Selamat datang di DKM AL FATAH-ONLINE Sadeng Kaum Blogger - Welcome to DKM AL FATAH - ONLINE Sadeng Kaum Blogger .... Kirim Artikel Anda yang bernuansa Islami, kritik dan saran Anda ke email : dkmalfatah.online@gmail.com kami akan muat ... !!!!
DKM AL FATAH ONLINE SADENG KAUM: Pengertian I’tikaf Syarat Rukun Dan Contoh Jadwalnya

LISTEN TO ALQUR'AN ONLINE

Listen to Quran

Selasa, 19 Maret 2013

Pengertian I’tikaf Syarat Rukun Dan Contoh Jadwalnya

 /  /  

Salah satu amalan utama dalam bulan Ramadhan adalah i’tikaf di masjid. Terutama pada sepuluh hari terakhir Ramadhan. Rasulullah SAW sangat menganjurkan kita melakukannya.
Dari Ibnu Umar ra. ia berkata,:
“RasulullahSAW biasa beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadhan.” (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim).

Pengertian I’tikaf


itikaf Pengertian Itikaf Syarat Rukun Dan Contoh JadwalnyaMenurut beberapa ulama disebutkan bahwa I’tikaf dalam pengertian bahasa berarti berdiam diri, yakni tetap di atas sesuatu atau tinggal di suatu tempat untuk melakukan sesuatu yang baik. Sedangkan dalam pengertian syari’ah agama, I’tikaf berarti berdiam diri di masjid sebagai ibadah yang disunahkan untuk dikerjakan di setiap waktu dengan niat beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT dan diutamakan pada bulan suci Ramadhan, dan lebih dikhususkan sepuluh hari terakhir untuk mengharapkan datangnya Lailatul Qadr.
Inilah waktu yang baik bagi kita untuk bermuhasabah dan taqarub secara penuh kepada Allah guna mengingat kembali tujuan diciptakannya kita sebagai manusia.
“Sesungguhnya tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaKu,” (QS. Az-Zariyat : 56)

Waktu I’tikaf

I’tikaf bisa dilaksanakan setiap waktu, namun pada 10 hari terakhir Ramadhan sangat dianjurkan.
Ummul Mu’minin Aisyah radhiyallahu ‘anha- berkata :
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bersungguh-sungguh pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, melebihi kesungguhan beliau di waktu yang lainnya.” (HR. Muslim)

Macam I’tikaf

I’tikaf yang disyariatkan ada dua macam, yaitu:
1. I’tikaf sunnah, yaitu i’tikaf yang dilakukan secara sukarela semata-mata untuk mendekatkan diri kepada Allah. Contohnya : ketika didalam masjid untuk pengajian kita berniat i’tikaf, ketika mendengar khutbah shalat juma’at atau di 1o hari terakhir Ramadhan.
2. I’tikaf wajib, yaitu i’tikaf yang didahului oleh nadzar. Seseorang yang berjanji, “Jika Allah SAW mengabulkan doaku ini, aku akan i’tikaf di masjid 3 hari,”, Maka ketika doa tersebut dikabulkan oleh Allah, i’tikaf selama 3 hari itu menjadi wajib.

Lama I’tikaf

Paling sebentar adalah sekejab. Menurut mazhab Hanafi, sekejab tanpa batas waktu tertentu, sekedar berdiam diri dengan niat. Menurut mazhab Syafi’i, sesaat, sejenak berdiam diri. Dan menurut mazhab Hambali, sekitar satu jam . Tetapi i’tikaf di bulan Ramadhan yang dicontohkan Rasulullah SAW adalah selama 10 hari penuh di 10 hari terakhir.

Tujuan I’tikaf.

1. Dalam rangka menghidupkan sunnah  Rasulullah SAW dalam rangka pencapaian ketakwaan hamba.
2. Sebagai salah satu cara mengisi dan meramaikan bulan suci Ramadhan yang penuh berkah dan rahmat dari Allah swt.
3. Menunggu saat-saat yang baik untuk turunnya Lailatul Qadar yang nilainya sama dengan ibadah seribu bulan.
4. Membina rasa kesadaran imaniyah kepada Allah dan tawadlu’ di hadapan-Nya, sebagai mahluk Allah yang lemah.
5. Intropeksi diri dan muhasabah yaitu merenungi apa yang sudah kita lakukan dan yang belum selama hidup kita dalam rangka menjadi hamba Allah.

Rukun I’tikaf.

I’tikaf dianggap syah bila dilakukan di masjid dan memenuhi rukun-rukunnya sebagai berikut :
1. Niat.
“Nawaitul i’tikaafa fili hadzal masjid lillaahi ta’aala”
Saya berniat i’tikaf di masjid ini karena Allah
2. Berada didalam masjid.
Yang dimaksud masjid disini adalah masjid yang biasa dipakai untuk shalat jum’at, berdasarkan hadist Rasulullah saw :
“Dan tiada I’tikaf kecuali di masjid jami’ (H.R. Abu Daud).
Sedangkan tempat beri’tikafnya yaitu didalam bangunan inti dari sebuah masjid, bukan serambi atau halaman masjid yaitu tempat sekira wanita sedang bulanan atau orang junub dilarang untuk berdiam disitu.
4. Islam dan suci serta akil baligh.

Cara ber-I’tikaf.

1. Niat ber-I’tikaf (niatnya seperti diatas)
2. Berdiam diri di dalam masjid dengan memperbanyak berzikir, tafakkur, membaca do’a, bertasbih dan memperbanyak membaca Al-Qur’an.
3. Diutamakan memulai I’tikaf setelah shalat subuh, sebagaimana hadist Rasulullah saw.
“Dan dari Aisyah, ia berkata bahwasannya Nabi SAW apabila hendak ber-I’tikaf beliau shalat subuh kemudian masuk ke tempat I’tikaf.” (H.R. Bukhori, Muslim)
4. Menjauhkan diri dari segala perbuatan yang tidak berguna. Dan disunnahkan memperbanyak membaca:
“ALLAHUMMA INNAKA ‘AFUWWUN KARIIM TUhIBBUL ‘AFWA FA’FU ‘ANNI”
Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf lagi Maha Mulia, Engkau menyukai pemaafan (memberi maaf) maka maafkanlah aku.

Waktu I’tikaf.

1. Menurut mazhab Syafi’i I’tikaf dapat dilakukan kapan saja dan dalam waktu apa saja, dengan tanpa batasan lamanya seseorang ber-I’tikaf. Begitu seseorang masuk ke dalam masjid dan ia niat I’tikaf maka syahlah I’tikafnya.
2. I’tikaf dapat dilakukan selama satu bulan penuh, atau dua puluh hari. Yang lebih utama adalah selama sepuluh hari terakhir bulan suci Ramadhan sebagaimana dijelaskan oleh hadist di atas.

Hal-hal yang membatalkan I’tikaf.

1. Berbuat dosa besar.
2. Bercampur dengan istri.
3. Hilang akal karena gila atau mabuk.
4.Murtad (keluar dari agama).
5. Datang haid atau nifas dan semua yang mendatangkan hadas besar termasuk mimpi basah.
6. Keluar dari masjid tanpa ada keperluan yang mendesak atau uzur, karena maksud I’tikaf adalah berdiam diri di dalam masjid dengan tujuan hanya untuk ibadah.
7. Orang yang sakit dan membawa kesulitan dalam melaksanakan I’tikaf.

Hikmah Ber-I’tikaf

1. Mendidik diri kita lebih taat dan tunduk kepada Allah.
2. Seseorang yang tinggal di masjid mudah untuk memerangi hawa nafsunya, karena masjid adalah tempat beribadah dan membersihkan jiwa.
3. Masjid merupakan madrasah ruhiyah yang sudah barang tentu selama sepuluh hari ataupun lebih hati kita akan terdidik untuk selalu suci dan bersih.
4. Tempat dan saat yang baik untuk menjemput datangnya Lailatul Qadar.
5. I’tikaf adalah salah satu cara untuk meramaikan masjid.
6. Dan ibadah ini adalah salah satu cara untuk menghormati bulan suci Ramadhan

Contoh Jadwal Kegiatan I’tikaf

Magrib: berbuka puasa dan shalat magrib berjamaah setelah itu bisa diisi membaca al-qur’an ata berdzikir dll.
Isya: Shalat Isya dan tarawih berjamaah, ceramah tarawih, tadarus Al-Qur’an, dan kajian akhlak. Anggap cukup istirahat dan bangun jam 02.00. shalat tahajud, muhasabah (perenungan diri), dzikir, dan doa kemudian sahur.
Subuh: shalat Subuh, dzikir dengan bacaan-bacaan yang ma’tsur (al-ma’tsurat), tadarus Al-Qur’an.
Pagi: istirahat, mandi, cuci, dan melaksanakan hajat yang lain.
Dhuha: shalat Dhuha, tadzkiyatun nafs, dan kuliah dhuha.
Zhuhur: shalat Zhuhur, kuliah zhuhur, dan tahsin tilawah.
Ashar: shalat Ashar dan kuliah ashar, dzikir dengan bacaan-bacaa yang ma’tsur (al-ma’tsurat)
Demikian pembahasan i’tikaf beserta contoh jadwal i’tkaf sederhana semoga bermanfaat.
IMG0132B.jpg
Terimakasih, telah membaca artikel mengenai Pengertian I’tikaf Syarat Rukun Dan Contoh Jadwalnya. Semoga artikel tersebut bermanfaat untuk Anda. Mohon untuk memberikan 1+ pada , 1 Like pada Facebook, dan 1 Follow pada Twitter. Jika ada pertanyaan atau kritik dan saran silahkan tulis pada kotak komentar yang sudah disediakan.
Share Artikel

Tidak ada komentar: