Jumat, 12 April 2013

Kisah Wanita yang Memiliki Jenggot



Waxing merupakan salah satu kegiatan yang banyak dipilih wanita untuk menghilangkan rambut-rambut yang tidak diinginkan di tubuh. Tapi Mariam, seorang wanita kelahiran Jerman justru melakukan hal yang sebaliknya.

Mariam tells ITV that she's learned to love the way she looks, facial hair and all. (Photo: ITV/This Morning)

Berbeda dengan wanita pada umumnya, Mariam memiliki rambut halus di bagian dagu atau biasa disebut jenggot. Tumbuhnya rambut halus itu ia alami setelah melahirkan anak laki-laki. Saat itu umurnya 21 tahun. Semakin lama, rambut yang tubuh semakin tebal, dan akhirnya menutupi seluruh dagunya.

Hal tersebut membuat Mariam harus mencabuti bulunya selama berjam-jam setiap hari ketika ingin keluar rumah. Namun masalahnya tak selesai sampai di situ. Setelah bulunya dicabuti, bulu dagu Mariam menjadi merah dan meradang.

"Daguku menjadi sangat merah dan meradang karena bulunya dicabuti. Kelihatannya seperti aku habis terjatuh dan mendarat dengan daguku. Banyak orang yang bertanya, tapi saat aku utarakan alasannya, mereka tak percaya," ujar Mariam.

Berbagai cara sudah dilakukan Mariam untuk menghilangkan jenggotnya, tapi tak pernah berhasil. Ia enggan mencukur atau mengguntingnya, karena khawatir rambut yang tubuh semakin tebal dan banyak.

Ia pun berkonsultasi kepada seorang dokter. Saat itu Mariam baru tahu, bahwa ia tidak sendirian. Tak sedikit wanita yang mengalami masalah yang sama dengannya. Akhirnya, sekitar lima tahun lalu, Mariam berhenti mencabuti jenggotnya dan membiarkannya tumbuh alami.

"Suatu hari aku sadar, rambut itu memang seharusnya ada di sana (dagu). Tepatnya 6 Agustus 2008, aku berhenti mencabutinya. Ini layaknya eksperimen. Apa yang akan terjadi jika aku menjadi diriku yang sebenarnya," Ujar mariam.

Awalnya Mariam merasa khawatir. Ia takut akan dijauhi dan tak ada lagi yang mau berbicara dengannya. Tapi kini keberanian sudah ia dapatkan. Wanita 3i Tahun itu kini bekerja di sirkus. Ini memberikannya kesempatan untuk mengedukasi masyarakat mengenai dirinya.

"Sekarang aku bahagia memiliki kesempatan hidup dengan jenggot," tulis Mariam di blognya.

Di dunia ini, wanita seperti Mriam tidak sedikit. Di inggris saja tercatat ada 41 juta wanita yang memiliki masalah yang sama. Penyebab rambut tumbuh di tempat yang tidak lazim itu adalah hormon testosteron yang berlebihan dalam tubuh wanita. Masalah kesehatan tumor ovarium dan obat-obatan pembesar otot (steroid) juga bisa menjadi penyebabnya.

Di indonesia, ada juga seleb yang mengalami masalah ini. Salah satunya penyanyi dangdut Iis Dahlia yang memiliki kumis halus di atas bibirnya.

Yuk, Rajin Makan Pisang!



Yuk, Rajin Makan Pisang!Ghiboo.com - Buah pisang memiliki banyak kebaikan bagi tubuh. Salah satunya, dapat mencegah kematian akibat stroke.

Potasium yang banyak terdapat di dalam pisang menjadi pahlawannya.

Sebuah studi mengungkapkan bahwa potasium membantu menurunkan tingkat tekanan darah.

Tekanan darah tinggi (hipertensi) dikenal sebagai silent killer. Anda mungkin tak menyadarinya hingga akhirnya terlambat. Hipertensi dapat berdampak buruk pada jantung, mata, pembuluh darah dan ginjal.

Semakin rajin memakan pisang, Anda memiliki kesempatan 24 persen lebih rendah terkena stroke. Tetapi tetap seimbangkan dengan olahraga teratur, mengurangi asupan garam dan berhenti merokok ya.

Langkah-langkah Mengatasi Varises Pada Kaki

Oleh | Yahoo! SHE – 15 jam yang lalu 

Tanya:
Kaki saya sering bengkak, baik jari maupun telapak kaki. Jadinya mengganggu kalau saya jalan. Kalau kecapekan juga bengkak, dok. Setelah bangun tidur bengkaknya jadi lebih besar. Kira-kira sakit apa ya, Dok? Apa yang harus saya lakukan?
Rosita, 18 tahun

Jawab:
Dear Rosita,

Kondisi yang Anda alami saat ini kemungkinan besar berasal dari adanya gangguan pembuluh darah balik (vena) pada area betis dan sekitar kaki. Kondisi ini secara umum dikenal sebagai “varicose vein” atau “varises” pada kaki.

Varises biasanya dipicu oleh kegiatan seperti berdiri dalam jangka waktu yang lama atau kondisi tubuh yang diam tidak bergerak dalam posisi kaki lebih rendah dari badan dalam jangka waktu yang lama (termasuk waktu tidur).

Untuk mengobati kondisi ini, sebaiknya Anda memeriksakan diri terlebih dahulu ke dokter. Lebih dianjurkan untuk memeriksakan diri ke dokter spesialis bedah atau spseialis bedah vaskuler. Dengan demikian, dapat ditentukan apakah benar atau tidak kondisi tersebut disebabkan oleh varises.

Bila benar akibat varises, ada berbagai macam pilihan terapi untuk menanganinya. Terapi yang pertama kali dicoba biasanya adalah dengan pemakaian stocking khusus varises disertai dengan aktif berolahraga ringan seperti berjalan kaki selama 30-40 menit atau jogging selama 20-30 menit setiap hari.

Penderita varises juga disarankan untuk menghindari berdiri diam dalam waktu yang lama. Bila terdapat kelebihan berat badan, maka juga disarankan untuk menurunkan kelebihan berat badan tersebut.

dr. Janfrional                  Bila cara di atas tidak membantu, maka penyuntikan zat (obat) ke dalam pembuluh darah yang mengalami varises dapat dilakukan oleh dokter. Pilihan  terapi terakhir adalah dengan terapi operasi. Hal ini biasanya digunakan untuk kondisi varises berat pada kaki.

Semoga membantu. Terima kasih.

dr. Janfrional
www.meetdoctor.com

Kamis, 11 April 2013

John Webster Jadi Mualaf Setelah Melihat Masjid

Selasa, 09 April 2013, 06:00 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Mohammad John Webster dibesarkan dalam keluarga Protestan. Di usia remajanya, ia memiliki banyak pertanyaan soal kepercayaan yang dianutnya.

"Yang menjadi pertanyaan saya, di Inggris, banyak kemiskinan dan ketidakpuasan sosial. Agama saya seperti tidak berusaha untuk menyelesaikannya," kenang dia seperti dikutip Arabnews.com, Senin (8/4).

Sejak itu, Webster muda tidak lagi menerima Protestan dan beralih menjadi penganut komunis. Baginya, komunisme menciptakan kepuasan tersendiri. Tapi itu tidak berlangsung lama. Selanjutnya, ia beralih pada filsafat dan agama.

"Dari apa yang saya alami ini mendorong saya mengidentifikasi diri dengan apa yang disebut panteisme," katanya.

Webster mengakui peradaban Barat membuat masyarakatnya begitu asing dengan Islam. Ini terjadi karena sejak Perang Salib berakhir, banyak hal yang menyimpang terkait informasi tentang Islam dan Muslim.

Satu fase baru dalam kehidupannya dimulai ketika ia menetap di Australia. Di sana, ia membaca Alquran di sebuah perpustakaan umum di Sydney. Saat itu, kefanatikan Webster terhadap Islam coba ia tutupi. Padahal, ia sangat antusias untuk mengkaji lebih dalam terkait isi Alquran. Satu hari, ia temukan salinan Alquran terjemahan Inggris.

Pada satu surat, ia temukan satu hal tentang kehidupan Rasulullah. Ia habiskan berjam-jam untuk menemukan apa yang diinginkannya. Ketika keluar dari perpustakaan, Webster merasakan kelelahan. Kebimbangan muncul dalam pemikirannya.

Hal itu coba ia tangguhkan dengan berjalan menyusuri keramaian. Langkahnya terhenti ketika ia melihat tulisan yang menyebut 'Masjid'. Hatinya bergetar seketika. Wajahnya segera memucat.

"Inilah kebenaran.Spontan Webster mengucapkan syahadat. Tiada Tuhan selain Allah, Muhamamd adalah utusan Allah. Alhamdulillah, aku menjadi seorang Muslim," kata dia yang kini menjabat Presiden The English Muslim Mission.

Reporter : Agung Sasongko  
Redaktur : Karta Raharja Ucu

 Barangsiapa tidak meninggalkan kata-kata dusta dan perbuatan dusta maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya ((HR Bukhari))

Belajar dari Musibah

Kamis, 11 April 2013, 16:51 WIB

                                                                                    REPUBLIKA.CO.ID,
HIKMAH oleh; Abdul Karim DS
Memasuki tahun 2013, bencana alam dan kecelakaan lalu lintas kerap terjadi di hampir seluruh Indonesia, bahkan di belahan dunia lainnya. Apakah kejadian ini tergolong musibah?

Musibah berarti peristiwa yang datang tidak diduga oleh manusia. Musibah itu suatu kejadian yang ada pada wilayah kekuasaan (takdir) Allah. Karenanya, ia diposisikan sebagai stimulus (S) dari Allah, seperti yang ditegaskan di dalam Alquran.

Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS at-Taghaabuun: 11)

Dengan paham di atas, musibah secara bahasa adalah tertimpa atau terkenai. Sedangkan, secara istilah ialah peristiwa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi umatnya pada umur 40 hari (dalam riwayat lain 40 malam) di rahim ibu.

Dari Abu Abdirrahman Abdullah bin Mas'ud, Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya setiap orang di antaramu dikumpulkan penciptaannya di dalam perut ibunya 40 hari berbentuk nutfah, kemudian menjadi segumpal darah selama itu juga, kemudian menjadi gumpalan seperti potongan daging selama itu juga, kemudian diutuslah kepadanya malaikat, lalu meniupkan ruh kepadanya dan diperintahkan atasnya (menulis) 4 perkara: (1) ketentuan rezekinya, (2) ketentuan ajalnya, (3) amalnya, (4) ia celaka atau bahagia....” (HR Bukhari-Muslim).

Di sini, ada dua perbedaan yang mencolok dalam memaknai musibah. Dari sisi makhluk, manusia tidak bisa mendeteksi kapan datang dan perginya. Di sisi lain, Allah telah menentukan waktu terjadinya musibah. Jadi, ada semacam perjanjian ghaib antara Allah dan makhluk-Nya.

Di balik musibah ada hikmah, tetapi manusia tidak menyadarinya dan bahkan ada yang tidak mau menerimanya berupa sikap tidak mau tertimpa musibah.

Buktinya, mereka menganggapnya sebagai bencana atau hal-hal negatif dan menakutkan, bahkan azab. Musibah yang paling ditakuti oleh semua orang adalah kehilangan orang tua, terutama ibu kandung. Namun siapa kira, di balik musibah ini ada hikmah kesuksesan.

Dari i'tibar itu, ketaatan dan ingkar menjadi jawaban ketika ditimpa musibah. Taat dan ingkar merupakan sikap seseorang terhadap zat yang ghaib (yang berkaitan dengan rukun Iman).
Taat berarti patuh terhadap tugas dan kewajiban disertai tanggung jawab. Sedangkan, ingkar adalah bentuk perlawanan terhadap perintah.

Lalu, apa yang Anda lakukan jika mendapat musibah? Misalkan kecelakaan, yang menyebabkan kaki Anda patah.
Apakah Anda masih tetap berjuang mendirikan shalat, ataukah Anda berhenti dengan alasan kecelakaan? Tentu, sikap Anda sangat ditentukan oleh kualitas ketaatan Anda.

Jika ketaatan Anda hanya berdasarkan rasa takut, pasti Anda akan mengambil sikap untuk beristirahat. Akan tetapi, jika didasari oleh takwa, Anda tetap berjuang untuk bisa mendirikan shalat. Wallahu a'lam.

 Redaktur : Damanhuri Zuhri

 Buta yang paling buruk ialah buta hati.((HR. Asysyihaab))


 

Orang Berakal

Kamis, 11 April 2013, 09:00 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Imam Nawawi
Qarun adalah manusia kaya raya yang hidup di zaman Nabi Musa. Di dalam Alquran dijelaskan  kekayaannya sangat melimpah. Bahkan, untuk kunci-kuncinya saja harus dipikul sejumlah orang dengan badan yang besar dan kuat. (QS al-Qashash [28]: 76).

Tapi sayang, Qarun berbuat aniaya, ia angkuh dan sombong. Hatinya beku dan akalnya keras, sehingga ia tidak bisa menerima nasehat kebenaran.

Ketika diperingatkan agar tidak angkuh dan sombong dengan harta yang dimilikinya ia malah berpaling sembari berkata, “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu karena ilmu yang ada padaku” (QS al-Qashash [28]: 78).

Menurut Ibnu Katsir, ucapan Qarun itu menunjukkan dirinya tidak butuh dengan nasehat kebenaran. Bahkan ia tidak merasa butuh dengan apapun, termasuk ampunan dan ancaman Allah SWT. Ia merasa dirinya hebat dan harta yang dimilikinya murni karena kepintarannya.

Sikap Qarun yang tidak bisa menghargai orang lain dan selalu menganggap dirinya lebih baik dan lebih terhormat hanya semata-mata karena harta yang dimiliki adalah sikap orang yang kurang akal. Sikap demikian biasanya umum terjadi pada mereka yang dititipi harta kekayaan.

Syekh Ibnu Atha’illah dalam kitabnya, Taj al-‘Aruus al-Hawi li Tahdzib al-Nufus menjelaskan, “Hal pertama yang semestinya engkau tangisi adalah akalmu. Sebagaimana kekeringan bisa terjadi pada rumput, akal juga bisa mengering.''

Ia menambahkan, ''Berkat akal, manusia dapat hidup berdampingan bersama manusia lain dan bersama Allah. Bersama manusia dengan akhlak yang baik dan bersama Allah dengan mengikuti apa yang diridai-Nya.”

Jadi, kriteria orang berakal atau tidak, sama sekali bukan pada berapa kekayaan yang dimiliki, tapi pada bagaimana akhlak yang dimiliki, baik akhlak kepada sesama manusia maupun akhlak kepada Allah SWT.

Semakin baik akhlak seseorang terhadap sesama manusia dan terhadap Allah SWT, bisa dipastikan orang itu adalah orang yang berakal. Sebaliknya, semakin buruk akhlak seseorang terhadap sesama dan terhadap Allah SWT, bisa dipastikan orang itu tidak berfungsi akal sehatnya.

Lebih jauh orang berakal adalah orang yang paling ingin mendapat cinta dari Allah dan Rasul-Nya. Rasulullah saw bersabda, “Orang yang paling kucintai dan yang paling dekat denganku pada hari kiamat nanti adalah yang paling baik akhlaknya, yaitu yang tawadhu’ yang mencintai dan dicintai” (HR Thabrani).

Di dalam Alquran, orang yang berakal disebut sebagai Ulul Albab. “Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka” (QS Ali Imran [3]: 191).

Dengan demikian dapat dipahami, orang berakal bukanlah orang yang semata-mata kaya, tapi orang yang memanfaatkan siang dan malamnya untuk dzikir dan pikir, sehingga tidak bertambah usia melainkan bertambah baik keimanan dan ketakwaannya, serta semakin baik pula akhlaknya baik kepada sesama maupun kepada Allah SWT.

 Redaktur : Damanhuri Zuhri

Apabila seseorang mengafirkan temannya, maka ucapan (yang mengafirkan) itu benar-benar kembali kepada salah seorang di antara keduanya (yang mengatakan atau yang dikatakan). ( HR Muslim)






Godaan Harta

Minggu, 07 April 2013, 21:44 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: H Ahmad Dzaki MA
Pemberian Allah subhanahau wa ta’ala berupa makanan, harta benda, kedudukan, anak, dan semisalnya merupakan ujian bagi manusia.

Allah berfirman dalam surat Al-Anfal ayat 28 yang artinya : “Dan ketahuilah, harta-harta kalian dan anak-anak kalian itu tidak lain hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya pada setiap umat ada fitnah dan fitnah umat-Ku adalah harta.” Hadis riwayat at-Tirmidzi
Godaan harta ini akan datang dari berbagai sisi. Antara lain dari cara mencarinya. Allah SWT mensyariatkan
berbagai cara dalam mendapatkan harta, yang semuanya dibangun di atas keadilan dan jauh dari perbuatan zalim, perbuatan jahat atau menyakiti orang lain.

Maka, Orang-orang yang bertakwa kepada Allah SWT, tentu senantiasa memperhatikan batasan-batasan syariat dalam mendapatkannya.
Jauh dari unsur riba, unsur judi, dan bentuk-bentuk kezaliman lainnya, yang semuanya termasuk dalam bentuk memakan harta orang lain dengan cara yang batil.

Allah SWT mengingatkan kita dalam surat An-Nisa ayat 29 yang artinya : “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian saling memakan harta sesama kalian dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang dilakukan dengan suka sama suka di antara kalian.”

Godaan harta ini juga datang dari sisi perhatian dan keinginan seseorang terhadapnya. Sehingga sebagian orang ada yang keinginannya terhadap harta membuat dirinya berambisi terhadapnya. Hal ini membuat kesibukannya hanyalah mencari harta.

Mulai aktivitasnya setelah bangun tidur sampai kembali ke rumahnya untuk beristirahat, yang dipikirkannya hanyalah harta. Di saat duduk, berdiri, maupun berjalan, yang ada di hatinya hanyalah mencari harta.

Bahkan saat tidur pun yang diimpikan adalah mencari harta. Lebih dari itu, saat shalat pun pikirannya dipenuhi dengan harta. Seakan-akan dirinya diciptakan untuk sekadar mencari harta.

Padahal dengan perhatian dan keinginan yang berlebihan hingga melalaikan akhirat seperti itu, seseorang tidak akan mendapatkan rezeki kecuali yang telah Allah Ta’ala tetapkan untuk dirinya.

Orang yang demikian, tentunya orang yang tertipu serta terjatuh pada godaan dunia. Sehingga memusatkan seluruh pikiran dan kesibukannya untuk harta. Dia menjadikan dunia bersemayam di hatinya sehingga lupa dari beribadah kepada Allah Ta’ala.

Godaan harta juga akan muncul dari sisi penggunaannya. Dari sisi ini, kita dapatkan sebagian orang yang berharta memiliki sifat pelit sehingga tidak mau mengeluarkan zakatnya, tidak mau menjalankan kewajiban berinfak kepada kerabatnya yang wajib untuk dibantu.

Sedangkan sebagian yang lainnya justru mengeluarkan hartanya tanpa ada perhitungan serta dihambur-hamburkan sia-sia. Padahal Allah Ta’ala menyebutkan di dalam surat Al-Isra : 27-27 yang artinya :

Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat haknya (mereka), (begitu pula) kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) sia-sia. Sesungguhnya orang-orang yang menghambur-hamburkan hartanya sia-sia adalah saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Rabbnya.”

Karena itu, siapa pun di antara kita harus hati-hati dan senantiasa takut terkena godaan harta ini. Betapa
banyak orang yang lebih berilmu dari kita, terjatuh pada penyimpangan-penyimpangan karena godaan ini.

Bahkan ada pula orang yang dahulunya istiqamah membela As-Sunnah dan melawan kebatilan, namun kala tergoda harta, kemudian terjatuh pada penyimpangan-penyimpangan.

Hal itu di antaranya disebabkan oleh ketidakhati-hatian serta perasaan aman dari bahaya godaan harta. Padahal harta secara umum akan menarik pemiliknya untuk memenuhi keinginan-keinginan syahwatnya.

Akibat memenuhi keinginannya, seseorang akan terseret hidup bermewah-mewah yang kemudian membuat dirinya sombong dan angkuh. Akhirnya membuat dirinya tidak peduli dengan kemaksiatan kepada Allah Ta’ala. Na'udzubillah.

Harta itu lezat dan manis, siapa yang menerimanya dengan hati bersih, ia akan mendapat berkah dari hartanya tersebut(HR Muslim)

Redaktur : Damanhuri Zuhri        

Jumat, 05 April 2013

Membalas kejahatan dengan kebaikan



Topik : Membalas kejahatan dengan kebaikan
Subbab : Akhlak yang terpuji
Bab : AKHLAK
Ditemukan 6 ayat


  1. QS. Ar-Ra'd [13] : ayat 22
walladziina shabaruu ibtighaa-a wajhi rabbihim wa-aqaamuu shshalaata wa-anfaquu mimmaa razaqnaahum sirran wa'alaaniyatan wayadrauuna bilhasanati ssayyi-ata ulaa-ika lahum 'uqbaa ddaar
[13:22] Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik),
[13:22] And those who are constant, seeking the pleasure of their Lord, and keep up prayer and spend (benevolently) out of what We have given them secretly and openly and repel evil with good; as for those, they shall have the (happy) issue of the abode

  2. QS. Al-Mu'minuun (Al-Mu'minun) [23] : ayat 96
idfa'billatii hiya ahsanu ssayyi-ata nahnu a'lamu bimaa yashifuun
[23:96] Tolaklah perbuatan buruk mereka dengan yang lebih baik. Kami lebih mengetahui apa yang mereka sifatkan.
[23:96] Repel evil by what is best; We know best what they describe.

  3. QS. Al-Furqaan (Al-Furqan) [25] : ayat 63
wa'ibaadu rrahmaanilladziina yamsyuuna 'alaa l-ardhi hawnan wa-idzaa khaathabahumu ljaahiluuna qaaluu salaamaa
[25:63] Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.
[25:63] And the servants of the Beneficent God are they who walk on the earth in humbleness, and when the ignorant address them, they say: Peace.

  4. QS. Al-Qashash (Al-Qasas) [28] : ayat 54
ulaa-ika yu/tawna ajrahum marratayni bimaa shabaruu wayadrauuna bilhasanati ssayyi-ata wamimmaa razaqnaahum yunfiquun
[28:54] Mereka itu diberi pahala dua kali disebabkan kesabaran mereka, dan mereka menolak kejahatan dengan kebaikan, dan sebagian dari apa yang telah Kami rezekikan kepada mereka, mereka nafkahkan.
[28:54] These shall be granted their reward twice, because they are steadfast and they repel evil with good and spend out of what We have given them.

  5. QS. Fushshilat (Fussilat) [41] : ayat 34
walaa tastawii lhasanatu walaa ssayyi-atu idfa'billatii hiya ahsanu fa-idzaalladzii baynaka wabaynahu 'adaawatun ka-annahu waliyyun hamiim
[41:34] Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.
[41:34] And not alike are the good and the evil. Repel (evil) with what is best, when lo! he between whom and you was enmity would be as if he were a warm friend.

  6. QS. Fushshilat (Fussilat) [41] : ayat 35
wamaa yulaqqaahaa illaalladziina shabaruu wamaa yulaqqaahaa illaa dzuu hazhzhin 'azhiim
[41:35] Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.
[41:35] And none are made to receive it but those who are patient, and none are made to receive it but those who have a mighty good fortune.

Kamis, 04 April 2013

Ilmuwan Menemukan Gerbang Neraka



Oleh Claudine Zap

Rekonstruksi digital Gerbang Pluto (Francesco D'Andria)
 
Mungkin kedengarannya seperti film horor, tapi ilmuwan Italia telah menemukan 'Gerbang Neraka' lengkap dengan asap beracunnya.

Pengumuman temuan Gerbang Pluto (Plutonium dalam bahasa Latin) dalam sebuah konferensi arkeologi di Turki bulan lalu, baru saja dilaporkan oleh Discovery News. Francesco D'Andria, profesor arkeologi klasik di Universitas Salento di Lecce, Italia, menggali Situs Warisan Dunia Romawi-Yunani Hierapolis selama bertahun-tahun, memimpin tim penelitian ini.

D’Andria mengatakan pada Discovery News bahwa ia menggunakan mitologi kuno untuk menjadi petunjuk menemukan gerbang legendaris itu ke neraka di dunia bawah. "Kami menemukan Plutonium dengan merekonstruksi rute menuju sumber mata air panas. Mata air Pamukkale' yang menghasilkan teras putih terkenal itu berasal dari gua ini."

Penulis seperti Cicero dan geografer Yunani Strabo mencatat bahwa gerbang ini terletak di situs kuno di Turki, menurut Discovery, tapi tak ada yang berhasil menemukannya sampai sekarang.

"Gerbang Pluto" sudah didokumentasikan oleh Ensiklopedia Situs Klasik Princeton yang masuk dalam gambaran Hierapolis. "Menempel pada kuil di tenggara adalah Plutoneion, sumber ketenaran kota tersebut. Strabo menggambarkannya sebagai sebuah lubang di perbukitan, yang di depannya tertutup oleh kabut tebal yang bisa berakibat fatal bagi siapapun yang masuk."

Strabo (64 SM-24 SM) menulis, "Tempat ini penuh dengan asap kabut yang sangat tebal sampai orang tak bisa melihat tanah. Hewan yang melewatinya langsung mati. Saya melempar burung gereja dan mereka langsung menarik napas terakhir dan jatuh."

Gerbang neraka ini masih sama berbahayanya sampai sekarang. Kata si profesor, "Kita bisa melihat gua mematikan itu saat penggalian. Beberapa burung langsung mati saat mencoba mendekat ke bukaannya yang panas, langsung terbunuh oleh asap karbon dioksida."

Menurut Discovery News, asap ini berasal dari gua di bawah situs, termasuk kolom-kolom dengan pahatan untuk Pluto dan Kore, dewa-dewa bawah tanah. Ditemukan juga sisa reruntuhan kuil, kolam dan tangga yang ditaruh di atas gua. D'Andria kini tengah mengerjakan reka digital situs tersebut.

Yang menariknya, bukaan ini bukanlah satu-satunya pintu gerbang pertama ke dunia bawah tanah. Di Gurun Karakum, menurut Daily Mail, terdapat lubang besar berapi yang sudah menyala selama 40 tahun. Pengunjung pun datang ke Derweze di Turkmenistan dan mencarinya di internet. Para ahli geologi yang tengah mengebor di area tersebut menemukan gua gas alami. Dengan harapan untuk menghilangkan gas, mereka membakar gua tersebut. Apinya terus menyala sehingga orang lokal menjulukinya "pintu neraka".

Jumat, 22 Maret 2013

Rahasia di Balik Shalat pada Awal Waktu

Kamis, 14 Maret 2013, 17:53 WIB
REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Moch Hisyam

Syekh Abu Abdullah RA berkata, “Suatu hari, ibu saya meminta ayahku membeli ikan di pasar. Kemudian, saya pergi bersama ayah saya. Setelah ikan dibeli, kami memerlukan seseorang untuk membawanya.

Di saat itu, ada seorang pemuda yang sedang berdiri didekat kami. Pemuda itu berkata, “Wahai bapak, apakah bapak memerlukan bantuan saya untuk membawa ikan itu?” “Ya, benar!” kata ayah saya. Kemudian, pemuda itu membawa ikan di atas kepalanya dan turut bersama kami ke rumah.

Di tengah perjalanan, kami mendengar suara azan. Pemuda itu berkata, “Penyeru Allah telah memanggil. Izinkanlah saya berwudhu, barang ini akan saya bawa setelah shalat nanti. Apabila bapak bersedia, silakan menunggu, jika tidak, silakan bawa sendiri.”

Setelah berkata demikian, ia meletakkan ikan-ikan itu dan pergi ke masjid. Ayahku berpikir, pemuda itu mempunyai keyakinan yang begitu kuat kepada Allah SWT, bagaikan seorang waliyullah. Akhirnya ayah meletakkan ikan-ikan itu, kemudian kami pergi ke masjid.

Setelah kembali dari masjid, ternyata ikan-ikan itu masih berada di tempatnya. Lalu, pemuda itu mengangkat kembali ikan-ikan tadi dan bersama menuju rumah.

Setibanya di rumah, ayah menceritakan peristiwa tersebut kepada ibu. Ibu berkata kepada pemuda tadi, “Simpanlah ikan-ikan itu, mari makan bersama kami, setelah itu kamu boleh pulang.”

Tetapi pemuda itu menjawab, ”Maaf ibu, saya sedang berpuasa.” Ayah berkata, “Kalau begitu, datanglah ke sini nanti petang dan berbukalah di sini.”

Pemuda itu berkata, “Biasanya, jika saya telah berangkat maka saya tidak akan kembali lagi. Tetapi untuk kali ini, saya akan pergi ke masjid dan petang nanti saya akan kembali kemari.”

Sesudah itu, dia pergi dan meminta untuk tinggal si sebuah masjid di dekat rumah. Pada petang harinya setelah Maghrib, pemuda tadi datang dan makan bersama kami. Setelah makan, kami menyiapkan sebuah kamar untuknya agar ia dapat beristirahat tanpa diganggu oleh siapa pun.

Di sebelah rumah kami, ada seorang wanita tua yang lumpuh. Kami benar-benar terkejut ketika melihatnya dapat berjalan. Kami bertanya, “Bagaimana engkau dapat sembuh?”

Wanita tua itu menjawab, “Saya didoakan oleh tamu Anda agar kaki saya disembuhkan dan Allah mengabulkan doanya.” Ketika kami mencari pemuda itu, ternyata dia telah meninggalkan kamarnya. Pemuda itu pergi tanpa diketahui oleh siapa pun.

Kisah yang terdapat di dalam Kitab Fadhail A'mal, karya Maulana Muhammad Zakariyya al-Kandhalawi di atas, memberikan pelajaran berharga. Yakni, di antara rahasia mendirikan shalat lima waktu di awal waktu dengan berjamaah akan menjadikan doa-doanya cepat diijabah.

Itu karena orang yang mendirikan shalat lima waktu di awal waktu dengan berjamaah adalah orang yang bersih dari dosa. “Sesungguhnya shalat lima waktu itu menghilangkan dosa-dosa sebagaimana air menghilangkan kotoran.” (HR Muslim). Selain itu, karena ia mendahulukan panggilan Allah dari panggilan selain-Nya.

Untuk itu, ketika azan berkumandang mari kita segera penuhi panggilan Allah untuk melaksanakan shalat pada awal waktu dengan berjamaah. Agar doa-doa kita mustajab dan mendapat kedudukan yang tinggi di sisi Allah SWT.

 Redaktur : Heri Ruslan 


Seorang wanita masuk neraka karena mengikat seekor kucing tanpa memberinya makanan atau melepaskannya mencari makan dari serangga tanah((HR. Bukhari))

Menganggap Diri Suci

Rabu, 20 Maret 2013, 03:03 WIB
REPUBLIKA.CO.ID, Ustaz Fariq Gasim
Sering kita mendengar orang menceritakan kebaikan dirinya atau bahkan mungkin pelakunya adalah diri kita sendiri. Apakah ini tindakan terpuji atau tercela?

Orang yang menceritakan tentang kebaikan dirinya bisa jadi karena ingin menceritakan nikmat Allah yang ia peroleh dan untuk memotivasi orang lain agar mengikutinya maka ini merupakan tujuan terpuji.
Allah SWT berfirman yang artinya, "Dan terhadap nikmat Rabbmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur)" (Surah Adh Dhuha 11)

Ada juga orang yang menceritakan kebaikan dirinya untuk maslahat agama seperti amar makruf nahi mungkar, memberi nasehat, menghindarkan dari suatu kerugian atau bahaya, untuk meyakinkan bahwa ia mampu menunaikan amanat yang akan ia tunaikan maka hal ini merupakan perbuatan terpuji.

Seperti Sabda Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, "Saya yang paling mengenal Allah diantara kalian dan saya orang yang paling bertakwa diantara kalian…"

Jika ia menceritakan kebaikan dan memuji dirinya karena menganggap diri suci dan pamer kepada orang lain untuk kebanggaan maka perbuatan ini berbahaya karena dapat mengakibatkan terhapusnya amal kebaikan tersebut.

Allah berfirman yang artinya, "Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa" (Surah An Najm 32)

Menganggap diri suci dan bersih termasuk penyakit hati yang berbahaya. Ia akan memuji diri dan menganggapnya lebih baik dari orang lain, timbul kesombongan yang mengakibatkan akan menolak kebenaran dan merendahkan manusia.

Jika ada orang memuji orang lain, ia tidak suka dan sempit dadanya, bahkan ia menginginkan hilangnya kenikmatan dari orang lain. Penyakit ini sering diderita oleh para pejabat, orang-orang kaya, pemuka masyarakat, ilmuwan/kaum intelektual, kaum ningrat/berdarah biru dan lainnya.

Penyakit yang berbahaya ini mungkin pula menjangkiti ulama, ustadz, mubaligh, khatib, atau dai/aktivis dakwah jika mereka tidak menjaga hati. Penyakit ini dimiliki iblis dan Fir'aun.

Allah berfirman menceritakan tentang ucapan Iblis yang artinya, "… (Iblis) menjawab, 'Aku lebih baik daripada dia. Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia, Engkau ciptakan dari tanah." (Surah Al A'raaf 12) dan ucapan Fir'aun yang artinya, "Bukankah aku lebih baik dari orang (Musa) yang hina ini…" (Surah Azzukhruf 52)

Orang mukmin berakhlak mulia, ia rendah hati, menganggap orang lain lebih baik darinya. Ia sibuk mengingat-ingat dan menghitung-hitung aib serta kekurangan dirinya guna mengevaluasi dan memperbaikinya.

Ia tidak sibuk dengan aib orang lain, jika ia dapatkan aib dari saudaranya maka ia sayang dan cinta kepadanya menginginkan kebaikan saudaranya sehingga ia tidak mendiamkannya tetapi memperbaikinya dan meluruskannya dengan cara yang baik dan bijaksana. Ia selalu mendoakan kebaikan untuk saudaranya.

Jika kita dapatkan sahabat radhiallahu anhum, tabi'in dan orang-orang shalih memuji diri mereka sendiri dengan menyebutkan keutamaan amal mereka, maka kita bersangka baik, mereka sedang menyebutkan nikmat Allah sebagai rasa syukur dan bermaksud memotivasi bukan kesombongan.

Kita harus selalu memperbaiki hati agar selamat dari penyakit sombong, ujub, hasad, riya, bersangka buruk, gila hormat dan penyakit hati lainnya.

Bersihkan hati kita dengan mentauhidkan Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, hiasi hati kita dengan rendah hati, cinta kepada Allah, takut adzab-Nya, berharap akan rahmat-Nya dan akhlak mulia lainnya.

 Redaktur : Damanhuri Zuhri

“Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah itu sesudah meneguhkannya….”(QS An-Nahl: 91)

Selasa, 19 Maret 2013

Shalat Sunnah Rawatib apa maksudnya?

 / 


Pengertian Shalat Sunnah Rawatib

Shalat sunnah rawatib adalah shalat sunah yang mengikuti shalat Fardu yang lima, dikerjakan sesudah atau sebelum shalat fardhu.
shalat sunnah rawatib Shalat Sunnah Rawatib apa maksudnya?
* Shalat Sunnah rawatib muakad (yang ditekankan)
a. Dua rakaat sebelum shalat subuh
b. Dua rakat sebelum shalat dhuhur
c. Dua rakaat sesudah shalat dhuhur
d. Dua rakaat sesudah shalat mahrib
e. Dua rakaat sesudah shalat isya’
* Shalat Sunnah rawatib tidak muakkad
a. Empat rakaat sebelum shalat dhuhur dan empat rakaat sesudahnya
b. Empat rakaat sebelum shalat ashar
c. Dua rakaat sebelum shalat Mahrib

Waktu Shalat Dan Dalilnya

 / 

Berikut ini adalah dalil waktu shalat  :

Firman Allah swt :
أَقِمِ الصَّلاَةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَى غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْآنَ الْفَجْرِ إِنَّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا
Artinya : “Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat).” (QS. Al Isra : 78)
فَأَقِيمُواْ الصَّلاَةَ إِنَّ الصَّلاَةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَّوْقُوتًا
 Artinya : “Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An Nisaa :103)

Hadits Mengenai Waktu Shalat


waktu shalat Waktu Shalat Dan Dalilnya Imam Muslim meriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amru bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Waktu shalat zhuhur adalah jika matahari telah condong dan bayangan sesorang seperti panjangnya selama belum tiba waktu shalat ashar, dan waktu shalat ashar selama matahari belum menguning, dan waktu shalat maghrib selama mega merah (syafaq) belum menghilang, dan waktu shalat isya` hingga tengah malam, dan waktu shalat shubuh semenjak terbit fajar selama matahari belum terbit, jika matahari terbit, maka janganlah melaksanakan shalat, sebab ia terbit diantara dua tanduk setan.”
Juga riwayat Imam Muslim lainnya dari Sulaiman bin Buraidah dari Ayahnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,” “Waktu shalat kalian adalah antara waktu yang telah kalian lihat sendiri.”
Didalam hadits diatas atau hadits-hadits lainnya tentang waktu-waktu shalat tidaklah membedakan antara negeri yang panjang siangnya sama dengan malamnya dengan negeri yang siangnya lebih panjang dari malamnya selama waktu-waktu tersebut bisa dibedakan dengan tanda-tanda seperti yang disebutkan didalam hadits diatas.
(Sumber: Eramuslim).