Siapakah Zaid bin Haritsah itu? Bagaimanakah orangnya? Siapakah pribadi yang bergelar Pencinta Rasulullah Itu?
Tampang dan perawakannya biasa saja. Pendek dengan kulit cokelat kemerah-merahan, dan hidung yang agak pesek. Demikian yang dilukiskan oleh para ahli sejarah. Namun, riwayat hidupnya luar biasa hebat.
Sudah lama sekali Su’da, istri Haritsah berniat hendak berziarah ke kaum keluarganya di kampung Bani Ma’an. Ia sudah gelisah dan seakan-akan tak sabar lagi menunggu waktu keberangkatannya.
Pada suatu pagi yang cerah, suaminya mempersiapkan kendaraan dan perbekalan untuk keperluan itu. Kelihatan Su’da sedang menggendong anaknya yang masih kecil, Zaid bin Haritsah.
Saat Haritsah akan menitipkan istri dan anaknya kepada rombongan kafilah yang akan berangkat bersama dengan istrinya, dan ia harus menunaikan tugasnya, menyelinaplah rasa sedih di hatinya, disertai perasaan aneh yang menyuruhnya agar turut serta mendampingi anak dan istrinya.
Akhirnya perasaan gundah itu hilang jua. Kafilah pun mulai bergerak memulai perjalanannya meninggalkan kampung itu, dan tibalah waktunya bagi Haritsah untuk mengucapkan selamat jalan bagi putra dan istrinya.
Demikianlah, Haritsah melepas istri dan anaknya dengan air mata berlinang. Lama ia diam terpaku di tempat berdirinya sampai keduanya lenyap dari pandangan. Haritsah merasakan hatinya tergoncang, seolah-olah tidak berada di tempatnya yang biasa. Ia hanyut dibawa perasaan seolah-olah ikut berangkat bersama rombongan kafilah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar