu masih ingat kisah tentang Iblis. Siapa yang berani meragukan keimanan makhluk yang satu ini? Dia pernah berjumpa dan berdialog langsung dengan Allah SWT. Dia tahu betul Allah itu tidak mempunyai anak.

Dia juga mengakui Allah sebagai satu-satunya Tuhan yang layak disembah. Bahkan menurut Imam al-Ghazali, sebelum kemunculan Adam AS, Iblis sudah hidup dalam keimanan selama 80 ribu tahun.

Lalu mengapa Allah kemudian melaknat Iblis? Itu hanya karena dia menolak satu aturan Tuhan. Dia tidak mau mengakui kemuliaan yang diberikan Allah kepada Adam. Pada poin tersebut, Iblis menilai Allah telah salah menempatkan dirinya di bawah manusia.

Itulah yang menjadikan Iblis kafir di mata Allah. Meskipun dia tetap mengakui Allah sebagai Tuhan yang menciptakan alam semesta, namun keimanannya telah digugurkan oleh keangkuhannya. Kelak, ia kekal berada di neraka. Naudzublillaahi min dzaalik.

Kisah Iblis di atas secara jelas menunjukkan kepada kita bahwa mengimani Allah tidak boleh sepotong-sepotong. Seperti yang terjadi pada Ahmadiyah misalnya. Di satu sisi mereka percaya dengan keesaan Allah, namun di sisi lainnya mereka mengingkari ayat Allah yang menyatakan Muhammad SAW adalah nabi dan rasul terakhir.

Begitu pula halnya dengan kaum Syiah. Mereka mengaku beriman kepada Allah dan Nabi Muhammad. Namun, mereka justru mengingkari Alquran sebagai kitab suci yang kesuciannya selalu dijaga oleh Allah SWT.

Pengingkaran-pengingkaran semacam itu tentu saja secara otomatis telah menggugurkan keimanan mereka kepada Allah SWT. Tiket menuju surga yang seharusnya sudah mereka miliki (dengan bersyahadat), menjadi tidak berlaku lagi. Dengan kata lain, mereka berada di luar golongan orang-orang Mukmin.

 Para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasanya ketika saling berjumpa di hari Ied mereka mengucapkan: Taqabbalallahu Minna Wa Minka (Semoga Allah menerima amal ibadah saya dan amal ibadah Anda)(HR Imam Ahmad dalam Al Mughni (3/294))

Mengikuti Aturan Allah

Wednesday, 07 May 2014, 14:50 WIB
Shalat adalah salah satu bentuk ketaatan pada aturan Allah. Oleh: KH Athian Ali Dai
Pada tulisan sebelumnya telah dipaparkan bahwa mengimani Allah tidak boleh sepotong-sepotong. Karena itu, seseorang baru bisa dikatakan beriman jika dia telah menerima semua aturan Allah sebagai kebenaran mutlak, tanpa pengecualian.

Pada zaman dahulu, Bani Israil telah menyaksikan langsung tanda-tanda kebenaran Allah SWT. Salah satunya adalah dengan mencicipi lezatnya hidangan surga yang diturunkan Allah ke bumi untuk mereka.

Bahkan, mereka pernah pula diizinkan untuk mendengarkan suara Allah tatkala berfirman kepada Nabi Musa AS.

Akan tetapi apa yang terjadi dengan Bani Israil? Mereka tetap saja ingkar kepada Allah. "Kami hanya akan mengikuti aturan-aturan Allah selama hal itu sejalan dengan hawa nafsu kami. Sementara, jika aturan itu bertentangan dengan nafsu kami, maka kami tidak bisa menerimanya," begitu kata mereka kepada Nabi Musa AS.

Hal ini membuat Allah murka, sehingga turunlah QS Al Baqarah ayat 85. "Apakah kamu beriman kepada sebagian Alkitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat."

Penggalan ayat di atas secara tegas mengingatkan kepada kita bahwa mengimani Allah berarti menerima sepenuhnya aturan-aturan-Nya. Jika ada satu saja aturan Allah yang kita tolak kebenarannya, maka alamat kita telah keluar dari golongan orang-orang beriman. Naudzubillahi min dzalik.

Sebagai contoh, jika seorang Muslim yang meninggalkan shalat fardhu karena malas, tapi di dalam hati dan ucapannya tetap mengakui ibadah itu sebagai aturan yang benar, maka dia masih disebut orang yang beriman.

Kita tidak bisa menghukumnya sebagai orang kafir. Meskipun demikian, orang tersebut tentu saja akan menanggung dosa lantaran melanggar perintah Allah. Karena, sejatinya Muslim itu tidak boleh meninggalkan shalat.

Lain halnya dengan orang yang mengaku Muslim, tapi meninggalkan shalat fardhu karena menganggap perintah Allah itu tidak benar. Orang semacam ini sesungguhnya bukan bagian dari golongan Mukminin.

Begitu pula dengan mereka yang mengaku beriman, tapi secara terang-terangan malah menyangkal kebenaran aturan Allah yang terdapat di dalam Alquran dan Hadis. Orang-orang seperti ini jelas sesat dan menyesatkan.

Di Indonesia, jumlah kelompok pengusung paham menyimpang seperti mereka amatlah banyak jumlahnya. Karena itu, sebagai umat Muslim, kita mesti berhati-hati agar pemahaman mereka tidak merusak akidah kita.

Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.(QS At Taubah ( 9:20))

Hubbud Dunya

Tuesday, 03 June 2014, 14:33 WIB
Cinta dunia. Oleh: KH Athian Ali Dai
Salah satu hal yang paling dirisaukan oleh Rasulullah SAW adalah ketika umat Islam sudah terjebak ke dalam cinta berlebih-lebihan kepada dunia. Dalam kamus Islam, kondisi ini dikenal dengan istilah hubbud dunya atau gila dunia.

Hubbud dunya adalah sumber kehancuran umat. Penyakit ini sangat berbahaya karena dapat melemahkan dan menggerus keimanan seseorang kepada Allah SWT.

Rasulullah bersabda, “Demi Allah, bukan kemiskinan yang aku khawatirkan akan menimpa diri kalian. Akan tetapi, aku khawatir jika dunia ini dibentangkan untuk kalian sebagaimana ia dibentangkan untuk orang-orang sebelum kalian sehingga kalian berlomba sebagaimana mereka berlomba, dan akhirnya kalian hancur sebagaimana mereka hancur.” (HR Bukhari-Muslim)

Ketika seorang Muslim sudah menjadikan dunia ini sebagai tujuannya, maka itu alamat dia telah terjebak dalam hubbud dunya. Padahal, dalam prinsip akidah Mukmin, dunia ini bukanlah tujuan. Melainkan hanya alat untuk mencapai kebahagiaan di akhirat kelak.

Dalam Alquran Allah SWT berfirman, “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS al-Qashash: 77)

Ketika seseorang menjadikan dunia ini sebagai tujuan, maka cintanya kepada dunia akan melebihi cintanya kepada Allah. Dia bakal lalai mengingat Allah. Sebagai konsekuensinya, dia akan mudah tergelincir ke dalam pusaran dosa. Dia juga tidak siap menjalani hidup dengan cara-cara yang diridhai Allah.

Mungkin kita pernah mendengar ada orang yang sampai menghalalkan segala cara demi memperoleh kenikmatan duniawi. Mulai dari merampok, mencuri, membunuh, korupsi, atau juga mengejar jabatan tertentu lewat jalan yang dilaknat Allah.

Mengapa mereka mau melakukan semua perbuatan jahat itu? Itu karena mereka sudah terjebak ke dalam hubbud dunya, sehingga  mereka pun lupa akan adanya kehidupan setelah kematian. Mereka tidak ingat, setiap perbuatan mereka di alam fana ini akan dipertanggungjawabakan di akhirat kelak.

Orang-orang yang gila dunia juga tidak akan pernah siap menghadapi musibah. Jika mereka kehilangan harta sedikit saja, maka mereka akan menyesalinya sejadi-jadinya. Jika mereka gagal meraih sesuatu, maka mereka akan menjadi stres atau bahkan sakit jiwa.

Yang lebih berbahaya lagi, mereka yang begitu mencintai dunia juga akan mudah goyah imannya. Mereka bahkan tak segan-segan lagi menjual agama demi memenuhi hawa nafsu bejat mereka.

Sebagai seorang Mukmin, apa yang mesti kita lakukan agar terhindar dari penyakit ini? Tentunya kita harus senantiasa memantapkan akidah. Salah satunya adalah dengan memperbanyak mengingat kematian. Orang yang rajin mengingat mati, insya Allah akan mampu memelihara hatinya dari hubbud dunya.

Barang siapa yang memerhatikan kepentingan saudaranya, maka Allah akan memperhatikan kepentingannya. Dan barangsiapa yang menutupi kejelekan orang lain maka Allah akan menutupi kejelekannya di hari kiamat. ((HR Bukhari-Muslim))

12 Prinsip Ajaran Islam di Alquran

Minggu, 03 November 2013, 16:26 WIB

Seorang bocah belajar membaca Alquran (ilustrasi)REPUBLIKA.CO.ID, DENPASAR -- Dalam memahami ajaran Islam, ada 12 prinsip yang bisa ditemukan dalam Al Quran. Hal itu diungkapkan Guru besar Universitas Islam Negeri (UIN) Malang, Prof Dr Ir H Ika Rochdjatun Sastrahidayat di Denpasar, Bali, Ahad (2/11)

Pertama, menurut dia, adalah prinsip tauhid atau monoteisme. Semua ciptaan Allah, sebutnya, merupakan suatu sistem dan satu kesatuan. Kalau Ciptaan Allah dikaji secara saintifik, antara satu ciptaan dengan yang lainnya tidak akan bertabrakan, seperti halnya bumi dengan planet lainnya.
Kedua adalah prinsip peribadatannya yang indah, dinamis dan natural. "Selama kita beribadah sesuai dengan yang dicontohkan Nabi, itu sangat natural, sangat sesuai dengan kebuthan dan kmampuan manusia," katanya.

Ika menggaris bahwahi prinsip kedua dalam Islam, yang di negara sekuler sudah mulai diubah-ubah. Di Inggris, sebut Ika, ada masjid yang imam sholatnya adalah perempuan. Mereka menggunakan isu gender untuk mengubah sunnah Rasul dan hal itu tidak sesuai dengan sunnah, tidak natural lagi.
Prinsip ketiga adalah muamalat, yang dalam Islam diatur sangat detil dan sesuai dengan dinaika, seperti halnya soal zakat atau faraid (waris).

Prinsip keempat kata Ika, prinsip penggunaan akal. Disini lah kata Ika kelemahan umat Islam. Padahal sebagai homo sapiens manusia diberikan kelebihan akal, untuk menganalisa, karena Islam bukan dogma, tetapi agama yang rasional.

Kelemahan umat Islam lainnya adalah pada prinsip kelima, yakni prinsip sistem nilai atau akhlaqul karimah. Islam juga menganut prinsip persaudaraan (brotherood), prinsip keenam, kebersihan jiwa dan raga, prinsip ketujuh, Alquran sebagai software atau informasi dari langit yang dahsyat.

Prinsip kesembilan adalah prinsip bermasyarakat, prinsip kesepuluh membela kebenaran tanpa melihat warna kulit. Prinsip kesebelas adalah prinsip berkelanjutan dan tidak boleh berhenti dan prinsip keduabelas adalah prinsip berserah diri kepada Allah SWT.

 Siapa yang mengambil hak orang lain walau sejengkal tanah akan dikalungkan hingga tujuh petala bumi(HR Bukhori-Muslim)

Selasa, 12 Agustus 2014

Pertemanan Abadi

Jumat, 08 Agustus 2014, 16:12 WIB
Teman itu ada dua macam, yaitu teman baik dan teman buruk. Oleh: A Ilyas Ismail
Sebagai makhluk sosial, manusia tidak pernah lepas dari teman atau pertemanan, baik teman pada masa kecil dulu, teman pada waktu sekolah, ataupun teman dalam bisnis dan dalam perjuangan di jalan Allah SWT. Pertemanan adalah kecenderungan dasar manusia. Maka, sejatinya tak ada hidup tanpa pertemanan.

Dampak baik dan buruk pertemanan tak diragukan lagi, baik dilihat dari perspektif agama maupun dari ilmu pengetahuan. Dalam adagium Arab malah  ada ungkapan “Al-Nas ala dini ash-habihim” (manusia mengikuti agama temannya). Jadi, yang penting bukan soal pertemanannya, tetapi dengan siapa seseorang berteman atau menjalin pertemanan.

Seperti dimaklumi, teman itu ada dua macam, yaitu teman baik dan teman buruk. Rasulullah SAW mengumpamakan teman baik seperti penjual minyak wangi. Ia suka mengoleskan minyak wangi ke baju kita atau kita membelinya, atau setidak-tidaknya, kita mengendus aroma wanginya.

Sedangkan, teman yang buruk diumpamakan seperti tukang pandai besi. Kalau dekat-dekat, baju kita bisa terbakar atau paling tidak kita mengendus baunya yang tak enak. (HR Muslim dari Abu Musa).

Tak heran bila orang tua, para guru, dan orang-orang saleh, selalu memberi nasihat agar kita jangan sampai keliru dalam memilih teman atau membangun koalisi pertemanan.  Sebab, akibatnya bisa sangat fatal, yaitu kerugian dan kegagalan, lahir dan batin, dunia dan akhirat.

Penulis kitab Al-Hikam, Ibn Athaillah al-Sakandari, memberi nasihat soal pertemanan ini. Katanya, “Jangan pernah kamu berteman dengan orang yang sikap dan perkataannya tidak membimbingmu lebih dekat kepada Allah SWT.”

Ada dua kriteria yang ditekankan al-Sakandari, yaitu Hal (sikap mental) dan Maqal (kata-kata/perilaku). Term Hal menunjuk pada kondisi jiwa yang berisi keimanan, ibadah, dan kepatuhan kepada Allah SWT.

Dalam bahasa modern, Hal itu dinamai “kekuatan spiritual”. Ia diam, tidak berkata-kata (shamitah), tetapi pengaruhnya sangat dahsyat, menginspirasi, menggugah, dan mendorong orang lain pada kemuliaan dan kemenangan.

Sementara, term Maqal menunjuk pada perilaku dan keluhuran budi pekerti. Maqal adalah kecerdasan moral. Ia mengajak orang lain kepada yang baik (al-amr bi al-ma`ruf) dan mencegahnya dari kejahatan (al-nahyu an al-munkar) dengan cara-cara yang terhormat disertai sikap pantang kompromi dengan kebatilan.

Bagi al-Sakandari, hanya orang dengan dua kriteria di atas, layak dijadikan sebagai teman. Dialah teman abadi. Lain tidak! Lantas, siapa mereka? Mereka tak lain adalah orang-orang yang memperoleh petunjuk dan anugerah dari Allah. Mereka adalah orang-orang terbaik dan teladan dalam kemuliaan.

Seperti nasihat al-Sakandari, kita hanya boleh berteman dan membangun koalisi pertemanan hanya dengan kelompok ini. Pertemanan dengan mereka akan abadi sebagai koalisi permanen yang akan meraih kemuliaan dan kemenangan sampai kelak di surga.

Allah SWT berfirman, “Dan, barangsiapa yang menaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh, dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS al-Nisa' [4]: 69). Wallahu a’lam!

 Ada seorang lelaki berkata kepada Nabi SAW: "Berilah aku nasihat!" Beliau menjawab: "Jangan marah" Orang itu berulangkali meminta supaya dirinya dinasihati, maka Rasulullah SAW tetap mengatakan: "Jangan marah!" (HR. Bukhari)
 

Dari Istigfar ke Tobat

Tuesday, 12 August 2014, 13:51 WIB
Tobat lebih dari sekadar mengucapkan lafaz istighfar, tetapi menuntut persyaratan lebih banyak.  Oleh: Prof Dr Nasaruddin Umar
Istighfar adalah ungkapan spontanitas seorang hamba yang baru saja menyadari kekhilafannya dengan mengucapkan kalimat istighfar, misalnya astagfirullah al-’adzim. Sedangkan, tobat lebih dari sekadar mengucapkan lafaz istighfar, tetapi menuntut persyaratan lebih banyak. Jadi, jelas tobat lebih berat daripada istighfar.

Al-Qusyairi dalam risalahnya membagi tobat itu menjadi tiga macam, yaitu 1) Tobat dari segala kesalahan dan dosa, inilah tobatnya orang awam; 2) Tobat dari kelalaian untuk mengingat Allah SWT, inilah tobatnya orang khawas; 3) Tobat dari penglihatan terhadap segala kebaikan, inilah tobatnya orang khawas al-khawas.

Orang yang tobat karena takut siksaan disebut tobat. Orang yang tobat karena ingin meraih pahala, disebut inabah, dan orang yang tobat bukan karena takut neraka atau mengejar pahala, tapi hanya semata-mata karena menuruti perintah disebut aubah.

Syekh Muhammad bin Abi Bakar bin Abd Kadir Syamsuddin al-Razi (660 H) dalam Haqaiq al-Haqaiq, membagi tobat itu kepada dua bagian besar. Pertama, tobat orang awam, yaitu kembali dari segala kemaksiatan menuju kepada ketaatan dengan cara meninggalkan (pengaruh dan keterikatan) dunia dan mencari kehidupan akhirat.

Kedua, tobat khawas, yaitu kembali dari mencari akhirat dan kenikmatan surga menuju pada ibadah kepada Allah hanya semata karena zat-Nya yang Mahasuci, bukan karena mencari pahala dan bukan pula karena takut akan siksaan.

Oleh karena itu, tobatnya masyarakat awam justru sebagai sebuah dosa bagi kalangan orang khawas, sebagaimana dalam hadis, “Kebaikan orang-orang saleh merupakan kejahatan orang-orang muqarrabin.” Kemudian al-Khawas ia bagi dua lagi, yaitu al-Arifun dan al-Muqarrabun. Al-Muqarrabun ialah mereka yang masuk kategori hawas al-khawas.

Tobat pada bagian pertama di atas merupakan tanjakan awal dalam menempuh jalan menuju Allah dan maqam (tahapan) awal dalam mencari ridha Allah. Sesungguhnya Allah selalu mendorong manusia agar segera bertobat. Dalam firman-Nya disebutkan, “Jika Allah mencintai seorang hamba maka dosa itu tidak akan memberi mudarat pada dirinya.” Lalu, beliau membaca ayat tersebut (QS al-Baqarah [2]:222).

Maksudnya, Allah memberi taufik kepadanya untuk bertobat dan Allah menerima tobatnya maka dosa yang pernah dilakukan sebelum tobat itu, tidak ada lagi melekat pada dirinya. Nabi SAW juga selalu memotivasi untuk segera bertobat, sebagaimana dalam sabdanya, “Orang yang bertobat seperti orang yang tak berdosa”. Dalam hadis lain dikatakan, “Tak ada sesuatu pun yang lebih dicintai Allah, daripada seorang pemuda yang bertobat.”

Rasulullah SAW pernah ditanya istrinya, Aisyah RA, “Mengapa engkau menghabiskan waktu malammu untuk beribadah, bukankah engkau seorang Nabi yang dijamin masuk surga oleh Allah SWT?”

Rasulullah menjawab singkat, “Apakah aku tidak termasuk hamba yang bersyukur?” Dari sini bisa dipahami bahwa porsi makna tobat tidak hanya sekadar pembersihan diri dari dosa dan maksiat, tetapi lebih banyak bermakna mendekatkan diri sedekat-dekatnya kepada Allah SWT (taqarrub ilallah).

Inabah yang merupakan sifat dasar al-tawwabin, sesungguhnya menjadi ciri khas para wali dan para orang dekat Tuhan (muqarrabin). Hal ini didasarkan pada firman Allah dalam Alquran, “Wa ja’a bi qalbin salim (Dan dia datang dengan hati yang bertobat).” (QS Qaf [50]: 33).

Selain inabah, juga dikenal istilah lain, yaitu aubah merupakan sifat para Nabi dan Rasul, sebagaimana firman-Nya, “Ni’mal ‘abd innahu awwab” (Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya ia amat taat (kepada Tuhannya).” (QS Shad [35]: 44).

 Barangsiapa mengobati sedang dia tidak dikenal sebagai ahli pengobatan maka dia bertanggung jawab((HR. Ibnu Majah))

Tiga Warisan Ramadhan

Kamis, 07 Agustus 2014, 13:25 WIB
 Spirit Ramadhan mesti kita jaga dengan sebaik-baiknya. Oleh: M Iqbal Dawami
Tamu agung itu telah pergi. Kita tidak tahu apakah tahun depan masih dipertemukan kembali atau tidak. Ya, bulan suci Ramadhan telah berlalu. Kini Syawal telah tiba. Harapan apa yang hendak diraih di bulan Syawal hingga bulan-bulan selanjutnya setelah kita digodok sebulan penuh di bulan Ramadhan?

Kita tidak ingin nuansa Ramadhan menjadi pudar. Untuk itu, spirit Ramadhan mesti kita jaga dengan sebaik-baiknya. Jangan sampai kita terlena kembali oleh hiruk-pikuk dunia sehingga melupakan apa yang sudah kita bangun pada bulan Ramadhan.

Kita masih ingat bagaimana menyambut Ramadhan dengan antusias. Pada siang hari menahan lapar dan haus  serta menjaga dari hal-hal buruk. Selama Ramadhan kita bersemangat ibadah Tarawih dan tadarus Alquran. Kita juga rela bangun pukul tiga dini hari untuk sahur. Apakah antusiasme dan keseriusan itu masih ada di bulan ini?
 
Bulan suci Ramadhan memberikan tiga warisan penting yang perlu kita pegang erat-erat dalam keseharian kita. Pertama, Alquran. Ramadhan adalah bulan diturunkannya Alquran. Rasulullah SAW dan para sahabat memberikan teladannya. Mereka begitu rajin membaca Alquran hingga beberapa kali khatam. Kita juga di bulan Ramadhan melakukan tadarus setiap hari yang lain dari biasanya.

Kebiasaan ini selayaknya dipertahankan di bulan-bulan selanjutnya. Sebagai petunjuk, Alquran tidak hanya dibaca tetap juga diamalkan segala perintah serta larangan yang tertera di dalamnya. Firman Allah: “Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil) ...” (QS al-Baqarah: 185).
 
Kedua, shalat. Pada bulan Ramadhan juga intensitas shalat begitu meningkat. Hal ini disebabkan semua amalan akan dilipatgandakan, sehingga memacu kita untuk melaksanakan shalat-shalat sunah. Paling tidak kita melaksanakan shalat sunah Tarawih sebelas rakaat ataupun 23 rakaat. Selayaknya amalan shalat sunah itu tetap dilakukan di bulan-bulan selanjutnya sebagai tanda keberhasilan kita di bulan Ramadhan.

Ketiga, infak. Pada bulan Ramadhan, kita juga dengan mudah memberi, mulai dari yang sunah seperti berinfak, menyantuni fakir-miskin, memberi iftar, hingga yang wajib, yaitu zakat fitrah dan zakat mal. Kebiasaan memberi ini sepatutnya dipertahankan dan terus dilestarikan di bulan-bulan berikutnya.

Ketiga hal di atas merupakan warisan berharga dari bulan Ramadhan yang mesti kita jaga dan amalkan terus-menerus dari bulan ke bulan hingga Ramadhan datang kembali di tahun berikutnya. Maka, dengan demikian,  kita bisa mencapai predikat manusia fitri, yang berhasil mengimplementasikan spirit Ramadhan di setiap bulannya.

Bukan tidak mungkin apabila implementasi ini muncul dari kesadaran kolektif, kaum Muslim betul-betul mencapai umat terbaik (khairu ummah) dan umat terpilih (ummatan wasathan).
 
Hal ini senada dengan firman Allah SWT, “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi” (QS Fathir: 29).
 
Mudah-mudahan di bulan Syawal ini dan bulan-bulan berikutnya kita terus mengamalkan tiga warisan Ramadhan di atas. Amin.

Anas Ra, pembantu rumah tangga Nabi Saw berkata, “ Aku membantu rumah tangga Nabi Saw sepuluh tahun lamanya, dan belum pernah Beliau mengeluh “Ah” terhadapku dan belum pernah Beliau menegur “kenapa kamu lakukan ini atau kenapa tidak kau lakukan ini.((HR. Ahmad))


Dahsyatnya Bahaya Fitnah

Rabu, 06 Agustus 2014, 12:01 WIB
Akibat badai fitnah, hidup seseorang bisa sengsara. Oleh: M Husnaini

Sebuah peristiwa terjadi ketika rombongan Rasulullah SAW beserta sahabat kembali dari perang melawan Bani Mushtaliq pada Sya’ban tahun ke-5 H. Beberapa orang munafik juga turut serta dalam peperangan ini.

Kisah bermula ketika dalam perjalanan pulang, rombongan Muslimin berhenti di suatu tempat. Aisyah RA, istri Rasulullah SAW, yang ikut dalam rombongan, keluar dari sekedup. Kalungnya hilang.

Lama mencari, perhiasan dari mutiara zifar itu tak juga ketemu. Ketika Aisyah kembali ke sekedupnya, rombongan sudah berangkat. Penanggung jawab sekedup pasti mengira bahwa Aisyah masih berada di dalamnya.

Menyadari dirinya tertinggal, Aisyah lantas duduk diam di tempat semula. Dia berharap, ada anggota rombongan yang berbalik untuk menjemputnya. Lelah menunggu, akhirnya Aisyah mengantuk dan tertidur. Pada saat bersamaan, lewatlah seorang sahabat bernama Shafwan bin Muaththal as-Sulami. Shafwan memang bertugas sebagai anggota pasukan paling belakang.

Melihat Aisyah sendirian di pinggir jalan, Shafwan terkejut seraya mengucapkan, “Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun, istri Rasulullah!” Aisyah terbangun. Shafwan langsung memberikan untanya untuk dikendarai Aisyah. Dia sendiri berjalan kaki menuntun unta sampai tiba di Madinah.

Nahas. Peristiwa itu diketahui orang munafik. Desas-desus pun muncul. Dasar orang munafik, selalu ada cara untuk menjatuhkan reputasi Rasulullah yang memang menjadi incaran sejak lama.

Ummul Mukminin, Aisyah, difitnah berselingkuh dengan Shafwan. Adalah orang munafik bernama Abdullah bin Ubai bin Salul yang paling getol menggencarkan fitnah keji bahwa Aisyah ada afair dengan Shafwan. Terang saja, fitnah segera menyebar ke seantero kota.

Fitnah itu menjadi buah bibir di kalangan penduduk Madinah selama kira-kira sebulan. Jangankan Muslimin pada umumnya, bahkan Rasulullah sendiri sempat terpengaruh. Karena termakan tuduhan murahan itu, dikabarkan Rasulullah sampai menunjukkan perubahan sikap kepada Aisyah. Tentulah hati Aisyah hancur. Dia tidak berhenti menangis dan jatuh sakit.

Tabir fitnah baru tersingkap ketika turun surah an-Nur ayat 11-26. Nama Aisyah dan Shafwan kembali bersih. Kini, semua benderang sudah. Peristiwa itu menunjukkan betapa dahsyatnya bahaya fitnah. Istilah yang dipakai oleh Allah dalam Alquran untuk mendefinisikan fitnah ialah buhtan (kebohongan besar). (QS al-Ahzab [33]: 58).

Akibat badai fitnah, hidup seseorang bisa sengsara. Keluarga kehilangan muka. Karier dan jabatan yang dibangun puluhan tahun lenyap seketika. Kepercayaan mendadak sirna. Kita berdoa semoga diselamatkan oleh Allah SWT dari segala fitnah yang menghinakan.

Segenap daya, kita juga berupaya agar jangan sampai termasuk golongan penebar fitnah. Di antara caranya ialah menghindari gibah. Sungguh lisan terasa ringan digerakkan untuk bermaksiat kepada Allah, tetapi betapa berat untuk diajak berzikir kepada Allah.

Banyak sekali faktor yang bisa mendorong manusia untuk berbuat kesalahan. Terkadang dorongan itu datang dari dalam diri sendiri dan terkadang dari luar. Berbahagialah orang yang mengoreksi kelemahan dirinya.

Sebab, kata Abu ad-Darda, “Termasuk wujud ilmu seorang hamba adalah dia mengetahui imannya bertambah atau berkurang. Dan, termasuk berkah ilmu seorang hamba adalah dia mengetahui dari mana setan akan menggelincirkannya.”


Pulanglah pada istrimu, bila engkau tergoda seorang wanita (HR Muslim)

Menaklukkan Waktu

Monday, 04 August 2014, 22:42 WIB
 Oleh: Rafiqah Ahmad Lc MA
Ada dua jenis nikmat yang sering kali dilalaikan kebanyakan orang, yaitu nikmat sehat dan waktu luang. Waktu merupakan salah satu nikmat Allah yang paling berharga yang dianugerahkan kepada para hamba-Nya.

Dalam Alquran disebutkan bahwa manusia itu akan mengalami kehancuran jika tidak memanfaatkan waktunya untuk kebaikan, sebagaimana firman Allah, “Dan demi masa. Sesungguhnya manusia itu dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, dan saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran.” (QS al-'Ashr [103]: 1-3).

Imam Fakhrurrazi dalam tafsirnya tentang surah al-'Ashr tersebut menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan al-'Ashr itu adalah waktu atau masa. Masa adalah sesuatu yang sifatnya sangat unik dan mengagumkan. Beragam kisah anak manusia terjadi silih berganti pada lintas generasi.

Kualitas kehidupan seorang anak manusia sangat tergantung dari caranya memanfaatkan waktu. Hidupnya akan berarti dan bernilai jika ia dapat memaksimalkan peran waktu di kehidupannya. Sebaliknya, kerugian dan kegagalanlah yang akan diperoleh saat dia menyia-nyiakan waktu yang dilaluinya.

Rasulullah SAW dalam hadisnya menjelaskan tentang urgensi waktu sebagai berikut,  “Ada dua jenis nikmat yang sering kali dilalaikan kebanyakan orang, yaitu nikmat sehat dan waktu luang.” Kedua nikmat ini merupakan anugerah tak terhingga dari Allah SWT  yang harus dimanfaatkan secara maksimal.

Terkait interpretasi dari hadis ini, Ibnul Jauzi menjelaskan, terkadang seseorang berada dalam kondisi sehat tapi tidak mempunyai waktu luang akibat tersita oleh pekerjaan dan urusan duniawi lainnya.

Sebaliknya saat seseorang mempunyai waktu luang namun tetap tidak bisa memanfaatkannya karena kondisi kesehatannya yang buruk sehingga waktu luang pun akan berlalu dengan sia-sia.

Dengan demikian, usia pada dasarnya tidaklah bernilai apa-apa dalam kehidupan ini, karena sebenarnya yang berharga itu adalah value dari pemanfaatan waktu. Value inilah yang akan membuat usia seseorang memiliki makna dan kualitas.

Seorang yang menyia-nyiakan puluhan tahun dari usianya, namun di saat-saat terakhirnya ia bertobat dan berbuat kebaikan maka kualitas usianya itu hanya di penghujung usianya saja. Ini menguatkan pernyataan dari ayat yang disebutkan sebelumnya.

Menarik sekali pernyataan dari Imam Syafi'i yang mengatakan bahwa selama dia bergaul dengan para ahli sufi, hanya dua pernyataan yang selalu dia dengar dari mereka, yaitu “Waktu itu ibarat pedang, jika kau tidak membunuhnya (waktu) maka dialah yang akan membunuhmu.”

Pernyataan lainnya, “Dan waktumu... jika tidak kau pergunakan untuk kebaikan maka dia akan menyibukkanmu dengan kejahatan.” Wallahu a'lam bish shawwab.

 Sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan mengubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada sesuatu kaum, hingga kaum itu merubah apa yang ada pada diri mereka sendiri, (( QS.An Anfaal 8 : 53 ))

Silaturahim Hati

Minggu, 03 Agustus 2014, 11:54 WIB
 Oleh: Ina Salma Febriany
Meminta maaf memang terkadang bukanlah perkara yang mudah, namun, bukan berarti kita tidak mampu melakukannyaBulan rahmah dan maghfirah telah berlalu. Kepergiannya diiringi dengan berbagai sambutan dari para pecintanya; ada yang teramat menyesal dan bersedih karena merasa belum memaksimalkan bulan Ramadhan, ada pula yang bersyukur karena telah mampu menjalani serangkaian target yang telah disusun selama bulan Ramadhan.

Apa pun perasaan yang kita miliki, tetaplah kita harus mensyukuri bahwa Idul Fitri adalah momentum penyucian hati setelah sebulan lamanya kita dilatih untuk menahan dan menyucikan diri dari segala hasrat duniawi; makan, minum, termasuk mengelola emosi.  Idul Fitri menjadi kesempatan terbaik untuk sama-sama membuka hati, memberi dan meminta maaf, serta menebarkan sifat belas kasih.

Meski memaafkan dan meminta maaf tak sebatas hanya pada saat perayaan Idul Fitri, momen perayaan ini kerap dispesialkan untuk berbagi dan memohon maaf. Tak ayal, ucapan yang sering kita dengar atau bahkan sering kita lontarkan ialah, ‘Mohon Maaf Lahir dan Bathin’.

Tak salah memang, memberi maaf terlebih meminta maaf adalah perilaku terpuji. Tak hanya bermaaf-maafan, Idul Fitri menjadi momen berharga untuk kembali merajut silaturahim bersama rekan dan sanak saudara.

Silaturahim (menyambung kasih sayang), atau yang justru sering disebut dengan silaturahmi adalah perbuatan baik yang dianjurkan Rasulullah SAW. Namun, hakikat silaturahim tak cukup dengan lahir (zahir/tampak), berupa berjabat tangan atau bertatap wajah. Hendaknya silaturahim bathin (hati) —yang sadar untuk meminta dan memberi maaf—benar-benar disadari, agar segala noda-noda di hati berupa iri, dengki, hasad, dendam, melebur hancur bersamaan dengan silaturahim tersebut.

Allah Swt berfirman, "Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Mahakaya lagi Mahapenyantun." (QS al-Baqarah: 263)

Secara tersirat, Allah menyebutkan dua tingkatan kebajikan dalam ayat ini, Pertama, perkataan yang baik. Berkata yang baik adalah salah satu usaha hifdz al-lisan (menjaga lisan) adalah hal yang benar-benar dianjurkan dalam Islam, sehingga Rasulullah SAW pun bersabda, ‘Berkatalah yang baik, atau (jika tidak bisa) lebih baik diam,’.

Dalam hadis ini Rasulullah mengajak umatnya untuk mampu berkata baik dan membuahkan manfaat bagi sesama, bukan perkataan penuh dusta, caci-maki, dendam dan amarah. Kedua, kebajikan dengan memberi maaf dan ampunan kepada orang yang telah berlaku buruk kepada kita, baik dengan perkataan maupun dengan perbuatan. Nah, yang terakhir inilah yang disadari maupun tidak, sulit dilakukan.

Meminta maaf memang terkadang bukanlah perkara yang mudah, namun, bukan berarti kita tidak mampu melakukannya. Terkadang pula, perasaan tinggi hati kerap merusak niat diri sehingga kita malu mengutarakan ‘maaf’ terlebih dulu, padahal, jika kita cermati bersama, Rasulullah SAW bersabda, “Tidak halal seorang Muslim menjauhi kawannya lebih dari tiga hari. Jika telah lewat waktu tiga hari itu, maka berbicaralah dengan dia dan berilah salam, jika dia telah menjawab salam, maka keduanya bersama-sama mendapat pahala, dan jika dia tidak membalasnya, maka sungguh dia kembali dengan membawa dosa, sedang orang yang memberi salam telah keluar dari dosa karena menjauhi itu.” (HR Abu Dawud)

Dalam hadis lain, Rasulullah SAW bersabda, “Pintu-pintu surga akan dibuka pada hari Senin dan Kamis, kemudian Allah akan memberi ampunan kepada setiap orang yang tidak menyekutukan Allah sedikit pun; kecuali seorang laki-laki yang ada perpisahan antara dia dengan saudaranya. Maka berkatalah Allah: ‘Tangguhkanlah kedua orang ini sehingga mereka berdamai, tangguhkanlah kedua orang ini sehingga mereka berdamai, tangguhkanlah kedua orang ini sehingga mereka berdamai.” (HR Muslim)

Semoga kita tergolong menjadi hamba-Nya yang mampu menyambung tali kasih sayang ikhlas dari hati, sehingga mudah untuk memberi dan meminta maaf dengan tulus. Amin.


 Sedekah dapat menghapus dosa sebagaimana air memadamkan api(HR. Tirmidzi)