Alhamdulillah wa shalaatu wa salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala alihi wa shohbihi ajma’in.
Mungkin pernah terbetik di dalam benak kita, kenapa kita yang seorang
muslim, hidupnya jauh lebih sengsara, ketimbang mereka yang hidup di
dalam kekafiran. Padahal seorang muslim hidup di atas keta’atan
menyembah Allah ta’ala, sedangkan orang kafir hidup di atas kekufuran
kepada Allah.
Wahai saudaraku seiman, janganlah heran dengan fenomena ini. Karena
seorang shahabat Nabi yang mulia pun terheran sambil menangis. Beliau
adalah ‘Umar bin Al-Khattab
radhiyallahu ‘anhu. Berikut ini kami nukilkan kisah ‘Umar yang termuat dalam kitab Tafsir Surat Yasin karya Syaikh Ibnu ‘Utsaimin
rahimahullah.
Suatu hari ‘Umar mendatangi rumah Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Dan beliau sedang tidur di atas dipan yang terbuat dari serat, sehingga
terbentuklah bekas dipan tersebut di lambung beliau. Tatkala ‘Umar
melihat hal itu, maka ia pun menangis. Nabi yang melihat ‘Umar menangis
kemudian bertanya, “Apa yang engkau tangisi wahai ‘Umar?”
‘Umar menjawab, “Sesungguhnya bangsa Persia dan Roma diberikan nikmat
dengan nikmat dunia yang sangat banyak, sedangkan engkau dalam keadaan
seperti ini?”
Nabi pun berkata, “Wahai ‘Umar, sesungguhnya mereka adalah kaum yang Allah segerakan kenikmatan di kehidupan dunia mereka.”[
1]
Di dalam hadits ini menunjukkan bahwa orang-orang kafir disegerakan
nikmatnya oleh Allah di dunia, dan boleh jadi itu adalah istidraj[
2]
dari Allah. Namun apabila mereka mati kelak, sungguh adzab yang Allah
berikan sangatlah pedih. Dan adzab itu semakin bertambah tatkala mereka
terus berada di dalam kedurhakaan kepada Allah ta’ala.
Maka saudaraku di jalan Allah, sungguh Allah telah memberikan kenikmatan
yang banyak kepada kita, dan kita lupa akan hal itu, kenikmatan itu
adalah kenikmatan Islam dan Iman. Dimana hal ini yang membedakan kita
semua dengan orang kafir. Sungguh kenikmatan di dunia, tidaklah bernilai
secuil pun dibanding kenikmatan di akhirat.
Mari kita bandingkan antara dunia dan akhirat, dengan membaca sabda Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam, “
Demi
Allah! Tidaklah dunia itu dibandingkan dengan akhirat, kecuali seperti
salah seorang dari kalian yang mencelupkan jarinya ke lautan. Maka
perhatikanlah jari tersebut kembali membawa apa?” (HR. Muslim)
Lihatlah kawanku, dunia itu jika dibandingkan dengan akhirat hanya Nabi
misalkan dengan seseorang yang mencelupkan jarinya ke lautan, kemudian
ia menarik jarinya. Perhatikanlah, apa yang ia dapatkan dari celupan
tersebut. Jari yang begitu kecil dibandingkan dengan lautan yang begitu
luas, mungkin hanya beberapa tetes saja.
Hadits di atas juga menunjukkan bahwa perhatiannya ‘Umar kepada Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Beliau tidak tega, hingga menangis melihat kondisi Nabi yang terlihat
susah, sedangkan orang-orang kafir hidup di dalam kenikmatan dunia.
Sebagai penutup tulisan ini, akan saya petikkan kisah seorang hakim dari Mesir, beliau adalah
Al-Hafizh Ibnu Hajr.
Suatu hari Ibnu Hajr melewati seorang Yahudi yang menjual minyak
zaitun, yang berpakaian kotor, dan Ibnu Hajr sedang menaiki kereta yang
ditarik oleh kuda-kuda, yang dikawal oleh para penjaga di sisi kanan dan
kiri kereta.
Kemudian Yahudi tersebut menghentikan kereta beliau dan berkata, “
Sesungguhnya Nabi kalian telah bersabda, ‘Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan Surga bagi orang kafir’[
3]
Engkau adalah Hakim Agung Mesir. Engkau dengan rombongan pengawal
seperti ini, penuh dengan kenikmatan, sementara aku di dalam penderitaan
dan kesengsaraan.”
Ibnu Hajr rahimahullah menjawab, “Aku dengan nikmat dan
kemewahan yang aku rasakan ini dibandingkan dengan kenikmatan di Surga
adalah penjara. Ada pun engkau dengan kesengsaraan yang engkau rasakan,
dibandingkan dengan adzab yang akan engkau rasakan di Neraka dalah
Surga.”
Orang Yahudi itu lalu berkata, “
Aku bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhak disembah kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah.” Masuk Islam lah orang Yahudi tersebut.
Lihatlah Orang Dibawahmu Dalam Masalah Harta dan Dunia
Betapa banyak orang yang terkesima dengan kilauan harta orang lain.
Tidak pernah merasa cukup dengan harta yang ia miliki. Jika sudah
mendapatkan suatu materi dunia, dia ingin terus mendapatkan yang lebih.
Jika baru mendapatkan motor, dia ingin mendapatkan mobil kijang. Jika
sudah memiliki mobil kijang, dia ingin mendapatkan mobil sedan. Dan
seterusnya sampai pesawat pun dia inginkan. Itulah watak manusia yang
tidak pernah puas.
Melihat Orang Di Bawah Kita dalam Hal Harta dan Dunia
Sikap seorang muslim yang benar, hendaklah dia selalu melihat orang di
bawahnya dalam masalah harta dan dunia. Betapa banyak orang di bawah
kita berada di bawah garis kemiskinan, untuk makan sehari-hari saja
mesti mencari utang sana-sini, dan masih banyak di antara mereka keadaan
ekonominya jauh di bawah kita. Seharusnya seorang muslim memperhatikan
petuah Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal ini.
Suatu saat Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyampaikan nasehat kepada Abu Dzar. Abu Dzar berkata,
أَمَرَنِي خَلِيلِي صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِسَبْعٍ أَمَرَنِي بِحُبِّ الْمَسَاكِينِ وَالدُّنُوِّ
مِنْهُمْ وَأَمَرَنِي أَنْ أَنْظُرَ إِلَى مَنْ هُوَ دُونِي وَلَا
أَنْظُرَ إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقِي
“
Kekasihku yakni Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintah tujuh
perkara padaku, (di antaranya): [1] Beliau memerintahkanku agar
mencintai orang miskin dan dekat dengan mereka, [2] beliau
memerintahkanku agar melihat orang yang berada di bawahku (dalam masalah
harta dan dunia), juga supaya aku tidak memperhatikan orang yang berada
di atasku. ...” (HR. Ahmad. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih)
Dari Abu Hurairah, Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إذا نظر أحدكم إلى من فضل عليه في المال والخلق فلينظر إلى من هو أسفل منه
“
Jika salah seorang di antara kalian melihat orang yang memiliki
kelebihan harta dan bentuk (rupa) [al kholq], maka lihatlah kepada orang
yang berada di bawahnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ibnu Hajar mengatakan, “Yang dimaksud dengan al khalq adalah
bentuk tubuh. Juga termasuk di dalamnya adalah anak-anak, pengikut dan
segala sesuatu yang berkaitan dengan kenikmatan duniawi.” (Fathul Bari,
11/32)
Agar Tidak Memandang Remeh Nikmat Allah
Dengan memiliki sifat yang mulia ini yaitu selalu memandang orang di
bawahnya dalam masalah dunia, seseorang akan merealisasikan syukur
dengan sebenarnya.
Dari Abu Hurairah, Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
انظروا إلى من هو أسفل منكم ولا تنظروا إلى من هو فوقكم ، فهو أجدر أن لا تزدروا نعمة الله عليكم
“
Pandanglah orang yang berada di bawahmu (dalam masalah harta dan
dunia) dan janganlah engkau pandang orang yang berada di atasmu (dalam
masalah ini). Dengan demikian, hal itu akan membuatmu tidak meremehkan
nikmat Allah padamu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Al Munawi –
rahimahullah- mengatakan,
“Jika seseorang melihat orang di atasnya (dalam masalah harta dan
dunia), dia akan menganggap kecil nikmat Allah yang ada pada dirinya dan
dia selalu ingin mendapatkan yang lebih. Cara mengobati penyakit
semacam ini, hendaklah seseorang melihat orang yang berada di bawahnya
(dalam masalah harta dan dunia). Dengan melakukan semcam ini, seseorang
akan ridho dan bersyukur, juga rasa tamaknya (terhadap harta dan dunia)
akan berkurang. Jika seseorang sering memandang orang yang berada di
atasnya, dia akan mengingkari dan tidak puas terhadap nikmat Allah yang
diberikan padanya. Namun, jika dia mengalihkan pandangannya kepada orang
di bawahnya, hal ini akan membuatnya ridho dan bersyukur atas nikmat
Allah padanya.”
Al Ghozali –
rahimahullah- mengatakan,
“Setan selamanya akan memalingkan pandangan manusia pada orang yang
berada di atasnya dalam masalah dunia. Setan akan membisik-bisikkan
padanya: ‘Kenapa engkau menjadi kurang semangat dalam mencari dan
memiliki harta supaya engkau dapat bergaya hidup mewah[?]’ Namun dalam
masalah agama dan akhirat, setan akan memalingkan wajahnya kepada orang
yang berada di bawahnya (yang jauh dari agama). Setan akan
membisik-bisikkan, ‘Kenapa dirimu merasa rendah dan hina di hadapan
Allah[?]” Si fulan itu masih lebih berilmu darimu’.” (Lihat Faidul Qodir
Syarh Al Jaami’ Ash Shogir, 1/573)
Itulah yang akan membuat seseorang tidak memandang remeh nikmat Allah
karena dia selalu memandang orang di bawahnya dalam masalah harta dan
dunia. Ketika dia melihat juragan minyak yang memiliki rumah mewah dalam
hatinya mungkin terbetik, “Rumahku masih kalah dari rumah juragan
minyak itu.” Namun ketika dia memandang pada orang lain di bawahnya, dia
berkata, “Ternyata rumah tetangga dibanding dengan rumahku, masih lebih
bagus rumahku.” Dengan dia memandang orang di bawahnya, dia tidak akan
menganggap remeh nikmat yang Allah berikan. Bahkan dia akan mensyukuri
nikmat tersebut karena dia melihat masih banyak orang yang tertinggal
jauh darinya.
Berbeda dengan orang yang satu ini. Ketika dia melihat saudaranya
memiliki Blacberry, dia merasa ponselnya masih sangat tertinggal jauh
dari temannya tersebut. Akhirnya yang ada pada dirinya adalah kurang
mensyukuri nikmat, menganggap bahwa nikmat tersebut masih sedikit,
bahkan selalu ada hasad (dengki) yang berakibat dia akan memusuhi dan
membenci temannya tadi. Padahal masih banyak orang di bawah dirinya yang
memiliki ponsel dengan kualitas yang jauh lebih rendah. Inilah cara
pandang yang keliru. Namun inilah yang banyak menimpa kebanyakan orang
saat ini.
Dalam Masalah Agama dan Akhirat, Hendaklah Seseorang Melihat Orang Di Atasnya
Dalam masalah agama, berkebalikan dengan masalah materi dan dunia.
Hendaklah seseorang dalam masalah agama dan akhirat selalu memandang
orang yang berada di atasnya. Haruslah seseorang memandang bahwa amalan
sholeh yang dia lakukan masih kalah jauhnya dibanding para Nabi,
shidiqin, syuhada’ dan orang-orang sholeh. Para salafush sholeh sangat
bersemangat sekali dalam kebaikan, dalam amalan shalat, puasa, sedekah,
membaca Al Qur’an, menuntut ilmu dan amalan lainnya. Haruslah setiap
orang memiliki cara pandang semacam ini dalam masalah agama, ketaatan,
pendekatan diri pada Allah, juga dalam meraih pahala dan surga. Sikap
yang benar, hendaklah seseorang berusaha melakukan kebaikan sebagaimana
yang salafush sholeh lakukan. Inilah yang dinamakan berlomba-lomba dalam
kebaikan.
Dalam masalah berlomba-lomba untuk meraih kenikmatan surga, Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّ الْأَبْرَارَ لَفِي نَعِيمٍ (22)
عَلَى الْأَرَائِكِ يَنْظُرُونَ (23) تَعْرِفُ فِي وُجُوهِهِمْ نَضْرَةَ
النَّعِيمِ (24) يُسْقَوْنَ مِنْ رَحِيقٍ مَخْتُومٍ (25) خِتَامُهُ مِسْكٌ
وَفِي ذَلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ (26)
“
Sesungguhnya orang yang berbakti itu benar-benar berada dalam
keni'matan yang besar (syurga), mereka (duduk) di atas dipan-dipan
sambil memandang. Kamu dapat mengetahui dari wajah mereka kesenangan
mereka yang penuh keni'matan. Mereka diberi minum dari khamar murni yang
dilak (tempatnya), laknya adalah kesturi; dan untuk yang demikian itu
hendaknya orang berlomba-lomba.” (QS. Al Muthaffifin: 22-26)
Al Qurtubhi mengatakan, “Berlomba-lombalah di dunia dalam melakukan amalan shalih.” (At Tadzkiroh Lil Qurtubhi, hal. 578)
Dalam ayat lainnya, Allah Ta’ala juga berfirman,
فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا
“
Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan.” (QS. Al Ma’idah: 48)
وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
“
Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga
yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang
yang bertakwa.” (QS. Ali Imron: 133)
Inilah yang dilakukan oleh para salafush sholeh, mereka selalu
berlomba-lomba dalam kebaikan sebagaimana dapat dilihat dari perkataan
mereka berikut ini yang disebutkan oleh
Ibnu Rojab –
rahimahullah-. Berikut sebagian perkatan mereka.
Al Hasan Al Bashri mengatakan,
إذا رأيت الرجل ينافسك في الدنيا فنافسه في الآخرة
“
Apabila engkau melihat seseorang mengunggulimu dalam masalah dunia, maka unggulilah dia dalam masalah akhirat.”
Wahib bin Al Warid mengatakan,
إن استطعت أن لا يسبقك إلى الله أحد فافعل
“
Jika kamu mampu untuk mengungguli seseorang dalam perlombaan menggapai ridho Allah, lakukanlah.”
Sebagian salaf mengatakan,
لو أن رجلا سمع بأحد أطوع لله منه كان ينبغي له أن يحزنه ذلك
“
Seandainya seseorang mendengar ada orang lain yang lebih taat pada
Allah dari dirinya, sudah selayaknya dia sedih karena dia telah
diungguli dalam perkara ketaatan.” (Latho-if Ma’arif, hal. 268)
Namun berbeda dengan kebiasaan orang saat ini. Dalam masalah amalan dan
pahala malah mereka membiarkan saudaranya mendahuluinya. Contoh
gampangnya adalah dalam mencari shaf pertama. “Monggo pak, bapak aja
yang di depan”, kata sebagian orang yang menyuruh saudaranya menduduki
shaf pertama. Padahal shaf pertama adalah sebaik-baik shaf bagi
laki-laki dan memiliki keutamaan yang luar biasa. Seandainya seseorang
mengetahui keutamaannya, tentu dia akan saling berundi dengan saudaranya
untuk memperebutkan shaf pertama dalam shalat, bukan malah menyerahkan
shaf yang utama tersebut pada orang lain.
Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
خَيْرُ صُفُوفِ الرِّجَالِ أَوَّلُهَا وَشَرُّهَا آخِرُهَا وَخَيْرُ صُفُوفِ النِّسَاءِ آخِرُهَا وَشَرُّهَا أَوَّلُهَا
“
Sebaik-baik shaf bagi laki-laki adalah shaf pertama, sedangkan yang
paling jelek bagi laki-laki adalah shaf terakhir. Sebaik-baik shaf bagi
wanita adalah shaf terakhir, sedangkan yang paling jelek bagi wanita
adalah shaf pertama.” (HR. Muslim)
Dari Abu Hurairah, Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِى
النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الأَوَّلِ ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إِلاَّ أَنْ
يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لاَسْتَهَمُوا
“
Seandainya setiap orang tahu keutamaan adzan dan shaf pertama,
kemudian mereka ingin memperebutkannya, tentu mereka akan
memperebutkannya dengan berundi.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Mari kita saling berlomba dalam meraih surga dan pahala di sisi Allah!
Kekayaan Paling Hakiki adalah Kekayaan Hati
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kita
melihat kepada orang yang berada di bawah kita dalam masalah dunia agar
kita menjadi orang yang bersyukur dan qana’ah yaitu selalu merasa cukup
dengan nikmat yang Allah berikan, juga tidak hasad (dengki) dan tidak
iri pada orang lain. Karena ketahuilah bahwa kekayaan yang hakiki adalah
kekayaan hati yaitu hati yang selalu merasa cukup dengan karunia yang
diberikan oleh Allah.
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ
“
Kekayaan (yang hakiki) bukanlah dengan banyaknya harta. Namun
kekayaan (yang hakiki) adalah hati yang selalu merasa cukup.” (HR.
Bukhari dan Muslim). Bukhari membawakan hadits ini dalam Bab “Kekayaan
(yang hakiki) adalah kekayaan hati (hati yang selalu merasa cukup).”
Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ
“
Sungguh sangat beruntung orang yang telah masuk Islam, diberikan
rizki yang cukup dan Allah menjadikannya merasa puas dengan apa yang
diberikan kepadanya.” (HR. Muslim)
Seandainya seseorang mengetahui kenikmatan yang seolah-olah dia
mendapatkan dunia seluruhnya, tentu betul-betul dia akan mensyukurinya
dan selalu merasa qona’ah (berkecukupan). Kenikmatan tersebut adalah
kenikmatan memperoleh makanan untuk hari yang dia jalani saat ini,
kenikmatan tempat tinggal dan kenikmatan kesehatan badan.
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
من أصبح منكم آمنا في سربه معافى في جسده عنده قوت يومه فكأنما حيزت له الدنيا
“
Barangsiapa di antara kalian merasa aman di tempat tinggalnya,
diberikan kesehatan badan, dan diberi makanan untuk hari itu, maka
seolah-olah dia telah memiliki dunia seluruhnya.” (HR. Tirmidzi. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)
Oleh karena itu, banyak berdo’alah pada Allah agar selalu diberi kecukupan. Do’a yang selalu dipanjatkan oleh Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah do’a:
اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى
“
Allahumma inni as-alukal huda wat tuqo wal ‘afaf wal ghina” (Ya
Allah, aku meminta pada-Mu petunjuk, ketakwaan, diberikan sifat ‘afaf
dan ghina) (HR. Muslim)
An Nawawi –
rahimahullah- mengatakan, “”Afaf dan ‘iffah
bermakna menjauhkan dan menahan diri dari hal yang tidak diperbolehkan.
Sedangkan al ghina adalah hati yang selalu merasa cukup dan tidak butuh
pada apa yang ada di sisi manusia.” (Syarh Muslim, 17/41)
Ya Allah, berikanlah pada kami sifat ‘afaf dan ghina.
Amin Yaa Mujibas Sa’ilin.
Kaidah penting dalam memahami takdir
Kaidah penting yang harus dipahami, agar manusia tidak buruk sangka
terhadap takdir Allah, Dzat yang Mahasuci dari segala kekurangan.
Sebelumnya, perlu kami tegaskan, Anda perlu persiapan mental dan akal
untuk memahami kaidah ini. Dalam banyak kesempatan kajian, ketika kaidah
ini disampaikan, banyak di antara peserta yang bingung, mumet, rdb (ra
dong blas), atau bahkan nesu .... Lumrah, memang memahami kaidah ini
seolah memaksakan hati kita untuk mengimani dua hal yang kelihatannya
bertentangan. Ya, semoga saja di sini tidak banyak yang mengajukan
pertanyaan.
Sebelum mencoba memahami kaidah ini, Anda perlu mendoktrin diri untuk berkeyakinan bahwa:
- Keadilan Allah itu mutlak sempurna, sehingga tidak ada perbuatannya yang zalim.
- Kekuasaan Allah mutlak sempurna, sehingga tidak ada peristiwa yang terjadi di luar kehendak dan takdir Allah.
- Ilmu atau pengetahuan Allah mutlak sempurna, sehingga tidak ada yang tidak Allah ketahui.
Kaidah yang kami maksudkan:
"Semua yang Allah kehendaki pasti Allah ciptakan, dan tidak semua yang Allah cintai Allah kehendaki."
Untuk memahami kaidah di atas dengan baik, kita perlu membedakan antara
iradah dengan mahabbah, atau antara iradah kauniyah dengan iradah
diniyah.
Pertama, iradah kauniyah--atau yang sering diistilahkan dengan "
iradah"--adalah
kehendak Allah untuk menciptakan dan mewujudkan sesuatu. Semua yang
dikehendaki oleh Allah, pasti Dia ciptakan dan Dia wujudkan. Baik
sesuatu yang Dia ciptakan itu Dia cintai atau tidak Dia cintai. Dengan
kata lain, semua yang terjadi di alam raya ini, merupakan bagian dari
iradah kauniyah Allah ta'ala.
Contohnya, Allah menciptakan malaikat dan semua orang saleh. Allah
mencintai mereka karena mereka adalah makhluk yang taat. Allah juga
menciptakan iblis dan semua orang kafir. Allah membenci mereka karena
mereka adalah makhluk pembangkang, dan seterusnya.
Berikut ini kami cantumkan beberapa contoh ayat yang menunjukkan iradah kauniyah Allah:
1. Firman Allah, tentang perkataan Nabi Nuh
'alaihis salam,
وَلاَ يَنفَعُكُمْ نُصْحِي إِنْ أَرَدتُّ أَنْ أَنصَحَ لَكُمْ إِن كَانَ اللّهُ يُرِيدُ أَن يُغْوِيَكُمْ هُوَ رَبُّكُمْ
“
Nasihatku tidak bermanfaat bagi kalian, jika aku ingin menasihati
kalian. Sekiranya Allah hendak menyesatkan kalian, Dia adalah Tuhan
kalian ....” (Q.S. Hud: 34)
Seorang ahli tafsir, Abdurrahman As-Sa'di, mengatakan, "Kehendak itu
yang dominan. Jika Dia berkehendak untuk menyesatkan kalian, disebabkan
kalian menolak kebenaran, maka nasihatku sama sekali tidak bermanfaat.
Meskipun aku telah berusaha sekuat tenaga untuk menasehati kalian."
(Taisir Karimir Rahman, hlm. 381)
Sesuatu yang Allah kehendaki ini terjadi: kaum Nabi Nuh
'alaihis salam tidak mau mengikuti dakwah beliau.
2. Contoh yang lain, firman Allah,
وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُ وَمَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَالٍ
“
Apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak
ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka
selain Dia.” (Q.S. Ar-Ra'd:11)
Terjadilah perkara yang Allah kehendaki, meskipun Allah sangat membenci sikap mereka yang menolak kebenaran.
Anda tidak perlu bertanya, mengapa Allah menciptakan sesuatu, padahal
sesuatu itu Dia benci. Tentang latar belakang, mengapa menciptakan
makhluk demikian, itu bukan urusan kita.
Yang jelas, semua yang Allah ciptakan memiliki hikmah dan tidak sia-sia.
Hanya saja, terkadang hikmah itu kita ketahui dan terkadang tidak kita
ketahui. Karena itu, bagi Anda yang tidak mengetahui hikmah, jangan
berusaha untuk menolak atau mempertanyakannya dengan nada menolak.
Tunjukkanlah sikap yang pasrah kepada Allah
subhanahu wa ta'ala.
Singkat kata, kesimpulan dari penjelasan tentang iradah kauniyah adalah
"Anda dipaksa untuk meyakini bahwa segala sesuatu dan peristiwa yang
terjadi di alam ini, baik itu sesuatu yang baik atau sesuatu yang tidak
baik, semua terjadi sesuai dengan kehendak Allah". Tidak ada satu pun
yang terjadi di luar kehendak Allah.
Kedua, iradah diniyah--bisa juga disebut "
iradah syar'iyah", atau sering juga disebut "
al-mahabbah"--adalah
kecintaan Allah terhadap sesuatu, meskipun sesuatu yang Dia cintai
tidak diwujudkan atau diciptakan. Ketika sesuatu itu dicintai maka Allah
memerintahkannya dan menjadikannya sebagai aturan syariat.
Misalnya, Allah mencintai ketaatan dan semua bentuk peribadahan
kepada-Nya. Karena itu, Allah perintahkan hal ini dan Allah jadikan
sebagai bagian dari agamanya. Meskipun Allah tidak menakdirkan semua
makhluk-Nya melakukan hal ini. Terbukti dengan adanya banyak makhluk
yang kafir, pembangkang, dan tidak menerima aturan Allah.
Contoh yang lain, Allah mencintai ketika semua umat manusia beriman.
Karena itu, Allah perintahkan semua umat manusia untuk beriman. Meskipun
demikian, Allah tidak menakdirkan seluruh makhluk-Nya beriman, karena
tidak semua yang Allah cintai, Allah ciptakan.
Di antara contoh ayat yang menunjukkan iradah diniyah adalah:
1. Firman Allah,
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ
وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ
وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ
“
Sesungguhnya, Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat
kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari
perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan ....” (Q.S. An-Nahl:90)
Allah perintahkan perkara-perkara di atas, karena Allah mencintainya.
Namun, tidak semua makhluk Allah takdirkan melaksanakan perintah
tersebut.
2. Firman Allah,
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا
“
Sesungguhnya, Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya.” (Q.S. An-Nisa:58)
Sebagaimana perintah di atas, tidak semua orang melaksanakan perintah
ini, meskipun Allah mencintainya dan bahkan memerintahkannya, karena
Allah tidak menakdirkan seluruh manusia melaksanakan perintah ini.
Demikian penjelasan singkat masalah takdir. Semoga penjelasan di atas
tidak membuat Anda terlalu pusing untuk memahami takdir Allah. Namun,
yang lebih penting di sini, kita mendapat sebuah kesimpulan bahwa tidak
semua yang terjadi di alam ini diridhai dan dicintai oleh Allah. Dengan
bahasa yang lebih tegas, tidak semua yang Allah ciptakan berarti Allah
setuju atau Allah mencintainya, meskipun segala sesuatu yang ada di alam
ini terjadi karena kehendak Allah ta'ala.
Dengan demikian, harta melimpah yang Allah berikan kepada manusia yang
tidak taat, bukanlah tanda Allah mencintai mereka. Demikian pula, ketika
ada orang yang mencari harta dengan cara pesugihan, kemudian Allah
kabulkan keinginannya, bukanlah tanda bahwa Allah mengizinkan
perbuatannya mencari harta dengan cara kesyirikan.
Kesimpulan ini dapat Anda analogikan untuk setiap kasus yang sama.
Sebagian orang yang gandrung dengan ilmu "kanuragan islami" berdalih
bahwa di antara bukti kalau ilmu itu datang dari Allah, ilmu itu bisa
dipraktikkan dan berhasil. Jika Allah tidak setuju, tentunya Allah tidak
akan mewujudkan keberhasilan paktik ilmu tersebut.
Sungguh aneh alasan ini! Untuk membantahnya, Anda bisa gunakan kesimpulan di atas.
Yang terakhir, saya tidak lupa mencantumkan FAQ penting terkait tulisan
ini. Barangkali ada yang bertanya, apakah kaidah di atas termasuk
prinsip ahlus sunnah dalam memahami takdir?
Jawabannya: Saya tegaskan, ya! Itulah akidah ahlus sunnah wal jamaah,
akidah para shahabat dan para pengikutnya dalam memahami takdir dan
ketatapan Allah ta'ala. Berikut ini pernyataan beberapa ulama ahlus
sunnah, sebagai bukti untuk klaim di atas:
1. Imam Ibnu Abil Iz mengatakan,
والمحققون من أهل السنة يقولون :
الإرادة في كتاب الله نوعان : إرادة قدرية كونية خلقية وإرادة دينية أمرية
شرعية فالإرادة الشرعية هي المتضمنة للمحبة والرضى والكونية هي المشيئة
الشاملة لجميع الموجودات
"
Para ulama di kalangan ahlus sunnah mengatakan, 'Iradah (kehendak
Allah) dalam Alquran ada dua: iradah qadariyah kauniyah khalqiyah dan
iradah diniyah amriyah syar'iyah. Adapun iradah syar'iyah adalah
kehendak yang mengandung cinta dan ridha, sedangkan iradah kauniyah
kehendak Allah yang meliputi semua makhluk yang ada." (Syarh Aqidah Thahawiyah, 1:113)
2. Syekhul Islam Ibn Taimiyah mengatakan,
وقد ذكر الله في كتابه الفرق بين "
الإرادة " و " الأمر "...بين الكوني الذي خلقه وقدره وقضاه ؛ وإن كان لم
يأمر به ولا يحبه ...وبين الديني الذي أمر به وشرعه وأثاب عليه...
“
Allah telah menyebutkan dalam kitab-Nya tentang perbedaan antara
iradah dengan perintah .... Antara kauni, yang Allah ciptakan, Allah
takdirkan, dan Allah tetapkan, meskipun tidak dia perintahkan dan tidak
dia cintai ... Antara ad-din, yang Allah perintahkan, Dia syariatkan,
dan Allah berikan pahala bagi orang yang melaksanakannya ....” Kemudian
beliau menyebutkan penjelasan tentang iradah kauniyah dan iradah
syar'iyah. (Al-Furqan bayna Auliya Ar-Rahman wa Auliya Asy-Syaithan, hlm. 149)
Sebagai motivasi bagi kita cukuplah hadits berikut jadi pelajaran berharga bagi kita yang hidup dalam kesusahan
Imam Muslim
rahimahullah meriwayatkan di dalam Shahihnya :
حَدَّثَنَا عَمْرٌو النَّاقِدُ
حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ أَخْبَرَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ
ثَابِتٍ الْبُنَانِيِّ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُؤْتَى بِأَنْعَمِ أَهْلِ
الدُّنْيَا مِنْ أَهْلِ النَّارِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُصْبَغُ فِي
النَّارِ صَبْغَةً ثُمَّ يُقَالُ يَا ابْنَ آدَمَ هَلْ رَأَيْتَ خَيْرًا
قَطُّ هَلْ مَرَّ بِكَ نَعِيمٌ قَطُّ فَيَقُولُ لَا وَاللَّهِ يَا رَبِّ
وَيُؤْتَى بِأَشَدِّ النَّاسِ بُؤْسًا فِي الدُّنْيَا مِنْ أَهْلِ
الْجَنَّةِ فَيُصْبَغُ صَبْغَةً فِي الْجَنَّةِ فَيُقَالُ لَهُ يَا ابْنَ
آدَمَ هَلْ رَأَيْتَ بُؤْسًا قَطُّ هَلْ مَرَّ بِكَ شِدَّةٌ قَطُّ
فَيَقُولُ لَا وَاللَّهِ يَا رَبِّ مَا مَرَّ بِي بُؤْسٌ قَطُّ وَلَا
رَأَيْتُ شِدَّةً قَطُّ
Amr an-Naqid menuturkan kepada kami. Dia berkata; Yazid bin Harun
menuturkan kepada kami. Dia berkata; Hammad bin Salamah memberitakan
kepada kami dari Tsabit al-Bunani dari Anas bin Malik, dia berkata;
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Pada hari kiamat nanti akan didatangkan penduduk neraka yang ketika
di dunia adalah orang yang paling merasakan kesenangan di sana. Kemudian
dia dicelupkan di dalam neraka sekali celupan, lantas ditanyakan
kepadanya, ‘Wahai anak Adam, apakah kamu pernah melihat kebaikan sebelum
ini? Apakah kamu pernah merasakan kenikmatan sebelum ini?’. Maka dia
menjawab, ‘Demi Allah, belum pernah wahai Rabbku!’. Dan didatangkan pula
seorang penduduk surga yang ketika di dunia merupakan orang yang paling
merasakan kesusahan di sana kemudian dia dicelupkan ke dalam surga satu
kali celupan. Lalu ditanyakan kepadanya, ‘Wahai anak Adam, apakah kamu
pernah melihat kesusahan sebelum ini? Apakah kamu pernah merasakan
kesusahan sebelum ini?’. Maka dia menjawab, ‘Demi Allah, belum pernah
wahai Rabbku, aku belum pernah merasakan kesusahan barang sedikit pun.
Dan aku juga tidak pernah melihat kesulitan sama sekali.’.” (HR. Muslim dalam Kitab Shifat al-Qiyamah wa al-Jannah wa an-Naar)
Semoga kita selalu mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan dimudahkan untuk beramal sholeh.
Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Wa shallallahu
‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.
****
[1] HR. Al-Bukhari (2468)
[2] Nikmat yang Allah berikan kepada pelaku maksiat dengan tujuan menipu mereka, agar mereka semakin tenggelam dalam maksiatnya
[3] HR. Muslim (2956)