Republika – Kam, 26 Jul 2012
REPUBLIKA.CO.ID,oleh: Yudi Latif
Banyak penyeru menekankan pentingnya ibadah sebagai cara memerangi
korupsi. Pernahkah terpikir bahwa pengamalan ibadah yang salah justru
bisa menyuburkan korupsi? Akar terdalam dari tindakan korupsi adalah
korupsi terhadap peribadatan. Alquran mengisyaratkan hal ini sebagai
pangkal kecelakaan. ”Maka, celakalah orang-orang yang shalat; yang lalai
dalam shalatnya; yang hanya pamer; yang tidak memberikan pertolongan.”
Lebih dari tujuh dekade yang lalu, Mohandas K Gandhi menengarai
adanya ancaman yang me matikan dari “tujuh dosa sosial”. Satu di anta
ranya adalah ”peribadatan tanpa pengorbanan”. Dalam Hikayat Florentin,
Machiavelli menandai ”kota korup” dengan sejumlah ciri. Antara lain,
pemahaman keagamaan penduduk ”berdasarkan kemalasan bukan kesalehan”.
Yang ia maksudkan adalah keagamaan yang menekankan aspek formal dan
ritual ketimbang pengembangan esensi ajaran.
Memuja ”insan pembual dari pada insan pekerja,” memperindah tempat
ibadah daripada menolong yang papa. Modus keagamaan seperti ini,
menurutnya, ”membuat orang tak lagi beramal saleh, yang mengantarkan
penduduk menjadi mangsa empuk tirani politik dan modal.” Membicarakan
hal ini penting di bulan Ramadhan yang padat ibadah. Alangkah malangnya,
jika peringatan Rasulullah menimpa kita, ”Betapa banyak yang berpuasa
yang tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan dahaga.”
Untuk tidak tergelincir dalam praktik korupsi terhadap ibadah, kita
perlu menangkap pesan moral dari setiap peribadatan. Salah satu pesan
moral dari puasa adalah menahan diri agar perut kita tidak menjadi
kuburan bagi orang lain. Pesan ini, pertama dialamatkan kepada golongan
pemimpin. Mengapa? Rasulullah mengingatkan, ”Tidak akan tersucikan suatu
umat se lama si lemah tidak dapat menuntut dan mem peroleh kembali
haknya yang dirampas oleh orang yang kuat tanpa rasa takut.”
Terhadap golongan ini, puasa mengajarkan penghayatan rasa lapar,
untuk membangkitkan rasa kasih sayang dan tanggung jawab bagi rakyatnya.
Dalam hal ini, Sayidina Ali menasihatkan, ”Tanamkanlah kasih sayang di
hatimu terhadap rakyatmu, dan perlakukanlah mereka secara lemah lembut.
Dan janganlah sekali-kali engkau menjadikan dirimu seperti binatang
buas, lalu engkau menjadikan rakyatmu sendiri sebagai mangsamu.”
Kedua, pesan itu juga ditujukan kepada golongan elite. Mengapa? Imam
Ali mengingat kan, ”Sesungguhnya rakyat yang berasal dari golongan elite
ini adalah yang paling memberatkan wali negeri dalam masa kemakmuran,
paling kecil memberikan bantuan saat terjadi musibah, paling tidak
menyukai keadilan, paling banyak permintaannya secara terus-menerus,
tetapi paling sedikit rasa terima kasihnya bila diberi, paling lambat
menerima alasan bila di tolak, dan paling lemah kesabarannya bila
berhadapan dengan berbagai bencana.”
Terhadap golongan ini, puasa mengajarkan bahwa manusia tidak akan
pernah merasa ”puas” hingga bisa ”puasa” (menahan diri). Puasa juga
mengajak mereka untuk berzuhud: ”Tidak terlalu gembira atas apa yang
diberikan-Nya kepadamu” (QS 57: 23), dengan menumbuhkan empati terhadap
yang papa dan nestapa. Dengan demi kian, puasa mengajak kita untuk
melampaui ego personal menuju kesadaran transpersonal.
Orang-orang dalam kesadaran transpersonal (makrifat) pada gilirannya
akan memiliki kesadaran hakikat. Suatu bentuk kesadaran Rabaniyah yang
menenggelamkan egosentrisme demi mencintai dan bersatu dengan alam
semesta.
Dengan semangat Rabaniyah timbul keinsyafan akan tanggung jawab
kepemimpinan. Seperti sabda Nabi Muhammad SAW, ”Setiap kamu pemimpin,
dan setiap pemimpin pasti akan dimintai pertanggungjawaban atas
kepemimpinannya.” Tanggung jawab kepemimpinan ini pada gilirannya bukan
saja menuntut perhatian keluar, tetapi terlebih dahulu harus menengok ke
dalam, mengasah diri sendiri. Orang yang sadar dirinya, akan memahami
Tuhannya.
Dan orang yang memahami kebesaran Tuhannya akan menyadari bahwa
semakin besar bukan kian serakah dan bahaya bagi yang lain, malahan
memberikan ruang hidup bagi keragaman yang lain. Semoga puasa kita
terbebas dari korupsi ibadah!